
Tiap malam bermunajatkan doa agar mendapatkan pekerjaan yang layak, dan kini semua terkabulkan bagaikan mimpi. Walau pekerjaan hanya tukang kebun saja, namun sudah cukup baik pekerjaan itu karena bisa menetap dan menerima gaji setiap bulannya. Ditambah lagi Arvin diperbolehkan ikut. Sungguh baik hati majikan sekarang, yang tidak pandang bulu memperkerjakan orang.
Istri tidak mempermasalahkan anak kubawa, justru dia senang jika tidak ada gangguan contohnya tangisan. Sementara masalah membersihkan rumah terpaksa kami menyewakan orang, dengan kerja paruh waktu saja sebab takut gaji tidak cukup, sementara belum tahu berapa yang kuterima nantinya.
Berangkat ke kota dijemput oleh Pak Tajo. Terasa terhormat saja, pakai acara diajak menggunakan mobil beliau. Sebenarnya dikasih alamat bisa mencari rumah itu sendiri, namun beliau kekuh menjemput sebab katanya biar aman dan bikin nyaman Arvin. Kalau naik angkot pasti berdesakan dan akan kepanasan, ketika menunggu kedatangan kendaraan itu.
"Nah, kita akhirnya sudah sampai juga!" Pak Tajo memberitahu.
Begitu gerbang dibuka memakai remote tombol yang beliau pegang, seketika netra terbelalak melihat bangunan megah berlantaikan tiga. Dari ukiran sangat minimalis dan mewah. Pasti orang yang sangat kaya pemiliknya. Dari depan saja terlihat halaman cukup panjang dan luas, dengan ditumbuhi rumput hijau, beberapa tanaman hias dan bunga.
"Wah, besar sekali rumahnya, Pak!" Berdecak kagum.
Arvin kugendong dipangkuan. Disepanjang perjalanan dia begitu nyenyak tidur, dan hanya bergerak-gerak ketika mulutnya minta disempal susu formula saja.
"Ya iyalah, dia seorang milioner. Banyak usaha, aset dan perusahaan yang beliau miliki. Nanti nama majikan kita Surya Diningrat. Kamu panggil saja tuan Surya. Ya sudah, kita turun dulu dan nanti akan kutunjukkan dimana kamarmu," suruh beliau.
"Baik, Pak. Terima kasih sebab sudah banyak sekali Bapak membantu."
"Sama-sama, Faisal. Sesama umat manusia kita harus tolong menolong. Betul ngak itu?"
"Betul, Pak."
__ADS_1
Tidak banyak barang yang terbawa, hanya satu tas jumbo berisi pakaian Arvin dan diriku.
Langkah tersendat, hanya mengikuti arahan dari Pak Tajo. Beliau berjalan didepan, sambil menunjuk beberapa bagian ruangan yang perlu kuingat. Dari sembari tadi hanya bisa melongo kagum. Tak habis pikir kok ada bagunan semegah begini, dan pastinya biayanya sangat fantastis untuk membangun saja.
"Jangan lupa kamu hafalkan beberapa ruangan yang kutunjuk tadi, sebab banyak sekali lorongnya yang kemungkinan kamu bisa tersesat dirumah ini."
"Iya, Pak. Pasti akan kuhafalkan."
"Disekitar sini ada dua pembantu wanita, diriku sebagai sopir dan kamu. Ada juga beberapa bodyguard dan orang kepercayaan tuan kita, jadi jika bertindak jangan sampai gegabah dikarenakan penjagaan sangat ketat. Sedikit saja kita salah, pasti kena depak secara tidak hormat. Harus banyak hati-hati disini, tapi jangan terlalu kaku kerja. Banyak juga kok yang ramah, humoris, dan baik hati seperti majikan kita," Penjelasan pak Tajo secara detail.
Hanya jawaban hem saja yang keluar dari mulut ini, efek terlalu fokus menerima keterangan beliau. Tidak bisa dijabarkan lagi kondisi rumah, ketika betapa kagumnya diri ini.
"Astaga, Pak. Apa ini tidak terlalu berlebihan," Kaget ketika melihat kondisinya yang mewah.
Kamarnya dua kali lipat lebar dari milik Anissa. Desain, barang dan hiasan dalam kamar tidak ada yang murahan. Semua nampak berkelas dan hanya orang berduit yang mampu membelinya. Rumah dikampung tidak ada apa-apanya, dibandingkan kamar yang akan kami tempati sekarang.
"Tidak kok, Faisal. Semua pembantu sama, kamarnya kayak milik kamu. Tuan besar selalu memberikan kelayakan pada semua pekerja, yang katanya sih harus diistimewakan, sebab kita ini orang yang diajak susah dan mengurus rumahnya selama beliau hidup."
"Oh, berarti super baik banget ya tuan kita."
"Tentu saja iya. Bukan hanya baik. Kadang kalau ada waktu luang, kami para pembantu diajak jalan-jalan. Setelah berberes, nanti akan kuantar kamu menemui beliau. Pasti dari melihat dan mendengar saja, kamu bisa menilai seperti apa majikan kita."
__ADS_1
"Wah, hebat ya? Syukurlah, Pak. Kalau kita dapat majikan baik. Patut Bapak betah bekerja disini, sampai-sampai sudah mapan dan mampu menyekolahkan anak sampai kejenjang perkuliahan. Sangat kagum sih melihatnya."
"Iya, Faisal. Berkat kerja keras dan kebaikan majikan, cita-cita dan impianku semua bisa terkabul dengan mudah. Semoga saja kamu akan mengikuti jejakku menjadi orang sukses, dan bisa membuat anakmu kuliah sampai ke jenjang perguruan tinggi."
"Iya, Pak. Amin."
"Ya sudah. Kamu istirahatlah dan rapikan dulu barang-barang yang kamu bawa tadi. Kalau sudah selesai temui aku nanti, dikamar dekat taman yang banyak bunga mawarnya."
"Oh, itu. Saya melihatnya tadi."
"Baguslah. Berarti kamu tidak akan kesusahan mencarinya. Ya sudah aku pergi dulu."
"Iya, Pak. Terima kasih."
"Iya, Faisal. Tidak usah sungkan begitu. Kita sekarang rekan kerja. Jika ada apa-apa yang tidak dimengerti dan tahu, bisa tanyakan padaku." Bahu ditepuk keras secara berulang.
"Baik, Pak. Saya mengerti."
Beliau sudah undur diri. Arvin sudah kugolekkan perlahan dikasur. Bahu sudah pegal mengendongnya. Berusaha merengangkan otot dengan cara menarik kedua tangan ke atas.
Pandangan terus menyapu ke sekeliling ruangan. Ber ac, kamar mandi didalam, kasur empuk, telivisi jumbo, meja dan lemari berminiatur mewah, yang nampak semua begitu berlebihan. Berbeda sekali dikampung, yang pastinya bakalan seumur hidup tidak bisa merasakan. Di desa hanya rumah biasa dengan kondisi ruang kamar terbatas.
__ADS_1