
Leila yang baru saja sampai dan hendak ingin mengunjungi Ias lagi sebelum Noah memanggilnya.
Dalam proses perpindahan tempat sekilas Leila bisa melihat beberapa momen yang entah apa itu. Mulai dari bagaimana seseorang yang sedang berlari melewatinya atau mungkin beberapa kenangan di zaman modern yang masih dia ingat sampai sekarang.
Leila tak ambil pusing dan dalam sekejap dia sudah berada dalam sebuah gang. Tempat dimana sebelumnya dia pernah muncul.
Leila yang tidak dalam seragam pelayan berjalan-jalan disekitar Katedral hingga semuanya seakan berjalan begitu cepat.
Yang awalnya Leila ingin menghabiskan waktu bersama Ias. Ingin mendengar semua apa cerita bocah itu hingga Aria datang dan membawanya pergi ke pasar.
Agak aneh memang, tapi tatapan Ias membuat Leila selalu mengerjit.
Kenapa anak ini menatap tidak suka Aria ketika membawanya pergi?
"Aku akan kembali, janji." Seru Leila yang ditarik Aria dengan ceria melambaikan tangannya.
Ias hanya bisa mengulas senyuman pasrah. Antara dia senang dan tidak suka dengan ini.
Ias senang ketika Aria pergi bersama gerutuannya tanpa henti dan tidak suka ketika membawa Kakak tersayangnya untuk berbelanja.
Ias tidak mengerti kesenangan seorang perempuan. Selama Kakak tersayangnya baik-baik saja dia akan tenang. Tapi, sepertinya tidak untuk hari ini.
Ketika Ias hendak pergi menyelinap pergi dari Katedral junior kesayangan yang selalu datang diwaktu yang tidak tepat muncul dan berkata, "Bapa, mencari Anda."
Dengan helaan napas pasrah Ias masuk ke dalam Katedral. Bahkan ketika Ias hendak masuk masih dia sempatkan untuk melihat Aria yang membawa Kakak tersayangnya menghilang dari pandangannya.
"Aku dengar akan ada perburuan. Apa Leila ikut juga?"
Melihat protagonis kesayangan tersenyum ceria membuat Leila terbuai dan hanya bisa mengangguk kepala.
"Apa, apa aku boleh bertanya tentang Tuan Muda D'Arcy?" Tanya Aria berakting malu-malu dengan tak berani menatap Leila dengan semburat kemerahan dikedua pipinya.
Melihat ekspresi yang diberikan membuat Leila mulai berpikir seperti yang Aria inginkan.
"Apa kau ingin memberikan hadiah untuk mereka, hm?" Leila menatap Aria yang malu-malu dengan menaik turunkan alisnya.
"I-itu, aku hanya bertanya apa salahnya. Sudahlah kalau tidak mau beritahu!" Seru Aria yang sangat mendalam aktingnya pergi meninggalkan Leila yang mulai mengejarnya dengan langkah lebar.
"Haha, ayolah Aria. Ini yang namanya masa muda. Siapa yang menarik perhatianmu?"
"Aku tidak dengar!" Pekik Aria menutup telinganya mendengar ucapan Leila yang selama menggodanya.
"Apa yang berkacamata?"
Detak jantung Aria terasa terdengar sangat jelas saat itu juga. Aria tahu siapa yang Leila maksud.
Mendapati diamnya Aria, Leila terus melanjutkan, "Apa yang terkenal akan kesopanannya itu?" Yang Leila maksud disini adalah Arden. Anak itu sering hadir dalam beberapa kesempatan acara besar.
Mendengar ucapan Leila membuat Aria ingin muntah saja.
Arden?
Orang gila itu yang kau maksud?
Sungguh?!
Dia tidak sopan sama sekali. Malah dia berakting sama seperti yang lain.
"Bagaimana yang gagah itu, hm? Aku yakin Tuan Muda Atlas akan sanggup menggendongmu mengelilingi kerajaan." Pernyataan yang Leila lebih-lebihkan membuat Aria bergedik ngeri.
Kemungkinan besar itu mampu, tapi Aria memilih menjaga jarak darinya, karena instingnya seperti hewan buas membuat Aria harus waspada.
"Ayo pilih satu, Nona Grey."
Suara Leila yang dia mainkan membuat Aria mendengus geli. Bahkan jika Aria mati lagi sekali pun. Aria tidak akan memilih diantara itu.
__ADS_1
Aria berhenti dan menatap Leila dengan malu-malu dan berkata, "Menurutmu, aku cocok dengan siapa?"
Leila tertegun sejenak hingga darah mulai mengalir dari salah satu hidungnya.
"YA AMPUN! LEILAA! KAU BERDARAH!!!" Pekikan Aria berhasil membuat mereka menjadi pusat perhatian.
"Ah?" Leila mengusapnya dan benar seperti yang Aria katakan. "Darah?"
Melihat respon lama Leila semakin membuat Aria khawatir dan membawa wanita itu untuk duduk dan memberikan sapu tangannya.
Leila yang menunduk mendengar celotehan Aria merasa sangat senang. Betapa bahagianya Leila jika seseorang mengkhawatirkannya.
\- Bodoh.
Sontak Leila terbeku mendengar suara itu. Suara yang sudah lebih dari tiga ribu tahun tidak dia dengar.
Leila mengangkat kepalanya dan menatap sumber suara itu yang berada di depannya. Dalam penglihatan Leila dia berdiri dengan sikap istirahat ditempat menatap seakan jijik dengan semua hal tentangnya. Dia tepat berdiri disebrang jalan yang cukup ramai, tapi suaranya bisa Leila dengar jelas.
\- Kau lebih bodoh dari yang aku kira ya ternyata.
Sekali lagi orang diseberang itu berkata. Sosok itu menyeringai melihat reaksi tertegunnya.
\- Lihat penipu ini. Dia masih bisa bernapas bebas di dunia luar. Sedangkan aku....
Kenangan dimasa remajanya kembali berputar dikepalanya. Diawal tahun ajaran baru berita menggemparkan itu berhasil meramaikan tahun itu.
\- Kau yang seharusnya mati. Bukan aku.
Itu disiarkan secara langsung dan dengan pakaian biasa dengan jaket bekas yang dia beli melihat secara langsung persidangan itu.
Tok! Tok! Tok!
Palu sudah dipukul.
Keputusan telah dibuat dan hukuman untuk pembunuh itu adalah kematian.
Leila yang saat itu melihat dengan mata kepalanya sendiri pembunuh yang seusianya duduk dan melirik kepadanya dan tersenyum.
Kenangan itu tidak akan pernah bisa Leila lupakan.
"... Lei! Leila!"
"A-a? Hah? Apa?"
Leila kembali ke kenyataan dan mendapati sosok yang sudah tiada karena rumah tahanan terbakar beserta para napi di dalamnya. Para sipir penjaga lebih memilih meyelamatkan dirinya sendiri tanpa membantu menyelamatkan para napi. Ini membuat bangunan lapas itu termakan si jago merah dengan lantunan lagu—teriakan— terakhir sebelum menyambut kematian.
"Ini minumlah." Leila menerima segelas air itu dan kembali melihat sosok disebrang apa benar-benar sudah menghilang.
Leila tampak diam sejenak dan mengecek apa darahnya sudah berhenti keluar atau tidak. Untuk pertama kalinya dia berdarah setelah tiga ribu tahun di dunia ini.
Apa ini pertanda baik?
__ADS_1
Aria memutuskan membawa Leila masuk ke dalam restoran dan mulai memesan beberapa makanan yang cukup banyak untuk Leila.
"Bukankah ini terlalu banyak."
"Ayo makan."
Mereka berdua makan dengan tentunya seorang penjaga dan pelayan yang mengikuti Aria dibelakang.
Leila mengambil beberapa makanan dan dia merasa tidak lapar sama sekali, tapi karena Aria sudah memesannya mau bagaimana lagi.
Ketika saat pembayaran pelayan yang hendak mengeluarkan koin sedikit enggan. Melihat itu Leila langsung membayar semua tagihan makan mereka. Seperti Aria berlebihan tanpa melihat isi dompetnya tadi.
"Berapa?"
Setelah mengatakan harganya kembali. Leila langsung merogoh kantung digaunnya dan mengambil beberapa koin emas yang membuat semua orang cukup tercengang.
"Apa ini cukup?"
"T-tunggu sebentar."
Pasalnya koin emas berukuran cukup besar senilai tiga kali lipat koin emas berukuran kecil. Diketahui jika hanya para bangsawan berstatus tinggi dan pengusaha yang sukses memilikinya. Dan apa yang ada di depan mereka membuat mereka bingung Leila termasuk dalam golongan mana.
Dia bukan dari kalangan bangsawan.
Bukan juga dari pengusaha yang sukses.
Tentu saja ini hasil penjualan buku dan sebagian besar adalah hadiah dari Rion dan Noah. Jangan banyak bertanya. Mereka berdua gila dan memberikan uang mereka seperti membuang sampah dipinggir jalan.
Rion adalah pengusaha sukses dan Noah adalah bangsawan berstatus tinggi.
"Terima kasih sudah mau makan ditempat kami, Nona."
Mereka semua pergi dari tempat itu dan Leila hanya berjalan seperti biasanya tapi membuat mereka bertiga dibelakang sedikit menjaga jarak.
Seperti yang Aria kira. Leila adalah anak keluarga bangsawan yang terpandang.
Tidak seperti pelayan dan penjaga Aria yang mengira jika hanyalah orang biasa yang berhasil membuat Aria menempel terus.
"Jadi, kemana kita selanjutnya?" Tanya Leila yang membuat ketiganya bisa melihat bayangannya koin emas yang melimpah.
"Woww."
"Wow?"
Leila rasa dia salah mengeluarkan koin tadi. Lagi pula dia masih punya banyak dan menganggur ditempat penyimpanannya.
.
.
.
It's okay jomblo yang penting kaya
__ADS_1
\- Leila