
Leila sekali lagi harus memenuhi panggilan Noah yang seperti biasanya pria itu ingin dirinya duduk di depannya meja kerjanya. Sedangkan Leila hanya bisa melakukan pekerjaan menyulam atau menjahit saja. Hingga hal tak terduga terjadi.
Noah dan Leila menatap penuh perhitungan sebuah surat yang membuat mereka merasa penasaran pengirimnya. Mereka bahkan tidak menyentuhnya sama sekali, tapi dari stempelnya terlihat dari seorang Count.
"Kau punya teman ternyata?"
Noah menatap tidak suka karena seingatnya Leila sangat jarang keluar. Mengingat lagi jika dia keluar hanya berjalan-jalan saja. Mana mungkin dia punya teman.
"Hee!" Leila menunjuk Noah dengan tidak terima dan langsung membuka surat itu dari pada penasaran.
"Dari siapa?" tanya Noah yang tidak melihat dengan jelas nama si pengirim.
Leila yang sudah membuka dan membaca sekilas langsung melompat senang.
"Ini dari Aria! Dari Aria, ya ampun! Pukul aku! Aku pasti bermimpi. Aww, sakit," rinti Leila yang benar saja Noah mengabulkan permintaannya.
"Kau yang minta."
Noah mencoba mengintip isi surat itu, tapi dengan cepat Leila menyembunyikan darinya.
"Suratku, punyamu banyak, tuh." Leila menunjuk sebungkus surat yang sudah Harry ikat untuk Noah baca.
Noah tidak ingin suratnya. Yang dia inginkan surat milik Leila dan apa isi surat itu. Jangan bilang kalau Count itu tertarik kepada Leila?!
Leila pergi dari ruangan Noah. Bersenandung ria dengan aura yang sangat ceria tak sabar membaca surat dari Aria lagi.
Yah, ini bukan pertama kalinya Leila mendapatkan surat dari Aria. Untuk surat sebelumnya mereka sering bertukar surat yang dimana Aria hanya bisa mengirimkan ke kantor pos di dekat mansion yang dimana Leila sendiri yang harus mengambilnya, tapi karena Leila sudah memberitahukan kalau dirinya bekerja di mansion. Jadilah surat Aria bisa datang di ruangan Noah hari ini dan tentu saja yang memberikannya si kakek penggerutu tidak menyukainya itu.
Sembari berjalan Leila membaca surat dari Aria. Dimana Aria ingin mengundangnya ke mansion Count Grey yang dimana disana terkenal akan pemandangan di musim gugurnya.
Tentu saja kesempatan seperti ini mana mungkin Leila tolak. Hingga seseorang merebut suratnya.
"Surat dari siapa ini?"
"Mana? Mana?"
"Hmm... Ini stempel dari Count Grey, kan?"
Leila yang terdiam awalnya mengangkat kepalanya siapa orang yang baru saja merebut surat berharganya itu.
"Anak-anak, bisa kalian kembalikan?"
Si kembar menatap Leila secara bersamaan yang membuat Leila terasa terbebani seketika. Apa yang tidak Leila ketahui adalah si kembar mulai bertanya-tanya siapa si pengirim surat akhir-akhir ini yang membuat Leila sering tidak fokus pada mereka.
Atlas yang baru saja kembali dari latihan harinya memberikan surat dari putri Count Grey itu kepada Adrian.
"Kau ingin pergi ke pesta membosankan itu?"
"Y-ya, kenapa?"
Arden rasa anak angkat Count Grey ini terasa sangat aneh. "Apa kau yakin, Leila?"
"K-kami sudah pernah bertemu dua kali." Cicit Leila yang merasa terintimidasi oleh Arden.
Ayolah, jangan sampai sisi psikopatnya itu ada.
Bahkan ditatap intens oleh si kembar masih membuat Leila tidak nyaman.
"Kapan?" Kini berganti Adrian yang bertanya.
"D-di hutan willow dan—"
Hutan Willow?
Ketiga mengerjit bersamaan.
"—di jalan desa depan sana."
Leila merasa semakin kecil di hadapan tatapan penuh selidik si kembar. Ayolah, dia hanya ingin berteman dengan tokoh protagonis. Apa salahnya?
Arden melirik Adrian yang memikirkan apa yang sama dia pikirkan.
"Sebaiknya jangan datang." Ucap Arden tiba-tiba.
"Kenapa? Dia kan temanku?"
"Justru karena itu. Tidak ada seorang pun bangsawan, sekali pun dia putri angkat mau berteman dibawah kasta mereka." Batin si kembar yang berharap Leila mereka berhenti bersikap bodoh.
Bahkan setelah belasan kali mereka sudah datang dalam berbagai undangan. Mereka bisa melihat bagaimana perlakuan para bangsawan sebenarnya. Beruntung mereka berada dalam asuhan Leila dan dibawah atap mansion D'Arcy yang dimana semua orang disini adalah keluarga.
Leila tanpa menunggu respon si kembar segera merebut kembali surat dari Aria yang terlihat sedikit lecet, karena gesekan disaat merebutnya membuta Leila mengelus kertas itu. Terlihat jelas Leila sangat menyayangi surat dari Aria.
"Lebih baik kalian urus saja urusan kalian sendiri."
Setelah mengatakan itu Leila pergi meninggalkan si kembar yang mulai saling bertatapan dan mulai membuat rencana tidak lain tidak bukan untuk orang yang membuat Leila mereka tidak menomor satukan mereka.
Rakun yang melihat kejadian itu semua hanya bisa menggelengkan kepala dan kembali melanjutkan jalannya sembari menggigit apel besar berwarna merah baru saja dia curi dari dapur.
Entah kenapa semua orang yang tinggal disini tidak normal. Bahkan Leila sekali pun yang sepertinya tidak bisa membaca suasana hati orang-orang disekitarnya.
Seperti bagaimana ayah dari itu.
Apa Leila buta?
__ADS_1
"Leila! Selamat datang!" Seru Aria melihat kedatangan Leila yang sudah muncul di depan gerbang.
Leila yang memakai jubah merahnya melambaikan tangan dan menerima pelukan besar dari Aria. Yang baru dia sadari adalah Aria lebih tinggi dari pada dirinya.
Si\*l! Kenapa aku sangat pendek?!
Seingatnya dulu dirinya, dia tidak sependek ini.
Aria menuntun Leila masuk ke dalam meskipun dia bertanya-tanya bagaimana Leila bisa sampai sini dan jawabannya adalah berjalan kaki. Agak aneh memang, tapi mengingat Ias sangat menempel pada Leila dan menghilangkan ditengah malam terdengar sudah wajar menurutnya.
Bahkan pemikiran Ias dan Aria waktu itu adalah sama.
Leila adalah seorang putri bangsawan yang melarikan diri dan menghabiskan sisa hidupnya menjadi orang biasa. Tapi, yang membuat Aria kebingungan adalah setelah dia akhirnya bisa hidup bersama ayahnya. Semuanya terasa terpenuhi. Bahkan jika dia ingin melatih ilmu pedangnya. Robert awalnya enggan dan tak ingin putrinya terluka, tapi setelah Aria menjelaskan jika ini untuk melindungi dirinya sendiri malah Robert bantah dan akan menyuruh seorang kesatria melindunginya.
Ayolah, yang sedang Robert bicarakan adalah Aria River. Perempuan tangguh yang sudah menghadapi puluhan pertempuran. Lagi pula dia juga perlu membalaskan dendamnya kepada itu. Aria pikir masa depan akan tetap sama, tapi ternyata tidak.
itu ternyata adalah putra kandung dari seorang Duke yang terkenal akan wilayahnya yang makmur dan jangan lupakan teh yang hanya tumbuh diwilayahnya yang sangat mahal itu.
Hingga seorang Leila datang ke panti asuhan dengan saudaranya. Entahlah, Aria apa masih bisa mengganggap seperti itu atau tidak.
Masa depan terlihat sangat berbeda dari yang Aria pikirkan. Jika itu berada dalam garis keturunan seorang bangsawan, maka Aria bisa mengawasi lebih mudah. Tidak seperti dulu dimana itu selalu berpindah-pindah tempat yang membuat Aria sakit kepala.
"Wow, mansion Grey sangat luas ya."
"Hei, jangan samakan dirimu dengan orang gila itu."
Melihat bagaimana Leila mudah mengatainya berarti itu tandanya mereka memiliki hubungan sangat dekat. Mengingat kejadian waktu itu dan beberapa rumor yang beredar di mansion Duke. Jika ada seorang wanita yang bekerja sebagai pengasuh ketiga putranya yang sangat dia sayangi dan sering kali menghabiskan waktu bersama dimalam hari.
"Nona Grey."
Leila terbeku sejenak. Ada orang lain di pesta yang Leila kira hanya mereka berdua.
"Nona Rosedent, Panggil saja saya Aria."
Leila bisa melihat jika terlihat ada lima orang yang sudah berkumpul dan menunggu disini. Rasanya Leila ingin pulang saja.
Aria menuntun Leila untuk duduk di dekatnya dan mereka mulai mengobrol dengan santai hingga para gadis selain Aria bertanya mengenai umur Leila.
"Umm... Aku tidak muda," cicit Leila yang tidak menatap semua gadis karena merasa dirinya seharusnya tidak disini.
Sepertinya Leila harus mendengarkan perkataan si kembar lain kali.
Aria sebenarnya juga sangat penasaran mengenai umur Leila. Jika dia ingat waktu pertama kali bertemu dengan Leila itu sudah sepuluh tahun yang lalu. Jika Leila waktu itu berumur tujuh belas tahun, maka ditahun ini dia sudah berumur dua puluh tujuh tahun dan bukankah diumur itu wanita umumnya sudah berkeluarga.
Semua orang terdiam dan mulai menatap Leila dengan tatapan tidak sedap. Bahkan Mereka juga mulai menilai pakaian yang Leila kenakan.
__ADS_1
Memang apa yang salah dari yang dia pakai.
Jika diumur baru menginjak kedewasaan. Kebanyakan putri bangsawan menggunakan pakaian yang terlihat lebih mewah yang terbuka seperti yang terlihat pada umumnya hingga terlihat bagian belahan dadanya. Semua itu berbeda dari pakaian yang Leila pakai. terlihat tertutup dan berlengan panjang. Bahkan ceruk lehernya saja tidak terlihat.
"Ahh, saya mengerti." Seru seseorang yang membuatnya seketika menjadi atensi semua orang. "Mungkin Anda baru saja ditinggalkan pergi oleh tunangan Anda, kan?"
Leila jomblo.
Bagaimana bisa dia punya tunangan?
Gadis itu menutup sebagian wajahnya dengan kipas dan berkata sekali lagi, "Itu bisa dimaklumi. Dari tadi kita terus mengobrol dan tidak mengetahui dari mana Anda berasal."
Aria menatap tajam gadis itu. Aria rasa gadis dari keluarga Marques Goldroot sudah keterlaluan. Bahkan jika pun Aria tidak tahu pasti alasan Leila pergi dari rumah dan memilih hidup sederhana. Aria menghormati pilihannya.
"Tidak, aku tidak ditinggalkan pergi oleh siapa pun. Apa saya terlihat seperti orang yang masih masa berkabung?" Ucap Leila yang terdengar polos menunjuk dirinya sendiri, "Dan juga, saya bukan dari keluarga mana pun. Saya bekerja di mansion D'Arcy, sebagai pengasuh ketiga Tuan Muda."
Seketika semua orang terdiam mendengarnya terkecuali Aria yang sudah mengetahuinya.
Segera semua gadis berdiri dari tempat duduknya. "BERANI-BERANINYA ORANG RENDAHAN SEPERTIMU DUDUK BERSEJAJAR DENGAN KAMI?!!"
Leila sudah mengira jika kejadian seperti ini pasti terjadi. Dia sudah pernah menulis adegan seperti ini dan bukan yang mengejutkan baginya. Bahkan jika mereka baru saja menyindir tentang umurnya Leila tidak akan marah.
Hal seperti ini terlalu klise untuknya.
Ya, jika mereka main tangan, maka—
Plak!
Seperti yang sudah Leila kira. Aria yang sontak bangun dan hendak menarik gadis itu untuk membalas perbuatannya, tapi kalah cepat dari gerakan Leila. Bahkan Aria hanya bisa melihat bayangannya saja hingga suara dentuman yang cukup besar berhasil membuat semua orang terdiam.
Gadis yang baru saja menampar Leila itu terlempar begitu jauh dari sini dan menabrak air mancur diseberang mereka. Tubuhnya yang terlihat terkulai lemas dengan aliran sungai merah perlahan keluar dari tubuhnya. Gaun yang dia banggakan terlihat sobek dan tak menarik lagi.
"Ups, sepertinya aku kelebihan." Ucap Leila tanpa dosa melihat gadis yang baru saja menamparnya itu. Jangan salahkan dirinya. Gadis itu yang mulai duluan.
Leila mencoba mengendurkan pipinya. Tidak ada rasa sakit seperti yang dia harapkan. Tapi, tetapi saja. Sensasi awalnya yang cukup membuatnya refleks membalas tamparan itu.
"Kalian bisa menjelekkanku, tapi jika kalian mulai bermain fisik. Aku tidak akan tinggal diam."
Inilah kenapa Leila tidak suka menghabiskan waktu bersama orang yang tidak dia kenal.
Masa lalu membuatnya tanpa sadar melakukan ini. Setelah tiga ribu tahun berlalu kenangan itu mengalir kembali. Tanpa membuang waktu si kembar yang mengikuti Leila, keluar dari tempat persembunyiannya. Leila yang menyadari itu lekas menggunakan kekuatannya.
\[‼**️PERINGATAN‼️**\]
\[**ANDA TELAH MENGGUNAKAN SIHIR DILUAR WILAYAH TANAH SUCI**.\]
"Maaf, Aria. Sepertinya kau harus menulis surat lagi untukku."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu Leila menyentuh si kembar menjentikkan jarinya hingga waktu kembali berputar seminggu sebelum kejadian ini terjadi.