Milyader Tersisih

Milyader Tersisih
Mimpi Tapi Nyata Diraba Orang


__ADS_3

Tiap hari lembur bikin badan sangat kelelahan. Banyak juga teman yang sama-sama menghabiskan waktu denganku untuk bekerja. Sebenarnya kerja habis isyak sudah pulang, namun kebiasaan mantan pacar yang ingin ngajak ketemuan, membuatku harus patuh terhadapnya lagi, karena kerap kali dia mengancam akan membeberkan semua rahasia kami jika tidak dituruti keinginannya.


Dulu kami memang sering melakukan hubungan layaknya suami istri, namun semua telah berakhir setelah aku menikah, dan dia sendiri punya gebetan baru. Entah mengapa dia ingin kembali kepelukanku.


Bikin risih sebenarnya ada gangguan dari dia. Sering kali meminta untuk bermesraan diranjang, namun sekarang dengan tegas menolak. Bahkan kerap kali jika kami diam-diam bertemu dia mulai memancing dengan meraba-raba, tentu saja menolak kasar sebab tidak ingin terjebak sama hubungan terlarang lagi.


"Ah, sial. Kenapa kakak ipar ada dirumah sih? Bukannya kemarin dia mau ikutan? 'Kan bikin tidak bisa bebas mau jalan-jalan maupun dirumah," Kekesalan hati.


"Duh, kenapa juga gigitan si Danu tadi membekas dileher sih! Jadinya ketahuan dah." Melihat leher didepan cermin.


Benar saja, bekas deretan gigi sangat ketara, apalagi begitu memerah dan susah dihilangkan. Kali ini kecolongan kena stempel, efek terlalu lengah ketika berhadapan dengan dia.


"Apes benar ini. Jangan sampai kak Ijal akan ngomong sama semua keluarga. Bisa gawat nih rahasiaku, yang kini ada main dibelakang sama mantan. Kenapa jadi terjebak begini sih? Sial ... sial sekali, hari ini."


Siapa yang tidak tergiur dengan wanita berkulit putih bersih. Wajahpun banyak yang bilang cantik nan sexy. Dulu ketika masih gadis banyak pria yang naksir, dari para berondong sampai pria tuwir yang berduit. Asalkan permintaan dapat terpenuhi, santuy saja menjalin hubungan dengan cara bergonta ganti pasangan. Kadang belum genap tiga hari sudah kuputuskan, kalau mereka medit bin pelit jika diajak jalan-jalan.


Gaya hidup dulu terlalu mewah dan dihambur-hamburkan. Tidak berdandan tidak percaya diri, jadi make pun harganyapun sangat fantastis. Semua kebutuhan agar terpenuhi, maka harus mengoleksi pria tajir. Ada duit berarti sayang. Bahkan main diranjang hal biasa bagiku, asal sama-sama saling senang dan terpuaskan. Sampai akhirnya kecelakaan hamil terjadi, dan tidak tahu siapa bapak biologisnya. Untung ada Faisal yang mau jadi suami, kalau tidak pasti hidup tidak bisa bebas lagi.


Menghapus make up, lalu membasahi tubuh dengan air shower. Sering mandi tengah malam, karena habis kerja membuat tidak bisa nyenyak tidur sebab badan terasa lengket. Setelah badan segar, kini secepatnya baring ditempat tidur.


Sekujur tubuh mulai ngilu-ngilu karena terlalu bekerja keras mencari pundi-pundi rupiah. Hanya ingin keuangan kembali normal setelah lama cuti. Apalagi sekarang ada anak, sehingga kebutuhan bertambah dan Ibu mulai lagi banyak permintaan. Mau mengandalkan Mas Faisal, pasti akan keteteran tak terpenuhi. Tidak ingin bertengkar dengan Ibu, maka sebelum meminta jatah sudah kusumpal duluan dengan gepokan uang merah.

__ADS_1


Mata semakin berat dan mulailah memejamkan mata. Selimut menutupi tubuh, ketika malam ini hawanya terasa dingin sekali.


"Jangan lakukan ini, Kak Danu. Hhhh, tanganmu jangan semakin kurang ajar dan jahil begini ah!" Kesal ketika terasa paha diraba-raba.


Kami bertemu didalam mobil. Sedang memakai rok mini ketika bekerja. Terasa geli saja ketika tangan lebarnya terus mengelus-elus paha ini. Tanpa diduga aku mulai mengeluarkan suara *******. Nampak jari-jari itu terus bergerilya sampai naik ke atas, yaitu dibeberapa daerah yang bikin sensitif dan semakin bikin kegelian.


Erangan demi erangan terus mengema. Rasanya serangannya begitu membangkitkan gairah. Akupun mulai terbuai, saat dia mulai berani meraba dibagian dekat dada. Hanya bisa terus-menerus memejamkan mata, ketika hanyut dalam kenikmatan dunia.


"Kenapa kamu semakin lama, kok usil banget sih. Jangan bikin aku tak tahan begini, isshh? Eggghhh,"


Bibirpun tak luput dia kuasai. Rasa malupun mulai hilang, ketika akupun membalas serangan tautan lidahnya. Nampak wajah Danu juga menikmati keganasan kami. Semakin lama terasa basah saja ini bibir.


"Hmm. Eeh, tunggu ... tunggu. Kenapa aku jadi telalu terbuai begini? Kami sudah putus. Aaah, salah dah kelakuan kami sekarang,"


Antara percaya dan tidak, aku kini benar-benar merasakan sensasi kenikmatan. Mata terasa berat terpejam, namun anehnya semua rabaan yang terjadi terasa nyata. Lebih gilanya, tangan itu semakin menjadi-jadi ingin mengelus seluruh bagian tubuh.


"Astaga, ruangan sekarang begitu gelap?" Mulai sadar ketika membuka mata.


Kamar nampak gelap semua, hanya ada remang-remang lampu dari sorotan luar rumah.


"Hah, apa aku mimpi? Tapi-?"

__ADS_1


"Aaah, ini nyatakah?" guman hati masih dilanda kebingungan.


Mulai kukumpulkan kesadaran, dan betapa terkejutnya ketika terasa ada seseorang sedang menidih badanku.


"Hei, siapa kamu?" Mulai meronta sekuat tenaga.


"Minggir ... minggir. Kenapa kau ada diatas tubuhku?"


Sudah kepergok, bukannya turun dari menimpa malah ingin menantang saja.


"Cepat pergi dari sini."


"Aaah, dasar kutu kupret kamu."


Perkataanku ternyata tidak mempan. Malah pria ini semakin mengeratkan tubuh ingin memeluk.


Mencoba memukul lengannya, tapi kalah gesit dan tenaga sehingga dia kini malah mengunci kedua tanganku.


"Dasar, br*ngsek. Siapa kamu? Ngapain kamu ada dikamarku? B*jing*n tengik, lepaskan aku," umpatan sambil terus meronta-ronta.


"Lepaskan ... lepaskan, atau aku akan teriak."

__ADS_1


Kalah telak juga. Hembusan nafasnya terdengar kasar dan mengebu-gebu. Dia menyerbu mulut ini ketika terus memohon. Berusaha mengatup rapat-rapat. Dia terus menyerang ingin mencium. Bibir lembutnya terus menganas. Mencoba menepis dengan memalingkan muka, tetapi pria ini terus memaksa. Aku sampai gelagapan mengimbangi.


Srek, sekali tarik baju tidur terkoyak bagian atas. Mungkin bagian dada sudah nampak, namun keadaan lampu yang mati tidak bisa memperlihatkan lekuk tubuhku, serta ingin tahu pelaku yang sesungguhnyapun tidak terlihat. Samar-samar penglihatan. Dari bau dan poster tubuh, sepertinya aku mengenal baik pria yang terus kurang ajar ini


__ADS_2