
Perasaan jadi tidak tentram berada dirumah sendiri. Rasanya ada mata yang terus mengawasi. Jika bertemu dengan orang yang kubenci, netranya yang jelalatan terus saja menembuskan padangan ke arah tubuhku dari atas sampai bawah. Risih jika diperhatikan terus.
"Bagaimana aku harus melawan? Pasti jika ketahuan akan menghancurkan semua keluarga. Pasti Ibu dan kak Dita akan marah besar atas kelakuan suaminya, dan aku-?" Kegundahan hati terus memikirkan cara.
"Ahh, tidak. Aku tidak bisa membayangkan lagi gimana reaksi mereka yang marah, hancur, sekaligus kecewa terhadap kami. Oh Tuhan, kenapa ini semua terjadi padaku? Apa jalan terbaik atas masalah ini? Rasanya cukup membuat frustasi dan putus asa saja."
Mobil tak segera kunyalakan untuk pergi bekerja. Rasanya malas sekali ingin berangkat. Bayangan akan malam yang menjijikkan itu, kini terus menghantui. Tiap melangkah terus saja diikuti penyesalan. Walau bukan pelaku utama, tapi penghiatan kami cukup membuat tamparan.
Tuk ... tuk, kaca jendela diketuk.
"Astaga, apa yang dia lakukan?" Kaget ketika Kak ijal melempar senyum palsu.
Dia terus saja mengetuk, sehingga mau tak mau membukakan untuknya juga. Segera kuturunkan kaca jendela.
"Hai adek manis!" sapa dramanya.
"Mau apa kau?" Kekasaran menjawab.
"Dih, yang sopan dong sama kakak iparmu ini. Disapa baik-baik kok malah marah gitu."
"Ciiih, sok dramatis."
"Ada apa, Mas?" Ternyata Kak Dita ada dibelakangnya.
Untung saja mulut tidak keceplosan. Bisa gawat kalau ketahuan kelakuanku sekarang terlihat muak pada suaminya.
"Ngak ada apa-apa, sayang. Mau minta izin saja sama adekmu ini, tapi dia kelihatan keberatan sekali Masmu ada disini."
"Ooh gitu. Biar aku saja yang bicara sama dia."
Kak Dita mendekati kaca, dan mulai ingin membicarakan sesuatu.
__ADS_1
"Itu Anissa, untuk sementara Mas Ijal numpang berangkat kerja sama kamu, ya! Soalnya motor kami lagi mogok dan belum sempat dibawa ke bengkel," minta izin.
Terjebak dalam situasi sulit mengambil keputusan. Diterima takut dilec*hkan lagi, tapi kalau ditolak tidak enak sama kakak sendiri. Serba salah jadinya. Justru Kak Ijal malah kelihatan senang dan cengar-cengir saja dari tadi.
"Sial, apa ini hanya akal-akalan, Kak ijal? Kalau iya, apa dia masih ingin menjadi pria kurang ajar. Pokoknya jangan sampai dia berani macam-macam lagi, atau aku akan membuat perhitungan dengannya. Tapi bagaimana?" Kekesalan hati ketika pria itu mengedipkan mata nakal.
Stang kemudi kuremas erat. Rasanya ingin menolak mentah-mentah. Takut kalau dicurigai. Kini tak bisa berpikir jernih lagi mencari alasan.
"Gimana, Nis? Sekali ini saja kamu bantuin. Kalau naik angkutan, takutnya malah terlambat nanti," Kak Dita mengiba.
"Iya, nih, Nis. Kelamaan sampainya, kalau naik kendaraan umum nanti, 'kan harus mencari penumpang dulu," pinta memelas dengan menangkupkan kedua tangan.
Issh, didepan istri sendiri pandai juga bersandiwara. Sungguh rapi dia bisa menyembunyikan.
"Hh, ya sudah. Kalau begitu cepatan masuk. Aku juga bisa terlambat berangkat karena kelamaan bolak-balik mengantar," keluh yang dongkol hati ini.
"Ya elah, ngak pa-pa 'lah. Sekali-kali bantuin. Lagian kamu masuk kerja bukannya jam delapan. Masih banyak waktu juga ini," enteng kakak ipar berbicara.
"Iya, tapi kalau bolak-balik bikin kemakan tuh waktu. Bikin susah saja," keluhku.
Rasanya eneg mendengar dia sok ngatur. Mesin segera kuhidupkan. Dia yang bermuka tebal, berdrama sedang melambaikan tangan penuh cinta pada istrinya. Senyuman tersembunyinya bikin bulu kuduk mulai merinding. Dalam hati terus saja berdoa agar tidak berkelakuan aneh-aneh terhadapku lagi.
"Kenapa sih, sikap kamu berubah drastis begitu? Jangan marah-marah terus, nanti malah kepincut, dan muka kamu yang cantik itu akan keriput," Dengan percaya dirinya bisa berkata begitu.
"Ciih, jangan mimpi. Ngak usah memuji. Aku ngak akan klepek-klepek sama bualan basimu itu."
"Jangan remehkan mimpi, sebab semua bisa kubuat kenyataan. Bukankah semua sekarang sudah nyata, benar ngak?"
"Jangan kurang ajar kamu, Kak!" Tak senang sama kelakuannya yang menoel daguku.
"Haduh, aku baru megang dagumu loh ini, kenapa harus sewot segala? Bukannya kemarin malam sudah membuat kamu kepanasan dan ketagihan. Apa kurang jatahnya, sehingga marah melulu nih? Hahaha, betapa harumnya tubuhmu loh!" Kembali diungkitnya.
__ADS_1
Shet, pedal rem kuinjak mendadak.
"Kenapa berhenti, sayang?" Dia melempar senyum kegenitan.
"Bisa diam ngak?"
"Sayang ... sayang, kepalamu peyang. Aku tidak sudi mendengar kau memanggil kata itu. Terlebih lagi mengungkit kejadian yang sudah terlanjur kita lakukan. Aku peringatkan sama kamu sekali ini saja. Jangan pernah bicarakan tentang malam itu, atau kau akan merasakan akibatnya," Puncak emosi mulai keluar.
"Wuiih, besar juga nyalimu untuk mengancamku. Jangan gitulah, sayang! Tidak baik jika sudah tidur bersama tapi kau menghindar. Kalau rindu dan ingin lagi tapi tak tersalurkan, maka bikin tersiksa loh itu!" Semakin berani saja menyibakkan rambutku yang sedang tergerai.
"Jangan kurang ajar lagi kau. Jangan harap aku akan mau. Tak sudi rasanya kau sentuh lagi, dasar b*jingan." Kutepis kuat tangannya.
"Slow. Jangan marah-marah melulu, ah! Nanti gemesnya hilang."
"Bodoh amat. Itu hakku mau marah atau enggak."
"Haduh, bisa pedas juga mulut kamu. Hmm, asal kamu tahu, ya! Tidak usah pakai mengancam segala, atau semua itu malahan akan jadi bomerang buat kamu."
"Apa maksudmu? Justru kaulah yang akan celaka."
"Pakai tuh otak kamu. Seandainya terbongkar rahasia kita, kamu bukan saja kehilangan suami tapi keluarga besarmu juga. Apa itu yang kamu mau? Tentu saja tidak 'kan? Jadi berprilakulah denganku secara baik. Apa yang kau inginkan pasti akan kuturuti," tuturnya seperti mengancam.
Tidak ingin kalah berdebat dengannya. Dia yang pertama membuat kesalahan, maka tidak boleh menyerah begitu saja. Pria seperti dia kalau tidak dikasih peringatan, pasti kelakuan akan semakin menjadi-jadi.
"Aku tidak peduli. Sekarang keluar dari sini! Muak lihat mukamu yang br*ngsek itu," usir kasar.
"Wah, berani ya kau mengusirku," Wajahnya nampak mulai geram.
Perdebatan terhenti mendadak, ketika dia secara brutal mendaratkan ciuman dibibir. Ingin melepaskan diri, tapi kepala ini ditahan kuat dengan kedua tangannya. Kuku yang tajam berhasil mencengkram lengannya. Dia tidak bergeming kesakitan, malah semakin ganas memainkan mulutku.
Plak, setelah puas menyalurkan keinginannya. Tangan reflek menampar. Nafas memburu kehabisan udara dan meluapkan amarah. Mata mendelik tajam kearah pria yang semakin tak tahu diri.
__ADS_1
"Dasar br*ngsek, segera matilah kau!" umpat kemarahan.
Suara berteriak keras mengusir keluar. Mesin segera kutancapkan gasnya. Meninggalkan dia ditengah jalan yang mulai ramai kendaraan. Tidak peduli entah sampai atau tidak dia dikerjaan nanti, yang terpenting rasa muak ini membuat dia biar kapok tak banyak berulah.