Milyader Tersisih

Milyader Tersisih
Bangun Telat Menyiapkan Sarapan


__ADS_3

Semalam terjaga tidak bisa tidur. Bolak-balik harus memastikan, kalau anak panasnya sudah turun atau belum. Terpaksa perekat dikening terlepas, dan mungkin dengan mengopres pakai kain akan lebih efektif cepat turun panasnya. Kaki kubaluti minyak telon juga, takut jika ini efek dari masuk angin.


Kepala terjatuh akibat terlalu menahan kantuk. Tidak bisa tidur nyenyak dikasur, jika anak mulai rewel lagi, harus menenangkan dengan cara mengendong.


Cahaya matahari yang samar-samar teriknya mulai menyinari wajah, dan kaget ketika tahu hari sudah pagi.


"Astagfirullah, ternyata aku kesiangan bangun. Duh, mana belum masak lagi. Pasti bakalan kena marah dah," Menghembuskan nafas kasar.


Sebelum pergi ke dapur, mau memastikan dulu suhu badan Arvin.


"Hhh, syukurlah kalau panas kamu sudah turun. Kamu memang anak baik, tidak merepotkan Ayah lagi," Kelegaan hati ketika melihatnya masih tertidur pulas.


Efek dia tidak bisa tidur tenang semalam, mungkin dia pagi ini sangat ngantuk berat, sampai kelihatan sekali dia nyenyak.


Teng ... teng, suara piring ditabuh dengan sendok.


"Hadeh, pasti nenek lampir mulai akan ngamuk-ngamuk, akibat diriku telat membuat sarapan pagi," guman hati kesal.


Segera menghampiri bunyi suara tersebut. Ternyata benar aaja, sudah ada semua keluarga duduk rapi sesuai urutan kursi makan, dengan tajam mereka semua melototkan mata. Hanya Anissa yang belum ikut bergabung, dan kemungkinan dia sedang berdandan.


"Ckck, Faisal ... Faisal, kamu selalu saja bikin masalah dan membuat kami mulai muak," ucap kakak ipar.


Prang, dengan kasar dan sengaja ibu mertua menjatuhkan piring. Wajah sangar itu nampak menahan amarah, aku yang melirik beliau jadi tertunduk tidak berani menatap balik.


"Kamu jadi pria bisa becus tidak sih, sedikiiit saja. Ini sudah jam berapa? Apa kamu mau kami mati kelaparan, hah?"

__ADS_1


"Pasti kamu memang ingin tidak kerepotan memasak lagi. Disengaja 'kan? Kenapa? Apa sudah tidak betah disini? Kalau tidak tahan lagi, kamu bisa angkat kaki sekarang," usir beliau kejam.


Ingin menjawab, tapi sayangnya beliau yang sedang emosi selalu menunda mulut ini untuk angkat bicara juga.


"Dasar pria goblok. Oh Tuhan, dosa apa yang kuperbuat, sehingga punya mantu tidak becus dalam segala hal."


"Kutanya sekali lagi, apa kau sudah bosan tinggal disini, hah? Kalau iya, ambil semua bajumu dan pergi dari sini."


"Maaf, Bu."


Selalu itu yang bisa keluar dari mulut.


"Maaf ... maaf, enak saja. Kalau kami beneran mati kelaparan, kamu pasti senang banget 'kan bisa bebas dan tidak dijadikan kacung disini lagi?" saut suami kakak ipar.


"Iya, nih. Apa jangan-jangan memang disengaja, agar dia bisa santai tidak diperlakukan sebagai pembantu lagi," simbat istrinya yang ikutan menuduh.


Seperti orang kena hipnotis, tunduk, takut, selalu saja diam dan mengalah ketika diijak martabat sebagai laki-laki. Entah sampai kapan menahan gejolak api kemarahan ini, yang jelas sedikit demi sedikit mulai menumpuk bara keemosian.


"Aduh, kalian ini apa-apa'an sih, pagi-pagi selalu saja ribut. Heran benar, kalian ini suka sekali emosian." Anissa menghampiri.


Wajahnya yang cantik tak jemu-jemu aku terus memandangnya. Hanya dialah yang membuatku bertahan didalam rumah ini. Mungkin aku sudah kena penyakit buta karena cinta, makanya batu hinaan sebesar apapun itu, tidak mempan untuk balik membantah mereka.


"Ini nih, lihat! Suami kamu mau bikin kami semua mati kelaparan," jawab mertua masih sewot saja, menunjuk ke arah meja kosong.


"Hhh, kenapa kalian tidak mencari alasannya dulu. Ini 'lah, akibatnya kalau mulut kalian suka ngomel melulu, dan tidak mau mencari solusinya," Lega rasanya jika Anissa membela.

__ADS_1


Semua terdiam. Anissa memang sering kali bikin semua terbungkam, tidak bisa menjawab lagi. Mungkin efek gaji dia yang paling besar sendiri, sehingga semua seperti ada rasa takut. Jika istriku itu tidak memberi jatah, mungkin saja keluarga ini tidak akan tercukupi semua kebutuhan. Mau mengandalkan dari suami kakak ipar, dijamin akan makan nasi putih saja.


"Apa kalian tahu, kalau Arvin semalam badannya panas? Enggak 'kan? Makanya jangan ribut melulu, pusing lihatnya! Dan kemungkinan Mas Faisal terlambat masak akibat menjaga semalam Arvin. Kalau mengandalkanku tentu tidak akan bisa, sebab aku butuh tidur untuk kerja juga, dan pastinya menyambung hidup kalian, paham?" Dia kelihatan mulai emosi juga.


"Hehehe, maaf, Nis. Kami tidak tahu," Suara suami Kakak ipar cegegesan.


"Patut semalam kedengaran anak kecil menangis terus," simbat istrinya clingukkan, berasa malu sendiri.


"Terus gimana, nih? Kami juga butuh sarapan. Kalau dia masak sekarang bakalan lama. Kamu tahu sendiri lambung Ibu tidak akan kuat kalau menahan lapar."


"Huuff, kamu beli makanan untuk mereka saja, Mas. Aku mau buru-buru dan berangkat kerja sekarang. Sudah telat, nih."


"Ya, sudah berangkat sana!" saut Kakak ipar.


Anissa mulai mencium tangan kami satu-persatu. Aku hanya melongo dan dibuat bingung, sebab mau pakai uang siapa membelinya, sebab istri langsung nyolonong pergi begitu saja.


"Kenapa kamu diam. Pergi sana! Beli makanan."


"Tapi, Bu. Uangnya?"


"Pakai uang kamu dulu, ngutang." Entengnya beliau menjawab.


"Baiklah, aku akan membelinya sekarang."


Habislah sudah, kerja selama dua hari disawah hanya untuk membeli sarapan saja. Pasti kalau nasi sama sambal saja tidak mau. Tidak ingin kena omelan lagi, maka melebihkan lauknya seperti tahu, tempe, dan ikan.

__ADS_1


"Hhh, nasib ... nasib. Selalu apes bener dah!" keluh tidak terima.


Empat bungkus nasi kutenteng dengan langkah berat. Gaji seratus ribu, hanya bersisakan tiga puluh ribu lebih saja. Capek memeras keringat sambil bertaruh anak sakit, hanya habis sekejap mata demi membeli sarapan saja.


__ADS_2