
Pulang dengan membawa sejuta rasa kecewa. Amplop kubuka ditengah jalan, dan ternyata berisikan uang tiga ratus rupiah. Dalam hati terus mengucap syukur atas rezeki yang datang.
"Hhh, mau kerja apalagi, ya? Kenapa hidup makin berat."
"Astagfirullah, kenapa aku terus saja mengeluh. Banyak nikmat hidup yang seharusnya kusyukuri, bukannya terus mengeluh begini. Maafkan hamba Ya Allah, cuma hanya bisa mengeluh dan tak tahu terima kasih ini."
Kalau tidak dibuka sekarang, takut ketahuan mertua yang terus saja haus oleh uang. Beliau tidak berpikir kalau menantunya ini sedang memeras keringat, yang beliau tahu hanya uang harus disetorkan. Mungkin keadaan kami yang masih belum punya rumah sendiri, maka diwajibkan memberikan rupiah untuk imbalan numpang.
"Ehh, Faisal. Kamu masih ada kerjaan 'kah besok? Saya dengar kamu sedang bekerja diwarung bakso?" tanya Pak Yadi tetangga sebelah.
Sebenarnya pekerjaan rumah belum beres, tapi Arvin yang rewel ingin tidur kugendong keluar rumah, untuk menenangkannya dan bisa cepat ditidurkan.
"Memang ada, Pak. Kebetulan saya lagi nganggur. Saya sudah tidak kerja disana lagi."
"Wah, kebetulan sekali. Apa kamu mau mentraktor tanahku yang ada disawah itu, sebab mau ditanami padi. Gimana?"
"Alhamdulillah, ternyata rezeki datang lagi. Bisa ... bisa banget, Pak. Saya akan mengerjakannya."
"Syukurlah kalau begitu, sebab dari tadi sudah banyak nyari orang tapi tidak mau, sebab ada kerjaan ditempat lain juga. Oh ya, kamu besok bisa langsung mengerjakannya, sebab semingguan lagi mau digarap untuk segera ditanami."
"Baik, Pak. Terima kasih telah memberikan pekerjaan."
"Sama-sama. Kamu patut menerimanya, sebab memang orang yang rajin dan pekerja keras."
"Terima kasih atas pujiannya, Pak!" Tersenyum ramah ke arah beliau.
__ADS_1
Nikmat kehidupan datang lagi. Sedang berpikir. Apakah besok harus membawa Arvin ikut serta atau tidak, sedangkan disawah sangatlah panas.
"Aah, bagaimana ini? Semoga ditempat Pak Yadi sudah ada pondoknya, jadi bisa dibuat tempat kamu berteduh besok, Nak!" Berbicara pada Arvin yang sedang membuka lebar matanya.
Dulu pernah kerja ditempat beliau, tapi untuk berteduh saja tidak ada, sekarang yang terdengar kalau beliau sudah mendirikan pondok. Semoga saja isu itu benar, jadi bisa lega ikut serta membawanya.
********
Belum membicarakan pada pihak keluarga kalau sudah dipecat, sebab mereka semua kelihatan sangat sibuk urusan masing-masing, dan terlebih lagi Anissa yang selalu pulang larut malam. Tidak tega saja kalau dia kelelahan, namun hanya ingin membicarakan masalah sepele saja.
Pagi-pagi, terik matahari yang mulai akan muncul, aku tengah disibukkan ingin berangkat dengan berjalan. Semua masih terlelap, yang penting sarapan mereka sudah beres semua. Walau memakai mesin kerja nanti, tapi kalau mendorong bolak-balik agar tanahnya jadi pecah, karena mesinnya masih manual menggunakan kekuatan kaki dan tangan, mungkin akan terasa pegal. Bekerja sendirian, dan tuan tanah hanya melihat sekejap saja untuk memantau.
Traktor (Mesin bajak) merupakan salah satu alat dan mesin budidaya pertanian, yang didesain secara spesifik untuk keperluan traksi tinggi pada kecepatan rendah atau untuk menarik trailer dan implemen yang digunakan dalam pertanian.
"Duh, panasnya!" keluh ketika mentari begitu menyengat.
"Astagfirullah, kenapa menyengat sekali panasnya hari ini?" Mengibas-ngibaskan topi ke arah badan, agar panasnya mereda.
Sungguh tidak tahan lagi ketika dipertengahan sawah kena sengat panasnya, yang tidak ada pohon sama sekali. Anginpun terasa tidak bertiup sama sekali. Melihat ke atas langit, silaunya bikin tambah gerah. Hanya pondok sebagai pelindung. Kalau dua hari ini tidak selesai dikerjakan takutnya kena marah dan gaji kena potong.
"Kamu jangan nakal ya, Nak. Ayah, lagi kerja buat beli susu kamu."
"Hhh, maaf jika Ayah mengajak kerja panas begini. Kamu harus memaklumi, ya! Sebab tidak ada kerjaan lagi yang bisa merubah nasib kita."
"Jadi anak pintar, jangan rewel, apalagi nakal, ya. Kamu anak Ayah yang terbaik pokoknya," guman hati merasa bersalah namun bangga.
__ADS_1
*******
Dua hari selesai juga akhirnya kerjaan. Sawah cukup luas, jadi tidak bisa cepat-cepat dikerjakan. Bunyi adzan ashar lewat sedikit baru pulang, mungkin sekitar jam lima. Takut kalau keterusan kerja sampai magrib, tidak bagus bagi Arvin yang masih bayi ( Atau disebut sawan \= Kena gangguan hal ghoib menjelang magrib)
Rasulullah SAW melarang anak-anak keluar pada waktu maghrib. Beliau juga menganjurkan untuk menutup pintu-pintu rumah pada waktu tersebut.
Disebutkan dalam Kitab Fiqhus Sunnah karya Sayyid Sabiq, waktu maghrib dimulai sejak terbenamnya matahari dan berakhir ketika warna kemerah-merahan pada langit hilang. Dalam istilah lain waktu ini disebut dengan senja.
Riwayat yang menerangkan larangan Rasulullah SAW agar tidak keluar pada waktu maghrib dan agar menutup pintu ini berasal dari Jabir bin Abdullah RA. Ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,
إِذَا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ أَوْ أَمْسَيْتُمْ فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنْ اللَّيْلِ فَخَلُّوهُمْ وَأَغْلِقُوا الْأَبْوَابَ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَفْتَحُ بَابًا مُغْلَقًا
Artinya: "Jika telah tiba gelap malam dan kamu berada di waktu senja, maka tahanlah putri-putrimu di dalam rumah, sebab setan sedang tersebar dan bila telah berjalan satu jam (yakni sesudah isya) terserah padamu untuk melepas mereka, dan tutuplah pintu-pintu sambil menyebut nama Allah, sebab setan tidak bisa membuka pintu yang tertutup." (HR Bukhari)
Dari Jabir RA, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,
"Jangan kalian membiarkan anak anak kalian di saat matahari terbenam sampai menghilang kegelapan malam sebab setan berpencar jika matahari terbenam sampai menghilang kegelapan malam."
Dalam riwayat lain juga disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,
لَا تُرْسِلُوا فَوَاشِيَكُمْ - أي كل ما ينتشر من ماشية وغيرها - وَصِبْيَانَكُمْ إِذَا غَابَتْ الشَّمْسُ حَتَّى تَذْهَبَ فَحْمَةُ الْعِشَاءِ ، فَإِنَّ الشَّيَاطِينَ تَنْبَعِثُ إِذَا غَابَتْ الشَّمْسُ حَتَّى تَذْهَبَ فَحْمَةُ الْعِشَاءِ
Artinya: "Jangan lepas hewan ternak kalian dan anak-anak kalian apabila matahari terbenam hingga berlalunya awal waktu Isya. Karena setan bertebaran jika matahari terbenam hingga berlalunya awal waktu Isya." (HR Muslim)
Dijelaskan dalam Syarah Shahih Muslim karya Imam an-Nawawi, anak-anak diminta berdiam diri di rumah setelah matahari terbenam karena dikhawatirkan mereka akan diganggu oleh setan yang banyak berkeliaran pada waktu tersebut.
__ADS_1
Rasulullah SAW menganjurkan untuk menutup pintu rumah dengan diiringi zikir pada waktu keluarnya setan tersebut. Salah satu surah yang bisa dibaca untuk memohon perlindungan adalah surah Al Falaq.
Semua sumber dari google.