
Duduk merenungi nasib. Kesedihan terdalam membuat goncangan jiwa. Apakah memang aku dilahirkan sebagai pria yang tidak berguna, sehingga selalu disalahkan dan dianggap tak mampu memberikan kebahagian bagi semua keluarga Anissa.
"Penderitaan apa lagi yang harus kualami, ya Tuhan? Apakah seumur hidupku tidak akan pernah bahagia? Dari kecil orangtua telah membuangku, dan sekarang setelah berumah tangga, namun bukan kebahagiaan yang kudapat tapi penderitaan serta diinjaknya harga diri?" rancau hati terus merasa tidak berguna sebagai manusia.
Ceklek, pintu terbuka kasar ketika sedang dalam kamar anak. Sampai kaget ketika ada sedikit bantingan.
"Apa yang kamu lakukan tadi, Mas?" cecarnya tidak sabar.
"Maksud kamu yang mana sih?"
"Masalah belanja tadi. Kata ibu kamu menghilangkan uang beliau. Apa itu benar?"
"I-iyya, Nis. Itu benar."
"Lebih baik kita bicara diluar saja. Takut menganggu Arvin tidur."
"Emm! Kamu duluan." Nurut saja.
"Aku butuh penjelasan. Kok bisa kamu sangat ceroboh sekali."
"Maaf, Nis. Itupun aku tidak sengaja."
"Ngak sengaja gimana. Kamu yang berbuat, aku juga yang kena marah Ibu, tahu."
__ADS_1
"Maaf." Selalu saja mengalah demi emosi yang kapanpun bisa meletup.
"Hadeh. Kamu itu kenapa selalu saja bikin susah semua orang. Kenapa tidak hati-hati sih? Kamu tahu sendiri, mencari uang itu tidak gampang, tapi kamu malah menghilangkan begitu saja, tanpa rasa bersalah maupun dosa. Terus kalau ibu sudah marah begini, semua orang jadi kena emosi beliau juga 'kan."
Sedang berpikir, kalau istri sekarang sedang marah akut, atau paling tidak sedang terlihat marah besar kepadaku. Namun sebenarnya bahwa dia sedang emosi saja, itu bukan berarti dia marah, melainkan sejatinya bahwa dia ingin merasakan luapan perasaan yang begitu bercampur aduk, tumpang tindih dalam waktu yang bisa dibilang singkat akibat kecewa.
"Maaf, Nis. Tadi aku benar-benar tidak sengaja. Kalau nanti ada uang pasti akan kuganti."
"Mau ganti pakai apa? Daun atau kertas, gitu? Kamu itu tidak bekerja, gimana bisa mengantinya. Dasar bodoh amat jadi suami. Nyesel banget punya suami kayak kamu. Kalau bukan perjodohan itu, ogah banget punya suami yang ngak bisa ngapa-ngapain kayak kamu. Jangan-jangan uang itu kamu korupsi," tuduhan yang tidak cukup bukti.
Hanya bisa mengelus dada. Sambil terus beristighfar didalam hati. Kata pedas itu, bikin panas dada yang rasanya sudah siap untuk diledakkan.
"Astagfirullah, Nis. Jaga mulut kamu. Jangan keterlaluan kamu sebagai istri. Aku masih suami sah kamu yang seharusnya kamu hormati. Apa tidak bisa bicara baik-baik?" balas tidak senang.
Berbalik emosi juga. Kali ini perkataannya begitu nyelekit dihati. Merendahkan martabat pemimpin rumah tangga, terdengar sangat mengusik telinga dan terlihat tabu.
Sorot mata tajam. Nafas berderu kasar. Banyak emosi jiwa yang mengusai. Tangannyapun sudah kasar menekan-nekan ke dada bidang ini. Rasa hormatnya sudah runtuh. Tidak ada sopan santun lagi menganggap sebagai suami.
Pernikahan bukan sekadar tentang berpelukan bersama setiap saat, namun juga perkelahian yang akan selalu dihadapkan bagi pasangan yang kurang bersabar. Kalau tidak terkontrol ya berakibat adu mulut hebat.
"Kamu kali ini sangat keterlaluan, Nis. Hanya karena uang empat puluh ribu rupiah saja kamu sudah berani merendahkan harga diri suamimu ini. Apa uang begitu penting dan berharga daripada kepatuhanku sebagai suami, yang ingin membimbing kamu jadi istri sholehah, hah? Aku sangat kecewa atas ucapanmu barusan. Ingin menjadi yang terbaik dan bisa melayani kamu dengan benar, tapi kalau begini caramu, maaf-maaf saja jika aku katakan tidak terima atas hinaan ini."
Entah mengapa Anissa jadi diam. Apa mungkin dia sedikit sadar atas apa yang kuungkapkan, tapi sepertinya dia hanya tidak bisa berkata apa-apa lagi saat semuanya terkuak secara benar. Tangan mengepal. Menahan semua gejolak emosi. Ingin sekali kugampar mulutnya agar tidak melawan ucapan.
__ADS_1
"Asal kamu tahu saja, ya! Masalah uang itu, sedikitpun aku tidak pernah memakannya, apalagi seperti kau tuduhkan yaitu korupsi. Kakak kamu memberikan uang pas-pasan ketika dia nitip barang, jadi untuk sementara uang ibu aku pakai dulu untuk membelinya, daripada kakak kamu nanti juga uring-uringan karena barang pesanannya tidak dibelikan. Dan tadi aku lupa mau menjelaskan, sebab keburu ibu sudah marah duluan. Sekarang semuamya jelas, dan kamu jangan salah sangka lagi. Walau aku miskin begini, maaf banget ya, kalau tidak doyan sama uang yang bukan hak milikku sendiri."
Berkata kasar. Wajah memerah. Panas yang melanda tidak kuat lagi menahan sulutan api kemarahan.
"Maaf, jika aku tadi membentak kamu, sebab bagiku kali ini kau sangat tidak patut dianggap sebagai istri lagi."
Mulutnya sekecap saja tidak bersuara. Tak ada sedikitpun bantahan yang bisa dia ungkapkan lagi.
Akibat kesal pergi menjauh. Emosi ini sudah meluap-luap, sampai dada terasa sesak. Jika diteruskan pasti akan berakibat fatal. Sifat Anissa yang tidak mau mengalah, pasti adu mulut ini akan bertambah parah, jika salah satu dari kami masih tidak ada yang mau mengalah.
Seperti sepasang sepatu, berdua namun tetap satu. Begitulah kehidupan kami sekarang, karena hanya ada satu saja, yang pasti tidak akan berguna sebab tidak ada kekompakan.
Diamnya seorang istri bukan berarti membiarkan berbuat semakin menyakiti dan semaunya. Sungguh aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu wahai istriku.
Segalanya kau beri apapun itu dalam bentuk perjuangan cinta, harta, tahta, bahkan wibawa, tapi kalau tidak dihargai sama sekali di sini, hanya kata ikhlas bisa berfungsi saat ini.
Aku memang tidak tampan, tidak rupawan, dan banyak uang. Tapi ada hak yang tidak kau penuhi untukku. Yakni kasih sayang dan kesetiaan.
"Ku kira kau yang terbaik, ternyata aku yang terlalu salah menilai. Hanya waktu yang bisa menjawab, atas doa dan sujudku agar kau bisa berubah menjadi istri terbaikku."
Akan ada waktu ketika orang yang sabar menjadi muak, orang yang peduli menjadi masa bodoh, orang yang setia menjadi angkat kaki. Itu adalah ketika sifat sabar, peduli, dan setianya tidak dihargai sama sekali, bahkan dianggap sampah sekalipun.
Setiap orang butuh untuk dihargai perjuangannya. Pilihannya adalah ia menjadi senang karena telah dihargai, atau hanya akan menjadi luka batin karena tidak pernah merasa dihargai.
__ADS_1
Terkadang apa yang sudah kita korbankan belum tentu dihargai orang.
Apa yang kau pikir baik di awal, belum tentu baik pada akhirnya. Serahkan saja semua pada Yang Kuasa, hanya itu kunciku saat ini bertahan dalam rumah, yang bagaikan sudah neraka akibat tidak terima atas kehadiranku.