Milyader Tersisih

Milyader Tersisih
Dia Ingin Masuk Kamar


__ADS_3

Siapa sangka akan jadi begini. Malapetaka yang tidak diinginkan terus menganggu pikiran. Hari ini tidak fokus bekerja, sehingga kerap kali kena omelan atasan. Bayangan wajah itu membuatku cukup tersiksa. Balasan akan dosa-dosa kemarin, benar-benar telah mulai menghukumku saat sudah masuk dalam lingkaran keluarga sendiri.


Lelah pikiran dan perasaan membuatku mau tidur cepat. Dengan memejamkan mata, bisa menghapus sejenak kenangan pahit. Kejadian ciuman tadi pagi, membuka kembali goresan luka yang dia torehkan.


Penjelasan yang bagaimana lagi bisa mendamaikan keluarga. Sepertinya kesalahan kami tidak dapat ampun lagi. Menolak kasar, namun kakak ipar makin kurang ajar, dan mengebu ingin memilikiku saja. Entah setan apa yang sedang merasukinya. Perbuatan tak sen*noh dia, bikin hati terus saja teriris tajamnya sembilu.


Tidak ingin Kedamaian keluarga hancur. Berkali-kali mencari cara agar kelakuan suami kakak kandung tidak bringas lagi, tapi berpikir seribu carapun sepertinya akan susah. Modal nekatnya, membuat benteng yang terjaga dia runtuhkan dengan mudah. Semua kepasrahan telah terjadi, walau didalam hati bertolak belakang ingin sekali mengamparnya.


"Apa yang harus kulakukan untuk kalian agar mau menerima penjelasan ini. Rasa bersalahku membuatku sangat tersiksa sekali," Menangis dalam keheningan malam.


Wajah kusembunyikan dibalik bantal guling. Ingin rasanya berteriak sekeras mungkin. Ketidakberdayaan ini membuat menahan lengkingan suara, agar aman semua dan tidak menganggu.


Meremas kuat selimut, teringat kamar dan bantal telah jadi saksi bisu dia menjam*hi bagian tubuh ini. Tangannya terus bergerilnya tanpa rasa takut dan bersalah. Justru diriku yang terus kepikiran akut, hingga tak bisa mengepakkan sayap terbang bebas.


Tuk ... tuk, beberapa kali arah jendela diketuk seseorang.


Bangkit dari keterpurukan. Melihat kearah ketukan. Nampak sebuah bayangan seorang laki-laki terus mengetuk. Dari tinggi dan poster tubuh sepertinya tidak asing.


"Ahh, siapa sih dia? Kenapa malam-malam begini berani mengetuk? Apa dia orang baik atau jahat? Kalau jahatpun, tapi kenapa kayak memaksa minta dibuka?" guman hati mulai ada rasa takut.


Tuk ... tuk, sekali lagi dia memaksa.


Baju tidur kurapikan, ketika ingin melihat siapa gerangan yang tak sabar ingin kubukakan jendela. Sebenarnya ada rasa was-was, tapi bikin penasaran juga.


Berjalan perlahan. Membawa sapu lantai, untuk berjaga-jaga sebab takut jika orang itu tidak bersikap baik maka siap memukul. Tangan terayun siap menyibakkan gorden.


Srek, suara besi bergeser keras ketika kainnya kubuka.


"Kak ijal, kamu?" Kaget bukan kepalang ketika melihat sosoknya.


"Wah, kenapa dia ada disini?" guman hati bertanya-tanya.

__ADS_1


Dia melambaikan tangan dengan santai. Senyuman itu menyiratkan sesuatu. Kemudian tangannya menunjuk-nunjuk arah bagian bawah jendela, yang berarti dia minta mengeser slot kuncinya.


"Apa aku harus menuruti permintaannya? Kalau menolak pasti dia akan mengancam dan berbuat jahat, tapi kalau dituruti apakah dia akan berbuat baik?" Berpikir agar tidak gegabah mengambil tindakan.


Mengeleng kepala kasar, yang artinya menolak. Tapi matanya mulai melotot tajam. Jarinya terus menunjuk agar secepatnya membuka. Bergindik ngeri saat dia mulai memberi isyarat, akan melukaiku atau membunuh dengan cara mengeser telapak tangan ke samping leher.


Dengan gemetaran, akhirnya membuka pengunci. Entah ini tindakan salah atau benar.


"Lama sekali sih membukanya!" keluhnya tak senang.


Dia melompati kayu pembatas jendela. Tangannya sigap menutup gorden kembali. Berbalik badan menatap garang ke arahku yang berdiri gemetaran.


"Apa yang kau inginkan, sehingga lancang masuk kamar ini?" ketusku.


"Hehehe, kalau bertanya baik-baik dong, sayang!" Dia mentoel dagunya.


Secara kasar menghindari dengan menepis tangannya, yang kemudian memalingkan muka.


"Apa maksudmu? Kamu jangan macam-macam terhadap diriku lagi, atau-?"


"Atau apa? Menyembunyikan atau membongkar gitu? Ingat ya, kehidupanmu sekarang ada ditanganku, apalagi memiliki tubuhmu untuk jatuh kepelukan diri ini selamanya."


"Cuiih, aku tidak sudi."


Plak, tamparan kudaratkan kasar. Emosi mulai mengebu-gebu. Dia menatap ke arahku dengan mata melotot tajam.


"Dasar wanita murahan. Kamu berani ya, menamparku!" Secara kasar menjambak rambut kebelakang.


"Aah, sakit, Kak. Lepaskan."


"Shusst, diam-diam. Jangan sampai kedengaran sama orang lain."

__ADS_1


"Hmm, apa kamu bilang, sakit?"


"Iya, tolong lepaskan."


"Jangan harap. Tamparanmu begitu sakit, jadi kamu harus membayarnya kali ini."


"Apa? A-a-ppa mak-suudmu?" Terbata-bata ketakutan.


Secara tak siap, dia mendadak mendaratkan ciuman dibibir. Tak bisa berontak, ketika tangannya menahan kepala agar tak goyah dan menghindar.


"Hhhh, apa yang kamu lakukan, Kak? Jangan begini. Stop, jangan teruskan. Ingatlah kita masih saudara."


"Persetan sama saudara. Sekarang kamu harus nurut dan jangan membantah, atau foto-foto kamu akan kusebarkan sama teman dan keluarga lain," ancamnya yang bikin syok.


"Foto? Apa maksudmu?"


"Bentar. Kamu pasti senang melihatnya, haha."


Dia menunjukkan beberapa fotoku, yang tak memakai sehelai benangpun sedang dicium oleh pria. Sungguh tragis dan nampak menjijikkan. Terlihat jelas dari belakang, itu orang adalah kak Ijal sendiri, tapi dengan lihai dia membelakangi yang tak memperlihatkan wajah biar ditebak kalau orang lain, mungkin dengan maksud agar tidak ketahuan.


"Dasar br*ngsek, apa yang sebenarnya kau inginkan?" umpatku geram.


"Hihihihi, apa kau masih berpura-pura bodoh, hah!" bisiknya begitu dekat telinga.


"Sialan, kamu memang pria bejad yang tak tahu malu dan punya hati. Aku tak sudi punya kakak seperti kau ini."


"Baguslah kalau kau mengerti. Asalkan kau tahu, bahwa tubuhmu sangat membuatku ketagihan dan ingin menikmatinya terus."


"Ahhh, dasar br*ngsek." Ingin kugampar lagi mulutnya.


Dengan sigap dia menangkap tanganku. Ingin melawan dengan tangan satunya lagi, tapi harus menelan pil pahit ketika dia bisa menangkap lagi dan kini mulai menguncinya.

__ADS_1


Mulut diserang lagi, sehingga tidak bisa berteriak. Tali piyama ditarik kasar, sehingga memperlihatkan gunung kembar yang masih dalam balutan kain. Kali ini benar-benar kalah telak, ingin dirasakannya lagi. Sekarang dalam kondisi sangat sadar, sehingga tak bisa membendung pelupuk mata lagi.


__ADS_2