Milyader Tersisih

Milyader Tersisih
Hampir Ketahuan Ibu


__ADS_3

Semakin hari terpojokkan saja sama perselingkuhan ini. Tiap hari bayangan Kak Ijal selalu mengikuti. Bahkan bayangan kami berdua dalam sekasur terus berkeliaran didalam ingatan. Entah apa yang terjadi padaku, semakin menepis kian terbelenggu sikap manisnya. Rasa muak itu tergantikan oleh kenikmatan. Wanita baik-baik sepertiku, tidak pantas rasanya terus melakukan hubungan gelap seperti ini.


Waktu sudah telat. Mandi dan berpakaian jadi tergesa-gesa. Memakai sekena saja. Tidak sempat memilih baju yang elegan untuk bekerja. Seluruh persendian bagai copot setelah beberapa hari sebelumnya melayani kebej*tan kakak ipar. Sikapnya yang bern*fsu tinggi sampai kewalahan melayani.


Sialnya, pembantu minta cuti. Menyiapkan roti dan teh sendirian. Isian berisi telur agar tambah kenyang. Sebelum itu mengiris timun dan mencuci beberapa helai daun selada. Sedikit memberi saus dan mayonis. Semua masih tidur. Jarak tempat kerja lumayan jauh, jadi berangkatpun harus pagi-pagi.


"Uluh ... uluh, sayangku ternyata lagi sibuk, ya!" Ah, kesal rasanya jika pria yang kubenci kini memeluk dari belakang.


"Lepaskan, Mas. Kamu jangan gegabah begini. Nanti ada yang lihat, mampuslah kita," Menepis tangannya.


Menoleh untuk memeriksa keadaan sekitar. Untung saja sepi. Meracik rotipun sampai terhenti. Kelakuan nakalnya sekarang bikin risih. Meraba-raba bagian perut dan hidung mengendus-endus bagian leher. Senyum licik itu seperti mengisyaratkan sesuatu, tapi tak mau ambil peduli. Pura-pura tidak tahu saja.


"Tidak usah takut. Semua lagi nyenyak bobo, kok." Dia cukup berani juga.


"Kamu jangan gila, Mas. Ini ditempat terbuka, jadi siapa saja nanti bisa memergokki kita. Apa kau mau nyari mati."


"Jangan bicara kasar begitu, atau aku akan menghukummu secara brutal. Apa karena semalam tidak kuberi jatah sehingga kau marah-marah begini," bisik mengelikan didekat telpinga.


"Cuuih, memang aku perempuan apaan. Jangan sembarangan kalau ngomong,"


Rasa sebal Anissa membuat Ijal menjadi terheran-heran, apakah minyaknya sudah tidak ampuh lagi.


"Berbicara lembut apa tidak bisa?"


"Tidak bisa. Aku sudah terlambat kerja dan ingin cepat menyelesaikan sarapan ini. Lepaskan!" tekanku bernada tinggi.


"Kalau begitu buatkan aku sarapan juga. Pasti enak dari racikan tanganmu yang penuh cinta ini," Semakin berani mengelus tangan serta mencoba menangkupkan.


"Tidak bisa. Suruh istri kamu saja. Bangunkan dia. Apa gunanya kau punya istri. Lebih baik begitu, daripada merepotkanku. Kita hanya terikat hubungan terlarang, jadi jangan main suruh seenak jidat kamu."

__ADS_1


"Wow ... wow, apa yang kudengar ini tidak salah? Apa kau cemburu pada istriku?" ucapan yang ngawur.


Hadeh, salah tanggap juga. Memang tadi bicara salahnya dimana? Cemburu? apa tidak salah? Bagaimana mungkin ada kata itu, setelah tahu dia suami kakak sendiri.


Phak, memukul kuat tangan yang kian jahil berjalan-jalan menyusuri kemulusan kulit dibalik baju.


Sikap yang kaget, membuat sang kakak ipar melepaskan pelukan. Masih tidak percaya saja jika ada penolakan kasar. Sedangkan Anissa mulai menjauh merapikan baju yang sedikit berantakan. Mengambil piring yang diatasnya sudah ada roti. Ingin berlalu pergi. Risih jika diganggu terus. Mulai menatap full kejahatan kearahnya.


"Ada apa sih, Nissa? Pagi-pagi kamu kok ribut sekali?" Suara Ibu kandung ingin datang menghampiri.


Bikin tersentak dan bingung ketika beliau tiba-tiba muncul. Harus bersikap netral, jangan sampai bertingkah tak wajar setelah hampir kepergok. Pasti akan banyak interogsi.


"Eeh, Ibu. Ngak ada apa-apa, kok!" Kegelisahan menjawab.


Mengigit bibir karena takut. Sekujur tubuh merasakan gemetaran. Tangan mulai basah akibat berkeringat.


"Anu, Bu. Tadi bermaksud mau nyari makanan untuk sarapan. Kebetulan Anissa ada didapur, jadi sempat minta tolong untuk membuatnya. Tapi kelihatannya dia tidak bisa, sebab mau buru-buru berangkat kerja."


"Oh, gitu. Lalu kenapa kau masih begong disini. Lebih baik kau bangunkan si Dita bini kamu itu untuk membuat sarapan. Jangan bisanya merepotkan orang lain."


"Eeh, iya, Bu. Maaf. Kalau begitu saya permisi dulu."


Ijal hanya bisa berlalu pergi menghidari Ibu, yang sudah menatap aneh. Sekelebat tubuhnya diperhatikan lamat-lamat. Kegugupan mulai mendatangi diriku. Bahkan otak mau diajak kompromi untuk mencari jawaban tepat sampai tidak bisa, jika beliau bertanya aneh-aneh.


"Kamu ngak pa-pa, 'kan? Kelakuan aneh Ijal tidak menyulitkan kamu 'kan?" Sepertinya beliau sudah menaruh curiga.


Beliau bersedekap penuh penekanan. Pasti beliau marasakan firasat yang tak baik diantara kami. Sebagai orang yang paling tua dirumah kami, pasti banyak pergerakan yang terus diawasi. Maka dari itu harus meningkatkan kewaspadaan, agar beliau tidak syok jika mengetahui rahasia kebusukan kami berdua.


"Ibu, ngomong apa sih? Ngak ada kok. Aku baik-baik saja."

__ADS_1


"Tapi, kenapa sikap dia tadi aneh begitu sama kamu. Jangan sampai dia menyulitkan keadaan, sehingga hubunganmu dengan Dita akan berantakan."


"Tenang saja, Bu. Semua aman. Kak Ijal tadi memang minta dibuatkan sarapan."


"Oh. Ya sudah. Baguslah kalau begitu. Mungkin hanya firasat dan salah lihat saja. Maklumlah, mood Ibu belakangan ini agak berantakan." Fiuh, ternyata aman.


Beliau mengambil cangkir dan sendok. Seperti biasa, pagi ingin menyeduh kopi. Hobi suka minum kopi hitam pekat nan pahit. Sudah menasehati agar berhenti sebab takut akan menganggu kesehatannya yaitu gula darah naik, namun beliau masih bandel meminum itu yang katanya tak akan sedap mulut, jika tak menyeruputnya dulu masuk makanan. Mungkin sudah jadi kebiasaan beliau, jadi kalau tak dilakoni berasa kehilangan sesuatu saja.


Berlalu menjauhi beliau. Membawa sarapan untuk segera termakan. Betapa terkejutnya diri ini ketika pria yang membuat hidupku kesulitan, masih duduk santai dimeja makan. Sepertinya dia sengaja menunggu.


Ah, betapa bikin dongkol saja, ketika berani mengedipkan mata dengan cara mengoda. Sikapnya lama kelamaan mengarah terang-terangan. Bisa brabe jika terungkap.


"Jaga sikap kamu, atau sekarang semuanya akan terbongkar. Apa kamu tidak takut sama Ibu. Tadi hampir saja ketahuan. Jangan anggap remeh masalah kita. Kau tidah hanya mempersulitku didalam rumah, tapi bisa menghancurkan semua hubungan keluarga."


"Pagi-pagi jangan kau kasih sarapan omelan. Tenang saja, nanti akan dapat jatah."


"Perset*n sama kebiadaban kamu itu. Jangan hanya memikirkan dirimu sendiri. Apa kau masih tidak paham, jika aku sangat kau rugikan."


Belum hilang rasa takut kini malah ditambah emosi. Kak Ijal, kelihatan sengaja ingin memancing sikapku yang membencinya. Dia pikir asyik. Justru aku semakin muak saja sama kelakuan bej*tnya.


"Uluh ... uluh, jangan marah terus. Lebih baik sini, berikan makananmu itu sebab aku lapar," Tanpa permisi dia berhasil merebut.


"Haich, dasar kurang asem. Apa tidak belajar mengenai etika. Jangan main serobot saja punya orang."


"Shuut. Jangan keras-keras. Emak kamu nanti bakalan dengar. Jangankan makanan ini kurebut. ingatlah, tubuh kamu bisa kukasai selamanya juga. Hmm, rasanya manis banget makanan ini, setelah kau gigit menggunakan bibir kamu," Menjulurkan lidah sambil mengoda.


Bosan rasanya meladeni dia. Tak akan ada habis-habisnya dia berbicara ingin diriku.


Sudah malas melihat muka dia, maka meninggalkan sarapan begitu saja sambil cepat-cepat berangkat naik mobil. Sudah tidak sudi lagi dia bareng menuju kerjaan. Pasti ditengah jalan ada maunya. Bikin ribet dan makin menyusahkan. Sikap dia semakin keterlaluan. Mungkin harus mencari cara untuk menghentikan ini semua.

__ADS_1


__ADS_2