MIMPI LEILA: Tiga Kemungkinan

MIMPI LEILA: Tiga Kemungkinan
BAB 11 : BOCAH KURANG AJAR


__ADS_3

Leila yang dipanggil oleh Duke D'Arcy merasa gugup sekarang. Jika dipikir lagi dia sering kali dipanggil oleh Ryuu dan mengingat tugas utamanya adalah seorang Penjaga.


"Apa mungkin aku akan dipecat?"


Selama disini Leila selalu memakan makanan yang lezat. Meskipun dia terkadang tidak butuh makan, entah kenapa dia juga tidak mengerti.


"Tapi, kalaupun iya, mengingat si kembar sudah berada di jalan yang benar dan masa depan untuk ketiganya akan baik-baik. Nah, sekarang aku hanya perlu memastikan Aria bagaimana kondisinya sekarang."


Sampai di depan sebuah pintu besar yang tertutup dengan seorang kesatria yang bertugas menjaga pintu masuk mengangguk dan membuka pintu untuknya.


"Terima kasih," lirih Leila diakhiri senyuman tipis dan masuk.


Meskipun itu terdengar seperti bisikan dengan paras yang Leila miliki tentu saja membuat hati kesatria itu merasa sangat senang.


Pintu dibelakang Leila perlahan tertutup. Pemandangan yang sangat indah melihat seorang pria sibuk dengan dunia politik dan ekonominya. Leila menyukai kesunyian, ini karena sebagai seorang penulis dia membutuhkan.


Mendengar guratan pena yang terus bergesekan dengan kertas membuat Leila ingin sekali menghabiskan waktunya kembali menulis. Cukup lama memang menunggu Duke selesai dengan dokumennya.


Mendengar ketukan stempel menandakan Duke akan segera selesai dan benar saja.


"Apa kau pernah ke acara debut di ibu kota?"


"Tidak?" Jawab Leila dengan ragu.


"Apa kau anak haram dari bangsawan lain?"


"A-apa?!" Matanya membulat mendengar pertanyaan barusan. Lagi pula bukan itu yang Leila kira akan Duke pertanyakan.


"Kemungkinan besar iya ya," gumam Duke berbicara kepada dirinya sendiri sembari mengingat beberapa bangsawan yang langsung muncul dikepalanya.


"Aku, aku bukan anak haram dari keluarga manapun. Kenapa Duke berpikir sampai sejauh itu?" Tanya Leila yang berusaha tersenyum di sini, tapi penasaran juga kenapa Duke D'Arcy ini tiba-tiba bertanya sampai sejauh itu.


Pandangannya yang awalnya melihat hasil stempelnya itu kini berbalik menatap orang di depannya yang berdiri dengan rambutnya yang dia sanggul dengan balutan pakaian pelayan khas berwarna hitam dan putih.


"Entah kenapa kau terasa familiar."


"Saya?" Menunjuk dirinya sendiri dengan heran.


"Ya, siapa lagi?"


"Maaf...." Menundukkan kepalanya dihadapan orang yang pangkatnya lebih tinggi di ruangan ini.


"Hahh... Jadi, bagaimana perkembangan si kembar?"


Leila menatap heran kepada pria di depannya yang kini membuang wajahnya ke sampingkan itu. Sepertinya tugas sebagai Duke tidak mudah.


"Mere—, Tuan Muda tumbuh dengan baik, Duke," Leila hampir saja lupa jika identitas si kembar sekarang adalah Tuan Muda dari keluarga bangsawan D'Arcy.


"Katakan saja apa yang mereka mau. Aku akan berusaha memberikannya," ujar Duke D'Arcy yang merasa harus memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang Ayah.


"Saya punya saran!" Seru Leila dengan yakin dan ini adalah rencananya membuat keempatnya semakin dekat.


"Apa?" Tanya Duke dengan wajah datarnya.


Melihat wajahnya itu membuatnya mengingat langsung wajah Adrian yang tidak banyak berekspresi. Awalnya dirinya khawatir, tapi mungkin ini juga efek dari gen yang dia dapatkan dari pihak ayahnya.


"Bagaimana jika Anda mengambil hari libur dan Anda menghabiskan seharian penuh bersama anak-anak? Ini akan membuat hubungan kalian berempat semakin dekat."


Pria itu mengusap dagunya sembari membayangkan ide Leila, "ide yang bagus, tapi sepertinya tidak dalam waktu dekat."


"Oh iya, Anda orang yang sibuk. Saya lupa," segera energi semangat itu menghilang dengan bayangan keempat berjalan riang di taman bunga sirna. Membayangkannya saja sudah membuatnya bahagia.

__ADS_1


Tiba-tiba Duke tertegun diam dan dalam pandangan Leila dengan yakin jika netra hijau emerald itu perlahan berubah menjadi netra kuning keemasan. Menatap dirinya dengan wajah yang tidak percaya.


Tanpa menjelaskan apa pun Duke tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya. Mengambil langkah besar dengan tergesa-gesa mendekati Leila. Situasi ini membuatnya tanpa sadar mengambil langkah mundur.


Ding!


[DEWA KEMATIAN SEDANG MENGAWASI ANDA.]


Kenapa juga disaat seperti ini juga si penguntit itu baru muncul?


Kemana perginya selama beberapa bulan terakhir?


Oh, dia lupa. Dia Dewa gabut yang menonton dirinya dijam istirahat.


Ya! Itu pasti!


"Leila," suara rendahnya yang memanggil dan tatapan yang semakin dalam hanya tertuju kepada dirinya membuat Leila refleksi menelan ludahnya dengan kepayang.


"Y-ya, Duke?"


Duke tak menjawab dan memilih semakin mempersempit jarak diantara keduanya. Leila yang semakin kalut semakin berpikir yang tidak-tidak. Kilas balik cerita romantisnya mulai terlintas dibenaknya.


Jangan katakan ini bukan yang itu, kan?, pikirnya sembari membayangkan adegan dimana sang tokoh pria akan mengambil pertemuan dua bibir dengan lembut.


Dengan bodohnya Leila tersandung kakinya sendiri dan sontak tubuhnya jatuh ke belakang. Tentu saja dia tidak bisa menahan teriakan keterkejutannya. Tapi, rasa sakit yang sudah dia bayangkan itu tidak terasa sama sekali. Akan tetapi, sebuah tangan besar dan kekar yang melingkar di pinggangnya dan pergelangan tangannya yang ditarik.


Netra kuning keemasan itu semakin bersinar terang dan membuat Leila semakin merasa kebingungan. Jarak mereka berdua yang sangat dekat membuat Leila merasa gila sekarang. Bahkan dia bisa mendengar suara detak jantungnya yang sangat keras.


Leila berharap Duke tidak mendengar suara kebodohan ini.


"Apa... Itu kau?"


"Apa kau... Benar-benar yang Leila itu?" Tanya Duke dengan wajahnya yang terlihat perlahan berubah menjadi, sedih?


Memangnya Leila yang dia kenal kenapa?


Sudah mati, ya?


Apa dia membuat Duke mengingat kembali akan mendiang istrinya?!


"D-Duke?" Leila sesaat melupakan posisi yang tidak sehat untuk jantungnya ini.


Mengerti apa yang dimaksud Leila. Duke menyingkir dan membantu Leila berdiri tegak.


"Huhh... Terima kasih, Duke," ucap Leila yang tak lupa berterima kasih dan merasa bersyukur tidak berhasil jatuh.


Netra kuning keemasan masih tetap setia Duke pertahankan. Ini membuat Leila merasa aneh. Seingat pemilik netra kuning keemasan yang dia buat hanyalah Aria River. Tapi, siapa sangka sosok di depannya ini adalah figuran yang tak dia tonjolkan dalam cerita punya.


"Kau," wajahnya mendadak mendekat tepat di depannya malah sekarang, "Leila, kan?" Tanya Duke yang membuat Leila ingin sekali memukul kepala pria itu.


"Iya iya, aku Leila kenapa?" Leila mulai kesal dengan sikap Duke yang terasa sangat aneh ini. Dalam ingatannya yang terasa buram, tapi dia paksa untuk ingat. Duke melihat seorang perempuan berbalut gaun tidur sederhana yang terlihat aneh dengan bantal besar yang dia bawa sembari menggosok-gosokkan matanya yang sebam.


Surai hitam sepekat malamnya itu dengan netra biru azure-nya yang dia miliki membuat dirinya seperti melihat langit malam.


"Aku benci langit."


Perkataannya seakan berbanding terbalik dengan penampilannya.


"Aku benci bulan. Aku benci bintang. Aku benci semuanya yang ada di dunia ini."


Duke yang melihat kilas balik itu membuatnya merasa penampilan wanita di depannya sekarang ini terlihat jauh berbeda berbanding terbalik dengan apa yang dia miliki dalam ingatannya.

__ADS_1


Dalam ingatannya, perempuan bernama Leila itu terlihat berpenampilan buruk dengan kantung mata dan wajahnya yang kusam dengan rambutnya yang berantakan. Sedangkan yang ada di depannya sekarang ini bersurai coklat dengan penampilan segar dan terkesan seperti nona manis baik-baik dari keluarga bangsawan.


Duke memegang kepalanya yang terasa tersengat sebentar tadi. Perlahan Leila bisa melihat perubahan warna mata pria itu. Melihat Duke kesakitan Leila mengulurkan tangannya. Akan tetapi, apa yang dia dapatkan adalah dorongan dirinya yang dibanting ke meja penuh dokumen itu.


Suara keributan bisa kesatria diluar dengar. Kesatria itu mengetuk pintu penuh dengan rasa khawatir.


"Duke, apa semuanya baik-baik saja di dalam?"


Seperti dia lupa membuat ruangannya kedap suara, "... Ya."


Mendapatkan jawaban khas pendeknya kesatria itu dengan yakin kembali berjaga. Leila yang sekarang terlentang diatas meja dengan Duke berada di atasnya membuatnya bisa melihatnya wajah pria dengan garis rahang yang begitu tegas dan matanya yang tajam seakan menusuk jauh di dalam dirinya itu.


"Apa yang kau lakukan?"


Meskipun dia bertanya dengan pertanyaan biasanya, tapi nada yang dia berikan seakan mengintimidasi lawannya. Leila yang tidak bisa berbuat banyak dengan salah satu bahunya yang ditahan oleh tangan Duke hanya bisa meringis dengan rasa sakit yang tak terkira.


"Justru saya yang bertanya ada apa dengan Anda barusan?! Kenapa Anda tiba-tiba berubah?!"


"Aku? Berubah?" Duke tersenyum miring. Lihat pelayan yang berani meninggikan suaranya itu.


"Ya! Anda terus bertanya 'apakah saya ini Leila?' memangnya Leila siapa yang Anda maksud?" Leila mulai merasa tidak senang di sini. Dia hanya ingin datang mendengar pemecatannya dan baru saja dia dibanting.


Keheningan menjadi jawaban atas dasar dari pertanyaan Leila. Dia tentu saja kesal dan perlahan Duke menarik mundur dirinya.


Tenaga pria ini tidak main-main, perlahan bangkit dan menyentuh bahunya yang mungkin orang biasa akan patah, jika aku terbanting lebih keras lagi, mungkin bahuku akan terkilir.


"Keluar."


Karena kesal dan tidak ingin mencari ribut dengan Duke. Leila tanpa pamit undur diri pergi begitu saja.


Duke yang masih tertegun diam menatap tangannya yang sehabis menekan bahu Leila. Meskipun terdengar aneh, tapi Duke memiliki ingatan tambahan setelah sekian lama setelah pertemuan pertama dengan mendiang istrinya.


"Apa kau Leila?" Tanya bocah laki-laki dengan tegap bertanya kepada gadis di depannya.


Pemilik surai semerah wine yang merasa diajak berbicara menatap balik laki-laki di depannya, "maaf, saya bukan Leila. Nama saya Rumi Seena."


"Bukan ya," harapannya menghilang. Terlihat bagaimana dia membuang pandangan dengan alisnya yang menukik ke atas.


"Maaf mengecewakan Anda."


Karena sudah sejauh ini lebih baik jalankan saja, "Noah Eugene D'Arcy, salam kenal," Menunjuk sikap aristokrat yang sedikit sombong dengan wibawanya yang dia bawa.


"T-Tuan Muda D'Arcy!"


Semua orang tahu nama keluarga itu. Nama keluarga dari garis keturunan pahlawan dimasa lalu itu berada di depannya. Tuan Muda yang dirumorkan memiliki kegeniusannya yang hanya muncul sekali dalam seratus tahun ini ada di depannya.


Wajahnya yang tenang dengan penuh wibawa memperhatikan setiap guratan wajah yang gadis bernama Rumi Seena itu berikan dan hal yang tidak pernah bisa dia henti pikirkan adalah sosok gadis yang selalu muncul tiba-tiba dipikirannya. Karena dia pikir Rumi Seena ini adalah Leila yang dia maksud membuatnya merasa kecewa. Ini membuat rasa penasarannya semakin menjadi saja.


Dimana kau bocah kurang ajar sebenarnya?!


.


.


.


isi pikiran Leila: 🌚


Makasih ya udah mau singgah dan baca MILA ^^


See you next chapter guy's 👋😽

__ADS_1


__ADS_2