Milyader Tersisih

Milyader Tersisih
Anak Sakit Panas


__ADS_3

Banyak harapan sebagai kepala rumah tangga agar kehidupan bahagia dan menempuh semua dengan baik, namun bagaimana jika istri sendiri saja tidak sudi untuk didekati? Pasti yang ada hanya rasa gelisah, kecewa, dan menginginkan sesuatu perubahan yang lebih.


"Bagaimana aku bisa menaklukkan hati, Anissa? Dia terlalu keras untuk diluluhkan? Apa dia mau uang yang banyak, sehingga aku bisa mendapatkan segala darinya, suatu saat nanti? Berarti harus perlu kerja keras lagi, agar dia bahagia, semangat." Berpikir keras, berharap banyak agar istri mau menganggap menjadi suami.


Bintang berkelipan diatas langit, ingin kugapai saja. Mungkin, indahnya berumah tangga akan bahagia juga, seperti bintang itu penuh kebahagiaan menyinari bumi dengan sejuta rasa nano-nano dan takjub melihatnya.


"Sedikitpun kau tidak pernah menganggapku ada? Apa yang harus kulakukan? Kenapa aku sebagai suami tidak becus mau mendekati kamu saja. Hhh, nasib ... nasib, yang selalu tak mujur menjalani hidup," guman hati yang benar-benar ingin mendapatkan Anissa.


Mungkin cara orang merespons kerja keras atau hal yang kita lakukan di luar kendali diri kita, harus perlu berlapang dada lebih banyak untuk menerima situasi ini.


Tiba-tiba Arvin menangis keras. Susu formula dalam botol lupa kalau habis. Segera kuambil dalam keranjang pembaringannya.


"Astagfirullah, ternyata badanmu panas sekali, Nak?" Kaget ketika tidak sengaja menyentuh kulit pipinya.


Tiap malam memakai baju berlengan panjang, agar badan si kecil terus hangat. Kata tetua, badan mungil bayi harus dijaga baik, sebab mudah terkena masuk angin baik dari jalan ubun-ubun, belakang pungung, ataupun perutnya. Kalau naik kendaraan, harus pakai kerudug selimut, pakai topi, kaos kaki, agar angin kencang yang sedang bertiup tidak mudah masuk.


"Apa ini salah, Ayah. Karena kamu ajak ke sawah kemarin? Pasti hawa panas kemarin, bikin kamu tidak nyaman dibadan. Duh, apa yang harus kulakukan?" Bingung sendiri jadinya.


Aku sendiri saja merasakan hawa panas kemarin tidak betah, mungkin Arvin kulitnya yang masih tipis lebih tidak tahan lagi.


Berlari menuju kamar Anissa, mau menanyakan apakah ada obat yang tersimpan. Seenggaknya untuk meredakan panasnya saja dulu, baru kalau tidak turun-turun bisa dibawa ke dokter.

__ADS_1


Tok ... tok, pintu kuketuk sepelan mungkin, sebab dia baru pulang dan pasti sudah memejam mata. Pulang terlalu larut lagi.


Tok ... tok, beberapa kali dari dalam tidak ada sautan. Mencoba memegang knop pintu, dan ternyata ketika diputar tidak terkunci.


"Aah, ceroboh sekali pintunya dibiarkan begini, tapi wajar sih. Mungkin saja dia terlalu kelelahan kerja, sehingga malas berjalan lagi untuk menguncinya."


Antara ingin mendekat dan tidak, takut kalau dia akan marah besar.


"Nis, maaf menganggu tidur kamu. Bolehkah aku menanyakan sesuatu?"


"Duh, malam-malam begini mau tanya apaan sih, Mas? Kurang kerja'an sekali, memang tidak tahu kalau aku sangat lelah," jawabnya sambil terpejam dengan tetap memeluk guling.


"Itu, Nis. Arvin badannya panas, apakah ada obat dipenyimpanan untuk dia?" Suara tidak berani keras.


"Udah, keluar sana, ganggu orang saja. Kalau aku tidak bisa tidur lagi, besok bikin terlambat dan berantakan kerjaan. Itu yang kamu mau? Biar kita diusir dan makan batu, hah!" Kali ini dia bangun dengan tatapan tajamnya.


"Eeh, iya, Nis. Maaf kalau sudah ganggu kamu. Aku tidak ada maksud untuk mengacaukan tidurmu, hanya saja Arvin panas banget jadi tadi sedikit panik."


"Hilih, banyak alasan. Bilang saja mau cari perhatian."


Tuduhan dia yang tidak sangat berarti. Apakah selamanya akan begini? Tidak tahu juga, sama jalan hidup yang telah ditakdirkan suatu saat nanti.

__ADS_1


"Terserah kamu menuduh apaan. Yang jelas, aku hanya ingin anak kamu sehat dan tidak sakit begini. Lalu kalau tidak turun, apakah kita bisa membawanya ke rumah sakit?"


"Duh, Mas. Memangnya aku bank berjalan yang bisa menghamburkan duit sembarangan. Biaya rumah sakit mahal. Kalau tidak turun panasnya, kamu bawa dia ke klinik saja. Kamu 'kan sudah kerja, pakai uang kamu dulu. Uangku tadi baru habis untuk beli baju dan skincare."


"Hhhh, baiklah kalau begitu. Lanjutkan saja tidurmu. Aku akan urus Arvin sendiri. Walau dia bukan anakku, tapi sebagai Ayah sambung aku ada hak juga, untuk mengasuh dia menjadi lebih baik. Permisi!" dongkol sekali rasanya.


Beli untuk dandanan saja tidak pelit, sedangkan untuk pengobatan anak sendiri banyak alasan saja. Berlalu pergi tanpa menutup pintu kamarnya. Hati dibuat panas, saat darah daging sendiri berasa disia-siakan.


"Apa aku salah, hanya meminta anakmu ini sembuh untuk dibawa ke pengobatan yang lebih baik? Apa ini caramu menjadi seorang ibu? Kau membeli alat kecantikan saja tidak pelit, kenapa demi anak sendiri medit sekali, dasar kau ini," geramnya hati berbicara pada diri sendiri.


Melangkah seribu ke tempat penyimpanan obat. Lega rasanya melihat ada botol obatnya dan pengompres/penurun panas dengan cara tempel dikening. Tanpa buang waktu, langsung kuberikan. Awalnya dia nangis kejer, sebab mungkin baru pertama kali mencicipi obat itu. Rasa sayang ini, mengelus pundaknya agar dia agak tenang, takut jika ganggu yang lain ketika sedang nyenyak.


"Ya Allah, apa yang harus kulakukan? Kenapa Arvin berasa disia-siakan begini? Kalau bukan aku yang menyayanginya, terus siapa lagi?"


"Kenapa Ibu kamu begitu kejam, sampai rasanya tidak sudi lagi melihat wajahmu. Walau terlahir dari sikap ceroboh dan kenakalan, apakah patut diperlakukan begini? Kamu masih belum tahu apa-apa, bahkan tentang dosa orangtua kamu sekalipun. Jangan nangis lagi, ya. Disini ada Ayah yang akan selalu menemani kamu."


Merasa marah, kesal, dan kecewa dengan orang yang tak menghargai kita adalah hal wajar. Kita 'pun berhak merasakan semua itu. Namun, tidak perlu berlarut-larut dalam kesedihan atau keterpurukan. Mungkin harus mengingat lagi orang-orang yang masih membutuhkan kita, dan masih mengharapkan yang terbaik dari hal-hal yang sudah atau sedang kita lakukan.


Bahagiakan Diri Sendiri dengan Cara ternyaman, salah satu cara agar tetap semangat menjalani hidup. Jangan biarkan kebahagiaan itu terenggut oleh orang-orang yang tidak sungguh-sungguh mempedulikan kita.


Tetap berhak bahagia menikmati hidup dengan rasa syukur, dan apa adanya. Jadi, mungkin mencoba untuk senangkan diri sendiri lebih dulu. Pilih aktivitas atau kegiatan yang bisa bantu tenangkan diri dan senangkan hati, agar suasana hati ini tetap bisa membaik.

__ADS_1


"Terima kasih kamu sudah melakukan semua yang terbaik hingga saat ini. Tak ada yang sia-sia dari semua kerja keras yang sudah kulakukan, bahkan aku sudah membuat pencapaian sendiri dengan semua upaya terbaik, yang sudah dilakukan hingga sekarang. Semoga anakmu ini akan tetap berbakti padaku, jadi anak sholeh, dan tetap menghormati ibunya," Doa dalam hati ingin kebahagiaan rumah tangga tetap utuh.


__ADS_2