Milyader Tersisih

Milyader Tersisih
Serba Salah Ketika Kerja


__ADS_3

Lelah rasanya menjalani hari-hari dengan pekerjaan seabrek, dari mulai membersihkan rumah, menyiapkan makanan, mengasuh anak, dan sekarang harus bekerja.


"Kamu kuat, Faisal. Semangat. Kamu pasti bisa melakukan ini semua. Ini belum seberapa dibandingkan sama orang lain, jadi tetaplah bersyukur sama keadaan yang kamu lakoni sekarang," Diri sendiri memberikan semangat.


"Arvin adalah segala-galanya bagimu, maka kuatkan tekad dan hatimu untuk mencari pundi-pundi rupiah. Jangan terlena dan patah harapan."


Jarak antara rumah dan tempat kerja tidak jauh, jadi dengan mengayuh sepeda cukup untuk semangat, agar terus menjalani hari-hari bagi siapa yang melihatnya pasti agak berat melaluinya.


Wajah Arvin yang polos selalu membuatku ingin terus semangat menghasilkan uang, agar dia tahu bahwa ayahnya ini tidak main-main dalam menghidupi dirinya. Biarkanlah keluarga lain mau berkata apa, yang penting aku dan Arvin bisa menjalani hari bahagia ini dengan santai. Aku suka anak kecil, kalau dia bukan darah dagingku tetap disayangi sepenuh hati.


Seperti biasa, ketika anak tidur aku bisa leluasa bekerja dan membawakan pesanan makanan untuk pelanggan. Untung saja anaknya tidak rewel sehinggga memudahkan pelayanan.


"Silahkam dinikmati."


"Iya, terima kasih."


Kaki berkali-kali harus bolak-balik menyuguhkan dan mengambil mangkok ataupun gelas yang kotor. Lelah, yang pastinya iya, tapi demi menghilangkan penghinaan itu tetap harus kuat menjalaninya. Gaji sedikit, tidak masalah. Kalau dikumpulkan lama-lama akan menjadi bukit, begitulah pepatah mengatakan.


"Antarkan pesanan ini ke meja nomor sebelas, Faisal!" suruh teman atau sebagai bosnya.


"Baik, segera kuantarkan ke sana." Harus cekatan, agar pelanggan senang atas pelayanan.


Nampan berisi bakso dengan kuah yang masih mengepul asapnya, bikin sedikit goyang-goyang membawanya karena penuh dengan isi pesanan juga. Tak cukup sampai disitu, kadang es teh atau minuman lain yang dipesan sekali bawa ada sepuluh gelas. Tangan kadang merasa pegal juga.

__ADS_1


"Gimana, sama Arvin. Apa dia tidak bisa ditaruh dulu, agar kamu bisa melayani pelanggan dengan cepat. Lihat! Banyak yang menunggu pesanan, akibat kamu lama jadinya istriku yang keteteran melayani," taleman kelihatan kesal.


"Maaf. Sebentar ... sebentar, saja ... ! Aku tenangkan dia dulu, kalau sekarang kelihatannya tidak bisa membantu." Terus mengendong agar tangisan Arvin cepat mereda.


Entah apa yang terjadi dia menangis kejer, sampai susah menenangkan dan melanjutkan kerja lagi. Teman hanya bisa berdecak kesal, dan menghembuskan nafas kasar ketika melihatku yang masih kewalahan.


"Gimana sih, Pak. Aku juga capek kalau kerja sendirian menyuguhkan begini. Teman kamu bisa kerja ngak sih? Kalau begini caramya lebih baik berhentikan dia saja dan cari pegawai lain yang bisa becus melayani pelanggan. Bikin susah saja, kerja tapi malah enak-enakkan tidak mau menyuguhkan, Suara istri teman yang marah-marah.


"Sabar, apa tidak dengar anaknya nangis terus. Entar tak bantuin."


"Hhh, iya dech. Daripada aku yang menyuguhkan sendirian. Mana karyawan satunya minta cuti melulu. Bikin sebel saja nich."


Ah, betapa pilunya hati ini. Mendapat pekerjaan namun tak diinginkan. Inilah kalau jadi orang tidak berpendidikan, mau cari kerjaan yang sesuai harapan baik saja susah, dan berimbasnya sekedar mau mencari untuk makan saja kewalahan.


"Kamu jangan lupa lap semua meja bekas makan orang-orang tadi, dan cuci semua bekakas dibelakang itu nanti," suruh teman.


"Baik. Akan segera saya laksanakan."


Peluh yang membasahi dahi tidak kupedulikan lagi. Terus mengelap meja dan merapikan beberapa tempat sendok, botol kecap dam saus. Selesai semua sudah, namun pekerjaan tak sampai disitu saja, harus mencuci semua mangkuk dan gelas kotor. Bahkan dandang yang warna hitampun kugosok semua agar lebih kinclong. Lelah pikiran dan fisik pasti, iya.


"Faisal, kamu hidangkan dulu pesanan baksonya. Istriku sedang capek mengantar."


"Iya, sebentar." Cepat-cepat kutinggalkan sejenak mencucinya.

__ADS_1


Satu persatu mulai kuhidangkan sesuai pesanan. Ada rasa kesal dan iri hati ketika melihat sang istri kawan hanya duduk santai sambil main gawai, namun aku menyadari kalau dia lebih berkuasa sebagai juragannya.


Beberapa saat kemudian, Arvin kembali bangun, terpaksa menyuguhkan dengan mengendong lagi.


"Uuhh, bau apa ini? Ueeekkk," Salah satu pelanggan mual-mual dan ingin muntah.


"Astagfirullah, maaf, Bu. Kalau menganggu makan anda," Tidak enak hati ketika tahu Arvin buang air besar.


"Kalau begini caranya aku tidak jadi makan. Berasa jijik banget sama nih warung, kalau makan saja bau kotoran buang air besar anak kecil begini," keluhnya pelanggan lagi.


"Maaf ... maafkan, saya sebab menganggu makan kalian," Kepala tertunduk-tunduk ketika ada rasa penyesalan.


Semua orang menatap dengn jijik, dan lagi-lagi aku dilanda kesedihan, sebab telah membuat pelanggan mau makan kabur begitu saja.


"Hei, Faisal. Cepat kamu undur diri dari situ, sebelum pelanggan lain jijik dan tambah kabur, dan tidak mau makan disini lagi," usir istri teman.


"Jangan begitu, Bu. Namanya juga ngak sengaja," Ijal mencoba membelaku.


"Halah, Abang tidak usah membela dia. Apa mau warung kita bangkrut gara-gara dia. Pokoknya aku tidak mau melihat mereka lagi disini, bagaimanapun caranya kamu urus mereka. Bikin sebel saja, pelanggan jadi kabur gitu," Istri Ijal masih marah-marah.


"Astagfirullah, jaga mulutmu, Bu. Ngak baik bicara begitu."


"Terserah, pokoknya kamu urus mereka. Kalau begini, bikin pusing kepala terus."

__ADS_1


Mendengar pertengkaran suami istri itu jadi serba salah. Tidak diajak kerja nanti Arvin tidak terurus. Kalau diajak, akibatnya ya begini. Dibilang nyusahin tapi semua anak adalah titipan Allah, yang kadang membawa berkah bagi siapa yang ikhlas dan ridho mengasuhnya.


__ADS_2