
Desa Kilkast.
Desa terdekat dengan Lembah Abadi dikarenakan disana adalah tempat saksi bisu kejadian semua pahlawan berkumpul dan membuat sejarah bagaimana kerajaan Everuz ini terbentuk.
Seperti yang Noah katakan. Leila berbicara dengan seekor sapi dan mendapatkan skill yang kurang berguna.
"Makasih, Pii."
Leila bertanya kepada sapi itu mungkin saja melihat seorang anak yang Leila beritahu ciri-cirinya. Surai hitam pekat yang sepanjang bahu serasi dengan warna netra matanya membuat Leila selalu mengingat teman Asianya itu. Setidaknya dia ingin melihat bagaimana Aria saat masih kecil sebelum mendapatkan berkatnya. Sebelum kemalangan itu terjadi tentunya.
Kemampuan 'Memahami Bahasa Asing' berguna juga ternyata. Bahkan pada hewan juga.
Suasana yang masih asri dan bangunan gereja yang terawat dan disebelah gereja itu adalah sebuah bangunan cukup besar yang dimana difungsikan sebagai panti asuhan. Leila terus berkeliaran sepanjang hari hanya untuk melihat sosok Aria sewaktu masih anak-anak. Karena menyadari hari mulai malam Leila mencari tempat menginap.
Hari berganti lagi dan masih tetap dengan hasil yang sama. Leila kini memilih menikmati harinya di atas lembah sembari berbaring diatas rerumputan. Menatap langit siang yang terlihat begitu tenang. Angin sepoi-sepoi yang datang dengan lembut membawa anak rambutnya berterbangan.
Lihat betapa tenangnya desa ini.
"Apa aku datang terlalu cepat, ya?"
"Apa mungkin Aria belum terlahir ditahun ini?"
"Yah, ini kesalahanku juga karena tidak memberikan informasi jelas antara umur Aria dan si kembar juga."
Leila mulai menyuarakan isi pikirannya hingga tanpa sadar dia mulai diam dan memiringkan tubuhnya. Melihat kupu-kupu yang hinggap di atas bunga kecil berwarna kuning. Kupu-kupu itu dengan tenang menyesap nektar dan membuka tutup sayapnya perlahan.
"Apa...?" Angin berhembus. Menambah suasana hati Leila yang gunda, "...Aku akan bangun?"
Leila kembali menatap langit. Memikirkan semua hal yang telah dia alami. Hidup begitu lama dan bertemu si kembar membuatnya merasa ini seperti sebuah mimpi.
Bukankah ini terlalu indah menjadi sebuah kenyataan?
Meskipun ini mimpi, tapi tetap saja semua yang sudah Leila alami sejauh ini terasa sangat nyata. Bagaimana dia dengan sabar menjadi Penjaga sembari merawat telur naga berwarna hitam itu, hingga bagaimana Leila bertemu dengan . Bahkan tokoh figuran seperti Noah memiliki kisah masa lalu yang begitu kompleks.
"Hahh... Aku terlalu tua untuk ini semua," lirih Leila yang mulai merasakan usia senja dengan tubuh awet muda.
Ternyata untuk bertemu tokoh utama butuh perjuangan.
Setelah berlalu hampir lima hari menunggu tanpa kepastian yang jelas, Leila akhirnya bisa melihat sosok tokoh utama cerita yang dia tulis. Seorang anak kecil dengan rambut sependek bahu berwarna hitam pekat yang terlihat mengkilat dibawah sinar matahari, baru saja turun dari gerobak yang terlihat sangat usang dan terbuka. Bersamaan dengan anak lainnya, Aria turun dan berjalan menuju gereja.
Leila yang tengah berdiri tak jauh darinya bergumam tanpa sadar, "Bagaimana bisa aku lupa jika dia rajin sekali pergi ke kuil?"
Jarak dari kuil yang sangat jauh dari tempat panti asuhan. Terletak dibawah kaki Gunung Vallen diantara dua bukit yang dibangun sebuah kuil tempat dimana tempat ibadah utama yang rutin anak panti asuhan kunjungi.
"Huft, akhirnya sampai juga," gerutu Aria kecil yang sudah lelah selama perjalanan. Perjalanan mereka tidaklah mulus. Jalan yang diperbaiki juga Tidak merata. Hanya yang memiliki seorang penguasa yang baik hati seperti wilayah kekuasaan Duke D'Arcy saja yang bahkan wilayah pinggiran jalannya sangat bagus.
"Hei! Hei! Ayo bersemangatlah! Katanya kau ingin membuat cita-citamu cepat terwujud!" Seorang anak laki-laki dengan bersemangat menepuk punggung Aria. Lihat senyuman yang cerah seperti matahari itu. begitu menyilaukan sekaligus menyebalkan.
"Aduh! Sakit!" Baru saja Aria bernapas lega dan anak bernama Jasper memukul punggungnya.
"Maaf, maaf."
Aria bisa melihat tidak ada ketulusan dalam ucapannya dan lihat juga senyuman yang semakin lebar itu. itu membuatnya semakin kesal saja.
"Kau jahat! Aku akan mengadu ke suster. SUS! SUSTER! JASPER MEMUKULKU!" Aria berlari ke samping gereja yang dimana biasanya suster ada di sana menyiram sayuran.
"APA?! TIDAK! ARIA BERBOHONG, SUSTER!" Jasper yang tidak ingin terkenal omelan berlari ngejar Aria.
"Orang bohong mana mau ngaku," cetus Aria menatap tajam Jasper yang suka sekali menjahilinya, "SUSTER! JASPER JAHAT MAU MUKUL AKU, HUWAAAAA!" Aria kembali berteriak, tapi kali ini lebih keras.
"TUTUP MULUTMU ARIA!"
Jasper bisa membayangkan hukuman apa yang suster lakukan padanya setelah diberi nasehat sejam penuh. Dia akan disuruh memompa air dan membantunya menyiram kebun pagi dan sore. Tidak. Jasper tidak ingin melakukan itu.
"SUSTER DENGAR?! HUWAAA! JASPER JANGAN KEJAR AKU!"
__ADS_1
Melihat pertengkaran kecil yang Leila perlihatkan dalam novel membuatnya tidak bisa menahan kekehannya. Lihat betapa dekat hubungan Jasper dan Aria.
Ahh, masa lalu yang begitu indah. Tapi, tak lama lagi akan hancur.
Leila mengedarkan pandangannya. Membayangkan masa depan yang akan menimpa desa ini. Bangunan yang porak-poranda karena para prajurit dan mungkin juga beberapa akan dibakar. Bahkan ternak mereka yang disita. Sekelompok wanita dan anak-anak disendirikan yang menyisahkan para laki-laki dewasa harus kerja keras di ladang untuk menebus pajak.
Leila merasa sedikit pusing sekarang. Hal yang tak terkira dan masih menurutnya tidak mungkin adalah dia hidup di dunia novel yang dia buat sendiri. Semua yang ada di sini bukan figuran yang bisa dia bunuh begitu saja. Akan tetapi, semuanya ini makhluk hidup. Mereka punya nyawa.
"Ugh, aku ingin coklat sekarang." Jika disaat Leila merasa pusing seperti ini, dikehidupan sebelumnya dia akan membeli minuman manis hanya untuk membuat suasananya jauh lebih baik.
"Tapi, masalahnya... Disini makanan manis sangatlah mahal," gerutu Leila merasa sangat sengsara. Meskipun dia punya uang hasil dari penjualan buku, tapi tetap saja itu sangat sayang untuk dikeluarkan.
Leila ingat bagaimana dia bisa bertahan hidup selama hampir tiga ribu tahun di Tanah Suci. Itu semua karena skill yang tidak masuk akal menurutnya dia dapat.
Ding!
[‼️SELAMAT!!]
[ANDA MENDAPATKAN SKILL 'TUBUH NAGA PUTIH AGUNG'.]
Skill inilah yang membuat tubuh Leila berumur panjang dan tak memerlukan makan dan minum. Bahkan segala racun akan segera dinetralisirkan.
"Ugh, aku ingin mabuk juga terkadang."
Karena minuman beralkohol masuk ke dalam kategori beracun dan jangan lupakan bagaimana dia bisa melakukan sihir sebegitu mudahnya sekarang. Itu semua karena skill yang terdengar sangat tidak masuk akal. Padahal dia hanya beberapa hari tersesat di dalam hutan, lalu seekor naga tiba-tiba memberinya sebuah telur dan memaksanya menjadi seorang Penjaga.
[ANDA MENDAPATKAN SKILL 'TALI EMAS'.]
Awalnya Leila kurang mengerti skill yang satu ini, tapi ini adalah tali penghubung dengan Dewa Dewi. Mengingat Naga adalah eksistensi dari ciptaan mereka yang para Dewa Dewi itu senangi.
Yah, ini juga membuat hubungannya dengan si stalker itu semakin dekat bukan berarti.
[ANDA SEKARANG MENJABAT SEBAGAI PENJAGA TANAH SUCI PERTAMA DALAM SEJARAH, SEBAGAI MAKHLUK YANG EKSISTENSI YANG BELUM DIKETAHUI.]
Jelas-jelas dirinya ini seorang manusia. Dari mananya dia tidak terlihat seperti manusia?
Ya, nasi sudah menjadi bubur. Apa yang bisa Leila buat?
"Permisi, apa Anda tertarik membeli bunga?"
Suara seseorang tiba-tiba datang dan menghilangkan lamunan Leila. Melihat jika seorang anak kecil yang sepertinya adalah anak jalanan tengah berdiri di depan Leila menawarkan bunga. Ini hanya bunga yang sering Leila jumpai di Hutan Berkabut. Melihat kondisi anak kecil di depannya membuat Leila merasa iba.
"Jika Anda tidak tertarik, permisi," ucapnya hendak melenggang pergi, tapi Leila tahan.
"Tidak, bunganya cantik."
"... Benarkah?" Suaranya yang seakan tidak percaya menatap Leila dengan penampilan yang membuat Leila teringat si kembar sebelum Leila selamatkan.
"Iya, matahari hampir berdiri diatas kita. Bagaimana kalau kita makan siang?" Entah kenapa melihat anak kecil di depannya membuatnya melihat dirinya dimasa lalu. Lihat bajunya yang robek dan beberapa jahitan sudah lepas. Noda kotor gelap yang sulit dihilangkan juga bisa Leila lihat dengan jelas. Hidungnya tidak bisa berbohong. Dia anak jalanan.
"E-eh?! T-tapi,... ." Mendapatkan tawaran yang begitu mendadak membuatnya sulit mengatakan sesuatu.
"Aku yang mengundangmu, jangan khawatir tentang uang." Leila mengulas senyuman penuh percaya diri. Dia tidak akan segan mengeluarkan uangnya untuk yang satu ini.
"T-tidak, tolong jangan. Seseorang mengajarkan saya untuk tidak punya hutang." Anak itu melihat sekeranjang bunga yang dia bawa dan memberikannya kepada Leila, "Ini! Meskipun tidak banyak." cicitnya diakhir karena merasa malu. Bahkan jika dihitung juga semua bunga itu hanya bernilai sangat kecil dan hasilnya hanya bisa membeli roti keras yang berbahan dasar tepung dan air yang dipanggang saja.
Leila menerima sekeranjang penuh bunga itu. Meskipun tak seberapa ini sudah cukup untuknya, "... Terima kasih, Nak."
Leila yang sadar jika dirinya menjadi tontonan lekas berdiri dan mengajak anak kecil penjual bunga dengan pakaian lusuhnya untuk membeli beberapa bungkus makanan yang bisa mereka makan di luar. Mengingat jika beberapa tempat makan mungkin menolak keberadaan anak ini.
Lihat seberapa kotor dia. Leila bisa melihat beberapa memar membiru yang sepertinya dia berjuang untuk hidup di desa kecil ini. Leila tak menampik jika dia berjuang untuk hidup, dan juga si kecil ini sangat pintar atau hanya sangat beruntung bisa hidup di Desa Kilkast ini. Karena desa ini adalah desa teraman sebelum malapetaka itu datang.
Sebelum mereka makan. Leila mengajak anak kecil itu untuk ke lembah dimana mereka bisa melihat pemandangan Desa Kilkast dari atas. Ladang bunga dengan pohon tak bernama mereka duduk bersama. Meskipun pada awalnya anak itu ragu untuk mengikuti Leila, tapi demi makanan dia mengikutinya.
Mereka berdua duduk berhadapan. Leila menatap anak kecil itu mewaspadai dirinya sembari melihat makanan yang dia beli tadi dengan air liur yang akan menetes kapan saja. Makanan yang Leila beli sangatlah sederhana dan melihat seberapa kurus anak kecil ini bisa Leila kira beberapa hari mungkin dia tidak makan.
__ADS_1
Karena Leila sangat lama tak memberinya makan. Anak kecil itu berinisiatif mengambil makanan dari keranjang. Tapi, sepertinya tangan kecilnya kalah cepat dengan tindakan Leila.
"Tidak boleh." Leila baru saja memukul punggung tangan anak kecil itu.
"Aww, kenapa?"
Anak kecil itu berpikir jika sepertinya wanita di depannya ini sama seperti manusia pada umumnya.
Semua manusia itu jahat.
"Kau kotor dan bisa saja sakit jika makan dengan keadaan seperti itu." Menunjuk keadaannya yang dimaksud. Leila melihat dari atas ke bawah dan itu berhasil membuat anak kecil itu tidak nyaman. Tatapan Leila begitu merendahkan dirinya.
"Aku tidak akan sakit," cicitnya karena tidak ingin melihat Leila.
"Diamlah sebentar." Leila mengayunkan tangannya. Aura dan beberapa cahaya mulai tercipta. Leila menuntun sihirnya menyelimuti anak kecil itu.
Melihat keanehan yang belum pernah anak kecil itu lihat membuatnya membeku diam. Membiarkan cahaya itu perlahan menyelimuti dirinya dan perlahan semua kotor yang ada dalam tubuhnya terangkat. Bahkan bau yang tidak sedap dan juga luka memar pada tubuhnya.
"Jauh lebih baik. Sekarang baru boleh makan." Leila mengambil makanan untuk anak kecil yang tidak dia ketahui namanya itu.
Ding!
[‼️PERINGATAN!!]
[ANDA MELANGGAR PENGGUNAAN SIHIR DI LUAR KAWASAN TANAH SUCI. JIKA POIN MENCAPAI BATAS MAKSIMUM. ANDA AKAN DIKENAI HUKUMAN.]
Masa bodoh.
"I-ni... Aku, aku benar-benar bersih?" lirih anak kecil itu melihat dirinya sendiri seakan tidak percaya.
"Ayo, dimakan. Tidak baik membiarkan makanan sampai dingin."
Masih belum sadar akan tindakan Leila. Anak itu hanya diam menatap Leila penuh tanda tanya. Leila mendesah paruh, "Ini namanya sihir. Nah, sekarang makan atau ku makan."
Tanpa banyak tanya anak kecil itu merebut sebungkus roti yang Leila beli dan lekas melahapnya yang membuatnya tersedak. Leila lekas memberinya air dan menepuk punggung anak kecil itu, "Pelan-pelan, makanannya tidak akan lari kok."
"Terima kasih... terima kasih orang baik," lirih anak kecil itu merasa terharu dengan tindakan Leila.
"Sama-sama, sekarang makan dan nikmat pemandangan ini."
Anak kecil itu awalnya tak menyadarinya. Tapi, setelah Leila mengatakannya dia baru sadar jika pemandangan dari atas lembah dengan pemandangan Desa Kilkast, ditambah langit cerah siang hari ini yang sedikit berawan membuatnya tertegun.
Angin berhembus cukup kencang hingga mengibarkan kedua surai mereka berdua.
"Wow!"
Decak kagum Leila yang tidak wanita itu tahan membuat anak kecil itu menoleh dan menatap wajah Leila dari samping. Melihat bagaimana warna netra wanita yang sudah memberinya makan itu sama secerah langit siang hari ini.
"Wow."
Seperti langit sengaja terpasang dimata wanita itu. Begitu bersih dan jernih. Bahkan dengan paras yang mendukung membuat anak kecil itu tidak bisa menahan decak kagumnya.
"Benar. Wow, kan!" Pandangan Leila teralihkan ke anak kecil itu sembari memberikan senyuman terbaiknya.
Satu pemikiran yang ada di kepala anak kecil itu, Orang ini punya hati dan wajah yang baik.
.
.
.
Makasih ya udah mau singgah dan baca cerita MILA ini ^^
See you next chapter guys 👋😽
__ADS_1