MIMPI LEILA: Tiga Kemungkinan

MIMPI LEILA: Tiga Kemungkinan
S2 - BAB 15: HARI PERBURUAN (4)


__ADS_3

"Tanah Suci." Gumam Leila ditengah tempat sepi berharap tidak ada yang mendengarnya.


Ding!


[‼️DITOLAK‼️]


"APA?!!!"


Baru pertama kali Leila mendapatkan notifikasi seperti ini dan pesan awal dimana dia tak dia ketahui tadi muncul lagi.


Yang benar saja!


Setahun?!


Setahun menjadi manusia?!


Leila bahkan lupa hidup sebagai manusia itu seperti apa dan dia mendapatkan hukuman ini karena batas maksimal penggunaan sihir di luar wilayah Tanah Suci.


Yah, asalkan dia dapat makan, minum, dan tidak terluka parah dia bisa bertahan hidup selama satu tahun sebagai manusia normal. Tapi, yang sangat dia sayangkan adalah dia tidak bisa pergi diam-diam keluar mansion lagi.


"Ahh, hidup itu berat."


Setelah menggerutu tiada henti dengan bahasa yang sulit dimengerti, Noah datang mencarinya, dan berkata jika besok malam akan ada kembang api.


"Apa kau—" Noah melirik tenda disampingnya dan menggosok tengkuknya yang terasa tidak gatal itu, "—mau melihat lukisan terbaruku?" Cicitnya karena masih merasa malu memperlihatkan karya seninya.


Leila yang melihat ekspresi Noah hanya bisa terkekeh melihat Noah seperti anak kecil. "Tentu saja. Kali ini Leila seperti apa?"


Meskipun sudah hampir satu dekade terlewatkan. Leila masih merasa sangat sulit untuk menyebutkan nama yang sama sepertinya, tapi tertuju ke orang yang berbeda. Bisa Leila bayangkan jika semburat merah muda menghiasi kedua pipi pria itu samar-samar.


"Kau akan tahu nanti."


Ini bukan pertama kalinya Noah mengundangnya untuk mengunjungi tempat itu. Tempat dimana galeri kecilnya yang menyimpan mungkin seribu karya seninya.


Jujur saja tempat itu seperti sebuah museum. Bahkan dalam penataan dan pencahayaan yang Noah atur sudah berhasil memanjakan mata Leila. Tidak perlu dikatakan lebih banyak lagi tentang karya Noah. Pria yang sialnya bisa dalam berbagai hal itu berhasil membuat dirinya iri.


Lihat bagaimana pria itu bisa menggait semua wanita di negeri ini hanya dari lukisannya, bermain alat musik, atau pun bakat sihirnya yang dia sembunyikan dari dunia luar.


"Cih, kenapa ada manusia sepertimu di dunia ini?" Cibir Leila menyilang keduanya di depan dadanya.


Noah menyinggung senyuman dan berkata, "Kenapa? Bukankah aku ini laki-laki idaman, hm?


"Dengan berat hati dan tidak bisa aku sangkal, ya. Kenapa kau bisa melakukan semuanya tanpa melakukan kesalahan sedikit pun!"


"Hei, aku hidup dengan berbagai kehidupan ingat. Kau tidak akan menyangka aku pernah menjadi musafir."


"Ini hal baru untukku. Pasti saat itu kau sangat hitam dan kotor. Hiii~ bau."


"Dan itu adalah pengalaman berharga yang pernah aku dapatkan."


"Memangnya kau pergi kemana?"


"Benua Velon, tempat dimana pasir terlihat seperti lautan."


Leila ingat akan wilayah itu. Tempat dimana Aria ingin membuat sekutu tapi, karena dari saran Ias, Aria mengurungkannya.


Bahkan pembicaraan mereka mengalir seperti biasanya. Bahkan ditempat seperti ini sekali pun. Leila dan Noah masih bisa mengobrol seperti seorang sahabat.


Dengan mengalami kehidupan yang begitu panjang membuat mereka sering membahas hal yang tidak pernah mereka pikirkan. Mulai dari bagaimana Noah bercerita tentang perjalanan sebagai musafir atau projek lukisannya. Bahkan lama kelamaan juga Noah mulai jarang membahas tentang Leila-nya.


Hingga pembicaraan mereka harus lebih tertutup dan Noah menyarankannya mereka untuk mengobrol di kamarnya saja. Seperti yang Noah katakan. Leila dibawa secara paksa ke kamar Noah dengan sihir teleportasinya. Bisakah ini disebut paksaan jika Leila tidak merasa keberatan?


"Katakan."


Noah tahu jika Leila akan mengatakan hal yang sangat sensitif. Entah ini tentang Tanah Suci atau pun mengenai dirinya hari ini.

__ADS_1


"Yahh, kau tahu. Sepertinya aku tidak bisa menggunakan kekuatanku lagi."


Noah mengangkat salah satu alisnya dengan ekspresi penuh tanda tanya. Noah mendengarkan, tapi dia masih belum sepenuhnya paham.


"Yahh...." Leila mengusap tengkuknya dengan gugup. "Ini mengenai hari ini dan juga aku bisa sakit seperti si kembar."


"Maksudmu?"


"Mungkin aku akan memberatkatkanmu untuk kedepannya. Aku harus makan dan minum mulai hari ini seperti semua orang kebanyakan."


"Kenapa?" Semakin Noah dengar semakin membuat pria itu penasaran.


"Yah, ini ada hubungannya dengan masa hukumaku. Aku tidak bisa menggunakan kekuatanku dan membuatku hidup seperti manusia pada umumnya selama satu tahun penuh." Leila masih mengusap tengkuknya tak berani menatap Noah.


"Bagus!"


"Hah?!"


Leila menatap Noah penuh kebingungan atas kebahagiaannya yang terlihat jelas. Mungkin bagus untuk Noah, tapi Leila tidak bisa mudah berkunjung ke Tanah Suci dan Katedral.


Noah yang tidak bisa menahan kebahagiaannya memeluk Leila dan membawa wanita itu lebih dalam ke dekapannya. "Aku senang kau bisa merasakan hidup lebih baik lagi, Leila."


Noah ada benarnya. Dia bisa hidup lebih nyaman juga dengan cara ini.


Perlahan tangan Leila terangkat dan membalas pelukan pria yang lebih tinggi darinya itu. Seandainya saja jika tinggi badannya kembali mungkin dia setidaknya setinggi dagu Noah.


"Kau benar, seharusnya aku bersyukur. Terima kasih sudah mengingatkanku, Noah."


"Apa pun untukmu, Leila." Ucap Noah merasa senang akhirnya Leila tidak bisa lari darinya lagi. Bahkan mengunjungi pendeta itu. Noah tidak menyukainya.


Bahkan dengan aura yang dia keluarkan tidak mengenakkan. Leila tidak bisa merasakan. Noah bersyukur Leila menjadi manusia pada umumnya.


"Uhm, Noah."


"Sudah ya pelukannya." Mendapat diamnya Noah membuat Leila bersuara lagi. "Mungkin sedikit lebih lama tak apa." Mendapatkan pelukan lebih dalam dan suara gemas yang Noah keluar membuat Leila cukup terhibur.


Setelah mengetahui kondisi Leila. Noah memutuskan untuk Leila tidak banyak melakukan pekerjaan dan lebih baik wanita itu menemaninya saja selama sisa hari perburuan ini. Hanya tersisa dua hari lagi dan Leila akan benar-benar hanya akan ada untuknya seorang.


Leila yang tak mempermasalahkannya karena itu sangat menguntungkannya. Leila tidak bisa membayangkan seberapa nanti dia capek. Noah sangat membantunya. Setidaknya kekuatan jangan-jangan juga dinonaktifkan. Kekuatan itu sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari.


"Hei, apa menurutmu ini tidak terlalu sunyi?" Bisik Leila ditengah pelukan Noah yang terasa sangat posesif sekali. Tak terasa hari sudah malam dan rasanya malam ini sangat berbeda.


Noah yang awalnya tak menyadarinya jika bukan karena Leila. Benar, malam ini terlalu sunyi. Seharusnya setidaknya ada sedikit keramaian ditengah persiapan kembang api besok.


"Kau benar. Biar aku periksa sebenarnya."


Tapi, Noah diam ditempat dan bisa Leila kira jika Noah menyebarkan mana sihirnya dan membiarkannya berkelana diluar kamar. Tapi, hal yang tidak Noah duga adalah adanya sebuah penghalang yang membatasi kekuatannya.


Leila yang melihat kerutan di wajah Noah bertanya, "Kenapa?"


"Sesuatu menghalangi penglihatanku."


"Apa?"


"Sesuatu yang dengan energi besar, kasar, dan terasa menjijikkan menghalangi pandanganku dari luar kamar ini."


"Apa?!"


"Kau tenang saja. Aku akan keluar dan melihatnya. Sebaiknya kau tetap di disini saja."


"Tidak, aku bisa—"


"Bisa apa? Kau tidak membantu sama sekali nanti. Dengar, aku mengkhawatirkanmu."


"Cih! Aku benci jadi lemah."

__ADS_1


"Aku juga dan aku tidak ingin kau terluka."


"Hanya aku aja nih yang terluka. Kau tidak mengkhawatirkan si kembar?"


"Kau lupa kekuatan mereka?"


"... Lupakan, kekuatan mereka tidak masuk akal sama sekali. Cih! Sial*n! Gen darimu itu terlalu kuat!"


"Terima kasih."


"Itu bukan pujian!!!"


"Aku anggap begitu, sayang."


"Idih najis!"


"Menurutlah, tetap disini. Jika sesuatu terjadi aku akan membawamu pergi."


Leila tidak bisa berhenti merinding melihat tingkah Noah yang sangat berbeda. Memang dia pernah menjalin suatu hubungan, tapi tidak sampai punya pasangan seperti Noah. Akan tetapi, keputusan itu membuat Noah menyesal seumur hidupnya.


"LEILAAAA!!!!"


Noah melihat wanita itu tergenang bersimbah darah tanpa sebab. Ditengah reruntuhan bekas terbakar dengan derasnya hujan membuat semua orang berhasil terbeku diam. Pemandangan ini bukan apa yang Noah ingin lihat. Semua rencana yang dia susun selama setahun kedepan hanya untuk Leila, tidak berguna sama sekali sekarang.


Didetik cahaya dimatanya sebelum menghilang Leila menatap apa yang tidak bisa Noah lihat di depan matanya. Sesuatu, sesuatu yang Leila sumpah serapahi membuat Noah berhasil bergedik ngeri.


"Kau... Dewa sial*n! Aku, akan... Membunuhmu. Lihat saja nanti!"


Tidak ada musuh dari negara lain yang menyerang. Akan tetapi, makhluk yang tidak bisa semua orang lihat menyerang Leila.


Jika apa yang Leila katakan adalah menjadi manusia adalah hukumannya, maka seseorang pasti tahu masa dimana Leila melemah dan orang itu tidak lain tidak bukan adalah sesosok yang memberikan berkat kepada Leila. Sesosok yang memiliki derajat lebih tinggi dari pada .


Ding!


Bahkan sebelum Leila benar-benar menghembuskan napas terakhirnya. Pemberitahuan itu datang dan belum sempat dia baca.


[‼️ SELAMAT ‼️]


[ANDA MENDAPATKAN JULUKAN BARU MULAI SEKARANG.]


[SEORANG PENULIS YANG DIBUNUH OLEH PROTAGONIS KESAYANGAN BERHASIL MENDAPATKAN JULUKAN .]


Gumpalan asap hitam dengan mata merah menyala itu mengucapkan sesuatu yang bisa di dengar oleh Noah.


"Misi selesai, bunuh ."


Bahasa yang sama sekali tidak Noah mengerti membuatnya kesal. Hingga si kembar berkata jika semua ini kesalahan dari anak angkat Count Grey.


Noah hanya meninggalkannya sebentar, dan Leila pergi untuk selamanya.


Bukankah takdir terlalu kejam padanya.


Baru saja Noah merasa sangat bahagia dan sekejap mata takdir merebut kebahagiaannya.


.


.


.


👀👀👀


Makasih ya udah mau singgah dan baca MILA ^^


See you next chapter guy's 👋😽

__ADS_1


__ADS_2