
Umur sudah mulai udzur. Rambut sebagian telah memutih. Cucu baru satu. Anak tetua sudah lama menikah, tapi tak kunjung jua menghadirkan tangisan bayi ditengah keluarga kami.
Sangat senang melihat kedua anak sukses dan patuh. Hanya satu yang kubenci yaitu menantu sang Faisal dari panti asuhan. Andai Anissa tidak hamil saja, pasti akan mencarikan jodoh yang tajir. Semua sudah diatur oleh yang diatas, mau tak mau untuk saat ini harus terima saja. Kalau masih tidak membaik, pasti aku akan bertindak memisahkan mereka dan akan mencarikan pendamping yang lebih baik lagi.
Penyakit lama sering kambuh. Sudah minum obat dan check up ke rumah sakit, tapi kalau kelelahan pasti akan kumat. Seperti hari ini, dari pagi sampai siang hanya berbaring dikasur. Kepala tiung-tiung terus. Penglihatan kabur. Bumi terasa berputar-putar. Rasa sakitnya begitu dahsyat, sampai kepala berasa berdenyut mau pecah saja.
"Duh, kenapa air minum habis pulak!" geram hati ketika melihat gelas dan botol kosong.
Hari sudah gelap. Detingan jam menunjukkan diangka sebelas. Tenggorokan begitu haus, hingga mau tak mau tetap bangkit dari tempat tidur. Tangan berpegangan dulu, agar tidak ambruk ketika rasa pusingnya hadir. Berjalan agak menyeret. Berdesis merasakan rasa sakit yang luar biasa. Harus bisa menahan sebentar.
"Anak yang tak berbakti semua nih. Sudah tahu Ibunya lagi sakit, tapi tidak ada yang mau mengurus. Mau ambil air minum saja harus tertatih-tatih sendirian begini. Sudah dari kecil dibesarkan menjadi wanita sukses tapi giliran merawat orang tua saja pada acuh begini," Kekesalan hati sebab tidak ada yang mau membantu.
Memegangi tembok. Denyutan kepala begitu kuat, sampai ingin berhenti melangkah. Mengerahkan semua tenaga untuk menyusuri jalanan menuju kulkas. Sesampainya apa yang dicari, langsung mengambil. Seteguk kemudian rasa haus itu hilang. Hampir setengah tandas masuk mulut. Mengelap tetesan yang menempel dibibir. Lega rasanya berhasil diairi kekeringan tenggorokan.
Mengisi botol untuk berjaga-jaga dikamar. Menuang cepat air sebab sudah tidak tahan. Terasa masih berputar-putar. Tanganpun gemetaran. Sepertinya sudah tidak kuat lagi, jika berdiri terlalu lama-lama.
"Eeh, siapa tadi?" Melihat seseorang sedang mengendap-endap melangkahkan kakinya.
Ingin memastikan kalau itu manusia. Jangan sampai makhluk astral lewat. Selama ini rumah jauh dari hal ghaib, jadi sepertinya tidak mungkin jika itu dedemit.
"Dari poster tubuh, kayaknya itu Ijal. Tapi mau ngapain malam-malam begini? Ah, sungguh aneh sekali?" guman hati masih menaruh curiga.
Jarak kaki melebar. Irama detumannya begitu cepat. Jangan ssmpai kehilangan jejak. Jiwa kepo terus mengogoti hati.
"Beneran Dia. Tapi ngapain bertingkah aneh kayak maling begitu? Wajahnyapun terlihat ketakutan?" Mencoba mengintip dari balik tembok.
Wajah menantu clingukkan. Seperti sedang memastikan sesuatu. Sesekali dia menoleh kebelakang. Lamat-lamat terus mengamati. Sebetulnya sikap dia makin mencurigakan. Memicingkan mata sebelah, ketika tahu dia akan menuju kamar Anissa.
"Hah, ada urusan apa dia? Kalau butuh bantuan atau sesuatu, kenapa harus Anissa? Atau jangan ... jangan?" guman hati menerka-nerka.
Terus memperhatikan gerak-gerik mereka dari kejauhan. Dihati sangat menganjal. Pikiran sudah berkecamuk menuduh aneh-aneh. Selama mengawasi mereka memperlihatkam sikap biasa. Namun hanya satu yang disayangkan, yaitu tidak kedengaran apa yang sedang dibicarakan. Kelihatannya sangat serius, sampai Ijal berani nyamperin kamar anak terakhirku.
__ADS_1
Menunggu tindakan yang jelas. Kalau ada sesuatu yang wow, maka akan gercep menyergap mereka. Tidak akan kubiarkan mereka sampai begitu dekat. Harus menjaga hati anak pertama. Boleh saja akrab, tapi hanya sebatas saudara. Selebihnya, tanda sebagai sayang menjalin hubungan baik keluarga.
Lama sekali mereka bicara. Nampak Anissa sedang marah-marah. Sesekali memberikan dorongan. Tunjuknya mengudara, yang sepertinya ingin mengusir Ijal, namun pria itu kekuh tak mau pergi.
"Aku harus kesana. Rasanya tidak sabar ingin tahu. Harus memastikan apa yang sebenarnya terjadi?" rancau hati semakin tidak tenang, ketika Anissa kian marah-marah.
Berjalan menuju ke arah mereka berdua. Dari jarak agak dekat, sangat kental terdengar Anissa mengatakan muak sambil ingin menyuruh dia undur diri.
"Hei, apa yang kalian lakukan?" menegur terang-terangan.
"Eeh, Ibu. Hhehe, tumben belum tidur," Ijal climuran seperti mati kutu telah kepergok.
"Iya, nih Bu. Kok belum tidur?" Anissa nampak terkejut. Wajah berubah memerah kayak ketakutan.
"Tadi lagi ambil air minum saja. Itu tidak penting sekarang. Yang jelas, apa yang kalian ributkan sekarang? Dan kau Ijal, kenapa malam-malam begini sibuk menghampiri ke kamar Anissa?" cecarku penuh penekanan.
"Anu ... anu, itu, Bu." Kegagapan dia menjawab.
Ijal mulai kekok gaya bahasa. Raut muka dia berubah drastis menjadi orang kayak kebingungan. Mulutpun sampai terbata-bata ingin memberikan jawaban.
"Ehh, Bu. Mencurigakan gimana? Kami tidak ngapa-ngapain, kok. Kak Ijal hanya ada urusan penting saja kesini," Nissa membantu menjawab.
Intonasi bicara gemetaran. Gugup nampak sedang melanda dia. Bahkan tidak berani menatap kerahku, dengan cara kepala tertunduk.
"Ii-iyya, itu betul, Bu."
"Kalian tidak usah bohong. Memang kepentingan apa'an malam-malam begini?" Mengejar pertanyaan.
"Itu ... itu loh, Bu. Mengenai hutang.
"Hah, hutang apaan itu? Jangan ngadi-ngadi berbicara. Masak ngutang malam-malam begini? Kalian serius 'kan?" Masih tak percaya atas jawaban mereka.
__ADS_1
"Eeh, itu serius, Bu. Aku kesini hanya ingin meminjam uang sama Anissa saja, sebab ada kebutuhan yang sangat mepet," timpal Ijal makin mencurigakan.
"Kalau memang iya, kenapa harus malam-malam begini. Bukankah besok bisa? Kayak sudah tidak punya hari saja." Masih saja ada keraguan.
"Tidak bisa, Bu. Sebenarnya minta maaf sih sama Anissa0 karena sudah ganggu tidurnya. Uang yang aku pinjam sangat penting, sebab besok teman menagihnya dan itu sudah harus ada."
"Kenapa kamu tidak minta bantuan sama istri kamu sendiri?" Masih belum puas menerima jawaban.
"Yah, kalau masalah Dita, saya tidak berani. Kalau ketahuan hutang sama teman, malahan saya akan disemprot dia."
"Hadeh, kenapa kamu hutang tanpa sepengetahuan dia begini. 'Kan jadinya ribet dan melibatkan adik ipar kamu."
"Ibu, tahu sendirilah sifat dia gimana. Kalau tidak dituruti akan marah dan belakangan ini belanja dia sangat boros. Terpaksalah saya hutang sama teman. Tidak ada orang lain yang bisa bantu saya saat ini, kecuali Anissa. Benar ngak tuh, Nis?" Melempar pertanyaan.
"Betul tuh, Bu. Ini hanya sebatas masalah hutang saja kok."
"Ya sudahlah. Kalian cepat tidur. Bukannya kalian besok akan kerja? Sekarang undur diri ke kamar masing-masing dan molor. Masalah hutang nanti bisa bicarakan lagi. Jangan sampai kalian tidak bisa bangun kerja, hanya karena ngobrol yang enggak-enggak," suruhku tegas.
"Iya, Bu!" jawab mereka kompak.
"Terus apalagi sekarang? Cepat undur diri dari sini. Husst ... husss!" usir kasar kepada Ijal.
"Iyy-ya, Bu. Maaf ya Nis, ganggu kamu."
"Hmm, ngak pa-pa."
Ijal masih punya rasa sopan santun dengan membungkukkan badan ketika melewatiku. Tidak percaya begitu saja atas penuturan mereka berdua. Dari gelagat, gaya bicara, sikap, itu sangat terbanding terbalik ketika masih mengintip tadi. Pasti ada hal lain lagi yang sedang mereka sembunyikan, dan aku pasti tidak diperbolehkan tahu.
Masuk kamar dengan mata enggan terpejam. Masih memikirkan tindakan mereka berdua. Sangat bikin heran dan penuh teka-teki. Mantap ingin menguak semuanya. Jangan sampai hubungan keluarga jadi berantakan hanya satu kesalahan fatal.
"Aah, tidak ... tidak. Apa yang sebenarnya aku pikirkan? Jangan sampai pikiran ini berjalan ke hal-hal yang kotor. Semoga saja ini hanya firasat. Kalau sampai iya, aku harus segera menghentikan. Ini adalah aib. Semua harus ditutup rapat. Hhh, jangan sampai perang dunia ke dua akan terulang kembali dalam keluarga ini," Kesedihan hati memikirkan yang bukan-bukan. Berpusat menuduh ada hubungan dekat diantara mereka berdua.
__ADS_1