
Manusia dalam mencapai tujuan hidupnya diperoleh dengan berbagai macam cara, ada yang diperoleh dengan berusaha, dengan berdo’a, memohon kepada yang Maha Kuasa,, bahkan ada yang mungkin kepingin mencapainya dengan cara jalan pintas, bahkan ada yang memakai bantuan dukun.
Untuk menjadi keluarga yang bahagia, sakinah, marwadah dan warohmah, setiap pasangan harus memenuhi kewajibannya. Tidak hanya istri, namun kewajiban suami terhadap istri juga penting untuk dilakukan.
Umumnya, hanya kewajiban istri terhadap suamilah yang sering ditekankan. Sedangkan kewajiban suami terhadap istri sering kali tidak diungkit.
Karena itu setiap suami perlu tahu apa saja yang menjadi tugas, tanggung jawab, serta kewajiban suami terhadap istri menurut Islam.
Perlu diketahui, kewajiban suami terhadap istri tidak hanya berkaitan tentang uang atau nafkah kebutuhan primer, seperti pakaian dan tempat tinggal saja, melainkan banyak hal lain yang jarang diketahui.
Jam tiga malam aku harus bangun. Beberapa perlengkapan Arvin kusiapkan dulu, mulai dari popok, susu, botol, dan baju gantinya. Semua orang dirumah terlelap, hanya aku sendirian disini sedang sibuk menyiapkan makanan. Mengolah beberapa sayuran sebagai hidangan sarapan semua keluarga, sebelum nantinya akan berangkat kerja.
Semangatku untuk bekerja hari ini, menjadi semangat juga untuk membersihkan semua keadaan rumah. Mulai dari mengepel, mencuci dan menjemur baju. Jangan sampai pulang nanti kena marah, akibat kerjaan rumah tidak beres semua.
Dengan mengayuh sepeda, aku membawa sang buah hati ikut menemani berangkat kerja. Dikedinginan pagi, selimut tebal terus menutupi tubuhnya.
"Wah, terima kasih ya, Agus. Kamu mau bantu aku mendapatkan pekerjaan ini."
"Iya, teman. Kamu tidak usah merasa sungkan begitu. Aku tahu apa yang kamu rasakan sekarang. Pasti tersiksa banget tinggal sama keluarga istri kamu itu," Agus menepuk-nepuk bahuku.
__ADS_1
"Eeh, enggak juga, kok. Aku bahagia tinggal bersama mereka, daripada dipanti asuhan kayak kemarin."
Terpaksa menutupi semua kelakuan tidak baik keluarga istri. Mungkin tidak akan baik jika membuka aib mereka. Justru agar mendapatkan keridhoan pahala, harus menutupinya serapat mungkin.
Agus hanya bisa mengeleng-gelengkan kepala. Mungkin dia sudah tahu atas sikap keluarga Anissa kepadaku, karena banyak tetangga yang suka bergosip, kalau aku ini hanya dijadikan babu mereka.
"Ya sudah. Kamu bantuin aku kerja hari ini. Kalau ada pelanggan datang, bisa jamukan hidangan. Jika tidak repot bisa bantu cuci piring dan membersihkan meja, setelah pelanggan selesai makan."
"Siap, Gus. Aku banyak-banyak terima kasih sama kamu."
"Iya, sama-sama."
Kebetulan Arvin sedang tidur. Bisa kugolekkan diruang istirahat tempat kerja. Sarung sebagai buaian dia untuk tidur. Takut kalau ditidurkan dibawah, akan masuk angin sebab dingin keramik.
Walau sehari cuma digaji empat puluh ribu rupiah saja, bagiku itu sudah cukup untuk tambahan biaya hidup dalam rumah tangga. Daripada santai dirumah malah dihina terus yang padahal tidak pernah berhenti melakukan aktifitas membersihkan seluruh ruangan.
Ternyata benar saja, banyak pelanggan yang datang, sampai-sampai ada yang tidak kebagian duduk, sehingga makan lesehan didepan warung. Ada sekitar empat orang pegawai, yang bekerja termasuk Agus dan istrinya. Mungkin karena enak dan murah, makanya warungnya sangat ramai.
"Duh, Mas. Kok kerja bawa anak sih? Mana Ibunya?" tanya salah satu pelanggan.
__ADS_1
Arvin yang bangun sedang kugendong didepan. Tangan kanan kiri yang sibuk memegang pesanan, gendongan kusetel agar lebih ketat dan kuat agar tidak jatuh.
"Istri saya juga lagi kerja, Bu!" jawab ramah.
"Kenapa ngak dititipkan saja sama nenek, tante atau siapa kek? 'Kan kasihan kalau diajak kerja begini."
"Mereka juga sibuk, jadi tidak ada waktu untuk mengasuh anak saya," Tambah lagi satu kebohongan.
"Duh, manis banget anak kamu. Kasihan masih kecil diajak kerja sengsara begini." Pipi dielus dengan ramah.
"Ngak pa-pa, Bu. Kasihan juga istri kalau kerja nyambi ngasuh juga. Lebih baik ikut saya saja sebab lebih kuat."
"Hh, yang sabar ya, Mas. Cobaan pasti akan berbuah manis dengan kebahagiaan."
"Iya, Bu. Amin."
Ingin rasanya menitikkan airmata, mendengar komentar para Ibu-ibu itu. Wajah polos Arvin bikin menyayat hati saja, ketika sudah kupaksa untuk ikut mencari nafkah, namun senyuman manisnya selalu membuatku kuat menghadapi cobaan ini semua.
Tanggung jawab yang paling besar dalam keluarga adalah seorang pria, maka senang atau tidak senang seorang pria harus dan wajib bekerja keras untuk memenuhi semua kebutuhan itu.
__ADS_1
Jangan berputus asa, jangan berkeluh kesah dan jangan selalu berontak terhadap apa yang sudah dihadapi dalam permasalahan itu. Mungkin harus banyak bersabar dan tawakal.
Memang Allah memerintahkan kepada makhluknya untuk berdoa dan berusaha, tetapi bila mana doa dan usaha itu tanpa disertai dengan tindakan atau perbuatan apakah itu semua akan langsung diberikan oleh Allah? Temtu saja tidak. Tentu Allah akan melihat sebesar apa usaha orang itu dan bagaimana caranya dia berusaha, serius dalam berusaha atau tidak.