
Mengasuh butuh kesabaran, ketika menangis tidak perlu dibentak, melainkan harus bisa menenangkan. Untung saja ada pengalaman ketika dipanti dulu.
Mulut mulai bersenandung lagu sholawat agar Arvin bisa cepat tidur. Perlahan-lahan tetap kubelajari untuk mau minum sufor. Kasihan kalau tidak ada asupan minuman atau makanan dari sang ibu kandung, dan hanya jalan satu-satunya memaksa untuk mau. Sedangkan air susu dari Anissa sebagai cadangan atau pelengkap saja, supaya tidak kekurangan gizi karena masih terlalu balita.
Mengendong, bahu mulai merasakan pegal, maka sekarang menggunakan ayunan yang terpasang menggunakan tali. Tangan sibuk ********* buaian itu agar bisa terus bergerak. Sudah hampir lima belas menit menidurkan, sampai tidak ada suara tangisan lagi si kecil. Menengok sebentar, dan teryata terlelap sudah dirinya. Menata sedikit posisi tidur agar tidak miring dan jatuh.
"Alhamdulillah, kalau kamu sudah tidur, Nak. Bapak bisa mengerjakan pekerjaan rumah sekarang. Kamu disini tidur dengan baik-baik, ya! Jangan nakal-nakal," Mengajak berbicara sambil menutupi kakinya dengan selimut.
Walau hawa hari ini agak panas, tapi tetaplah kulit bayi sensitif, maka biar tidak kedinginan harus ditutupi. Pelan-pelan berjalan meninggalkan sang buah hati. Pintu sampai kututup sepelan mungkin, agar tidak menganggu tidur lelapnya.
Dikeranjang sudah banyak baju yang menumpuk, maka harus cekatan mencucinya. Walau tidak afdol baju istri harus kucucikan, namun dia sedang bekerja, pasti tidak akan sempat melakukan itu. Satu persatu mulai kupunguti untuk masuk ke dalam mesin cuci. Untung saja tidak menggunakan tangan, sehingga bisa ditinggal untuk mengerjakan yang lain.
Memasak menjadi kewajibanku juga dirumah ini. Mertua dan kakak ipar tinggal terima enaknya saja. Banyak pengalaman dipanti membuatku serba bisa melakukan hal apapun itu. Awalnya mereka selalu memakan-makanan higienies dan membeli, namun ketika tahu aku juga pandai memasak maka bisa dimanfaatkan. Untung saja rasa enak dan cocok dilidah mereka, jadi tidak kena marah.
Rasa lapar yang melanda, tidak tahan jika tangan ini menjadi panjang. Ketika keadaan sepi, dengan cepat mencicipi duluan masakan. Biasanya biar tidak ketahuan, secara tersembunyi melahap semua dikamar sendiri. Sebab kalau tidak begitu, pasti jatah akan diberikan sedikit ketika menunggu mereka makan duluan. Marah? Tentu saja tidak. Sadar diri kalau numpang dan tidak bisa bekerja agar memenuhi kebutuhan.
Sebenarnya ingin bekerja namun selalu dihina tidak bisa mencukupi, unjung-ujungnya menjadikan minder dan patah semangat saja. Lagian kasian sana Arvin kalau ditinggal kerja, maka tidak ada yang bisa mengasuhnya. Mertua sudah tidak kuat lagi ketika mulai sakit-sakitan, sedangkan kakak ipar terlalu dimanja yang kerjaan hanya molor dan main gadget.
"Faisal ... Faisal?" Mertua memanggil.
Suara begitu mengelegar. Kalau memakai toapun pasti seluruh pelosok desa akan kedengaran. Segera menghampiri, kalau telat saja pasti kena omelan.
"Iya, Bu. Ada apa?" Masih memakai celemek ketika tadi masih bergelut untuk memasak.
"Siang ini kamu masak apa'an?"
"Masak sayur sop, goreng tahu, sama nyambal saja, Bu."
__ADS_1
"Hadeh, itu saja 'kah? Emang ngak ada yang lain kayak telur atau ayam, kek?"
"Ngak ada, Bu. Isi kulkas lagi kosong. Anissa belum memberikan jatah uang untuk belanja."
Harus selalu jujur. Bila berbohongpun pasti jadi bulan-bulanan untuk disalahkan. Mertua ini kalau berbicara selalu diulang-ulang, dan kalau ada satu kesalahan pasti akan diungkitnya kembali. Muak saja jika disalahkan terus.
"Nih, sekarang belikan ayam ke pasar. Aku pengen makan itu."
"Tapi, Bu. Kerjaanku belum beres, dan lagi pula Arvin masih tidur. Apa tidak sebaiknya nunggu dia bangun dulu, biar bisa kuajak?"
"Duh, bawel amat sih kamu ini jadi pria. Masalah masak 'kan bisa disambung lagi nanti. Arvin biar aku tungguin. Lagian anakku dua, jadi mudah ngasuh bayi. Gitu saja kok repot. Sudah, cepetan pergi sana! Keburu perutku kelaparan," suruh beliau marah-marah.
"Baiklah, Bu. Aku akan berangkat sekarang." Mengambil uang itu dengan perasaan berat.
Sebenarnya tidak yakin jika mertua akan benar-benar mengasuh cucunya itu, sebab beliau sekarang sedang sakit dan perlu banyak istirahat. Kalau diajak ketika masih tertidur, takutnya malah terganggu dan nangis kejer ketika dengar suara bising dipasar.
Hanya berganti baju kaos dan celana pendek. Tidak ada yang special dari tampang ini, namun kebanyakan mengatakan kalau aku ganteng tapi sayang ngak kaya.
"Eeeh, tunggu. Mau kemana kamu?" Kakak ipar menghentikan langkah ketika sudah ditengah daun pintu.
"Mau ke pasar, Kak. Kebetulan ibu mau dibelikan sesuatu."
"Nitip boleh 'kan? Lagi malas banget nih keluar."
"Boleh ... boleh saja sih. Memang mau nitip apa'an?"
"Tapi sebelumnya jangan mengeluh, atau aku bakalan aduin sama Ibu kalau kamu ogah disuruh."
__ADS_1
"Iya, Kak. Ngak akan. Emang barang apa yang ingin dibeli?."
"Belikan aku roti tawar."
"Hah, bukannya ditoko depan jualan, kenapa harus nitip dipasar segala?"
"Aku maunya belinya sepack, yang isinya banyak itu lho! Lebih murah dan bisa dijadikan stok berbulan-bulan."
Alis mengerut, sedikit kurang memahami yang dia maksud.
"Lah, bukannya roti tawar ngak bisa disimpan lama-lama? Kok ini?"
"Iiich, dari tadi kamu ternyata tidak paham, ya? Gimana sih kamu ini. Sudah menikah tapi tidak paham bahasa sandi wanita."
Ucapannya semakin membingungkan. Tangan mengaruk pelan belakang tengkuk, benar-benar tidak tahu arah percakapan dia.
"Serius aku tidak mengerti, Kak. Maksudnya roti tawar yang bermerk apa itu, kok bisa awet?"
"Astaga, jadi cowok dudul amat sih kamu ini. Ketahuan banget kalau kamu tidak pernah pacaran dan belum dikasih jatah sama Anissa."
Didalam hati cuma bisa mengelus dada. Walau ucapan itu ada benarnya, cukup membuat tersinggung juga, yang seolah-olah aku tidak bisa memberikan nafkah lahir bathin sama istri.
"Eeeh, kenapa malah bengong begitu sih. Mau ngak membelikannya? Kalau jadi, nih ambil uangnya." Dia menyodorkan uang merah.
"Tapi yang mana cap roti tawarnya?"
"Hhh, bukan roti tawar yang bisa dipanggang atau dikasih selai itu, tapi untuk bulanan seorang wanita atau bisa dibilang pemb*l*t."
__ADS_1
Seketika melongo. Tidak percaya jika Kakak ipar tega menyuruh. Walau kelihatan sepele, tapi sebagai adik ipar atau bukan suaminya itu sangat tabu. Benar-benar tidak malu main menyuruh seorang pria untuk membelikan. Apa harga diriku sudah terlalu rendah dimata mereka, sehingga seenaknya saja main menyuruh.