
Suami selalu memanjakan. Apa yang kuminta langsung ia turuti. Sangat beruntung mendapatkannya yang terus menyayangi. Walau gaji tidak cukup banyak, tapi cukuplah untuk jajan diluar, kalau makanan dirumah sangat tidak menyelerakan.
Tidak ingin berdebat sama orangtua sendiri. Selama beliau hidup, rumah masih dikuasai seutuhnya. Kami berdua tidak berani membantah. Apa yang diiginkan akan kami penuhi, walau kadang dalam hati sangat dongkol. Kadang menekan kami berdua untuk memberikan uang lebih seperti Anissa, tapi berbagai alasan membuat beliau bungkam tidak meminta lagi.
Seharusnya sebagai anak tidak harus memberikan uang dengan nominal yang beliau inginkan, tapi ketika disebut sebagai balas jasa telah merawat sampai dewasa kami tidak bisa berkutik. Anak yang sudah berumah tangga kadang banyak kebutuhan, jadi seharusnya memberikan semampu kami.
"Kenapa gelagat mas Ijal akhir-akhir ini sangat aneh, ya? Apa dia menyembunyikan sesuatu, atau sedang ada masalah besar yang dia hadapi tapi tidak berani bercerita?" guman hati sedang menaruh curiga.
Duduk santai membaca majalah. Kerjaan selalu enak-enak, yang tidak ingin melakukan membersihkan rumah. Rasanya ogah jika kulit ini kena debu. Pasti bikin kusam dan kotor.
Memasakpun tidak ahli. Ada duit lebih baik membeli saja, daripada buang tenaga mengolah makanan yang belum tentu dimakan. Pasti Ibu akan ngomel jika masak seperti selera lidah kami. Beliau 'kan selalu berlaukkan yang murah, jadi kami bosan dan mual jika melihat itu-itu saja yang dihidangkan.
"Kamu ngak ada kerjaan lain apa, selain duduk terus?" Ibu mulai protes.
Beliau ikutan duduk. Posisi agak saling berjauhan.
"Malas 'lah, Bu. Lagian mau ngapain lagi selain begini?"
"Ya, bantu beres-beres rumahlah, sebelum pembantu sewaan datang. Lagian Faisal tidak ada. Kamu tahu sendiri kalau rumah jadi berantakan."
"Iiih, ogahlah, Bu. Bikin capek dan kurang kerjaan saja. Gunanya sewa pembantu sudah diupah, lalu untuk apaan?"
"Pembantu cuma setengah hari saja, jadi sisanya kamu bantu bebereslah. Jangan bisanya hanya jadi beban dan duduk saja. Lihat, adek kamu. Dia bekerja keras terus, sampai bisa menghasilkan uang banyak. Tidak seperti kamu malas-malasan hanya duduk terus," singung beliau.
"Haduh, Bu. Jangan banyak cerewet dech. Aku beda sama Anissa, dan jangan samakan kami. Dia sendiri yang mau cari kesusahan dengan mencari uang. Lagian suaminya pengangguran begitu, jadi wajarlah kalau dia harus mencukupi kebutuhan rumah tangganya. Sedangkan aku ada suami yang sudah siap memenuhi semuanya."
"Walau begitu, kamu harus belajar mandiri dan bisa bekerja dalam rumah. Suatu saat kalau punya rumah sendiri, nanti bisa mengurus suami kamu dengan benar. Kalau terus begini, suatu saat kamu juga yang kesusahan sebab rumah tidak terurus. Kalau Anissa beda karena banyak uang. Pasti mudah dia menyewa pembantu, bukan kayak kalian," Kebawelan beliau.
"Ah, sudahlah, Bu. Malas jadinya ngobrol sama kamu. Selalu Anissa yang kau puji. Kami memang tidak bisa memberikan uang kepadamu secara lebih, tapi ngak juga harus menghina begitu," Kekesalan berkata.
"Bukan gitu, Dita. Ibu hanya ingin mengarahkan kamu menjadi lebih baik. Tidak masalah kamu santai duduk, tapi kalau bisa ya belajar mengenai membersihkan."
__ADS_1
"Hhh, terserah. Yang jelas aku tidak suka Ibu ngatur-ngatur. Aku sudah dewasa, jadi tahu mana yang baik dan tidak. Tahu mana yang harus dikerjakan, iya tidaknya." Kesal saja jika selalu diomeli.
"Issh, dikasih tahu malah banyak membantah. Ibu, hanya ingin mengajarkan kamu menjadi lebih baik, bukan bermaksud apa-apa. Kalian sama-sama anak Ibu, jadi kalau bisa jangan tak jadi orang berguna."
"Udah ... udah, Bu. Tidak usah ceramah lagi. Panas nih kuping jika mendengarnya." Langsung berdiri.
Berlalu pergi meninggalkan beliau, tanpa menoleh lagi kearahnya.
"Mau ke mana kamu?"
"Kamarlah. Mau ke mana lagi kalau tidak kesitu."
"Aku belum selesai bicara."
"Lain kali saja. Mata sudah berat."
Susah kalau bicara sama orang yang cerewet. Pasti apapun itu serba salah. Jika melakukan benarpun, tak luput juga diburu ocehan.
Menjatuhkan tubuh diatas kasur. Menatap langit-langit rumah sambil merenung. Kenapa sudah punya suami yang sayang dan berkelakuan baik, tapi ada saja cobaan datang apalagi mengenai anak. Tangan jadi meraba-raba perut yang rata.
"Hhh, kapan aku bisa membahagiakan kamu dengan memberikan keturunan, Mas? Rasanya aku juga rindu akan canda tawa bayi. Sabar ... sabar, mungkin kami belum dikasih, karena belum bisa diamanati untuk mengasuhnya."
Setiap siang menjelang sore, sudah jadi kebiasan untuk molor. Kalau tidak bisa memejamkan mata, pasti akan terasa pusing. Kadang berjam-jam aku seperti orang mati yang tak sadarkan diri. Walau rumah berisik sekalipun aku tidak peduli, yang terpenting bisa puas menjelajahi alam mimpi.
*******
Jari-jari terus sibuk menjelajahi gawai. Bosan mau ngapa-ngapain, jadi hanya melihat layar telepon untuk menemani kejenuhan ini. Melihat postingan orang-orang yang aneh dan lucu. Mulut tak berhenti tersenyum sendirian. Terus saja sibuk berdiam diri dalam kamar.
"Wah, sudah malam banget ini. Kenapa Mas Ijal belum pulang juga, ya?" Melihat jam dinding yang menunjukkan angka sebelas.
Hari ini dia berpamitan lembur. Sengaja terjaga ini mata, untuk menunggu suami tercinta pulang.
__ADS_1
"Biasanya tidak selarut ini, aneh sekali! Ah, semoga tak terjadi apa-apa. Mungkin memang benar, kalau dia dikantor lagi banyak kerjaan," Berpikiran positif.
Sebenarnya cukup risau juga sih, karena tadi berangkat numpang Anissa. Takutnya tidak ada kendaraan lewat ketika pulang nanti.
"Apa aku menelpon saja, ya? Masak belum ada tanda-tanda pulang."
Gawai langsung mencari nama dibarisan panggilan. Setelah ketemu, mengusap layar untuk memanggil.
Tut ... tut, telepon tersambung tapi tidak diangkat.
"Ah, apa mungkin sedang sibuk dalam perjalanan, sehingga tidak bisa mengangkat," guman hati cemas.
Karena begitu risau, ingin rasanya mengambil segelas air untuk tenggorokan yang kering dan bisa menangkan jiwa.
Pintu segera kututup, dan bergegas melangkah ke lemari es. Sesampainya ditujuan, seteguk demi seteguk air dingin itu mampu meluncur bebas melewati tenggorokan.
Kini perhatian mulai teralihkan, saat sesosok seorang pria ingin masuk kamarku. Menduga itu suami, maka langkah langsung kupercepat menghampirinya.
"Kok aneh sekali gelagatnya, ya! Kayak mengendap-endap dan ngitip dalam kamar, gitu?" Kecurigaan.
Dari baju sama persis punya Mas Ijal, sehingga tak ragu lagi ingin menepuk pundaknya.
"Hei, Mas. Kamu sudah pulang? Ayo masuk saja."
"Eeh, sayang. Kamu belum tidur?"
Dari atas sampai bawah, kuperhatikan lamat-lamat gaya berpakaiannya. Sedikit menaruh curiga ketika baju berantakan, dan kancing tidak ditaruh pada tempatnya. Rambutpun acak-acakkan. Muka memerah, seperti melihatku kayak hantu saja.
"Kamu kenapa, Mas? Kok wajah pucat dan berkeringat dingin begitu? Padahal aku cuma nanya kamu baru pulang kerja loh ini, tapi kamu kayak gugup begitu, ada apa?" Mencoba meneliti.
"Berjalanpun mengendap-endap, kayak ngak mau ketahuan? Apa ada yang kau sembunyikan, atau telah terjadi sesuatu yang tak diiginkan padamu?" cecarku sebab tingkahnya makin mencurigakan.
__ADS_1