
Kerja keras dan percaya diri merupakan kunci untuk sukses. Tanpa kerja keras rasa percaya diri tidak ada keberhasilan yang dapat diraih.
Oleh sebab itu, jangan pernah berhenti untuk kerja keras. Dengan penuh rasa percaya diri, agar bisa meraih kesuksesan.
Seperti sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa hasil tidak akan mengkhianati proses, demikian halnya dengan kesuksesan yang tidak pernah mengkhianati kerja keras yang dilakukan dengan penuh percaya diri. Setiap hari yang sulit, situasi yang sulit, masalah yang ditemui, semua itu adalah latihan untuk diri kita sendiri.
Hikmah dibalik kesabaran pasti ada jalan untuk menuju roma. Tinggal aku harus bekerja keras untuk mendapatkan kunci kesuksesan.
"Semoga saja pekerjaan baru ini bisa merubah hidup keluargaku menjadi baik dan lebih layak lagi."
"Tujuan utama hanya membahagiakan Anissa dan Arvin, semoga saja akan terkabulkan. Mereka berdua adalah penyemangatku, untuk terus mengumpulkan pundi-pundi rupiah."
Apa jadinya kalau netra tak bisa berkedip sama sekali, ketika tak henti-hentinya kagum melihat kemewahan seisi rumah. Baru pertama kali menginjakkan rumah super besar bak istana khayangan. Majikan pasti bukan hanya sukses, tapi orang terkaya dikota.
Kaki manapakki kesatnya lantai, ketika ingin menuju rungan kerja pribadi majikan. Benar saja, banyak kamar dan beberapa ruangan yang cukup membingungkan, yang kelihatan sama dan didesain mewah. Beberapa bulan disini pasti baru hafal.
Tok ... tok, pintu diketuk perlahan secara sopan oleh Pak Tajo.
"Masuk saja. Tidak dikunci!" Suara seseorang yang kemungkinan berusia enam puluh lima tahun ke atas.
"Iya, Tuan."
"Ayo masuk, Faisal. Jaga sikap dan bicara kamu nanti. Jangan sampai mengecewakan beliau. Jika ada pertanyaan jawab yang tegas dan tidak usah berbelit-belit nanti," Beliau memperingatkan.
"Baik, Pak."
Ceklek, pintu dibuka.
Disekeliling ruangan hanya banyak buku yang terjejer rapi didalam rak. Ada sebuah kursi dan meja kerja, yang kini telah ada majikan dengan duduk santai.
__ADS_1
"Maaf, Tuan. Jika kami menganggu."
"Tidak apa-apa, sini ... sini masuk!" Suara tegas majikan.
"Terima kasih, Tuan. Begini. Maksud kedatangan saya kesini, membantu membawakan tukang kebun sesuai permintaan, Tuan. Ini orangnya!" Pak Tajo menunjuk ke arah kamu.
Beliau berdiri dari kursi kebesarannya. Tidak ada sautan ucapan. Dari atas sampai bawah beliau melihat ke arahku dengan tatapan seksama. Merasa minder dan aneh saja jika diperhatikan begitu. Hati bertanya-tanya, apakah ada yang salah denganku, sehingga beliau menyorotkan netra secara tajam?
"Perkenalkan nama saya, Faisal." Mengulurkan tangan.
Aku dan Pak Tajo saling menatap kebingungan. Majikan memperhatikan diriku bagaikan hantu. Kini beliau tepat berdiri didepanku. Aura yang nampak dalam diri majikan hanya kesedihan.
"Tuan ... Tuan!" panggil Pak Tajo ketika beliau melamun.
"Ehh, maaf. Saya lagi tidak fokus."
"Iya, ngak pa-pa, Tuan!" jawabku ramah melemparkan senyuman termanis.
"Iya, Tuan. Amin."
"Kamu ternyata masih muda dan tampan," puji beliau.
"Ahh, Tuan. Bisa saja."
"Hahaha, ini serius loh."
"Makasih atas pujiannya."
"Oh, ya. Nanti masalah gaji akan diterangkan sama Pak Tajo, dan mengenai tempat tinggal nanti akan dikasih tahu."
__ADS_1
"Kalau kamar sudah saya antarkan tadi," simbat Pak Tajo.
"Bagus kerja kamu. Pasti habis perjalanan jauh, sangat capek. Dengan menunjukkan kamar, kamu bisa istirahat 'kan tadi?" Suara beliau sangat ramah, dan kalihatan kalau baik.
"Iya, Tuan. Walau sebentar, bisa sedikit melegakan rasa capek habis mengendong anak."
"Wah, sampai kelupaan kalau kamu ada anak kecil. Salut sama kamu yang mau bekerja sambil momong anak. Emang berapa umurnya?" tanya beliau.
"Dua bulan lagi setahun."
"Wah, masih kecil lagi. Apa nanti tidak masalah kamu membawanya untuk diajak kerja?"
"Semoga saja tidak, Tuan. Alhamdulillah, kebetulan anaknya tidak rewel. Kemarin juga pernah saya ajak kerja disawah, dan bersyukurnya sampai kerjaan selesai, dia tidak nakal dan menganggu."
"Astaga, anak sekecil itu kamu ajak ke sawah? Apa tidak berbahaya?" cakap beliau tidak percaya.
"Iya, Tuan. Alhamdulillah aman. Saya terpaksa membawanya karena dirumah tidak ada yang mengasuh."
Terpaksa berbohong. Takut kalau jujur malah tidak jadi bekerja disini.
"Oh, begitu. Saya sudah sedikit dengar cerita tentang kamu dari Pak Tajo. Tetap semangat dan semoga kamu betah sama kerjaan yang saya berikan." Beliau menepuk bahuku pelan.
"Iya, Tuan. Terima kasih telah berbaik hati mau menerima saya dengan kerepotan membawa anak."
"Tidak masalah. Asalkan kamu mau sportif sama kerjaan. Jangan terlena sama tanggung jawab kamu sama kerjaan."
"Pasti itu, Tuan. Saya akan laksanakan sesuai apa yang anda amanahkan."
"Bagus. Saya sangat suka sama jawaban kamu."
__ADS_1
Obrolan terus terjadi. Beliau sangat supel. Walau aku hanya bawahan dia, namun sikap beliau seperti tidak membeda-bedakan. Banyak tanya dan akupun menjawab dengan jujur, walau ada beberapa keterangan yang harus kututupi.