
Semua orang sedang berkumpul diruang tengah. Gelak tawa mereka bikin adem hati saja, namun diriku yang tak cukup bisa mendekati, terasa begitu tersisih bagaikan orang terbuang dan tidak dibutuhkan lagi.
"Ayo, mana jatah kalian untuk Ibu," minta mertua pada Anissa dan bang Ijal dari suami kakak ipar.
"Entarlah, Bu. Gaji agak lambat keluar nih."
"Baiklah. Tapi jangan lupa Ibu ini dapat bagian lebih juga," tagih yang tak tahu malu.
"Iya, jangan bawel melulu."
"Jaga ucapanmu itu. Jangan menjadi bibit anak durhaka."
"Iya ... iya, Ibuku sayang. Sabar kenapa! Pasti dapat jatah banyak."
"Terus kamu Ijal. Mana jatah Ibu untuk belanja."
"Kami hanya bisa memberikan sedikit saja untuk bulan ini, sebab kebutuhan lagi banyak nih, Bu. Gimana?" jawab Kak Dita.
"Ngak masalah. Asal kalian mau setor. Jangan kayak menantu satunya, bisanya hanya menjadi beban saja," singung beliau.
Kebetulan lagi menyiapkan makan siang untuk mereka. Pura-pura tidak mendengar. Lagi-lagi hati tersayat. Harus bagaimana lagi menghadapi mereka.
"Kalian masih numpang dirumah ini, makanya harus setor jatah bulanan. Kalau enggak, ya harus angkat kaki. Enak saja makan tidur, tapi ngak mau kasih uang. Ibu tidak peduli kalian anak kandung atau bukan, yang terpenting harus sadar diri kalau masih ikut orangtua." Terdengar sangat matre sekali.
__ADS_1
"Iya, Bu." Jawab kompak.
Sebelum memutuskan menikah dengan seseorang, sebenarnya tidak hanya harus aware hanya dalam memilih pasangan hidup, tapi menyikapi calon mertua pun juga ngak boleh asal-asalan. Karena sedikit banyaknya kehidupan rumah tangga bakal berpengaruh, kalau mendapat mertua yang tidak baik.
Salah satu tipe calon mertua yang harus diwaspadai ialah yang matre atau mata duitan. Kenapa? Karena jika sejak awal kenal saja dia memandang berdasarkan harta dan jabatan, bukan tidak mungkin hidup ini nanti akan terus direpotkan dengan kelakuannya.
Sekarang semua kenyataan benar. Bukannya berburuk sangka, namun bisa saja nanti bakal diperas demi harta dan tak dianggap lagi kalau sudah tak punya apa-apa.
Punya keahlian masak adalah suatu anugerah yang harus kusyukuri sekarang, sehingga mertua tidak banyak mengeluh ketika menyiapkannya.
"Bu, Nis, Kak, makanan sudah siap."
"Oke, ayo kita makan."
"Kamu masak seperti pesananku 'kan, Faisal?"
"Bagus. Tenaga kamu jadikan sebagai ganti uang yang tidak bisa ngasih jatah kepadaku. Jangan seenak jidat dan santai nginap disini. Walau Anissa istri kamu, tapi dia perempuan jadi sedikit kasihan 'lah dibandingkan sama kamu seorang pria, yang seharusnya kerja buat kebutuhan anak istri."
"Iya, Bu. Saya paham. Maaf, tidak bisa memenuhi apa yang Ibu inginkan."
Mulut menyunging sedikit, ketara kalau beliau sangat tidak suka.
Mereka begitu semangat menuju meja makan, mungkin sejak tadi sudah menahan lapar, efek menunggu lama semua terhidang.
__ADS_1
"Oh ya, kamu tidak usah ikut gabung kami makan, sebab hari ini semua ngasih duit buat jatahku. Kamu hanya pria kere yang tidak bisa membahagiakan mertuamu ini, maka dari itu makan setelah kami selesai saja," perintah beliau yang membuatku sedih saja.
"Tapi, Bu. Mas Faisal, sudah capek memasaknya, kenapa tidak boleh bergabung? Kasihan lelah, tapi ngak segera bisa makan."
Lega rasanya Anissa bisa membela, walau kami kemarin malam sempat bertengkar. Mungkin dia sadar kalau ucapannya itu memang sudah keterlaluan. Ternyata disisi lain dia masih peduli dengan diriku.
"Hilih, kamu ngak usah membela dia. Suami ngak becus gitu kamu pertahanin. Kalau Ibu jadi kamu, sudah kubuang ke laut biar dia sadar diri kalau bisanya hanya jadi benalu," hina beliau lagi.
Apakah seburuk itu diri ini, hingga semua orang dirumah ini membenci kelakuanku. Harus bersabar yang bagaimana lagi?
Beliau selalu tak segan memarahi di depan istriku. Mengeluhkan tentang diri ini di depan semua orang, sudah pasti membuat malu. Bila mertua juga melakukan di depan pasangan, ini tentunya menjadi hal yang lebih mengesalkan.
Bukan karena kesalahan, ibu mertua yang tentunya tak menyukaiku biasanya banyak mengutarakan hal negatif. Mulai dari mengkritik karir, penampilan, atau bahkan mengungkit fakta bahwa anaknya menikah dengan pria tak berguna ini.
Mungkin hanya bisa berkhayal, jangan sampai ini terjadi berlarut-larut. Ingin bicarakan dengan istri di waktu yang tepat, tapi nampak percuma saja. Mengungkapkan perasaan kesedihan dan minta dukungan ketika memang tidak bersalah, akan bertambah dianggap sepele .
"Betul tuh, Nis. Suruh suami kamu itu kerja. Biar kayak Kakak kamu nih, bisa pakai kalung dan gelang emas, berpakaian bermerk, dan ngak capek ikutan kerja. Jangan kayak suami kamu kumel dan hanya berpakaian itu-itu saja yang dia kenakan," imbuh Kak Ijal ikutan mengatai.
"Hmm, suami kamu perlu disadarkan. Lihat, bajunya saja itu-itu melulu. Apa kamu tidak malu punya suami kayak gitu? Bikin gerah lihatnya yang tidak bisa berpenampilan menarik. Keluarga kita saja jijik lihatnya, apa kata orang diluaran sana nanti," Dita mengejek keterlaluan.
Anissa memang punya gaji besar, namun tidak pernah sehelai bajupun dia belikan untuk suaminya ini. Kalau belanja makanan sehari-haripun, dapat jatah dari ibu mertua. Itupun pas-pasan, makanya sering memutar otak agar tidak kekurangan uang ketika belanja. Bisa malu jika hutang dan bakal kena semprot juga.
Anissa wanita yang selalu mengutamakan penampilannya. Wajah selalu dirias dengan ayu. Minyak wangi tak lepas dia semprotkan, makanya uang mungkin dia pakai untuk merias dirinya sendiri.
__ADS_1
"Sudah, biarkan saja. Itu akibatnya dia mau menikah denganku. Makanya sebelum menerima perjodohan itu seharusnya berpikir dulu. Jangan asal mau. Ya, terima saja apa adanya yang dia miliki sendiri," Sikap yang acuh bikin hati teriris sembilu.
Berkali-kali hanya bisa mengelus dada. Heran sama keluarga mereka yang sama-sama memiliki sifat picik, bermulut kasar, suka menghina, merendahkan status, bahkan membentak adalah hal biasa.