MIMPI LEILA: Tiga Kemungkinan

MIMPI LEILA: Tiga Kemungkinan
BAB 12 : NOAH EUGENE


__ADS_3

"Apa kau tahu tentang pengasuh Tuan Muda?" Bisik seorang pelayan yang akan memasuki usia matang untuk menikah.


Beberapa pelayan yang sedang sibuk menjemur seprai dibelakang mulai membicarakan tentang sosok baru yang hadir di mansion ini. Lagi pula pekerjaan sebagai seorang pengasuh mendapatkan fasilitas yang lebih baik dari pada semua orang. Terlebih lagi ketiga Tuan Muda mereka juga sering menyelinap masuk ke kamar pengasuh dan sering kali ditemukan menginap di sana juga.


Yang lebih mengherankan lagi adalah Duke sama sekali tidak mempermasalahkannya. 


"Lagi pula itu sama sekali tidak mengganggunya," pasti itu yang Duke katakan nantinya.


"Katanya dia dari daerah selatan kerajaan. Bukankah itu berarti desa itu?" Timpal seorang pelayan yang berada di samping orang yang pertama kali membicarakan pengasuh itu.


"Desa yang di dekat Hutan Berkabut itu kan maksudmu," timpal pelayan yang tangannya tak berhenti untuk mengangkat dan menjemur seprai.


"Bukankah disana ada monster," membayangkan monster mengerikan yang keluar dari kabut itu berhasil membuatnya merinding.


Semua orang mengetahui tentang hutan yang terkenal akan keseramannya itu. Bukan hanya tentang itu, tapi festival yang di adakan oleh desa itu juga cukup terkenal di kerajaan.


"Lagi pula apa kalian tidak merasa aneh dengan wajahnya."


"Tentu saja! Apa dia anak haram keluarga bangsawan?!" Seru wanita dari pencetus pembicaraan ini.


"Kemungkinan besar iya, tapi yang lebih anehnya lagi. Saat para kesatria yang ikut dengan Duke waktu menjemput putranya berhenti di depan sebuah pondok di depan Hutan Berkabut itu."


Pelayan yang paling muda berkata, "mungkinkah dia penyihir? Hanya orang aneh yang tinggal ditempat semenyeramkan itu."


Seorang pelayan berlari menghampiri mereka yang sedang mengobrol sembari melakukan tugasnya. Meskipun lebih banyak bergosip tentang topik hangat di mansion saat ini.


"He! Aku mendapatkannya! Aku dapat!" Serunya dengan suara lantang.


"Kecilkan suaramu bodoh!" Gertak wanita yang memiliki wajah dingin dalam kelompok ini.


"M-maaf, hehe. Aku dapat! Aku bisa meminjam buku itu!" Serunya yang merasa orang yang paling bahagia diantara mereka semua.


"Buku apa?" Tanya gadis yang paling muda di sana.


"Tentu saja buku karya Tuan Blue Felix!" Seru semuanya bersamaan kecuali gadis yang bertanya tadi.


"Siapa dia?" Tanyanya lagi membuat semua orang tidak bisa percaya.


"He, apa kau tidak tahu orang yang paling terkenal itu dari generasi nenekku?!"


"Kau hidup dimana selama ini?"


Mendapatkan banyak cercaan gadis yang paling muda itu meminta maaf karena ketidaktahuannya.


"Dia itu seorang penulis. Seorang pria yang hidup begitu lama dan tak ada satupun orang yang mengetahui identitasnya kecuali yang sang pemilik penerbit." Terang wanita yang baru saja datang dan mengangkat buku yang berhasil dia pinjam.


"Aku penasaran bagaimana wajahnya itu. Apakah sebaik syair-syair yang dia tulis?"


Berakhirlah semua pelayan dibelakang membahas penulis yang sangat digandrungi dari semua kalangan itu. Blue Felix, seseorang yang begitu misterius dan buku yang sangat cocok dengannya—menurut para pembaca—adalah buku yang baru saja diterbitkan ini.


'Malam Yang Putih'

__ADS_1


Judul dari sebuah buku yang menjelaskan seorang pria yang selalu menghabiskan waktunya dengan semua kanvas yang dia punya. Pria yang menyukai melukis itu selalu membuat lukisan yang tak pernah selesai. Terkadang juga pria itu akan menulis masa lalunya. Tentang kisahnya yang begitu menakjubkan dimasa mudanya yang suka sekali mencari ilmu pengetahuan dan membuka dunia baru.


Tentu saja Noah yang sebagai salah seorang yang menyukai karya Blue Felix juga sudah memiliki buku itu dalam genggamannya. Melihat dari sampul buku hingga beberapa halaman awal yang sudah dia baca membuatnya berpikir pernah membacanya sebelumnya.


Noah berpikir jika ini adalah cerita yang sama dia baca saat sedang berkunjung ke toko buku milik Rion.


Harry yang berdiri tidak jauh dari Noah dengan teko teh yang sedang dia seduh memperhatikan Tuannya itu mengerutkan keningnya. Tidak seperti biasanya dia akan seperti itu saat membaca karya Blue Felix.


"Duke."


Mungkinkah dihari yang sama Blue Felix berkunjung juga ke toko buku Rion?


"Du—"


Rasanya tidak mungkin. Tapi, itu bisa saja.


"Tuan—"


Jika saja aku bisa datang lebih cepat mungkinkah aku bisa bertemu dengannya?


"Ini—"


Atau apa mungkin orang yang berteriak dilantai atas dan sempat membuat Rion terguncang adalah Blue Felix?!


"Tentang—"


Tapi, Rion memanggilnya dengan sebutan Nona. Aku yakin itu.


"Duke! Tolong dengarkan pria tua ini!" Bentak Harry yang sudah tidak tahan dengan diamnya Noah. Pria beranak tiga itu pasti sedang memikirkan sesuatu yang mengganggunya.


Noah terdiam sejenak dan menatap kembali buku yang ada dalam genggamannya. Akhirnya dia bisa mencium aroma menenangkan dari teh yang sangat langkah yang hanya bisa ditanam di daerah kekuasaannya.


Teh Akasha.


Teh berwarna hitam dengan aroma segar seperti sehabis hujan dengan rasa lembut cocok dia nikmati sembari membaca.


Noah mengambil napas dalam dan menghembuskannya, "Apa kau pikir orang ini benar-benar nyata?"


Harry tahu siapa yang Noah maksud. Penulis yang selama ini dia ikuti dan selalu dia tanya apakah karena Noah suka membaca dan ini adalah buku penuh fantasi yang luar biasa dengan plot twist yang digemari hampir semua orang.


"Aku membacanya bukan karena suka," aku membacanya karena ingin tahu isi pemikiran si penulis.


Tapi, perkataan Noah berbanding terbaik dengan apa yang dia lakukan. Dia bahkan punya rak khusus yang dimana karya Blue Felix diletakkan di sana. Bahkan dia mengurutkan sesuai tanggal diterbitkan.


"Apakah Anda tidak merasa aneh dengan Pengasuh Tuan Muda?"


Noah yang sudah mengambil cangkir tehnya dan hendak menyeruputnya terhenti ditengah jalan. "Apa maksudmu?" Tanya Noah yang kini bisa menikmati rasa lembut teh Akasha.


"Dia sering sekali tiba-tiba menghilang dan Tuan Muda selalu membantunya. Bukankah dia tidak menjalankan tugas dengan baik?"


Noah menaruh cangkir tehnya dan berkata kepada sosok yang sudah menjadi kepala pelayan semenjak dirinya berusia sepuluh tahun," bukankah kau terlalu mencampuri urusan orang lain Harry?" Melirik pria yang tidak segan-segan dia hukum jika sudah membuat kesalahan.

__ADS_1


Harry bisa melihat sosok ayah dari Noah yang terkenal dengan sikap dingin dan bijaksananya itu membuatnya tertegun sejenak. Perasaan yang terintimidasi membuat mengulum bibir bawahnya dalam-dalam.


"M-maafkan sikap lancang saya ini, Duke," ucap Harry sembari membungkuk dengan perasaan tulus ingin Noah tidak memberinya tatapan mematikan itu lagi.


Karena pertanyaan Harry membuatnya tidak berselera untuk melanjutkan bacaannya. Noah bangkit berdiri dan meninggalkan Harry yang lekas membersihkan bekas cangkirnya. Senja akan segera datang dalam hitungan menit. Noah yang kini sudah berada di lorong mansion berhenti sejenak dan menatap pemandangan langit yang perlahan akan segera berubah itu.


Entah kenapa rasanya seperti sangat dia nanti-nanti.


Noah terus diam di lorong memperhatikan matahari tenggelam. Para pelayan dan kesatria yang ingin melewati lorong itu memutuskan mengambil jalan memutar. Membuat Noah sendiri yang membuat mereka berpikir jika dirinya sedang mengingat kembali mendiang istrinya.


Surai hitam legam seperti malam tanpa bintang yang dia biarkan bagiannya depan turun. Membuat semua orang tidak bisa melihat perubahan warna matanya yang dari hijau emerald menjadi kuning keemasan.


"Apa itu benar-benar kau, Leila?"


Pernikahan bukanlah sesuatu yang membuat senang dan bukan sesuatu yang membuatnya sedih. Rumi Seena, wanita yang membuatnya penasaran itu membuatnya berpikir tidak logis, dengan berpikir jika dia adalah Leila yang dia cari selama ini. Wanita yang selalu hadir dalam ratusan kehidupan.


Noah Eugene adalah namanya dikehidupan pertama, sama seperti nama yang dia dapatkan dikehidupan ini. Nama dari mantan seseorang yang disebut pahlawan dan dikhianati oleh teman seperjuangan sendiri. Bahkan semua orang menantikan kematiannya setelah apa yang telah dia perbuat kepada benua ini.


Disaat dia mengingat kembali kenangan kehidupan dimasa lalu. Netra kuning keemasan itu akan muncul dan membuatnya bertingkah seperti orang lain, tapi itu tetap dirinya.


Noah mengambil langkah dan berjalan menuju tempat yang dia larang semua orang untuk ke sana. Tanpa penerangan sedikitpun, dengan bantuan remang-remang cahaya bulan yang tertutup oleh awan tebal. Noah mengangkat tangannya rendah dan sebuah bola cahaya seperti lentera muncul.


Jalan setapak yang sudah ditutupi oleh tanaman liar dan cabang pohon yang menutupi pemandangannya tak membuat Noah berhenti. Hingga dia sampai di depan gedung tua seperti sebuah perpustakaan mini yang terbengkalai. Noah membukanya dan memperlihatkan ruangan yang terasa lembab dengan minim cahaya.


Noah akan selalu datang disaat dia merasakan perasaan rindu ini. Perasaan yang selalu resah dan gema tawa riang anak kecil yang perlahan beranjak dewasa yang selalu datang dimalam. Jujur, dia merindukannya.


Penampilannya dikehidupan pertama adalah surai putih keperakan yang panjang hingga menutupi punggungnya. Dengan netra kuning keemasan memiliki celah pada pupilnya seperti seekor hewan reptil sekaligus hewan yang pernah dia kunjungi dan membuat perjanjian. Tidak lain tidak bukan adalah seekor naga putih penjaga dari Tanah Suci.


Karena kekuatannya yang begitu besar membuat teman seperjuangannya yang awalnya merasa aman dan biasanya saja. Waktu itu menjadi merasa takut dan membuat mereka semua menjauh darinya. Hingga dia memutuskan untuk mengasingkan diri dari kehidupan mereka.


Lingkaran sihir yang dia buat dengan darahnya sendiri membuat harus merasakan kelahiran dan kematian ribuan kali. Hanya karena ingin bertemu dengan sosok perempuan bersurai hitam legam dengan netra biru azure seterang langit siang yang selalu berkata, "Leila punya rambut seperti punya ayah tahu! Warnanya merah. Kok disini jadi hitam, sih!"


Penampilannya yang tidak berubah dan selalu berkunjung di musim panas membuatnya yang awalnya merasa terusik kini menjadi terbiasa dan malah terkadang dia merindukan celotehan gadis itu.


Puluhan lukisan yang masih terawat baik dia simpan dari setiap kehidupan. Bahkan tak ada satupun lukisan yang membuatnya bisa melukiskan penampilan gadis yang sangat dia rindukan itu.


Senyuman yang hangat seperti musim panas dengan matanya yang melengkung seperti bulan sabit menjadi penampilan yang tidak akan Noah lupakan. Tawa riangnya yang mengisi satu ruangan membuatnya tidak bisa ikut tersenyum juga. Masih membekas dalam ingatannya. Gadis yang suka sekali menarik rambutnya itu karena alasan sebal terlihat putih bersih tanpa noda. Ingin sekali Noah tangkap, tapi percuma saja. Tubuhnya yang semu transparan membuatnya seperti menyentuh kehampaan.


"Bukankah ini curang. Kau bisa menyentuhku, sedangkan aku tidak," cetus Noah yang melihat gadis yang tengah duduk di jendela dengan mengayunkan kedua kakinya.


Gadis itu menjulurkan lidahnya tanda mengejek atas keadaan yang dia alami, "Tangkap Leila kalau bisa, weeeekkkk!!!!!"


.


.


.


Seperti Bapak Harry tidak menyukai Leila ya, haha..


Noah juga sabar ya, kan masih boca dia, hahaha...

__ADS_1


See you next chapter guys 👋😌


__ADS_2