
Serendah apapun pekerjaan seorang pria, didalam keluarga dia adalah kepala keluarga yang harus menjunjung tinggi beberapa kaidah yang berlaku dalam keluarga itu. Dia yang akan bertanggung jawab didalam keluarga tersebut, dia yang harus mampu melindungi dan membahagiakan keluarga dan anak-anaknya.
Kalau seorang pria adalah pemimpin keluarga maka kelak di akherat akan diminta pertanggung jawabannya. Demikianlah beratnya tanggung jawab seorang pria, selain kerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dia harus kerja keras melindungi, mengayomi, dan mensejahterakan keluarganya itu.
"Duh, capeknya!" Kaki rasanya mulai pegal-pegal.
Tangan mencoba memijitnya pelan, supaya letihnya bisa sedikit mereda. Diwarung tadi harus bolak-balik menyuguhkan pesanan, jadi cukup lelah sekali. Badan terasa remuk redam, dengan tulang-tulang bagai ingin terlepas dari kaki.
"Sabar kamu, Faisal. Ini baru awal untuk merubah hidup kamu. Jangan sampai kamu menyerah begitu saja hanya gara-gara kecapek'an. Ada Arvin yang menjadi tanggung jawabmu, agar dia kelak jadi anak baik dan sholeh. Semoga saja," guman hati berbicara sendiri.
Arvin yang rewel belum juga bisa tidur, kini kuayun-ayunkan di box pembaringannya. Sambil duduk dilantai, tangan tetap sibuk mengoyang-goyangkan. Mata rasanya sudah tidak kuat lagi untuk terpejam. Rasa lelah itu membuat kepala berkali-kali terjatuh tanpa tersadari.
Kerja keras itulah yang menjadi patokan agar kita bisa menjadi sukses, siapapun orangnya dari golongan manapun itu, apabila mau berusaha kerja keras akan menjadi jaya dan bahagia. Tetapi ingat, kejayaan dan kebahagiaan itu datangnya dari Allah, kalau Allah tidak menghendaki maka itu semua juga tidak akan terjadi. Maka orang yang tau semua itu selalu meningkatkan keimanan kepada Allah.
Didalam bekerja keras dalam mencapai tujuannya seorang pria harus berkomitmen terhadap apa yang akan dia capai, sebab komitmen, dan disiplin tinggi adalah modal utama seorang pria untuk bisa terus bekerja keras.
Terus disini apakah memang yang harus bekerja terus menerus itu seorang pria? Tentu saja tidak, sebaliknya dikala sang suami sedang bekerja keras untuk memenuhi keluarganya, seorang istri juga punya peran yang besar juga yaitu mendoakan suaminya agar kerja keras dari suaminya itu agar cepat membuahkan hasil. Jangan cumanya bisa mengeluh, kuranglah, tidak cukup memenuhi kebutuhanlah, justru sebagai istri harus memberikan semangat agar bisa terus rajin mengumpulkan pundi-pundi rupiah itu.
Seorang suami sebenarnya akan senang jika istri patuh dan menyambut baik kedatangan habis kelelahan kerja, tapi sepertinya Faisal hanya bisa bermimpi melihat sikap Anissa yang masih tidak bisa menerima dia sebagai suami sah.
"Faisal ... Faisal?" teriak mertua memanggil dengan keras.
"Astagfirullah, kenapa aku malah ketiduran."
__ADS_1
Melihat ke arah anak untuk memastikan apa dia sudah tidur apa belum. Ternyata dia sudah memejamkan mata, dan dotnya sudah terlepas dari mulut dan tergolek disampingnya.
"Faisal?" Lengkingan suara itu semakin kuat.
Berjalan kilat untuk segera menghadap beliau. Terlihat tangan beliau sudah melingkar dipinggang, yang nampaknya beliau sedang berdecak kesal.
"Ada apa, Bu? Kenapa kamu memanggilku dengan keras. Maaf banget, Arvin sedang tidur, jadi tolong pelankan suara Ibu. Bolehkan?" Berbicara menundukkan kepala.
Wajah sangar itu mulai mendelikkan mata. Entah apa yang membuat beliau kini nampak ingin marah-marah terus.
"Kamu itu jangan lupa kewajibanmu, untuk menyiapkan makan malam. Jangan mentang-mentang kamu sudah bekerja, jadi alasan tidak mau memasaknya."
"Maaf, Bu. Tadi aku sangat kelelahan dan ingin menidurkan Arvin dulu. Aku pikir Ibu sudah makan, dan dibelikan oleh kakak ipar. Bukannya dia tadi terlihat keluar sama suaminya?"
"Halah, jangan banyak alasan kamu. Mereka memang keluar, entah ngapain, tapi bukan urusanku. Yang jelas pekerjaan harus tetap kau jalankan, walau kamu sekarat akibat kelelahan sekalipun. Kakak ipar kamu mana mungkin membelikan makanan dari luar, dan kamu tahu sendiri kalau aku tidak suka sama makanan luar yang banyak bumbu penyedapnya."
"Hhh, baiklah, Bu. Aku akan siapkan segera."
"Tidak usah masak banyak-banyak, cukup aku saja. Sebab sedang tidak ada orang lain dirumah selain kita. Jangan sampai kamu boros memasak, atau kamu akan mengantinya dengan dua kali lipat dari yang kamu habiskan," Beliau masih saja pelit bin medit.
"Baik, Bu. Kata-katamu itu akan kuingat."
"Baguslah kalau begitu. Harus selalu mengerti, biar tidak bikin emosi saja."
__ADS_1
Selepas kena marah, langsung saja menuju dapur. Tahu kesukaan beliau, jadi kini kugoreng saja, yang akan ditemani dengan menumis kangkung saja.
Selalu saja membeli sayuran yang murah seperti kankung, kubis, tahu, tempe, dan terong. Mungkin yang makan akan jemu juga, makanya kelihatan sekali kalau kakak ipar sering makan diluar tanpa mau membelikan untuk mertua, sebab kalau ketahuan, maka akan kena omelan akibat boros jajan diluar.
Tidak ada yang istimewa dari keluarga kami, contohnya makan ikan ataupun ayam. Mungkin dua bulan sekali baru merasakannya, itupun kalau Anissa memberikan uang lebih. Entah apa yang dipikirkan mereka. Bisa berias dengan menor, membeli bedak mahal, dan beberapa buah emas, namun untuk makan saja agak pelit dan harus pintar mengaturnya.
Anissapun jarang makan dirumah, mungkin sudah eneg mau makan dirumah. Hanya Ibu mertua saja yang bertahan, dengan olahan yang sama setiap hari.
Kadang uang seratus ribu, bisa satu kantong kresek besar berisi sayuran semua. Kata mertua beli yang agak cacat sedikit tidak apa, sebab harganya akan lebih murah daripada sayuran yang segar. Kadang merasa malu juga jika membeli yang sedikit bagusan, ketika terus-menerus menawar harganya agar diberikan lebih murah lagi.
"Ini, Bu. Sudah siap semua."
Kusodorkan lauk yang sudah matang.
"Kamu sudah makan?" tumben sekali beliau baik menanyakan ini, biasanya malah disuruh pergi dulu.
"Tadi sudah. Dapat jatah dari tempat kerja."
"Baguslah kalau begitu. Jadi berkurang pengeluaran dan pengolahan makanannya. Pertahankan itu, supaya beras sama lauk yang lainnya tidak cepat habis, efek kamu ikutan makan disini."
"Astagfirullah, kenapa ada mertua yang kejam dan pelit begini," Hanya bisa mengelus dada.
Mungkin kehadiranku memang bikin benalu bagi mereka, makanya sering tersisih dan tidak dianggap ada sebagai keluarga.
__ADS_1
Pada beberapa kasus, hubungan antara mertua dan menantu ini bisa cukup tegang secara terang-terangan maupun perang dingin. Tak jarang beberapa orang, mulai bertanya-tanya mengenai tanda bahwa mertua memang tidak menyukai.
Saat mertua tidak menyukai, terkadang ada saja hal-hal yang dijadikannya alasan untuk menjatuhkan diri ini. Pada beberapa kasus, ibu mertua tak jarang membandingkannya dengan keluarga lain, sehingga semakin memojokkan apa yang ingin terungkapkan dalam hati.