
Tiap kali melakukan sesuatu pekerjaan dengan cara terbaik, kita banyak mengharapkan suatu hasil yang bakalan bisa berbuah manis. Mungkin hal wajar, saat kita berharap kerja keras kita juga bisa mendatangkan hal-hal baik maupun membahagiakan. Hanya saja yang kadang membuat kita terlalu sedih, adalah ketika kerja keras kita malah tidak dihargai oleh orang terdekat atau orang sekitar kita.
Perasaan tidak dihargai bisa membuat diri kita terluka, kesal, kecewa, ingin menitikkan airmata, hingga api kemarahan bisa kita rasakan jadi satu. Namun, sebelum kita semakin terpuruk dalam perasaan tak nyaman, kita masih bisa mengupayakan sejumlah hal sederhana untuk membuat diri kita kembali kuat dan terus merasakan ketegaran.
"Bisa kita bicara sebentar, Faisal!" Teman mengajak duduk santai di warung baksonya.
Menepuk bangku memanjang, agar mau ikutan duduk. Jam kerja sudah selesai. Kini tinggal kami berdua saja, istrinya sudah pulang duluan yang katanya sudah kecapek'an.
"Ada apa, Ijal?" Ikutan duduk santai, sambil mengendong Arvin yang sedang terlelap tidur.
"Begini, ini masalah pekerjaan kamu. Maafkan aku sebelumnya, jika harus mengatakan ini semua kepadamu. Kamu adalah pria pekerja keras, namun sayang sekali keadaan kamu sambil mengasuh anak sepertinya tidak cocok bekerja dengan kami," Ijal berbicara sepelan mungkin. Dia berbicara masih menjaga hati ini supaya tidak tersingung.
"Maksud kamu apa, kawan?" Masih tidak mengerti arah pembicaraan dia.
"Mohon maaf ... maaf banget, kalau kami harus memberhentikan kamu untuk bekerja disini," Ijal hanya menundukkan kepala, tidak berani menatap wajahku.
Dari awal sudah merasa kalau bakalan kehilangan pekerjaan, sebab sang istri selalu mengeluh dan bahkan marah-marah tidak jelas.
"Aku memahami itu, tapi apakah kau tidak bisa menolongku untuk tetap bekerja disini sebentar lagi saja? Aku sangat membutuhkan pekerjaan ini," Rasanya sedih saja jika harus kembali menganggur.
"Maafkan aku, Faisal. Sebenarnya aku juga merasa kasihan sama kehidupanmu, tapi aku juga memikirkan pelangganku, sebab banyak kejadian yang membuat mereka kabur, takutnya lama-kelamaan malah mereka tidak kembali mencicipi lagi. Kamu tahu sendiri, kalau warung ini tidak pernah sepi," Ijal mengatakan dengan perasaan tak enak hati.
__ADS_1
"Hhh, tidak apa-apa, Ijal. Aku bisa memahami apa yang kau rasakan itu,"
Walau sakit, tapi tetap harus legowo menerima semuanya. Membantahpun kita tidak ada hak. Dia sang bos, jadi bisa seenaknya memecat ataupun mau mempertahankan pegawainya.
Tak perlu menyalahkan diri sendiri atas semua hal yang sudah dilakukan. Mencoba untuk ambil jeda sejenak, untuk memahami usaha yang sudah dilakukan. Biarlah orang lain tak menghargai kerja keras kita, karena yang lebih penting dari itu adalah kita masih bisa menghargai semua hal yang sudah kita upayakan dengan semaksimal mungkin. Apresiasi diri, maka suasana hati kita masih bisa lebih membaik.
"Jadi kamu tidak marah 'kan? Aku sangat takut, jika pertemanan kita hancur gara-gara ini."
"Tidak adalah, teman. Kau selamanya akan tetap jadi penolong terbaikku."
"Wah, terima kasih. Aku pikir kau akan marah besar kepadaku."
"Mana bisa aku marah, sebab kau selama ini sudah banyak menolongku."
"Iya, aku baik-baik saja kok."
"Baguslah kalau begitu. Maka terimalah ini," Sebuah amplop putih diberikan.
"Eeh, apa ini? Kamu tidak usah repot-repot begini."
"Tidak apa, Sal. Terimalah ini, sebagai rasa terima kasihku yang selama ini kamu telah banyak membantu berjualan."
__ADS_1
Antara menerima tidak enak, tapi jika ditolak tidak baik sebab itu adalah rezeki.
"Tapi-? Apa ini tidak berlebihan. Takutmya kalau ketahuan istri kamu, dia akan marah."
"Tenang saja, justru dia yang menyuruh memberikan pesangon lebih ini."
Ternyata telah salah sangka. Walau dia cerewet dan pemarah, tapi didalam hati masih ada sisi baiknya.
"Ya ampun, apa yang harus kukatakan lagi pada kalian. Sudah baik beberapa hari ini menampung kerja. Sekaramg justru memberikan pesangon."
"Tidak apa-apa. Mungkin kamu lebih membutuhkannya dari pada kami, contohnya untuk beli susu anakmu. Maka terimalah dan maafkan kami."
Ijal tetap ingin menyerahkan uang itu, walau aku tidak punya hak sepenuhnya.
"Terima kasih kalau begitu." Akhirnya mengalah juga
"Iya, sama-sama."
Akhirnya besok resmi tidak bekerja lagi. Bingung mau cari pekerjaan ke mana lagi, ketika harus membawa anak ikut serta kerja keras cari duit.
"Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini? Aku harus menghidupi Arvin, tapi kenapa jalannya begitu berliku-liku begini. Hamba, hanya manusia biasa, maka berikan belas kasihMu agar aku dapat pekerjaan untuk membalas penghinaan mertua, yang menganggapku tidak becus mencari uang. Aku ingin membuktikan kalau bisa bangkit dan memberikan beliau uang," Kesedihan hati ditimpa musibah lagi.
__ADS_1
Jangan biarkan kebahagiaan terenggut oleh orang-orang yang tak sungguh-sungguh mempedulikan diri kita. Kita tetap berhak bahagia dan berhak menikmati hidup apa adanya. Jadi, coba untuk senangkan diri sendiri lebih dulu. Mungkin pilih pekerjaan yang bisa bantu tenangkan diri dan senangkan hati dulu, agar suasana hati bisa lebih membaik lagi.