Milyader Tersisih

Milyader Tersisih
Hampir Ketahuan


__ADS_3

Flash back sebelum diketuk pintu


Bijaklah Dalam Membaca. Banyak Kata-kata Dewasa.


Tanganku terus berontak. Ingin mengumpat kelakuan bej*tnya, namun mulut ini tidak bisa terbuka lebar akibat dihalangi bibirnya. Bola mata itu seakan-akan merasa puas sebab aku benar-benar terkalahkan. Serangan terus dia lakukan, sampai leher dan telinga tak luput dia habisi.


"Jangan kau menangis. Wajah cantikmu ini nanti akan hilang," Senyum smirk penuh kemenangan.


Belaian tangan jahilnya membuat seluruh bulu kuduk meremang.


"Hentikan semua ini. Ingat dan sadarlah, ini sangat salah!" pinta penuh penekanan.


"Tidak usah berbohong. Bukankah kau menikmati juga moment ini. Belum tuli lagi 'kan? Kau barusan merintih keenak lho!" bisiknya yang semakin membuatku geram.


Dia kembali menyerang. Kali ini leher jadi bulan-bulannya. Bahkan gigi itu berani memberikan warna. Mulut terkatup rapat agar tidak mengeluarkan suara. Tangan masih tak bisa bebas ingin memberi pelajaran.


"Ayo, sayang. Kita nikmati keindahan menyatunya kulit kita. Apa kau tidak ingin merasakan betapa aku sekarang menyayangimu. Lama-lama kau makin mengairahkan dan ingin kumiliki!" Mulut manisnya yang memuakkan.


Tak menyangka dia mulai buta dan terhasut oleh dunia.


"Bulsit. Aku benar-benar tidak sudi jika kau sentuh. Jangan kau pikir aku bakalan senang kau perlakukan begini."


"Hilih, jangan munafik. Bukankah tubuhmu ini sudah dicicipi banyak pria? Jangan sok jual mahal begitu. Aku juga laki-laki yang ingin menikmati tiap inci kulitmu itu. Mari kita bersenang-senang. Jangan mengiba lagi, sebab pasti kau akan merasakan enaknya juga. Dasar perempuan ******, hahaha!" Beraninya dia terus menghina.


"Kenapa kau kejam sekali melakukan ini padaku? Dimana rasa belas kasihanmu? Apa kau tidak cinta lagi dengan kakakku?" Isak tangis kian deras.


"Aku kejam sebab tidak tahan melihat kemolekanmu. Bukankah kau duluan yang memancing terus, dengan bajumu yang kurang bahan dan tipis itu? Belas kasihan? Tentu saja tidak, karena aku tidak peduli itu. Yang terpenting sekarang terus layani aku biar merasakan puas. Masalah Dita urusan belakangan."


Ahh, perih ini terus merajai. Kuremas-remas sprei. Sampai kapan dia akan mengoyak-ngoyak kehormatanku? Walau aku wanita nakal sekalipun, tapi janganlah sampai menodai hubungan dalam ikatan kekeluargaan.


Memalingkan wajah ke kanan. Tidak sudi rasanya bermain pandangan. Wajah dia begitu senang, dan itu sangat berhasil menusuk jiwaku yang kian melemah. Bulir terus membasahi pipi. Mungkin kalau pria lain yang melakukan, pikiranku tidak akan tertekan sampai begini, tapi ini adalah kakak yang sudah dianggap saudara, bagaimana bisa menimbulkan rasa kepuasan diantara keduanya.


"Maafkan aku, Kak Dita. Bukan keinginanku untuk melakukan ini. Penghiatan ini tidak kusangka-sangka, jadi jangan menyalahkan diriku," Teringat akan ikatan saudara, membuatku terus menjatuhkan bulir kesedihan.


Pria ini benar-benar telah terasuki, sehingga tanpa berpikir panjang lagi gimana ke depannya nanti. Berkali-kali suara leguh*nnya semakin ingin menyalahkan diri sendiri. Tiada ampun lagi, menjelajahi tiap inci tubuh ini.


Suara napas Kak Ijal yang terengah-engah, dan suara rintihan yang keluar dari bibirnya memenuhi udara di kamar tidurku. Kecupan terus bergerilya dan menganas. Tanpa sadar irama permainannya membuatku lupa diri, bahkan des*h*npun terdengar mesra.


Tok ... tok, ditengah kenikmatanku terdengar ketukan pintu diluar.

__ADS_1


"Ah, sial. Siapa malam-malam begini berani mengetuk pintu," umpat pria bej*t ini.


Aku dibuat lemah. Nafas tersengal-sengal ingin menghirup udara kebebasan. Posisi tengkurep.


"Cepat pakai bajumu. Sepertinya kita akan ketahuan!" suruhnya.


Pandangan mulai kabur. Ketika ingin mengumpulkan tenaga untuk bangkit, dia terus saja ngedumel tak jelas.


Ternyata dia sudah memakai baju sebagian. Kemeja habis pulang bekerja mulai dikancingkan. Peluh yang membasahi kening dia lap kasar dengan tangan. Habis ketakutan, resleting celananya sampai dia naikkan dengan tergesa-gesa.


"Apa kamu tidak dengar, hah! Cepat pakai, atau kau ingin ketahuan oleh semua orang dirumah ini," Kak Ijal menjambak rambutku ke belakang.


Tidak bersuara, membuatnya murka dengan melempar baju ke wajahku. Tak ingin kena mental dari kesadisan dia, maka akhirnya mengalah juga untuk menuruti permintaan dia. Dengan cepat merapikan baju, sebab orang yang mengetuk pintu kian tidak sabar.


"Awas, jangan sampai ketahuan. Kalau sampai terbongkar, kamu akan merasakan akibatnya lebih dari ini. Paham wanita termanisku," ancamnya sambil mencium pipi.


"Awas, jangan macam-macam dan membuka aib kita, paham?"


"Aku tidak janji. Tergantung sama keadaannya."


"Kau jangan melawan, sebab aku tidak akan tinggal diam untuk membinasakanmu dalam pelukanku, mengerti." Begitu jahatnya dia, yang tanpa belas kasihan lagi mulai mencengkram pipiku.


Ceklek, pintu kubuka.


Baju kurapikan. Rambut yang acak-acakkan kusisir menggunakan jari.


"Eeh, Kak Dita. Ada apa?" Kepura-puraanku.


Kakak kandung clingak-clinguk, fokus menatap ke arah dalam kamarku. Sepertinya sedang mencari seseorang. Sebisa mungkin harus menetralkan diri agar tidak ketahuan.


"Kak ... Kak Dita. Ada apa? Apa yang membawamu ke sini?"


"Eeh, maaf jika menganggu kamu!" Dari atas sampai ke bawah, dia memperhatikan tubuh ini dengan penuh kecurgiaan.


"Tidak kok, Kak. Mana ada ganggu."


"Oh, ya. Bolehkah aku masuk?"


"Tentu saja, silahkan."

__ADS_1


Semoga dia tidak curiga ketika selimut dan bantal sedikit berantakan.


"Kamu tadi beneran tidur sendirian disini, atau-?"


"Atau apa, Kak?" Melempar senyum paksa.


"Atau ada orang lain disini, tadi."


"Hah, apa yang kamu katakan? Mana mungkin dikamarku ada orang lain. Kakak, jangan berkhayal dech."


"Mana mungkin aku berkhayal. Dengan jelas aku mendengar des*h*n kamu."


"Masak sih. Mungkin salah dengar saja. Mana mungkin aku tertidur nyenyak bisa bersuarakan begitu. Suara hewan malam saja itu."


"Mungkin juga."


Dia mengaruk kepala. Seperti masih ada yang menganjal dan tak percaya. Dia terus saja menyapu pandangan ke seluruh ruangan kamar. Sepertinya sedang mencari bukti.


"Huuahhh, aku ngantuk nih, Kak. Capek banget, tadi banyak kerjaan yang harus diselesaikan," Pura-pura mencari alasan agar dia tidak melanjutkan penyelidikan.


"Oh, ya sudah. Kamu lanjutkan tidur saja. Mungkin kamu benar, kalau aku salah dengar saja tadi. Hh, aku permisi dulu dech."


"Iya, bye ... bye."


Ada keraguan yang menerpa, ketika langkahnya seperti berat ingin meninggalkan kamarku. Mengantarnya ke pertengahan pintu.


"Ahha, ada satu lagi pertanyaan ."


"Huff, apa itu, Kak?"


"Keringat kamu itu. Kenapa kau malam-malam begini bercucuran peluh begitu?"


Astaga, kepergok juga akhirnya.


"Oh, ini. Fuiih, kipas dikamarku sedang mati. Hawanya panas banget nih! Tahu sendiri 'kan kalau kamarku tidak ada celah untuk angin masuk."


"Oh, gitu. Ya sudah, lajutkan istirahat kamu. Selamat malam."


"Hmm, malam juga."

__ADS_1


Segera kututup pintu. Tubuh merosot dibalik pintu. Kembali lagi tersedu-sedu, ketika mengingat kejadian yang tak diharapkan.


__ADS_2