Milyader Tersisih

Milyader Tersisih
Kecurigaan Ada Stempel Merah


__ADS_3

Waktu merupakan suatu hal yang sangat berharga dan tidak akan bisa diputar kembali. Saat memiliki waktu luang pergunakanlah dengan baik dan semaksimal mungkin.


Mengisi waktu luang merupakan sebuah momen yang sangat menarik dan harus dicoba untuk melakukannya. Dengan mengisi waktu luang, bisa lebih melakukan berbagai aktivitas yang mungkin jarang terpikirkan. Disela-sela kesibukkan keseharian dalan bekerja, harus meluangkan waktu dengan bersenang-senang agar bisa menghindari stress.


"Duh, senangnya bisa melakukan apapun dirumah ini dengan bebas-sebebasnya. Jarang-jarang rumah sepi begini. Aaah, sangat bahagia sekali dalam kesendirian didalam rumah untuk menikmati hidup," guman hati senang.


Mertua dan istri sedang berkunjung ke rumah saudara, yang akan mengadakan acara nikahan. Tadi niat hati ingin pergi bekerja, tapi karena kesiangan tidak ada yang membangunkan, kok jadi malas berangkat kerja dan akhirnya melanjutkan alam mimpi.


Untung saja semua perempuan yang cerewet tidak ada dirumah, makanya hidup bisa tenang dan damainya merasakan tidur seharian penuh. Perut yang lapar membuatku harus terjaga sekitar jam tiga sore. Benar-benar hari ini puas molor sampai kepala kliyengan pusing.


"Duh, mau masak apa'an nih? Banyak sayur dikulkas, tapi mau mengolah tidak tahu caranya. Andaikan ada Faisal, pasti sudah kusuruh tuh orang untuk menyiapkannya. Mau beli, kok lagi malas keluar," guman hati dongkol.


Karena dikasih tahu kalau bakalan tidak ada orang dirumah, maka pembantu kerja paruh waktu hari ini diliburkan. Setelah sana-sini mencari makanan yang bisa diolah cepat, akhirnya sasaran menuju sama mie instan. Cara yang praktis agar cepat mengenyangkan perut. Lagian hanya merebus air saja, mudah dan cepat menyajikannya. Dua bungkus mie kulahap sesegara mungkin, sampai perut begas akibat kekenyangan.


Tadi hanya sempat membasuh muka, jadi kini ingin membasahi tubuh setelah seharian hanya bermalas-malasan diatas kasur. Walau jorok tak apalah, begini hanya sekali-kalipun. Lagian bakalan tidak ada yang ngomel seperti biasanya, ketika suara istri sering bikin telinga panas.


Meregangkan otot merupakan sebuah momen yang sangat baik bagi tubuh. Pergunakan waktu luang untuk mengistirahatkan tubuh, setelah menyelesaikan banyak aktivitas yang melelahkan sangat diperlukan.


Meletakkan gadget agar pikiran tidak terpengaruhi kembali oleh hal yang tidak perlu. Kini melihat telivisi, dengan channel yang ada pertandingan bolanya. Sudah lama tidak nonton layar berbentuk kotak ini, setelah ada elektronik lebih canggih lagi seperti handphone.


Tak terasa hari sudah mulai gelap saja. Hari ini cukup bebas. Entah snack siapa yang tersimpan didalam lemari kaca, yang jelas aku ingin memakannya untuk menemani keseruan menonton. Kalau milik mertua itu jadi urusan belakangan saja, yang penting menikmati kebebasan hidup dengan mulut terus mengunyah camilan.


"Goal ... goal, yeahhh!" teriak sekeras-kerasnya ketika pemain andalan telah berhasil memasukkan bola ke gawang.


"Hahaha, lawan kalah dah. Jangan sok kalian paling hebat, makanya jadi ketinggalan skor sangat jauh 'kan," Berkomentar pedas.


Pertandingan begitu seru, yaitu sama-sama baik melakukan perlawanan. Skor tiga-satu. Semakin menegangkan dan segit, sampai tak terasa kalau sampah bekas jajan telah berantakan dimana-mana.

__ADS_1


Tiap hari bekerja terus, sampai apa yang kulakukan hari ini hampir tidak pernah terjadi. Bahagia banget rasanya bisa bebas berekspresi. Walau mulai, tapi mata terus terjaga agar tidak terlewatkan menonton olahraga yang jadi hoby ketika remaja.


"Apa itu, Anissa? Wah, masak iya sih. Malam-malam begini dia baru pulang?" Kaget ketika mendengar deru mobil, yang mulai terparkir dihalaman rumah.


Remote kutekan untuk mengecilkan suaranya, kemudian kegeletakkan sembarangan dimeja. Kaki bergegas mendekati jendela, untuk mencoba mengintip dibalik gorden siapa gerangan yang datang.


"Wah, beneran dia. Waduh, sudah malam banget ini!" Menengok ke arah jam dinding, yang sudah menunjukkan jam sebelas malam.


"Apa dia selama ini memang pulang selarut ini? Kalau iya, wah berani sekali dia melakukannya. Sangat aneh sekali?" Tersenyum kecut sendirian.


Berjalan kilat ke arah pintu utama, yang jaraknya hanya beberapa meter saja dari posisiku berdiri tadi. Sesegera mungkin membukakan pintu untuk tuan putri kesayangan mertua. Tidak tahu menahu, kalau dia tidak ikut juga sama mereka.


"Efek tidur seharian, jadi tidak tahu dah kalau dia tadi kerja. Kupikir tadi ikut sebab masih saudara," guman hati bicara pada diri sendiri.


Anissa kelihatan terkejut saat ada diriku yang membukakan pintu.


Selama ini memang tidak tahu menahu, jika dia sampai kemalaman sampai rumah. Mungkin efek kerja kecapek'an, maka pulang kerja langsung masuk kamar.


"Eeh, Mas. Kamu kok bisa ada dirumah? Bukannya kamu lagi mengantar mereka?"


"Enggak kok. Banyak kerjaan dikantor, jadi tidak ikut," jawab berbohong.


"Oh, jadi begitu."


"Kamu kok pulangnya larut malam banget?" Pura-pura kepo lagi.


"Iya, nih. Lagi lembur. Banyak kerjaan yang harus diselesaikan," Dia menekuk leher ke kanan kiri, sepertinya sedang merenggangkan otot.

__ADS_1


Tersenyum smirk. Tidak percaya atas keterangannya, sebab tak sengaja melihat ada stempel merah-merah dilehernya. Kebetulan rambutnya yang memanjang dikucir tersingkap dibelakang, sehingga leher jenjangnya yang putih sangat kelihatan.


"Wah, benarkah itu? Kamu tidak bohong 'kan?" Mengodanya.


"Maksud kamu apa'an, Mas? Jangan menuduh sembarangan," sewot Anissa sambil berjalan masuk rumah.


"Bukan menuduh sih, tapi kelihatan banget loh bekas merah dileher kamu. Atau jangan-jangan disekujur tubuhmu sudah banyak mahakarya itu," tebak ingin membuat dia tak berkutik.


Dia awalnya duduk santai dikursi sofa, yang didepannya masih bernyalakan telivisi. Ketika memberikan kecurigaan, seketika wajahnya berubah menjadi pucat pasi dan terasa kebingungan.


"Mungkinkan itu benar seperti dugaanku. Kelihatannya iya, sebab ekspresi dia sekarang berbeda banget dari awal datang tadi," rancau hati mencoba membaca gerak-geriknya.


"Oh, in-in-i han-hanya bekas tadi dikerokin sama teman. Kepala sempat pusing jadi minta bantuin dia," jawabnya tergagap.


"Oh gitu. Kalau begitu Masmu ini yang salah menebak saja, ya?" Mengedipkan mata ke arahnya.


"Ma-mm-maaf, Mas. Aku mau istirahat, karena capek banget nih."


Nampak dia terburu-buru menghindar. Mungkin saja dia sengaja tidak ingin diriku banyak tanya lagi.


"Oh, iya ... iya. Silahkan. Aku mau lanjut nonton saja."


"Hmm, aku duluan tidur. Selamat malam."


"Malam juga," Tersenyum ramah kearahnya.


Dia sudah melengang pergi. Perasaan yang penuh curiga masih mengusai. Tidak percaya saja apa yang dia katakan. Aku sudah tujuh tahun menikah, jadi bukan orang yang bodoh lagi tahu tentang pengalaman seperti itu, walau belum dikarunia anak sekalipun. Sempat iri sebab Anissa punya perut subur langsung punya momongan, walau didapatkannya dari cara manawarkan diri pada pria-pria.

__ADS_1


__ADS_2