
Apa Leila melupakan sesuatu?
Seingatnya dalam penggambaran Osias Alluca adalah pria tingginya melebihi pria Asia, dengan penampilan seperti seorang imam.
Hal yang identik tentang pria yang akrab Leila panggil Ias itu adalah sebuah buku yang bersampul lambang dari cahaya dengan kacamata yang bertengger di pangkal hidungnya. Netra kuningnya yang seperti madu yang mengkilat dengan surai platinumnya yang lurus tak pernah dipotong semenjak usia remajanya. Osias biarkan terurai dan terkadang dia kepang satu.
Bahkan Leila memperlihatkan sisi kuat Ias yang disayangi oleh Dewi yang terkenal akan kecantikannya itu. Aura emas dengan anting bulu yang dipercaya datang bersamaan berkat yang Ias dapatkan, dan lingkaran halo yang terdapat dibelakang kepalanya saat Ias menggunakan berkatnya membuat siapa pun yang melihatnya akan berhenti sejenak untuk mengaguminya.
Sebagai pemimpin katedral dan mendapatkan julukan sebagai membuat semua orang ingin bertemu dengan Ias. Bahkan pertemuan dengan Aria ketika dewasa adalah pertemuan yang Leila sukai. Disaat keduanya hanya saling bertukar pandang untuk melihat jauh di dalam diri mereka berdua.
Mereka berdua ini sama.
Kedua orang yang diberkati dan disayangi oleh Dewa Dewi dalam seribu tahun sekali sebagai sepasang manusia yang ditakdirkan. Bahkan Ias mendukung Aria saat dalam kesusahan, meskipun Ias hanya bisa berada di dalam katedral.
Ya, itu yang aku tulis, tapi aku tidak menulis scene dimana mereka berdua ternyata satu panti asuhan juga.
Bagaimana ini?!
Bahkan bisa dikatakan cinta monyetnya Aria itu Jasper. Bagaimana jika cinta pertama Aria itu Ias?
Mereka berdua mungkin bisa hidup bersama dimasa depan, tapi mengingat mereka berdua itu orang yang diberkati yang artinya anak takdir, mana mungkin bisa menikah.
"Ahh, sayang sekali. Kapalku~"
Padahal scene mereka berdua sangat Leila nanti dan lihat bagaimana dia bisa berada di dalam panti asuhan sekarang. Berbaring dengan tidak tenang menatap langit ruangan sederhana ini.
"Orang baik? Orang baik, Anda baik-baik saja?! Suster! Orang baik sudah bangun!"
Meskipun tak melihat Ias, tapi bisa Leila tebak jika bocah itu sekarang tengah berlari mencari biarawati. Mengingat jika gereja dan panti asuhan ini miskin membuat Leila merasa bersalah.
Dia hanya ingin menikmati masa lalu para tokoh utama dan sekarang semuanya terasa hancur.
Leila sudah merubah takdir si kembar menjadi lebih baik dan sekarang dia harus mengecek protagonisnya. Bukan berakhir dengan bertemu .
Ya, sekarang dia hanya perlu mengubah masa depan menjadi lebih baik bukan. Tidak ada peperangan, perselisihan, dan yang terpenting Aria tidak akan menderita. Kecuali tentang masa depan bagaimana desa ini mampu atau tidaknya membayar pajak nanti.
"Ugh... Kepalaku."
Leila kesal dengan alur cerita yang mulai berantakan. Lagi pula ini adalah cerita masterpiece-nya yang dia kerjakan selama beberapa tahun.
Terdengar derik pintu terbuka. Ias kembali menarik seorang biarawati yang membawanya segelas air. Leila bangun dan berusaha duduk.
"Nona, tolong jangan paksakan diri Anda."
Leila melirik sekilas biarawati itu, "Tak apa, ini hanya masalah kecil. Maaf sudah merepotkanmu."
"Tidak, menolong sesama adalah tugas seorang manusia. Kami juga merasa bersyukur dengan bantuan Anda kemarin."
Entah berapa lama lagi Leila harus bertahan menahan ekspresi jijiknya ini. Siapa pun yang membaca novel 'Sungai Emas Everuz' pasti tahu jika semua yang ada dalam cerita ini semua orang tidak munafik, ya kecuali Aria nanti yang akan dikhianati oleh teman seperjuangannya.
__ADS_1
Leila rasa bisa menahan penjilat satu ini. Entah bagaimana jika dia tahu dengan penampilan sederhana ini tersimpan harta karun tak terhingga.
Setelah berbincang-bincang dan mengetahui jika orang yang membawa Leila ke sini adalah Ias membuatnya cukup terharu.
Ahh, menolongku. Aku akan mati dalam keadaaan tenang kalau begitu, batin Leila terharu dengan sikap Ias yang terlihat sejak dini. Dia pantas mendapatkan jabatan itu kelak.
Bahkan sebelum Ias mendapatkan berkat. Dia sudah memiliki hati yang sangat baik, tambah Leila berbatin sekali lagi merasa bersyukur melihat sosok Ias masih kecil.
Biarawati bernama Diana itu pergi meninggalkan kami berdua saja.
"Terima kasih, Ias."
"S-sama-sama," jawaban lirih itu bisa Leila dengar. Jika Leila melihat ekspresi malu-malu Ias berikan dapat Leila pastikan dia akan mencubit pipi anak itu.
Satu hal yang membedakan Ias dewasa nanti dengan sekarang adalah penampilannya. Dimasa anak-anaknya, Ias memiliki surai sehitam arang dengan ujungnya bergradasi biru dengan warna netra yang dia miliki adalah warna biru yang gelap kusam. Berbeda dengan dimasa depan kelak.
Mungkin itu efek dari berkat yang dia dapat nanti, batin Leila berpikir sembari memerhatikan fitur wajah Ias yang sudah terlihat tampan.
"Uhm? Orang baik?" Ias yang merasa tidak nyaman ditatap terus akhirnya bertanya.
"Aku bukan orang baik. Tidak ada orang baik di dunia ini dan namaku bukan orang baik, tapi Leila, hahh... ." Entah kenapa kemurnian ini membuat iblis akan tergoda menodainya nanti. Leila bisa pastikan itu.
"No-na Leila," panggil Ias dengan menundukkan kepalanya tak berani menatap orang yang sudah menolongnya.
"Jangan terlalu formal denganku. Jangan panggil aku Nona. Aku orang berkedudukan tinggi juga." Karena dia hanya seorang pengasuh sekaligus pelayan di kediaman Noah.
"Apa pun selain Nona," karena kau mengingatku pada Rion yang keras kepala sekali memanggilku Nona. Padahal umurku sudah seusia prasasti.
Ias bisa melihat bagaimana garis rahangnya yang halus dengan tatapan sendunya menatap keluar jendela. Ias yang penasaran menatap keluar dan melihat anak-anak panti tengah bermain bermandikan cahaya senja.
Tawa mereka yang mengundang senyuman dengan tingkah laku mereka yang seakan tidak ada beban sama sekali. Ias terdiam sejenak dan kembali menatap Leila, "... Orang baik."
Sepertinya Leila tidak bisa merubah sifat Ias yang satu ini. Dalam penggambarannya Ias selalu menyukai orang yang membantunya dan orang pertama yang sangat dia sayangi adalah seorang pendeta tua.
"Ugh... Ias, aku bukan orang baik," lirih Leila yang sudah lelah dengan sikap keras kepala Ias. Lagi pula itu terdengar aneh jika Ias terus memanggilnya orang baik.
"Tapi kau orang baik. Orang baik sudah menolongku dan memberiku makan. Bahkan bisa melakukannya sihir," ucap Ias degan polos, "Apa orang baik seorang penyihir?"
"Tidak, aku seorang Penjaga." Tidak ada salahnya jujur ke anak kecil.
Kini pandangan Leila beralih kepada anak kecil disampingnya. Lihat betapa kurus dan tatapan dengan sedikit cahaya dimatanya itu. Leila harus memuji betapa kuatnya Ias sebelum bertemu pendeta tua itu.
"Penjaga?" tanya Ias mulai penasaran dengan pembicaraan ini.
"Kau tahu, menjaga sesuatu yang berharga, seperti itu."
"Ohh, kalau begitu seorang kesatria!" Matanya membulat dengan binar kepolosan murni yang membuat Leila tertegun sejenak.
"... Bukan, beda. Apa kau pernah mendengar legenda Penjaga Hutan Berkabut?" Leila bisa mengingat aroma khas hutan itu dan pandangan kabut di sana dengan Ryuu yang bersenandung ketika dia senang melihat bunga mataharinya tumbuh dengan sangat baik.
__ADS_1
"Ya, aku pernah dengar, tapi bukankah itu mitos?" Ias menggaruk kepalanya sembari mengingat legenda yang selalu dia dengar selama luar sebagai manusia yang siap kapan saja dijual.
"Tidak itu nyata." Leila menggeleng kepalanya, "Aku tinggal di sana menjaga sesuatu."
"Ehh?! Benarkah?!" Mata Ias kembali membulat sempurna. Dengan ekspresi bersemangat yang tertahankan Ias bertanya, "Kalau begitu apa aku bisa ikut?!"
Ini bukan ekspetasi yang Leila bayangkan, "Tidak."
"Eh, kenapa?" Entah dari mana bayangan imajiner ekor dan telinga yang menukik turun itu.
"Tidak nyaman membawamu ke sana. Seseorang bisa menyakitimu nanti."
Memikirkan waktu pertama kali si kembar berkunjung sudah membuat Leila kapok dengan hinaan apa yang akan Ryuu berikan.
Semuanya dia anggap serangga, hama, apa pun itu yang menurutnya menjijikkan. Ryuu tidak ingin melihatnya.
Ayolah, ini Ias.
Calon Pendeta Agung dan juga seseorang yang mendapatkan berkat selain Aria. Orang yang sama dekatnya dengan sosok Naga dengan pencipta mereka—Dewa Dewi.
"Tapi, kan ada orang baik."
"Aku bukan orang baik, Ias."
"... Nona Leila?"
"Umurku tak semuda itu."
"Nyonya Leila?"
"Aku belum menikah."
"... Kakak Leila," mendapati diamnya Leila membuat Ias berkata, "Kak? Kakak Lei—"
"Aku bukan kakakmu." Leila yang awalnya tidak mempedulikan Ias dan berpikir jika dia bisa memanggil namanya begitu saja. Akan tetapi, apa yang dia dapatkan malah ekspresi sedih yang dimana dia akan menangis kencang tak lama lagi, "Baiklah, aku kakakmu. Aku kakakmu, puas."
"Ya!"
Dasar bocah manipulatif, dia memanfaatkan air matanya dengan baik, batin Leila dengan sudut bibirnya yang berkedut karena menahan kesal melihat dirinya sendiri berhasil tertipu oleh akting jalanan Ias.
.
.
.
Makasih ya udah mau singgah dan baca cerita MILA ini ^^
See you next chapter guys 👋😽
__ADS_1