
Kenapa setiap ketemu dengan tukang kebun yang baru, berasa melihat almarhum anak. Tiap kali memikirkan, dan itu membuat tidak tenang. Dari senyuman, poster tubuh, wajah, mereka sangat mirip. Ingin sekali memeluknya agar bisa melampiaskan rasa rindu dihati, setelah sekian tahun kehilangan akibat kecelakaan maut.
"Bagaimana? Apa kamu sudah menyelidikinya?" Berbicara pada orang kepercayaan.
"Saya sudah melakukan semuanya sesuai perintah, Tuan. Tapi belum ada kemajuan sama sekali mengenai kabar tuan muda."
"Kamu terus lakukan penyelidikan. Aku selalu tidak tenang jika berhadapannya. Rasa itu, begitu mengusik jiwaku."
"Baik, Tuan. Semua perintah anda akan saya lakukan."
"Kamu harus melakukan dengan cepat, sebab aku sudah tidak sabar."
"Baiklah, jangan khawatirkan itu. Anak buah lain akan bekerja keras lagi melakukan semua keinginan, Tuan."
"Bagus. Aku percaya pada kalian bisa melakukan itu dengan baik."
"Iya, Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu."
"Emm, hati-hati melakukan penyelidikan dan mencari informasinya. Takut jika ada orang yang tak diinginkan akan bersikap tak baik kepada kalian nanti."
"Baik, saya akan mengingatnya."
Orang kanan membungkukkan badan, sebagai tanda homat dan patuh atas perintah.
Memberikan isyarat mengerakkan tangan, agar dia pergi sesuai keingianannya. Sudah beberap dekade beliau selalu setia dan bekerja dengan baik kepada sang majikan. Tidak pernah satu perintahpun dia lalai kerjakan, semua beres dilakukan. Hanya dia yang dapat dipercaya, sampai informasi pentingpun menjadi rahasianya juga.
Mengamati kegigihan Faisal. Dari atas anak tangga, terus memperhatikan dirinya. Tanpa lelah dia membawa anak ikut bekerja, dengan cara digendong dibelakang. Kini dia nampak sedang mengelap beberapa pajangan guci diruamg tamu. Peluh yang mulai menetes dikening selalu dia elap menggunakan tangan. Sesekali berbicara dan tersenyum pada anak, walau belum mengerti bahasa yang dia berikan. Tak kenal lelah dan pekerja keras, yang ada pada dirinya.
Karena kasihan, tanpa ragu memberikan sedikit gaji lebih. Pekerjaan dia kerjakan selalu baik, maka sebagai tanda balas jasa harus melebihkan. Mungkin ketika kita sebagai orang baik, maka kebaikan itu akan datang juga pada kita. Banyak harapan yang kini terpendam, yaitu hanya ingin bertemu cucu. Usia sudah tidak muda lagi, jadi apa salahnya tidak sabar lagi ingin memeluk.
Segera turun tangga, untuk menghampiri Faisal. Tenaga ini mungkin lagi dibutuhkan. Suara jeritan bocah kecil itu mengalun keras, hingga melihat saja jadi iba. Rasa sepi ini membuatku ingin menyentuh bayi itu.
"Sini, Faisal. Biar saya saja yang mengendongnya," pintaku santai.
"Eeh jangan, Tuan. Nanti malah merepotkan anda."
"Tidak apa-apa. Aku lagi ada waktu senggang. Hhh, sudah lama aku tidak memegang anak kecil, jadi rasanya rindu saja jika ingin mengendong. Sini, izinkan diriku mengambil alih anak kamu sebentar," paksa ramah dengan memberikan senyuman.
__ADS_1
"Tapi, Tuan. Takutnya dia malah nakal nanti," Keraguannya yang malu-malu.
"Tidak apa. Biasalah anak kecil. Seperti kamu tidak hafal saja tingkah polah mereka. Kamu tidak usah khawatir begitu. Santai saja. Gini-gini dulu pernah mengendong cucuku juga, jadi ada pengalaman sedikit walau itu sudah lama terjadi."
Tangan terbentang ingin mengambil, walau Faisal menampakkan wajah keraguannya. Terus mencoba membujuk. Bahkan menyudutkan agar cepat memberikan.
"Ayo, ada apa lagi. Jangan bengoh, ah! Sini, berikan padaku."
"Ehh, ya sudah kalau Tuan memaksa."
"Iya, kamu tenang saja. Aku akan menjaganya dengan baik. Kamu lanjutkan saja pekerjaan kamu."
"Baiklah, Tuan. Maaf kalau merepotkan anda."
Menundukkan kepala penuh malu. Sebagai majikan utama pasti dia merasa tidak enak hati.
"Disini tidak ada yang direpotkan. Hanya aku saja yang ingin mengendong anakmu."
"Iya, Tuan. Maaf."
"Baik, Tuan."
Mengelus pipinya yang halus dan lembut. Wajahnya sangat tampan, walau tidak ada mirip sama sekali dengan Faisal. Tangannya yang mungil kusuruh memegang jari telunjukku, dan mencoba mengoyang-goyangkan tanda ingin sekali mengajaknya bermain. Karena gemas, maka tanpa ragu mendaratkan ciuman pada pipinya.
"Lebih baik kita pergi cari angin saja ya, Nak. Bapak kamu lagi sibuk. Jangan ganggu dia. Lebih baik sekarang main sama kakek saja, gimana?" Mengajak berbicara bocah imut ini.
Melenggang pergi. Mengendong menggunakan tangan. Berasa mengulang kembali tahun silam yang penuh kekelaman. Bau harum khas bayi serta kemungilannya, terus memutar kembali kenangan manis keluarga kami dulu. Selalu bermimpi semua itu tidak terjadi, tapi takdir telah berjalan sendiri tanpa bisa menolaknya.
"Andaikan kalian masih hidup, pasti hidupku tidak akan kekurangan begini."
"Semua kekayaan ini tidak ada artinya, dibandingkan kebahagiaan bisa berkumpul bersama kalian. Hh, dimana kamu cucuku? Kakek sangat rindu. Ingin sekali melihat wajahmu."
"Oh, Tuhan. Pertemukanlah kami. Aku sudah sangat tersiksa sama keadaan ini. Harus sampai kapan semua ini terjadi? Rasanya sudah tidak tahan lagi atas cobaan perpisahan kami. Jika dia masih hidup berikanlah jalan agar kami cepat bertemu, tapi jika sudah meninggal maka tunjukkan kubur atau kerangkanya," Permohonan dalan hati penuh ketulusan.
Tes, secara tak terkontrol, bulir ini jatuh ditubuh Arvin.
Mengoyang-goyangkan kaki dan tubuh, yang siapa tahu bocah Arvin ini bisa cepat tidur. Tadi sempat rewel, tapi setelah diajak bercanda dan bicara jadi diam. Digendong belakang pungung serta diajak kerja, kemungkinan saja merasa tidak nyaman. Mata imutnya sekarang, mulai sayu-sayu ingin terpejam.
__ADS_1
"Bagaimana, Tuan? Maaf sekali lagi jika merepotkan anda."
Masih saja Faisal sungkan. Wajahnya memerah, seperti takut jika diri ini akan marah.
"Tidak apa, Faisal. Justru saya senang bersama anak kamu. Lihat! Dia sudah tidur."
"Wah, anda hebat juga. Bisa cepat membuat dia nyenyak."
"Mungkin saja ini karena pengalaman."
Sebagai orang baru, pasti Faisal belum tahu seluk beluk keluarga ini. Salut jika dia tidak banyak tanya dan kepo.
"Oh, gitu. Ya, sudah. Biar saya tidurkan dia dipembaringannya. Takutnya nanti malah bikin Tuan kelelahan."
"Hmm, baiklah. Silahkan ambil! Tapi, memang kerjaan kamu sudah beres?"
"Alhamdulillah, semua sudah saya kerjakan."
"Bagus kalau begitu. Kamu bisa santai."
"Iya, Tuan."
Menyodorkan dengan penuh kehati-hatian, karena takut malah membangunkan.
Sempat ada pergerakan ketika bepindah tangan, namun dengan sigap Faisal bisa menenangkan.
"Terima kasih, Tuan."
"Iya, sama-sama."
"Kalau begitu saya permisi dulu."
"Hmm, silahkan."
Mereka berdua mulai menjauh dari posisiku berdiri. Menatap dari belakang bahunya, berasa sedih saja ketika melihat poster tubuh anak kandung yang sama persis.
Sebenarnya ingin mengajak belanja beberapa pakaian dan peralatan bayi, tapi sedikit tak enak sama pembantu lain, takut mereka pada iri terlalu memanjakan pekerja baru. Jalan satu-satunya untuk sementara memberikan lebih uang. Dengan begitu tidak ada yang curiga. Mungkin kalau sudah lama menggunakan tenaganya untuk bekerja disini, maka bisa memberikan apa yang jadi keinginanku.
__ADS_1