
Suami adalah pemimpin di dalam rumah tangga, baik bagi isteri, juga bagi anak-anaknya, karena Allah SWT telah menjadikan suami sebagai seorang pemimpin. Allah SWT telah memberi keutamaan bagi laki-laki yang lebih besar, karena dialah yang berkewajiban memberi nafkah kepada keluarganya.
Allah SWT berfirman: “Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (isteri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dan hartanya,” (An-Nisaa’: 34).
Banyak istri cuek yang beralasan bahwa alsannya melakukan hal tersebut karena merasa tidak dipenuhi hak atau keinginannya. Padahal yang perlu dilakukan adalah introspeksi diri dan juga ingat-ingat kembali kebaikan apa saja yang pernah dilakukan oleh suami untuknya.
Sebab, mengingkari kebaikan-kebaikan suami dapat termasuk di antara sebab yang memasukkan para perempuan ke neraka. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas RA, Rasulullah SAW bersabda: “Diperlihatkan kepadaku neraka, dan aku tidaklah melihat pemandangan yang lebih mengerikan pada hari itu. Aku melihat mayoritas penghuninya adalah para perempuan,”
Namun, jika istri melihat kesalahan suami, hendaknya istri ridho terhadap akhlak suami. Ini karena tidak ada manusia yang sempurna. Memiliki kesalahan, keburukan, atau kekurangan di satu sisi, namun dia memiliki (banyak) kebaikan di sisi yang lain.
Sumber Dari Google.
Pasangan yang jarang menghabiskan waktu bersama, salah satu tanda pasangan mulai kehilangan minat adalah saat keduanya mulai disibukkan dengan berbagai aktivitas, dan itu telah terjadi dalam rumah tangga kami.
Terlalu memikirkan kehidupan masing-masing sehingga aku dan Anissa kurang baik juga dalam berkomunikasi, apalagi pihak keluarga ikut serta tidak senang atas kehadiranku sebagai anggota baru.
"Apa yang harus kulakukan agar semua orang dirumah ini senang terhadapku?"
"Apa hanya uang yang sekarang mereka perlukan? Tapi kalau iya, bagaimana aku bisa mendapatkannya? Hhh, kondisi yang tidak berpendidikan ini membuatku terhambat mendapatkan pekerjaan yang layak," rancau hati bekeluh kesah.
Api menyala. Sibuk menyiapkan makan siang. Tidak bekerja, membuatku menjadi babu mereka kembali. Hinaan terus tercecarkan. Berpikir seribu kali agar bisa merubah keadaan, namun kondisi yang tidak memungkinkan semakin membuat buntu ide. Hanya meminta pada yang kuasa saja diri ini menyerahkan segalanya. Semua telah diatur, dan diriku hanya bisa mengikuti alurNya saja.
"Hhhhh, sabar ... sabar! Ujian dan cobaan sedang menghampiri," Berkali-kali hanya bisa menghembuskan nafas kepasrahan.
__ADS_1
Krontang, secara mendadak menjatuhkan piring, yang sudah berisikan lauk makan habis selesai masak.
"Astagfirullah, kenapa aku begitu ceroboh? Pasti gara-gara tadi habis melamun nih." Kekesalan pada diri sendiri.
Tangan dengan telaten mencoba memungut pecahan beling yang kini telah tercampur dengan lauk.
"Astaga, Faisal. Kebodohan apalagi yang kamu lakukan?" tanya mertua menghampiri.
Posisi berjongkok, sambil tangan menengadah untuk menerima pecahan piring.
"Maaf, Bu. Tadi tidak sengaja menyenggolnya, jadi ya berantakan begini lauknya."
"Tidak sengaja ... tidak sengaja. Memang kamu itu selalu saja bikin susah. Apa kamu pikir piring itu tidak beli dan lauk dapat dari memetik, hah! Sehingga kamu begitu ceroboh," Beliau keluar tanduk lagi.
"Wah, hebat. Kamu mulai pintar menjawab, ya! Siapa yang ngajarin kamu, katakan?" tuduh beliau.
"Bukan begitu, Bu. Maksud saya, Ibu marah-marah begini tidak ada gunanya, sebab semua sudah jadi berantakan dan tidak bisa dimakan lagi."
"Jangan sok mengurui kamu. Aku yang punya rumah ini, jadi jangan sok pintar apalagi mau ngatur-ngatur."
Kedua tangan sudah berdecak dipinggang, siap untuk menerima omelan habis-habisan. Matanya bagai ingin melompat, sebab ingin lebih dekat lagi memarahiku.
"Jadi pria terlalu kere ya begini akibatnya. Seenak jidat memecahkan barang orang, dan kalau disalahkan malah membelokkan perkataan. Apa dipanti ini yang diajarkan, supaya kamu bisa melawan mertua kamu, hah?"
__ADS_1
Duh, nih orangtua semakin keterlaluan saja mulutnya. Oleh karena bukan bakti saja, pasti akan kubantah. Eneg rasanya selalu dihina. Mulai bertumpuk semua perkataan yang menyakitkan.
"Kamu disini hanya numpang, jika sekali-kali lagi kamu bisa berkata kurang ajar, jangan mimpi bisa menginjakkan kaki dirumah ini, paham?"
"Iya, Bu. Paham. Maaf sekali lagi, kalau tadi perkataanku terlalu lancang dan bikin Ibu marah."
"Nah, bagus. Sebagai menantu jangan jadi durhaka. Selain masuk neraka, kamu bisa dapat siksa kubur."
Aturan dari mana itu? Bukannya aku yang salah sepenuhnya, kenapa jadi merembet tidak karuan ke agama segala. Selama ini patuh, apa yang diiginkan selalu terpenuhi, tidak membantah, bahkan disebut babu kuterima dengan lapang dada, tapi kenapa malah disebut durhaka. Satu perkataan saja tadi salah, namun selalu diperpanjang sampai mulut terkunci tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Aku sekarang mau, kamu bereskan semuanya sampai bersih. Masak lagi tuh lauk, jangan sampai telat menghidangkan."
"Baik, Bu. Akan segera saya lakukan."
"Hmm, jangan lama-lama."
"Dasar menantu durjana, bisanya hanya nyusahin saja. Emang sayur ngak beli apa? Main ditumpahin segala."
Beliau sudah melangkah pergi, namun suaranya yang mengomel-ngomel masih terdengar ditelinga.
Ambil sapu, untuk segera membersihkan sisa serpihan dan sayurnya. Mertua orangnya gila akan kebersihan, jika sedikit saja salah pasti alamat dapat omelan. Semua harus licin dan keset piring dan alat dapur lainnya. Kalau ada sedikit hitam saja, harus berulang kali mencuci. Tenaga selalu terkuras habis untuk melayani mereka. Perlakuan selalu tidak baik, mana ada orang yang selamanya akan tahan atas perlakuan ini?
Harus bersabar yang bagaimana lagi? Rasanya cukup tidak betah. Hanya Arvin kekuatanku terbesar dirumah ini. Anissa juga tidak menginginkanku, jadi buat apa bertahan untuk dicintai. Banyak hak dan kewajiban yang harus dipenuhi olehnya sebagai istri, namun selalu saja hanya gigit jari, dan menahan semua rasa gejolak didalam dada.
__ADS_1