
Terik mentari terus menyegat. Jarak antara pasar dan rumah cukup jauh juga. Dengan naik angkot bisa cepat sampai. Walau dirumah ada motor, tapi aku tidak boleh menggunakannya sama sekali dikarenakan takut bensin akan habis. Katanya kalau tidak bisa membeli, jangan harap bisa memakainya. Mereka lebih sering menyuruh berjalan untuk ke warung dekat rumah, dan kalau ke pasar kalau tidak ada ojek maka jasa angkutan yang mengantar.
"Semoga selama aku tinggal, Arvin belum bangun. Hhh, kasihan kalau dia sampai nangis kejer, tapi dia tidak diasuh dengan benar," Sedikit khawatir.
Wajah berkali-kali menengok arah jalanan didepan, untuk memastikan kalau sebentar lagi akan sampai. Tidak sabar rasanya ingin datang ke rumah. Ayam dan roti tawar sesuai pesanan kini bertengger ditangan. Untung saja kantong kresek berwarna hitam, jadi tidak mempermalukan diri ini dari pesanan kakak ipar.
"Nih, Pak. Ongkosnya." Menyodorkan uang sepuluh ribu rupiah.
"Iya, terima kasih! Ini kembaliannya," jawab sang sopir ramah, sambil memberikan uang dua ribu rupiah.
Jarak antara jalan raya besar dan rumah cukup lumayan membuat kaki pegal juga. Harus memasuki beberapa gang.
Didekat rumah sebenarnya ada supermarket yang serba ada, namun keluarga selalu menyuruh belanja dipasar saja, yang katanya agar bisa menghemat uang. Disana harga bisa dua kali lipat dari pasar. Lagian ada yang disuruh, makanya mereka terang-terangan memakai jasa diri ini untuk berbelanja bagaikan wanita.
Berjalan tergesa-gesa agar segera sampai. Masuk rumah dan segera menaruh barang belanjaan. Sebelum memasaknya, terlebih dahulu mau memastikan ke kamar anak, apa dia sudah membuka matanya atau masih belum.
"Syukurlah kalau kamu masih tidur, jadi tidak nyusahin nenek kamu untuk mengasuh," Kelegaan hati.
"Faisal ... Faisal?" teriak suara mertua.
Menutup lagi pintu kamarnya. Bergerak cepat menghampiri beliau.
"Ada apa, Bu?"
"Ada apa ... ada apa. Kamu ini gimana sih! Habis beli yang aku suruh, kenapa tidak dimasak secepatnya? Malah ditaruh disini. Emang kamu menyuruhku makan mentah-mentah, hah!" Kena omelan lagi.
"Bukan gitu, Bu. Tadi mau ke kamar Arvin dulu untuk melihatnya."
"Hadeh, kamu itu jadi orang sok sibuk banget sih. Anak masih nyenyak molor begitu, pakai acara dilihat-lihat."
"Kan tadi cuma memastikan saja."
__ADS_1
"Hah, menjawab ... menjawab. Kalau kena marah. Memang mau jadi menantu durhaka 'kah kamu ini?"
"Enggak, Bu." Menjawab sepelan mungkin.
"Kalau sudah tahu begitu, sekarang cepat masak. Sudah mati kelaparan nungguin kamu datangnya lelet. Itu 'kan yang kamu mau, biar mertuamu ini cepat mati."
Beliau marah-marah sambil tangan ditaruh dipinggang, seperti siap menantang habis-habisan. Namanya juga orangtua, mereka selalu benar dan anak selalu salah, walau belum tentu keadaan yang sebenarnya tidak begitu. Bahkan bisa terbalik salah, namun selalu ingin kelihatan benar.
"Astagfirullah, Bu. Kenapa cakapnya kemana-mana. Saya tidak mengharapkam begitu, malah ingin kamu awet muda dan panjang umur, sampai nanti bisa melihat Arvin dewasa serta menikah."
"Hilih, membual terus mulut kamu. Cepat pergi ke dapur sana. Lama-lama aku mati beneran akibat kelaparan,"
"Hhh, baiklah, Bu. Akan segera saya siapkan apa yang kamu minta."
Ayam yang terbeli masih rapi terbungkus plastik, kini kuambil dari tempat menaruh meja ruang tamu. Wajar kalau mertua marah, ada kemungkinan sifat yang ceroboh manaruhnya sembarangan.
"Eeit, tunggu. Kamu belinya berapa kilo? Dan sekarang mana kembaliannya?"
"Sebentar, Bu. Tadi beli cuma dua kilo, dan masih ada sisa uangnya." Mencoba memeriksa kantong celana kanan kiri.
Menjadi kebingungan ketika uang itu tidak ada. Panik yang kurasakan sekarang. Wajah sangar mertua malah semakin membuat takut.
"Mana uangnya?"
"Mm-maaff, Bu. Uangnya tadi ada, tapi herannya sekarang kok hilang."
"Apa?" Beliau terkejut tidak percaya.
"Sekarang cari yang benar disaku celana atau kantong belanjaan kamu tadi. Siapa tahu terselip disitu."
Saran beliau segera kuturuti. Air keringat mulai membasahi kening. Takut kalau tidak ada, pasti akan bertambah kena omelan.
__ADS_1
"Gimana? Ada apa tidak?"
"Mm-maaf, Bu. Tidak ada."
Prang, secara kasar pot bunga disamping beliau sengaja disenggol. Seketika kepala tertunduk dan meremas tangan sendiri, efek akan parah mendengar kengerian beliau emosi.
"Kamu itu benar-benar, ya. Selalu saja bodoh dan tidak becus melakukan kerjaan sekecil itu saja. Kerjaan beli sedikit saja, sampai menghilangkan uang segala. Emang uang tumbuh dari pohon nenek moyang kamu? Dasar menantu tak tahu diri, masih enak kamu itu kami pungut dan tumpangi tempat tinggal. Kalau enggak, hidup nyungsep sama saudara-saudara kamu yang miskin itu. Memang mau begitu, hah?" cacian yang membuat pilu hati.
Mata telah berkaca-kaca, ketika harga diri ini begitu diinjak-injak. Apakah dimata beliau aku hanya orang tak punya, lalu beruntung hidup dirumah beliau? Aah, mungkin saja iya, yang terlihat dari cara beliau yang kian sadis menghina.
"Saya sudah meminta maaf, Bu. Kenapa kau selalu menghina dan mengungkit derajatku? " Kesedihan yang teramat menusuk jantung.
"Kenapa? Apa kau tidak terima aku katain orang miskin yang bisanya hanya numpang, hah?"
"Bukan gitu, Bu."
"Bukan gitu apa'an? Kalau kau tidak terima, boleh angkat kakimu sekarang dari sini," usir beliau, dengan telunjuk mengarah ke pintu.
Deg, ternyata beliau memang sungguh tega. Kurang nurut dan baik apalagi dikeluarga ini. Sudah terlalu sabar menghadapi kelakuan keluarga mereka, namun masih saja selalu salah dan tidak becus.
Seketika diam membisu. Lidah kelu yang ingin banyak membantah lagi. Dalam hati tidak sangat terima pengusirannya, namun jika melangkahkan kaki keluar, bagaimana dengan Arvin dan nasib Anissa yang bakalan akan jadi janda.
Aah, apa memang takdirku menjadi bodoh dan terus diperbudak mereka? Mungkin sampai nyawa terlepas dari badan, mereka akan sadar bahwa pengorbananku untuk menjaga nama baik Anissa tidak main-main.
"Saya benar-benar minta maaf, Bu. Nanti akan saya ganti uangnya."
"Hilih, sok punya uang. Ngaca tuh sama diri kamu sendiri. Bisa ngak menghasilkan uang dan mencukupi keluarga kamu sendiri. Enggak 'kan? Jadi jangan coba-coba sok mau menganti. Seenaknya saja mau bilang ganti, emang pakai dengkulmu mengantinya? Dasar suami tidak becus. Mimpi dan dosa apa aku ..., sehingga mempunyai menantu kayak kamu."
Hinaan beliau tidak ada habis-habisnya. Telinga dibuat panas, ketika kosa kata terus diulang-ulang. Mau undur diri, takut malah beliau semakin menjadi-jadi, tapi kalau tetap disitu rasanya hati tidak kuat lagi atas cecaran hinaan.
"Ya Tuhan. Kuatkan hati hambaMu ini. Aku hanya ingin beribadah dalam berumah tangga untuk Kau, namun kenapa cacian terus datang bertubi-tubi untukku? Sabarkan dan kuatkan hati ini, atas cobaan yang ingin menaikkan ketingkatan derajat. Bimbinglah hamba sebagai imam yang mampu menyayangi istri dengan baik. Satukan hati kami, dan akhirilah penderitaan ini, agar kami bisa membina biduk rumah tangga dengan baik dan penuh kasih sayang bersama anak-anak," Dalam hati terus berdoa.
__ADS_1
Menyendiri dikamar anak. Tidak terasa tetesan embun jatuh tanpa diminta. Cobaan demi cobaan berat terus datang, dan entah sampai kapan akan tahan menghadapinya?.