Milyader Tersisih

Milyader Tersisih
Mengepel Saja Masih Salah


__ADS_3

Arvin bisa tenang, dan sekarang ditidurkan dipembaringan ayunan.


Yang bekerja hanya Anissa dan suami dari kakak ipar. Ibu mertua dan sang kakak hanya duduk manis menikmati hidup. Ayah sudah lama meninggal, jadi Anissa menjadi tulang punggung keluarga. Penghasilan sebagai pegawai diperusahaan swasta tidak cukup, sehingga dia mencari pria-pria tajir untuk diplorotin uangnya.


Sang kakek dan nenek memiliki watak sederhana, dermawan, penyabar. Walau punya sawah dan tanah berhektar-hektar, namun tidak pernah dibanggakan. Anak mereka dilatih mandiri, maka Ibu Anissa disuruh belajar jadi orang rendah hati. Mereka tidak ingin harta disalahgunakan yang tidak bermanfaat.


Ibu Anissa orang yang suka boros, foya-foya, pamer, bermulut pedas, dan suka emosi, maka dari itu semua aset harta dipegang oleh sang adek laki-laki, takutnya bukan dikelola dengan baik malah dihambur-hamburkan demi kesenangan sesaat.


Sret ... sret, Tangan Faisal mulai lincah mengepel lantai. Dia tidak pernah mengeluh jika disuruh ini itu. Bahkan dia terus mengucapkan syukur atas cobaan ini. Masih untung dia bisa berteduh dan kumpul bersama istri, dan menurut dia itu lebih baik dari pada terlunta-lunta dijalanan. Walau dia tercukupi dipanti, namun Faisal yang sudah dewasa merasa tidak enak hati jika terus merepotkan mereka.


Bruk, ember yang berisi air pel telah ditendang tidak sengaja. Air menjadi tumpah dan membasahi seluruh keramik lagi. Faisal, hanya bisa menghembuskan nafas kasar, ketika melihat kerjaannya dari tadi yang kelelahan sekarang telah sia-sia.


"Eeh, kamu bisa kerja dengan becus ngak sih? Lihat, akibat kelalaian kamu menaruh ember sembarangan, kakiku jadi sakit begini, tahu!"


Sang Kakak ipar malah marah-marah, padahal kalau diteliti dia yang salah akibat tidak hati-hati melihat jalan.


"Maaf, Kak. Tadi aku buru-buru mau ngepelnya, takut Arvin keburu bangun dan nangis."


Mengasuh anak istri sekarang menjadi kewajibanku. Walau bukan darah daging namun harus menyayanginya sepenuh hati, sebab pernah merasakan tidak punya orangtua itu bagaimana. Sedih ketika mengetahui kebenaran tidak ada yang mau mengakui, maka semua rasa cinta kuberikan pada si kecil


"Hilih, alasan saja. Enak saja maaf ... maaf. Untung saja kaki tidak terluka parah, kalau sampai dibawa ke rumah sakit, emang kamu punya duit buat ngobatin? Enggak 'kan? Emang dasar pria kere, kerjaan begitu sangat ceroboh," Dita terus saja menghina.


Entah mengapa orang yang kuhormati kini membenci. Pernah bertanya pada diri sendiri sebenarnya apa salahku? Sehingga semua orang melihat dengan hina, bahkan ada juga yang menatapku dengan rasa jijik .


"Aduh ... duh, kalian apa-apa'an sih? Pagi-pagi bikin keributan saja. Apa ngak lihat kepala Ibu tuh lagi pusing."


Sang mertua keluar kamar dengan wajah mengkerut. Kanan kiri tertempel koyok, akibat tidak tahan sama kepala yang muter-muter. Ada riwayat penyakit vertigo, jika tidak parah hanya minum obat saja, tapi kalau sudah jatuh nyungsep dilantai pasti akan dirawat dirumah sakit.

__ADS_1


"Ini nih, Bu. Suami Anissa ini selalu saja bikin ulah yang menjengkelkan. Lihat, kakiku jadi terluka begini. Makin lama kerjaan dia makin tidak benar saja," Manja sang Kakak ipar mengadu.


Brak, secara kasar ember yang tidak berisikan air itu, ditendang kuat oleh sang mertua. Faisal sampai terjingkat akibat kaget. Kepala tertunduk tidak berani menatap mertua yang lagi keluar tanduknya. Pasti alamat akan dapat semburan kemarahan.


"Kamu lagi ... kamu lagi. Apa sehari saja tidak bisa kerja yang bener, hah!" teriak beliau.


"Selalu ... selalu saja bikin ulah. Bisa-bisa aku bakalan kena serangan jantung dan darah tinggi, akibat salalu marah-marah padamu. Apa ngak bisa, sehari ini saja tidak bikin orang emosi jiwa."


"Maaf, Bu. Saya tadi benar-benar tidak sengaja," Sepelan mungkin Faisal mengeluarkan suara.


Masih ada rasa sopan, tidak kasar menjawab balik omelan beliau.


Sebagai pria bisa saja membantah, namun dia tidak ingin istrinya nanti ikutan marah padanya. Kalau bisa semua diperbaiki situasi ini. Faisal sangat menyayangi istri, walau Anissa belum juga menampakkan tanda akan benih-benih cinta. Berusaha mendalami ilmu sabar. Percaya suatu saat semua akan berubah, termasuk mertua jahat dihadapannya sekarang.


"Kalau tidak sengaja, mestinya naruh embernya dipinggir saja. Kenapa harus ditengah? Emang segaja menjebak, agar aku bisa celaka 'kan?" tuduh Kakak ipar lagi.


"Maaf, Bu." Hanya kata itu yang terus terlontar dari mulut Faisal.


Mau membela sekuat apapun, pasti mereka akan tetap menyalahkan. Dimata mereka semua serba salah. Bergerak, bernafas, berbicara selalu salah, jadi lebih baik diam dan mengeluarkan kata maaf saja.


"Aduh ... duh, kenapa sakit banget ini!" keluh yang sepertinya tidak tahan lagi jika dibuat berdiri.


Mungkin iba melihat Faisal yang menampakkan wajah memelas, maka sang mertua menghentikan perdebatan itu. Tangan tak lepas memijit kening. Jika dilanjutkan ngoceh sambil emosi, pasti fatalnya kepala akan terasa semakin pecah sakitnya.


Sang kakak ipar berlalu pergi begitu saja. Dia tahu jika telah salah menuduh, namun hanya pura-pura tidak perasan.


"Sudah, hentikan ngepelnya. Sekarang buatkan aku teh dan ambilkan segelas air putih."

__ADS_1


"Baik, Bu."


Berlari ke dapur. Mengambil cangkir dan sendok. Api dinyalakan terlebih dahulu untuk merebus air, jadi ketika menyiapkan bahan seperti gula dan teh celupnya, maka tinggal tuang air mendidihnya saja nanti. Teh yang masih hangat mengepulkan asapnya segera disuguhkan.


"Apa perlu aku bantuin ke kamar untuk istirahat, Bu?" tawarku.


"Tidak usah. Aku masih bisa berjalan sendiri nanti."


Obatpun diberikan, ketika beliau meminta diambilkan dalam kamar. Membantu mengupaskan wadahnya. Beliau mulai meneguk satu persatu menggunakan air putih.


"Hhh, lega rasanya mulai agak mendingan."


"Kalau Ibu baik-baik saja, bolehkah aku tinggal untuk mengerjakan pekerjaan rumah yang lain?" Meminta izin dulu, takutnya salah lagi.


"Hmm, pergilah. Kerja yang benar. Semua harus bersih dan rapi, sebab akan bikin nyaman penghuninya, paham?"


"Iya Bu, paham."


"Kalau kotor bikin malu juga, kalau ada tamu datang. Makanya harus kinclong semuanya. Jangan salah lagi mengerjakannya."


Beliau sepertinya sedang mengawasi diri ini dengan ketat. Mungkin karena aku pria, maka takut saja kalau kerjaan jadi tidak benar alias kotor semua.


Semua ruangan harus perfeck kebersihannya. Ada debu sedikit saja, pasti suara mengelegar beliau akan bikin telinga sakit.


"Iya, Baiklah."


Seketika pekerjaan yang awalnya hampir selesai menjadi tertunda. Tadi semua kembali basah, hingga Faisal kelelahan mengerjakan dua kali, apalagi yang kedua harus memeras pakai tangan, kalau tidak akan bertambah licin dan bisa-bisa kena semprot omelan lagi.

__ADS_1


__ADS_2