Milyader Tersisih

Milyader Tersisih
Informasi Minyak Pemikat, Agar Dia Tunduk


__ADS_3

Wanita yang kesepian, pasti butuh hiburan serta belaian seorang pria. Sudah lama memperhatikan hubungan rumah tangga dia, namun tak ada pekembangan keharmonisan sama sekali, dan itu adalah kesempatan untuk lebih dekat apalagi bisa menikmati tubuhnya.


Apa aku kenal takut? Tentu saja tidak. Buat apa memikirkan keluarga dia atau bakalan dimarahi istri sah, yang penting aku bisa merasakan kenikmatan dunia dari wanita lain itu sudah cukup. Sebenarnya Dita juga lumayan, tapi sikapnya yang centil membuat muak. Apalagi mulutnya yang cerewet selalu bikin mood tak baik. Beda jauh dengan adiknya. Walau pendiam, lemah lembut, banyak pria yang naksir, namun kesintalan tubuhnya sangat bikin ketagihan.


"Kau harus tetap jadi milikku? Jangan harap kau bisa kabur. Sekali kau menjatuhkan dir dalam pelukanku, maka selamanya kau akan terjerat oleh pesona ini. Jangan harap kau bisa kabur dan menolak. Semakin kau menentang, maka semakin aku akan gencar mengejarmu."


"Kau selama ini kudambakan, apakah kau tahu itu? Hanya saja dulu tak cukup keberanian mendekatimu, tapi setelah bertahun-tahun kukumpulkan keberanian, maka kau selamanya harus memuaskanku?" guman hati penuh keyakinan yang tak menyerah.


Hari ini dengan alasan mau ngopi, ingin ketemu pujaan hati yang selalu terindukan. Biar tidak dicurigai, memang sengaja pergi ke kedai perkumpulan warga. Awal-awal ada gelagat kecurigaan. Dengan gercep mencari jawaban tepat. Jangan sampai Dita tahu. Pasti bakalan ngamuk besar tuh orang.


Mesin motor termatikan. Sedikit gugup sebab tidak mengenal mereka. Tapi demi mengalihkan alasan, harus menepis rasa itu. Takutnya Dita akan membuntuti sampai kesini, maka bisa membuktikan kalau tidak berbohong.


"Pesan kopinya satu, Mang!" ucapku pada pemilik warung.


"Siap. Tunggu sebentar, akan saya siapkan."


"Wah, tumben kamu ada disini, Ijal. Tidak biasa-biasa ikutan kumpul sama kami. Ada apaan nih?" Salah satu warga curiga.


"Hehe, lagi pengen saja, Pak. Bosan dirumah. Yang dilihat itu-itu saja. Kalau keluar begini 'kan, bisa cuci mata dan menghirup udara kesegaran."


"Kamu benar, Ijal. Bosan lihat muka istri yang itu-itu melulu. Kalau gabut sama teman begini, siapa tahu bisa dapat informasi atau gosip yang lagi hit, apalagi nanti bisa menghilangkan stres dan kepenatan setelah seharian penuh membanting tulang," simbat warga lain.


"Benar ... benar itu. Apalagi kalau ada cewek bohay lewat. Wah, pasti malah bikin mata tambah melek dan bening."


Kopi tak ada dua menit sudah jadi. Sebelum menyeruputnya, lebih dulu makan camilan gorengan. Ternyata banyak tetua maupun pemuda lagi ngumpul. Ada yang sedang duduk santai, ada juga sibuk bermain kartu.


Laris manis sekali warung ini. Tiap pulang kerja selalu lihat keramaiannya, namun kerena lelah maka malas ikut kumpul. Kalau hari ini bukan mencari alasan mau ketemu Anissa, ogah rasanya membuang waktu hanya untuk mendengarkan yang tak berfaedah.


"Ish ... ish, otak kamu makin tercemar aja, ya. Makanya jangan membujang melulu. Biar mata tuh bisa memandang kecantikan putri dalam rumah kamu," ejek yang lain.


"Gimana mau dapat putri, jodoh yang sedang dekat saja susah. Entahlah, Kang. Aku kok kayak susah banget ya nyari pendamping. Apa ada yang salah denganku?" tanya warga yang bernama Tejo.

__ADS_1


"Enggak ada yang salah sih. Cuma mungkin umur kamu yang sudah kepala tiga, jadi sulit menemukan jodoh."


"Emang dulu waktu muda kenapa ngak nikah dulu, Bang?" tanyaku kepo.


"Yah, gitu dech. Kelamaan pacaran. Belum sampai dapat, malah ditinggal nikah sama orang lain. 'Kan nyesek banget beut."


"Oh, gitu. Kasihannya."


"Kamu terlalu pilih-pilih mungkin. Makanya kalau dapat jodoh jangan ditunda-tunda, lansung sat set dinikahi biar tidak direbut orang lain," tebak yang lain.


"Mungkin iya juga sih. Terus gimana cara jitu mendapatkan jodoh, nih?" Bang Tejo minta solusi.


Habis dua gorengan dan satu plastik krupuk, baru meminum kopi. Aroma khas dari buatan tangan sendiri memang mengoda. Hitam pekatnya ngak kaleng-kaleng, yang bikin ketagihan saja. Wajar kalau warung selalu dipenuhi pembeli.


"Ada solusi sih, tapi ngak tahu apa kamu cukup uang untuk membelinya."


"Hah, apa itu, Kang?" Bang Tejo sangat penasaran.


Akupun dibuat penasaran. Sampai memasang telinga untuk mendengarkan sejelas-jelasnya. Siapa tahu akan berguna suatu saat nanti.


"Kami janji, Kang."


"Benar ... benar itu," jawab kami kompak.


"Kasih tahu cepat, Kang!" Bang Tejo tidak sabaran.


"Sini kalian. Mendekatlah. Aku akan bisikkan."


Apa yang beliau katakan, kami turuti. Awalnya duduk berjauhan, kini kami semua mulai berdekatan, sambil memasang keseriusan telinga masing-masing.


"Yaitu memakai minyak pelet."

__ADS_1


"Apa?" jawab semua orang terkejut.


"Wah, apa yang dikatakan Akang benarkah itu?"


"Iya, itu sangat ampuh untuk memikat wanita. Dengan cara kalian mengosokkan sedikit minyak ditubuh, serta menyebut nama si gadis itu, pasti dia akan klepek-klepek. Bahkan akan menempel terus. Dalam tidur atau keseharian, pasti tuh gadis akan terbayang wajah kalian terus. Tapi ya gitu dech, harganya mehong."


"Wuih, menarik sekali. Apa itu benar, Kang?" tanyaku kurang yakin.


"Benar itu. Kalau ada unsur tipuan, mana mungkin kami akan berani menjual begitu mahalnya."


Senyum simpulku berubah menakutkan, ketika mengenang Anissa. Sangat tertarik dari cerita Akang itu. Patut dicoba mungkin, biar istri Faisal itu tunduk terus mau melayaniku.


Ketika yang lain sedang asyik mengobrol, maka mengajak menepi Akang itu.


"Bolehkah aku minta satu botol saja, Kang?


"Emm, untuk apaan kamu? Bukannya sudah punya istri?"


"Ada dech, Kang. Memang punya istri tidak boleh memakai itu. Istriku itu sangat galak, makanya mau menundukkan dia agar jadi wanita penurut. Gimana? Tapi kalau bisa mau coba dulu. Maksudnya tidak langsung membeli," tawar untuk negosiasi.


Harus menggunakan trik kebohongan, agar diberikan.


"Hmm, boleh ... boleh aja sih. Betul juga, kalau niat kamu baik gitu. Aku sedikit kenal sama istrimu itu, memang kelihatan galak dan sedikit cerewet. Ok, kalau gitu ikut aku sekarang."


"Siip, terima kasih, Kang."


Mengantar memakai motor kerumah beliau. Tak berselang lama, terpakailah minyak itu sesuai yang dibilang. Waktu yang tepat untuk membuktikan dan merasakan kehangatan pelukan selingkuhan.


Jalan ninjanya adalah masuk lewat jendela. Lama mengetuk tidak dibuka, namun tak kenal lelah terus mengedor kasar. Akhirnya sang empu nurut saja. Bahkan ngajak dia beberapa ronde jadi sangat mudah. Tidak berontak, walau awalnya hanya ngedumel atas hubungan terlarang ini.


Hubungan kami mulai bagai perangko. Terikat oleh lem dan tak bisa lepas lagi. Awalnya Anissa sangat menolak, tapi siapa sangka dia bisa mengimbangi kemampuanku memuaskannya.

__ADS_1


__ADS_2