MIMPI LEILA: Tiga Kemungkinan

MIMPI LEILA: Tiga Kemungkinan
BAB 17 : AKU MENANGKAPMU


__ADS_3

Leila mendapatkan kabar dari Rion tentang bukunya yang baru-baru ini mulai diperbincangkan oleh orang-orang. Mungkin cerita bergenre fantasi tidak bisa disebut fiksi lagi ya sekarang. Malah cerita berlatar itu modern bisa mereka sebut fiksi. Yang mana ada pesawat sama handphone disini.


"Kenapa Leila?" Tanya Adrian yang menyadari diamnya Leila yang cukup terbilang lama.


"Umm, hanya memikirkan buku baru, itu saja." Jawab Leila yang tak berbohong sama sekali.


"Ohh, kenapa? Bukankah responnya bagus?"


Leila menatap Adrian yang duduk disampingnya, sedang membaca salah satu buku yang dia ambil dari salah satu rak di perpustakaan.


"Yah, hanya saja aku memikirkan cerita lainnya saat ini."


S-secepat itu?!, batin Adrian yang tak percaya karena Leila yang dia ketahui sudah membuat beberapa cerita meskipun hanya garis besarnya saja. Tapi, tetap saja seberapa cepat wanita ini bisa menemukan ide.


Leila mendesah paruh, "Apa kau tidak ingin melihat saudaramu?" Tanya Leila yang dengan nada ramah. Mungkin jika ada Harry disini Leila akan lekas bangkit dan berdiri, mengambil jarak ke belakang dari Adrian.


Bisa-bisanya seorang pelayan duduk di samping Tuannya, itu yang Leila pikirkan sekarang.


Akan tetapi, dengan sikap keras kepala Adrian yang sulit sekali dia lawan ditambah wajah imut yang tidak sengaja dia buat. Leila berhasil luluh dan menuruti semua permintaan si kembar hasilnya. Beruntungnya selama dalam pengasuhannya. Si kembar tidak pernah sakit malah semakin menjadi menurut Leila.


Adrian membalikkan satu lembar halaman dari bukunya, "Atlas pasti sedang menikmati masa hukumannya."


Leila ingat sekarang. Saat dia tengah mengantar Atlas untuk kelas berpedangnya. Instrukturnya memberi hukuman untuk memutari lapangan tempat pelatihan kuda liar yang tidak tanggung-tanggung luasnya dan juga menyuruh Atlas untuk mengayunkan pedang kayu sebanyak dua ratus kali sebelum matahari terbenam.


Leila yang ingin mengatakan keberatannya seketika dia urungkan karena melihat wajah berseri Atlas yang seperti bisa dikatakan senang atau sengsara. Leila tidak tahu.


"Kau tidak boleh seperti itu kepada saudaramu sendiri, Adrian."


"Tapi, kenyataannya begitu kok."


"Ya, engga salah juga, sih."


Adrian mengangguk setuju dengan apa yang Leila ucapkan. Perpustakaan besar—bisa dikatakan mereka sedang bersembunyi dari Harry—di ruang rahasia yang ada di dalam perpustakaan. Disalah satu sudut perpustakaan ini ada pintu rahasia yang tidak sengaja Adrian temukan dan dijadikan tempat rahasia dia jika ingin melarikan diri dari celotehan para pelayan yang menyuruh untuk tepat waktu ini itu lah.


"Apa kau tidak lapar? Tidak haus?" Tanya Leila karena disini cukup senyap.


"Tidak," jawabnya singkat sembari membalikkan satu lembar lagi.


Leila sekarang sedang bertanya-tanya bagaimana Atlas dan Arden dikelasnya. Jangan tanyakan bagaimana kelas Adrian. Gurunya tertekan mendapatkan muridnya seperti dia. Lebih baik berikan saja dia buku dan biarkan Leila disampingnya. Adrian sudah merasa cukup.


"Kenapa dia perlu seorang guru jika guru terbaik berada disampaikan." Itu yang Adrian selalu katakan karena memang kenyataannya seperti itu. Menurutnya, Leila itu perpustakaan berjalan. Semua yang dari yang rumit hingga sederhana dia ketahui.


Padahal masih hari pertama dan Adrian sudah menanyakan pertanyaan seorang sarjana saja. Mungkin gen otak dari Noah terlalu dominan di Adrian.


Adrian ingat disaat masa awal mereka tinggal di pondok. Leila dengan sabar menjawab semua pernyataannya. Bahkan memperlihatkan secara nyata di depan mata mereka. Tumbuhan magis yang ada di dalam buku yang sudah punah bisa Leila tunjukkan dan juga semua ilmu perhitungan juga terdengar lebih sederhana dari yang dia bayangkan.


Mungkin jika dunia tahu Leila, gelar orang genius abad ini akan disandang oleh Leila, batin Adrian yang mengingat wajah menyebalkan orang tua biologisnya itu. Melihatnya saja sudah membuatnya kesal.


Argh! Menyingkirkan kau dari pikiranku Pak Tua!, batin Adrian menghapus bayangan Noah dari pikirannya dengan cara menggelengkan kepalanya.


"Leila, apa menurutmu dongeng yang selalu kau bawakan sebelum kami tidur itu nyata?"


Pertanyaan yang Adrian lontarkan tiba-tiba berhasil membuat Leila tertegun sesaat, "Mungkin iya dan mungkin juga tidak."


"Aku butuh kepastian."


"Hehe, Adrian," Leila menatap anak asuhnya itu. Menatap jauh dalam netra emerald yang begitu memukau untuknya, "Kau terlalu muda untuk berpikir sejauh itu."

__ADS_1


"Tapi, Leila juga masih muda juga, kan?"


"Bagaimana jika aku mengatakan aku berumur lebih dari yang terlihat. Apa kau akan percaya?"


Adrian terdiam sesaat dan melihat dari bawah ke atas tubuh Leila. Ingatkan kembali dia jika Leila itu adalah seorang Penjaga.


"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini."


"Benar sekali. Jadi, mau keluar menikmati sinar matahari?"


Adrian mengerutkan keningnya tidak suka. Anak satu ini tidak suka berjemur.


"Ayo Adrian, apa kau ingin pendek terus sepanjang sisa hidupmu?"


"Tidak!" Seru Adrian menolak untuk pendek. Seketika bayangan dua pria yang serupa sepertinya tengah mengapit dirinya ditengah-tengah, "Ugh! Aku menolak itu terjadi! Leila temani aku berjemur sekarang juga!"


Adrian lekas menutup bukunya dan meninggalkan Leila yang tidak bisa menahan gelak tawanya melihat Adrian sepertinya mulai sadar tentang tubuhnya.


"Jangan lari di lorong!"


Tentu saja Adrian tidak mendengarkan dan saat dia berada ditangga menuju ke luar dia tersandung. Leila yang menyadari itu lekas berpindah tempat dalam kedipan mata dan menangkap Adrian dari bawa. Melihat Leila ingin menangkapnya Adrian merentangkan kedua tangannya siap mendapat pelukan hangat dari wanita yang sangat berarti dalam hidupnya.


Aura keemasan yang Leila keluarkan dalam kemunculan tidak biasa dalam sekejap hilang begitu saja. Leila bahkan membuat lingkaran sihir yang sangat besar tanpa sengaja. Mungkin mencakup seluruh mansion karena khawatir tidak bisa menangkap Adrian tepat waktu.


Ding!


[‼️️PERINGATAN‼️]


Masa bodoh dengan pelanggaran itu! Selama bayi-bayiku tidak aman aku akan terus melanggar!, batin Leila mencerca bidang datar yang tiba-tiba muncul memperingatinya.


Leila mengelus punggung Adrian sembari berkata, "Aku menangkapmu, Adrian."


Adrian pikir dia akan terluka. Mungkin hanya sedikit bocor dikepalanya, tapi Leila berhasil menangkapnya lagi.


Iya, lagi.


Saat dirinya berada di pinggir pondok yang tanpa dia ketahui salah satu pohon dia sana tumbang dan hampir saja menimpa Adrian jika Arden tidak berteriak histeris memanggilnya.


"ADRIAN!"


Menyadari itu tentu saja Leila lekas mengambil tindakan tanpa berpikir panjang. Kekuatan diatas rata-rata seorang manusia. Energi sihir yang begitu besar berhasil menangkap Adrian didetik-detik terakhirnya sebelum pohon besar itu menimpa Adrian.


"Aku berhasil menangkapmu, Adrian."


Kalimat yang sama berhasil menenangkannya. Beruntungnya tidak ada yang menyadari tindakan Leila yang begitu cepat yang membuat siapa pun melihatnya pasti perlu mengerjap beberapa kali.


"Kau bisa?" Tanya Leila mengenai Adrian apa dia sudah tenang dan bisa berdiri.


Adrian mengangguk dengan ragu.


"Aku gendong saja."


"T-tidak! Aku kan ingin—"


"Baik."


Leila menurunkan Adrian dengan perlahan dan mengecek keadaan Adrian lebih pasti. Tidak ada yang luka sama sekali.

__ADS_1


"Bagaimana jika kita melihat Atlas?"


Adrian seketika bisa membayangkan betapa gilanya saudaranya satu ini. Bisa katakan Adrian gila adalah Atlas. Jika menyadari Leila berkunjung dia akan menghentikan latihannya dan berlari dengan penuh keringat yang bau untuk minta dipeluk.


Tidak akan aku biarkan Atlas memeluk Leila dalan keadaan seperti itu! Tidak akan pernah!, batin Adrian dengan penuh percaya diri.


Leila yang tidak mengetahui pikiran Adrian, tapi melihat isi pemikiran dan bunyi notifikasi menampilkan hukuman apa yang akan dia dapatkan jika sudah memenuhi batas pelanggaran yang sudah diberikan.


"Bagaimana jika melihat Arden? Kau bisa membantu Arden dengan tugas rumahnya." Tawar Leila yang sekarang sedang bertatap muka dengan Adrian.


"Tidak, itu pekerjaannya. Aku yakin dia bisa mengerjakannya."


Lagi pula memikirkan bagaimana jika Arden sangat marah di rumah wanita terkutuk itu saja sudah berhasil membuat Adrian bergedik ngeri. Jika saja Leila tidak datang saat itu entah apa yang akan terjadi jika wanita yang harus dia panggil bibi itu menusuknya dengan besi panas itu.


"Baiklah, jadi kita tetap melanjutkan tujuan awal kita?"


"Ya."


"Baik, tolong tangannya." Leila mengulurkan tangannya ingin Adrian untuk mengandeng tangannya kali ini.


Adrian yang patuh memberikan tangannya dan langsung digenggam Leila. Mereka berdua berjalan bersama diarea sekitar taman yang biasa saja ini. Tidak ada banyak bunga, hanya ada satu bunga jenis bunga mawar saja di taman ini. Melihat taman dia jadi memikirkan Atlas dan Arden yang seperti dihukum karena kemarin bolos kelasnya karena usulan Adrian untuk memanjakan Rakun.


Si kembar sebegitu sayangnya dengan Rakun, ya, pikir Leila karena si kembar jika sudah melihat Rakun mereka akan bermain sampai lupa waktu.


Andai kau tahu yang sebenarnya terjadi, Leila, batin Rakun yang sudah lelah dengan semua cobaan ini.


Kali ini si kembar mengikat Rakun disalah satu batang pohon dengan sebuah apel diatasnya dan satunya membungkam mulutnya.


Slash!


Satu mata pisau melewati Rakun.


"Cih! Meleset!" Gumam Adrian tidak suka.


"Haha, kau kalah Adrian!" Seru Atlas yang menyukai Adrian kalah di depan matanya.


Slash! Slash!


Dua mata pisau Arden lempar tanpa perhitungan sama sekali dan keduanya tepat mengenai apel yang ada diatas Rakun.


"Hee... Sangat mudah. Kenapa Adrian tidak bisa?"


Itu karena kau lebih ahli dari kami bodoh, batin Adrian dan Atlas yang sudah kesal melihat wajah polos Arden yang selalu berhasil membuat mereka berdua kesal, tapi mereka tahan.


Rakun yang yang tidak tahan pingsan saat itu juga dengan mulut yang berkumur tidak tahan dengan siksaan yang diberikan ketiga Iblis Merah ini.


.


.


.


Ngakak Rakun 😭


Makasih ya udah mau singgah dan baca MILA ya ^^


See you next chapter guys 👋😽

__ADS_1


__ADS_2