
"Kali ini apa lagi coba?"
Leila baru saja selesai menyajikan makan malam ke kamar si kembar dan karena lelah setelah menggunakan sihirnya dikawasan Hutan Berkabut. Benar, Ryuu memanggilnya tadi. Tepat setelah keluar dari ruangan Noah.
"Duke memanggilmu," ketus Harry yang tidak senang harus menyampaikannya.
"Baik."
Leila terlalu lelah setelah melakukan tugasnya sebagai Penjaga, meskipun tugasnya tak sebanyak dulu karena Ryuu mengambil beberapa tugas sebagai latihan.
Sekarang dia berada di depan pintu bercat putih. Ini bukan kantor Noah, tapi kamar pria menyebalkan itu. Leila menatap tidak suka pintu putih yang menyebabkan punggungnya kesakitan seharian itu. Profesinya akan segera berganti menjadi tukang pijat sepertinya.
Leila mengetuk pintu putih itu tiga kali dan lekas mendorongnya karena ingin hari ini lekas berakhir dan dia bisa kembali ke Hutan Berkabut menyelesaikan tugasnya kembali.
"Duke saya—"
Leila bisa melihat aura kuning keemasan seperti aurora berkeliaran diudara. Meliuk seperti aliran sungai dan bersinar seperti serbuk emas yang berterbangan dimana-mana.
"KAU!"
Leila bisa melihat semua pemandangan indah ini muncul dari tangan Noah. Dengan kimononya yang dia pakai setelah mandi dan beberapa helai rambut yang masih basah bisa Leila lihat diantara remang-remang cahaya. Leila tidak tahu harus merespon seperti apa, tapi ini pemandangan indah—meskipun lebih indah saat dia berada di Tanah Suci.
Noah lekas menyapu tangannya dan menghilangkan semua aura sihir yang baru saja dia keluarkan. Seharusnya seseorang mengetuk pintunya terlebih dahulu.
"BERANINYA KAU—"
"Anda juga bisa melakukannya?"
"Huh?" Noah menatap heran Leila yang seperti bisa melakukan seperti apa yang baru saja diperbuat.
Leila lekas menutup pintu dan dalam sekejap mata dia sudah di depan Noah. Menggenggam kedua tangan pria itu dengan menatapnya penuh binar. Karena Leila lebih pendek dari Noah membuat wanita itu harus mendongak.
"Wow! Anda juga bisa sihir! Hebat!" Seru Leila yang tidak bisa menahan rasa kagumnya.
"Apa maksudmu?"
Noah yang semakin tidak mengerti akhirnya Leila menggunakan kekuatannya seperti membuat pelindung disekitar mereka berdua.
"I-ini...." Noah tidak bisa menahan keterkejutannya. Jelas sekali dari warna dan lapisan sihir pelindung ini sangatlah kuat. Pelindung sihir yang Leila ciptakan berwarna biru sama seperti warna netranya, biru azure.
Sekarang dia tahu siapa dalang dibalik guncangnya mansion kemarin. Noah bisa melihat lingkaran sihir yang sangat luas itu dan dalam sekejap mata itu menghilang seperti kemunculannya yang tiba-tiba.
"Duke Anda seorang penyihir iya, kan?! Kan?! Kan?!" Leila berseru dengan semangat. Pemandangan tadi sangat menakjubkan. Meskipun dia sering melihat penyihir tidak seindah milik Noah.
"Leila, ini—"
"Wow! Warna aura Anda sama seperti milik Ryuu."
Setelah memperlihatkan keahliannya. Leila yang mendapat notifikasi dari sistem yang menjengkelkan itu, tapi Leila memilih mengabaikannya. Lagi pula dia hanya memperlihatkan keahliannya sedikit dan masa bodoh dengan pinalti yang akan dia dapat nanti.
"Siapa Ryuu?"
Dari namanya itu jelas nama seorang laki-laki dan sepertinya Leila mengenal orang yang memiliki perjanjian dengan Naga Putih Agung sama sepertinya.
__ADS_1
"Ah, umm... Itu, itu... Seorang teman. Ya seorang teman, Duke!"
"Teman?" Wajah Noah semakin mendekat dengan kedua tangannya yang masih digenggam oleh Leila.
"Y-ya."
"Seorang teman, hm?"
Noah menatap lekat Leila yang berhasil membuat wanita itu merasa tidak nyaman. Dengan kedua tangannya masih menggenggam tangan Noah, Leila tidak tahan dan mengatakannya, "Ugh! Dia anak asuh saya, puas!"
"Anak asuh?!" Noah membelalakkan tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar, "Berapa umurmu?" Tanya Noah dengan menyipitkan matanya merasa ada yang aneh disini.
"Huh?" Leila menatap Noah kebingungan.
"Apa kau seorang penyihir dari menara atau gereja? JAWAB!"
"I-itu...." Leila yang ingin melepas genggamannya malah sekarang berbalik Noah yang menggenggam tangannya agar tidak melarikan diri.
"Jawab aku! Apa kau mata-mata?!"
"I-itu... Saya, saya...." Leila benar-benar ingin menangis sekarang. Noah terlihat sangat menakutkan sekarang dengan surai hitam legamnya yang turun menutupi sebagian pandangan pria itu dengan kedua netra kuning keemasan yang menatap dirinya tajam. Matanya sama persis seperti milik Penjaga terdahulu. Orang yang memberikan Ryuu padanya sebelum menceburkan diri ke danau.
"T-Tuan, tidak saya, saya melakukan apa yang Anda minta. Saya, saya melakukannya. Saya menjadi Penjaga seperti yang Anda mau. Saya, saya—" Leila terus mengoceh apa yang tidak Noah ketahui. Leila seperti melihat orang yang baru saja bangun dari kematiannya. Noah mengernyit melihat Leila seperti orang gila dan mengatakan semuanya.
"Melakukan apa yang Anda minta. Telur itu... Sudah menetas dia masih, masih rema—"
"LEILA! SADARLAH!" Bentak Noah yang membuat Leila berhasil berhenti mengatakan sesuatu yang semakin tidak Noah mengerti.
Ekspresi ketakutannya masih terlihat di sana. Matanya yang kemerahan menandakan wanita itu ingin menangis.
"Duduklah," tutur Noah menuntun Leila untuk duduk di pinggir kasur. Leila yang masih lemas menurut dan mengusap-usap kedua tangannya dengan gusar.
"Leila, apa kau diutus seseorang mengawasiku?" Tanya Noah dengan suara lembut sekarang.
Leila yang menunduk tidak berani menatap wajah pria yang matanya membuatnya mengingat kenangan pahit setelah seminggu berada di hutan, "Tidak."
"Berapa usiamu?"
Leila sama sekali enggan untuk menjawabnya.
"Siapa Ryuu? Bagaimana bisa dia memiliki aura yang sama sepertiku?"
"... Maaf, saya tidak bisa menjawab, Duke."
"Kenapa?" Mendapati diamnya Leila, Noah bertanya lagi, "Baik, bagaimana kau bisa menggunakan sihir? Bukankah seharusnya kau mendaftarkan diri ke menara atau pergi ke gereja?"
Leila tahu tentang itu. Lagi pula dirinya lah yang menulis semua informasi itu. Tapi, bukankah dia ini masih seorang Penjaga. Bahkan keluar dari Hutan Berkabut saja bisa dihitung puluhan kali saja, "... Saya sibuk."
"Menjadi Penjaga?" Meskipun Noah tidak tahu pasti maksud dari 'Penjaga' yang dimaksud Leila.
"Y-ya."
"Baik, pertanyaan terakhir. Kenapa kau tinggalkan tepat di depan Hutan Berkabut?" Mendapati diamnya Leila membuat Noah mulai frustasi, "Tolong jawab aku Leila. Aku butuh informasi anak bernama Ryuu itu."
__ADS_1
Andai saja kau tahu seberapa besar tubuh Ryuu dan kau masih memanggilnya menganggap seorang anak kecil.
"Kenapa?" Tanya Leila yang merasa heran seseorang bertanya tentang tempat yang sangat jarang diketahui oleh banyak orang.
"Apa kau tahu legenda Penjaga Tanah Suci?" Tanyanya sembari melihat ekspresi Leila akan berikan.
"Ya."
Melihat Leila berekspresi biasa saja sepertinya tak apa memberitahu informasi ini. Meskipun hanya sebuah cerita lama, "Dia seekor naga dan dia adalah mahluk mulia yang masih berhubungan dengan Dewa. Seseorang yang membuat perjanjian dengan Penjaga Tanah Suci akan memiliki kekuatan yang sama seperti dia."
"Jadi...?" Tentu saja Leila sudah tahu yang dimaksud Noah, tapi tetap saja kenapa seseorang sepertinya tahu keberadaan tempat itu. Lagi pula Leila yakin tempat itu sudah lama dilupakan dan hanya dijadikan karangan anak-anak saja.
"Yah, aku pikir aku sama seperti anak bernama Ryuu itu."
"Tidak mungkin," dengan tubuh manusia yang mempunyai dua kaki dan tidak berbulu. Mana mungkin Noah sama seperti Ryuu yang seperti burung merpati itu.
"Tidak? Kenapa bisa tidak?" Noah mengangkat kedua alisnya.
"Duke manusia, sedangkan Ryuu seekor naga," menatap dari atas ke bawah tubuh Noah yang terlihat jelas dia manusia normal tanpa menumbuhkan tambahan tanduk atau sayap.
"Oh, naga. Tunggu, APA?!" Noah tak bisa menahan matanya yang membulat sempurna.
"Apa Anda yang membuat Penjaga terdahulu mati?" Tanya Leila yang mengingat dari informasi dari penghuni Tanah Suci jika sekelompok manusia berhasil masuk dan menembus dimensi yang itu buat.
"Maksudmu?"
Leila menceritakan semuanya saat pertama kali dia melihat keadaan Penjaga terdahulu sekarat dan memberikan sebuah telur hitam sebelum dia menenggelamkan dirinya ke dalam danau.
"Tapi, itu tidak mungkin. Itu sudah beribu tahun yang lalu. Tapi, mungkin saja ada kemungkinan kecil jika kau adalah reinkarnasinya yang memiliki kenangan ribuan tahun yang lalu," gerutu Leila memikirkan kemungkinan fiksi yang bisa menjadi kenyataan disini.
"Tunggu sebentar. Jadi umurmu?"
"3000 tahun mungkin? Sudah lama saya tak menghitungnya."
"K-kau—"
"Ingin melaporkan saya menara atau ke gereja?" Melirik Noah yang masih mencegahnya pergi dari kamar ini.
Leila tahu bagaimana nasibnya jika dia berada disalah satu tempat itu. Jika dia berada di menara, maka dia akan dipaksa dikuras habis inti sihirnya untuk membuat dinding pelindung yang menyelubungi wilayah kerajaan, dan menjadi pengamat diseluruh wilayah kerajaan.
Sedangkan untuk di gereja, dia pasti akan menjadi saintess dan ditutup matanya dengan kain hitam. Menjadi gadis suci yang tidak boleh sekali pun keluar. Berbicara tentang suara Dewa yang dia dengar atau apalah.
Leila tidak berniat berakhir di dua tempat itu. Terlebih jika mereka mengetahui usia Leila sekarang. Dia hanya ingin hidup tenang dan melihat alur ceritanya berjalan sesuai yang dia inginkan.
.
.
.
Btw, kalau kalian jadi Noah bakal lapor atau engga 👀?
See you next chapter guys 👋😽
__ADS_1