
"Kemana saja kau lima hari terakhir ini, hah?"
Orang yang baru saja bertanya adalah pria menyebalkan yang tidak bisa move on dari Leila-nya. Lagi pula siapa yang mengira jika dirinya akan menghabiskan waktu lima hari hanya karena kunjungan paksa itu.
Ruang Tahta Tartarus.
Leila tidak ingin menginjakkan kaki disana lagi. Bahkan arsitektur yang terlihat bergaya Yunani kuno dengan pilar-pilar yang menyangga membuat Leila merasa sangat kecil disana.
Leila tepat berdiri di depan Dewa sialan itu. Bahkan ukurannya lebih besar dari gunung. Bahkan dalam keadaan sebesar itu Leila tidak bisa melihat wajahnya. Tudung hitam semesta yang dia punya semakin membuat Leila meruntuti kesialannya.
Pakaiannya hanya selembar kain putih tulang yang dia lilit pada tubuhnya. Lentara yang tidak menyala sebagaimana fungsinya mengambang disampingnya. Lentara itu sekilas terlihat sama dengan lentera yang sering dia pakai di Hutan Berkabut.
"Mari kita mulai permainannya."
Suaranya terdengar sangat berat dan Leila merasa sangat terintimidasi disini. Bahkan dalam keadaannya yang berdiri Leila terpaksa berlutut hanya karena suaranya. Kepalanya terasa akan pecah karena tidak mampu memproses ini semua.
Masalah. Dia dalam masalah besar.
Tudung semester dengan tubuhnya terlihat seperti manusia pada umumnya yang berjenis kelamin laki-laki membuat Leila menelan ludahnya kepayang.
Seketika altar dimana Leila berdiri seketika berubah perlahan dan memperlihatkan seperti sebuah Medan perang. Gunung, hutan bahkan hingga miniatur manusia berjalan bisa Leila lihat dengan jelas.
Permainan kali ini sangat berbeda dari sebelumnya. Jika yang sebelumnya Leila bermain bermain video game, tapi kali ini terlihat sangat nyata.
Jangan bilang ini nyata.
Dalam ketidaktahuan Leila. Dewa yang mengurusi kehidupan dan kematian itu menyeringai. Perkataannya menjadi kenyataan. Ini adalah pertemuan secara langsung mereka berdua dan permainan baru saja dimulai.
"Jangan buat aku bosan, Leila."
Sial*n!
Jika pun dia pernah berada dititik terendah sekali pun. Rasa penindasan ini bukan candaan.
Si*l, kenapa dia sangat lemah saat ini?
Hal yang paling dibenci Leila adalah orang sok kuat dan orang lemah. Tidak perlu dijelaskan dibagian mana Leila saat ini. Bahkan permainan terasa semakin sulit seiring dia menarik napasnya. Pada akhirnya ini adalah sebuah keajaiban untuknya.
[DEWA KEMATIAN – LEILA FELIXIA]
[30 - 15]
Bahkan setelah permainan yang seakan menghabiskan seluruh jiwanya itu Leila ingin sekali mati saat itu juga. Ini bukan permainan pertama mereka dan Leila bisa mengimbanginya. Bahkan melihat pembunuhan terkejam sekali pun Leila tidak keberatan. Bahkan mereka berdua akan mengomentari cara si pembunuh melakukannya atau mungkin bagaimana di akhirat si pembunuh akan dihukum.
"Hahahaha, ini sangat menyenangkan."
Leila tak mempedulikan suara itu. Yang dia inginkan sekarang pergi secepat dari sini, sebelum dirinya berubah menjadi jiwa kosong.
Leila bahkan tak kuat mengeluarkan suara saat ini. Terlalu lelah untuk dijelaskan. Dewa Kematian yang tahu akan hal itu tersenyum lebar dan mengirim Leila kembali menjadi ribuan data.
"Tidak sabar untuk pertemuan selanjutnya."
Bahkan melihat matanya yang melebar saja sudah membuat Dewa Kematian senang. Lihat bagaimana gadis kecil itu ingin memaki dirinya lagi. Ini adalah sebuah kesenangan tersendiri.
Leila kembali dalam hutan. Tempat dimana dia dipindahkan. Leila yang sudah merasa lelah ambruk dan membiarkan tubuhnya yang masih dalam keadaan utuh meraup dalam-dalam aroma rumput yang segar dari embun pagi. Rasanya sejuk dan menenangkan dengan suara alam yang seakan sedang bernyanyi menyambut awal hari.
Leila menyukainya hingga siapa sangka jika sebuah notifikasi baru saja muncul dan tak dia hiraukan dan terlelap tidur.
Ding!
[‼️PERINGATAN‼️]
[POIN ANDA SUDAH MENCAPAI BATAS MAKSIMUM MELANGGAR MENGGUNAKAN KEKUATAN SIHIR DI LUAR WILAYAH TANAH SUCI.]
[❗HUKUMAN❗]
[ANDA AKAN MEMAKAI TUBUH MANUSIA DALAM WAKTU SETAHUN PENUH.
SEMUA KEKUATAN YANG ANDA PUNYA AKAN DI SEGEL SAMPAI MASA HUKUMAN SELESAI.
__ADS_1
SELAMAT MENIKMATI WAKTU ANDA, .]
Setelah pesan itu datang beberapa saat kemudian menghilang dan Leila yang tak tahu kemalangan apa yang akan di dapatkan setelah ini membuatnya akan menyesal seumur hidupnya.
Dalam keadaan tidak sadar dirinya seorang kesatria yang sedang berkeliling memeriksa wilayah hutan menemukan Leila yang berbaring lekas membawanya keluar dari hutan dan menempatkannya ke tenda medis.
Para bangsawan tentu saja tidak menghiraukan berita itu, tapi tidak untuk untuk keluarga D'Arcy yang sangat mengkhawatirkan Leila. Mereka lekas ke tenda medis dan menemukan wanita itu tidur. Tidak ada luka atau darah pada pakaiannya. Semuanya terlihat baik. Kecuali, dia tidur.
Semua orang yang ada dalam tenda pergi membiarkan Noah dan si kembar mengelilingi Leila yang tengah tertidur.
"Apa ini baik?" Suara Adrian memecahkan keheningan.
Noah yang mengingat jelas bagaimana Leila mengatakan jika dia tidak perlu tidur atau pun makan. Ini aneh. Setelah lima hari menghilang dia kembali dalam keadaan tertidur di hutan perburuan.
"Kita perlu bertanya padanya."
Si kembar juga memikirkan hal yang sama. Leila tidur bukan hal yang biasa. Leila hanya akan memejamkan matanya dan membiarkan mereka berpikir dia tertidur, tapi padahal tidak. Wanita itu akan memikirkan hal-hal yang tidak sedikitpun terbesit dipikiran mereka. Leila sedang memikirkan cerita di dunia ini.
Noah yang dalam jiwa tuanya yang dulunya adalah seorang pahlawan benua ini dan si kembar yang dalam cerita 'Sungai Emas Everuz' menjadi antagonis tengah memikirkan wanita yang sama. Bahkan setelah Leila bangun siang harinya dia merasakan lapar dan membiarkan wanita itu mengisi dulu perutnya.
"Apa kau tidak sadar?"
Leila yang baru saja selesai makan siangnya. Menatap Noah dengan tanda tanya. Noah yang mengerti bertanya sekali dan mendapat jawaban yang seperti yang dia pikirkan, "Oh iya, aku kok bisa tidur terus lapar ya?"
Si kembar yang melihat tingkah kebodohan Leila hanya bisa menghela napas pasrah.
"Mungkin karena itu." Gumam Leila tanda sadar.
"Karna apa?" Tanya mereka berempat berbarengan.
"Hei, ingat aku punya berkat lebih tinggi darimu Noah."
"Jangan bilang?"
"Tepat seperti yang kalian pikirkan. Kemungkinan seperti itu."
Leila memakan makanan penutupnya yang diakhiri dengan secangkir teh melati yang hangat dan terasa manis di lidahnya.
"Seperti yang kita pikirkan." Ujar Adrian yang mendapat anggukan dari yang lain dan memikirkan hal yang sama, "Leila masa bodoh sekali."
Entah kenapa instingnya mengatakan untuk kembali ke Tanah Suci secepatnya hari ini. Akan tetapi, sebelum dirinya ingin pergi si kembar memeluknya dari segala arah. Sepertinya itu bisa menunggu nanti saat mereka terlelap tidur.
"Katakan saja."
Aria mendapatkan penglihatan bagaimana Leila bermain dengan sangat baik. Bahkan dalam segala aspek jujur saja Leila lebih baik dari pada dirinya dulu. Bahkan dia tidak perlu berjuang dengan susah payah yang dimana dia hanya diberikan dua opsi saja dia akan memilih opsi ketiga. Pilihan yang dia buat sendiri.
"Apa yang kau mau, Dewa Kematian." Aria mengepalkan tangannya menahan kekesalan dalam penglihatan ini. Bahkan jika dia tak mendapat berkatnya lagi. Apa yang mereka—Dewa Dewi—inginkan?
Bukankah masa depan akan berubah secara drastis?!
"Melihat bagaikan protagonis kesayangannya ini membunuh penulisnya sendiri."
Aria mengerti apa kata dari protagonis, tapi penulis? Aria bisa rasakan ini bukan hal baik.
__ADS_1
"Sepertinya kau sudah bosan hidup, mantan protagonis dunia ini?"
Ini bukan pertama kalinya Aria berhadapan dengan mereka. Tapi, Dewa Kematian, ini adalah pertama untuk Aria. Hawa kehadirannya membuat Aria ingin muntah dan bersamaan dipaksa terus bangkit lagi dan lagi.
"Lihat mata serakah yang tidak kau miliki dulu itu."
Dewa Kematian bisa melihat bagaimana Aria sangat ingin membunuh si kembar D'Arcy. Melihat bagaimana dia ingin membalaskan dendamnya yang dimana dia rela membuat rencana pembunuhan untuk mereka, tapi selalu gagal.
Aria yang sekarang lemah. Kekuatannya turun secara drastis karena tidak memiliki berkat dan juga nya. Sedangkan si kembar, mereka bahkan lebih kuat dari seharusnya karena berada dibawa bimbingan Noah dan Leila. Mereka berdua memberikan yang terbaik mereka hingga bisa sekuat ini.
Aria hanya bisa mengepalkan tangannya menahan kekesalan dari ucapan Dewa yang keberadaannya belum diketahui. Sebelumnya, berkat yang dia dapat dari Dewi Ilmu Pengetahuan dan Perang. Aria pikir itu adalah Dewa Dewi tertinggi yang dia ketahui, tapi hari ini, pemikiran itu terbukti salah.
Dewa Kematian memberikan sesosok gumpalan asap hitam pekat untuk Aria. Sosok itu berdiri disampingnya dengan mata merah yang menyala.
"Tugas pertamamu diputaran kedua ini."
Deg!
"Bunuh ."
Aria ingin sekali menolaknya. Sangat. Tapi, tubuhnya seakan tidak menolak untuk melakukannya. Sial. Dia membenci ini.
Aria tidak mungkin membunuh seseorang yang sudah menolongnya.
.
.
.
Kenapa Leila disebut sama Dewa Kematian ?
Karena kan si Aria ini protagonis di dunia novel yang Leila tuliskan. Nahh, alhasil hidup sebagai protagonis itu ga ada namanya aman yang dimana semua plot sama masalah itu Leila yg ciptain, makanya Dewa Kematian sebutnya dan disini Aria engga tau kalau dia itu karakter yg Leila tulis jadi rahasia Leila sebagai penulis juga masih aman, hehehe...
Makasih ya udah mau singgah dan baca MILA
__ADS_1
See you next chapter guy's 👋😽