Milyader Tersisih

Milyader Tersisih
Menyambut Istri Pulang


__ADS_3

Semua orang sudah tertidur lelap. Menunggu dengan rasa cemas dianak tangga. Lelah berdiri sekarang duduk, setelah duduk berdiri lagi untuk mengintip kearah jendela.


Hari kian gelap memasuki pertengahan malam, namun sang istri belum juga ada tanda-tanda akan pulang. Baru kali ini merasakan hal khawatir akut.


"Duh, Anissa kenapa kamu belum pulang-pulang juga? Apa sudah terjadi sesuatu padanya? Ahh, kenapa memikirkan yang tidak baik. Semoga saja dia baik-baik saja," guman hati merasa tidak tenang.


Pekerjaan kali ini pasti menumpuk. Mungkin banyak berkas-berkas yang dikerjakan, setelah beberapa bulan minta cuti sebab hamil.


"Andaikan aku bisa banyak uang, pasti bisa membahagiakan kamu, Nis. Mungkin kamu tidak usah terlalu bekerja keras begini!" Sedih rasanya tidak bisa jadi tulang punggung keluarga.


Sebenarnya Faisal orang yang cerdas. Dia mempunyai kemampuan mengingat sesuatu dengan cepat. Masalah hitungan tentang matematika mudah dia kuasai. Disekolah sering mendapat juara satu dan menang lomba. Jika para anak-anak dipanti susah memecahkan soal pelajaran, maka dia akan dengan sabar mengajari mereka.


Pernah mengarap atap plafon gedung. Sang mandor malah kewalahan menghitung berapa lebar dan panjang yang akan dipasang, namun Faisal tanpa menggunakan kalkulator dia langsung bisa menjawab. Sempat kagum dan memuji atas kecerdasannya. Menyarankan agar kuliah, namun karena keterbatasan biaya membuat dia tidak mampu bekerja lebih memadai. Sebagai petani dan buruh bangunan saja yang dia dapat lakoni sekarang.


"Apa aku harus bekerja keras lagi, agar bisa memenuhi semua kebutuhan keluarga Anissa? Tapi gaji buruh hanya dibawah tujuh puluh ribu, sedangkan kebutuhan sehari hampir seratus lima puluh ribu. Belum itu kebutuhan Arvin dan yang lainnya."


"Kalau dihitung dalam sebulan hanya dua jutaan lebih saja. Anissa sebulan hampir enam juta. Ahhh, jelas tidak bisa. Patut saja mereka menyuruhku dirumah saja," guman hati merasa lemah tidak bisa membiayai.


"Tapi tunggu Arvin agak besar dan bisa ditinggal kerja. Pasti akan kubuktikan kalau bisa mencukupi apa yang kalian inginkan."


"Pasti bisa itu. Dengan kerja keras dan penuh kegigihan," Kemantapan hati.


Faisal penuh keyakinan, kalau suatu saat nanti dengan kecerdasan bisa mendapatkan pekerjaan yang bisa menghasilkan uang banyak. Dia tidak ingin ditindas dan dihina terus, hanya gara-gara tidak becus menafkahi.


Akhirnya lelah menunggu terbayar juga, setelah penerangan lampu mobil berhasil menyinari rumah lewat celah kaca jendela. Suara mesin mobilpun terdengar nyaring bahwa itu sungguhan kepunyaan Anissa.


Langsung berlari ingin membuka pintu. Jangan sampai sang istri marah besar, akibat lambat membukakan pintu.


Pintu rumah langsung dibukakan, dan kini siap menyambut didepan pintu, bak siap menunggu putri khayangan yang datang dari langit.


"Masih belum tidur juga ternyata kamu, Mas."


"Belum. Masih nungguin kamu."

__ADS_1


"Baguslah. Tanda suami setia dan patuh itu."


Tas selempang segera diberikan pada Faisal. Memberikan senyuman ramah agar menyenangkan istri. Harus pandai menyembunyikan kelelahan, agar dia tidak khawatir pada diri ini. Cukup dia kerja keras sampai kelelahan saja, dan bagiku tidak usah ikut campur mengurusi suaminya ini dan sang anak.


Sungguh dunia terbalik, bukan istri yang menyambut pulang tapi justru suami.


Paras wajah yang cantik, sekarang menjadi kusut dan kelihatan sekali jika dia sangat kelelahan. Jalan saja gontai ingin memasuki rumah. Badan terasa remuk redam setelah seharian bekerja. Hari ini pulang sangat larut malam.


Sebenarnya faisal orang pekerja yang rajin, karena izasah hanya lulusan sekolah dasar, maka dia sangat kesusahan mencari pekerjaan. Hanya mengandalkan kekuatan membuat dia bekerja serabutan. Penghasilan sangat sedikit, maka pihak keluarga Anissa menyarankan agar membantu mereka mengurus segala kebersihan rumah saja, daripada lelah bekerja namun uangnya tidak mencukupi semua kebutuhan.


"Mau aku buatkan teh?" tawar Faisal.


"Tidak usah. Aku sekarang mau istirahat saja karena sudah ngantuk banget.


"Oh ya sudah. Aku akan siapkan air hangat saja untuk kamu mandi."


"Hmm, siapkan ganti baju piyama juga untuk tidur."


"Baiklah. Kamu tunggu disini, akan kusiapkan semuanya," Nurut begitu saja jika Anissa yang memerintahkan.


"Eeit tunggu. Nih, bawa juga!" Sepatu higheels diberikan. Menerima dengan senang hati dan secepatnya mengerjakan perintah.


Sesuai apa yang diperintahkan, Faisal terus saja sibuk melayani istri dengan baik. Seharusnya jam segini adalah waktu istirahat setelah menidurkan anak, tapi jika tidak mengerjakan apa yang dibutuhkan istri, pasti mertua akan ikutan juga memarahi. Lebih baik mengerjakan tanpa disuruh, dari pada kena omelan melulu.


Menunggu dengan sabar istri yang sedang mandi. Bosan duduk, membuat mata terkantuk-kantuk hingga kepala sering kali terjatuh.


"Apa Arvin masih rewel?"


"Eeh, iya. Agak sedikit rewel saja, tapi semua bisa kuatasi!" Kaget menjawab, ketika beberapa menit saja bisa terpejam.


"Baguslah. Kerja yang benar, biar tidak kena marah Ibu terus."


Anissa wanita pemarah juga, namun disisi lain punya hati yang iba dan memiliki sifat pemaaf. Efek bekerja keras dia mempunyai sifat manja dan bar-bar, agar bisa memikat lawan jenis supaya memenuhi isi dompet.

__ADS_1


Mulai berbaring selonjoran sambil membaca majalah. Faisal mulai bersiap ingin memijit kaki istri. Tadi berpesan kalau kaki minta sentuhan jari besarnya, agar rasa pegal hilang.


Hanya ada keheningan diantara mereka. Walau sudah menjadi suami istri, jarang sekali ada percakapan saling berbagi cerita. Sikap cuek Anissa membuat pria yang penurut itu, tidak berani berucap walau sekedar membuka pembicaraan.


"Aku mau tidur, pijat yang benar biar besok pagi bisa fress ketika aku bangun."


"Iya, selamat tidur."


"Hmm, jangan lupa tutup pintunya nanti."


"Iya."


Tangan lebar itu masih sibuk memijit, sedangkan Anissa yang tidak ada hormatnya itu mulai mendengkur dalam alam mimpi. Selimut dirapikan sebatas perut. Pria yang langka dan jarang ditemui dizaman modern begini seperti Faisal, yang penurut dan siap melayani kapanpun ketika keluarga istri butuhkan.


Status mereka memang sudah menikah, namun tidur terpisah akibat Anissa tidak mau sekasur dengan suami, dengan alasan tidak ada cinta diantara mereka. Lagian Faisal sangat dibutuhkan Arvin untuk menjaganya, maka dari itu tidur bersama dia adalah hal sangat penting, jika tiba-tiba menangis ingin minta susu ataupun gendong.


*******


Disisi lain kakek bernama Surya Diningrat, sedang gencar-gencarnya mencari cucu yang selama ini dicari. Bertahun-tahun sudah diberbagai pelosok kota dicari, namun belum juga menemukan jejaknya.


"Apa sudah ada hasilnya dimanakah cucuku?" Beliau bertanya pada sang pengawal setia.


Kulit keriput itu mulai menghiasi seluruh wajah. Berbicara mulai bergetar seperti suara khas sudah tua renta. Namun walau sudah berusia lanjut, masih gagah untuk beraktifitas seperti orang lain.


"Maafkan kami, Tuan. Belum ada tanda-tanda ditemukan. Kami sedang berusaha mencarinya terus," Membungkukkan badan sambil memberi laporan.


"Hhh, baiklah. Kalian harus mencarinya terus. Jangan sampai tidak ditemukan, karena dia adalah yang berharga bagiku," perintah beliau lagi.


"Baik, Tuan. Kami akan laksanakan perintah anda."


Bisa kehilangan jejak sang cucu, setelah beberapa tahun lalu terjadi kecelakaan hebat pada anak dan menantu beliau, dan sang cucu tiba-tiba hilang tanpa jejak.


Menurut penyelidikan polisi, bahwa sang cucu masih hidup karena tidak ada jejak ditemukan bayi itu telah meninggal ditempat kejadian perkara. Kemungkinan besar masih hidup, tapi banyak yang berpendapat sudah meninggal, mengingat kecelakaan yang begitu parah.

__ADS_1


Entah siapa yang mengambil sang cucu, sehingga kakek Surya bertahun-tahun kena tekanan bathin, akibat takut sang cucu diasuh oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Bagaikan mencari jarum dalam jerami, susah sekali menemukan jejaknya, sampai pihak kepolisian menyerah untuk diajak kerjasama lagi dalam mencari.


__ADS_2