
Leila menoleh ke samping tepat dimana jendela Noah yang sudah dia tutup memperlihatkan pemandangan langit malam. Yang awalnya rembulan terlihat sempurna terlihat perlahan tertutup oleh awan gelap. Desir angin malam terdengar sangat jelas malam ini. Sepertinya badai akan datang.
"Ini sudah malam dan kau perlu tidur untuk masa pertumbuhanmu," ujar Leila dengan senyum menyebalkan dimata Noah.
"Tutup mulutmu, Leila! Mendengar suaramu saja sudah membuatku kesal."
Untuk kesekian kalinya Noah mendengus tidak suka dan memalingkan wajahnya dari sikap wanita yang baru pertama kalinya membuat kesal sampai sejauh ini.
"Terima kasih, hehe."
"Aku tidak sedang memujimu tahu!"
"Ah, kau pandai sekali menyanjung sama seperti si kembar," Leila memegang sisi wajahnya dengan malu-malu mengingat si kembar yang selalu berhasil membuatnya tersenyum.
"Benarkah? Tunggu! Bukan itu maksudku jangan mengalihkan pembicaraan, Leila! Yang pasti aku lebih tua darimu!"
Melihat penolakan Noah membuat Leila sangat gemas dan mengingatkannya kepada Arden sewaktu dia selalu berusaha bertanya mengenai tanaman unik yang sebenarnya sangat beracun.
"Dan dari mana aku harus mempercayainya coba?"
"Aku...." Noah menatap Leila dengan hati-hati. Tidak ada salahnya dia mengatakan tentang rahasia terbesarnya kepada orang sepertinya, bukan, "Apa kau ingat dongeng pengantar tidur yang kau bawakan kepada si kembar?"
"Yang mana? Aku bercerita banyak hal?"
"Yang tentang kerajaan ini sebelum terbentuk."
Sekarang Leila ingat, "Oh ya, pahlawan itu sama teman seperjuangan itu, kenapa?"
"Tokoh yang diberi hukuman itu apa kau ingat?"
"Yang jadi pengkhianat itu, kenapa?"
Entah kenapa dari belakang serasa sebuah panah baru saja menusuk jantungnya. Meskipun Noah tahu, tapi Leila mengatakannya begitu santainya.
"... Itu aku."
"Hah?"
"Itu aku. Aku , seorang pemimpin yang sebaliknya mereka menuduhku dan mengkhianatiku," ujar Noah mengingat kenangan dimasa lalu yang membuatnya bernostalgia sebentar mengingat bagaimana mereka menghabiskan waktu di depan api unggun, "Aku mengasingkan diri ke tempat terpencil dan membuat dinding pelindung hingga akhir hayat sampai satu pasukan besar menyerang wilayahku, dan itu adalah Raja pertama Everuz. Mantan teman seperjuanganku."
"T-tunggu, apa?! Tidak mungkin!" Pekik Leila sampai wanita itu bangkit dari duduknya menatap Noah seakan tidak percaya apa yang baru saja dia katakan. Tapi, semua yang dia katakan ini nyata.
Melihat tatapan Noah yang sama sekali tidak goyah dan terus menceritakannya membuat Leila mulai perlahan percaya.
"Sebelum aku mati aku menggunakan sihir terlarang yang mengikat jiwaku dan membuatku bereinkarnasi sampai akhir dunia ini, mungkin?"
"K-kau berarti...." Leila menatap horor pria yang masih melamun mengingat kenangan masa lalu sembari mengatakan masa lalunya. Tentu saja berhasil membuat detak jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.
Jika apa yang dikatakan oleh Noah itu benar, maka Leila tidak bisa membayangkan apa yang sudah pria itu lalui hingga sampai sejauh ini.
"Aku lahir dan mati bisa ku hitung ribuan kali."
"Hentikan...." Suara Leila yang gemetar bisa Noah dengar di kamar yang hanya berisikan mereka berdua saja.
Telinga Noah seakan tuli untuk menit itu juga. Lelaki itu terus mengatakan apa yang selama ini tahan, "Karena gadis kecil bernama Leila, yang berwujud transparan, yang selalu hadir dimalam musim panas membuatku berhasil bertahan sampai sejauh ini."
Deg!
Leila sekarang merasa dunia ini bukan lagi apa yang dia tulis. Ini jauh lebih dari apa yang dia tulis sebenarnya.
Tangannya yang sedikit gemetar bisa Noah lihat. Sepertinya wanita yang masih syok ini menatap Noah dengan tidak percaya.
"Leila?" Rasanya agak aneh menyebut nama yang sama sepertinya.
"Ya, aku hidup untuk menemukan dia, karena jika aku pikir wujudnya yang selalu hadir di malam musim panas adalah berbentuk roh dan raganya pasti ada di dunia ini," lirih Noah yang merasa orang tergila di dunia ini, karena hanya seorang anak kecil yang suka sekali mengusiknya dia rela melakukannya sampai sejauh ini.
Masih Noah ingat untuk pertama kalinya dia bermimpi selain tentang masa lalunya. Noah yang duduk di dekat jendela dengan menatap bulan melihat bagaimana gadis kecil itu tumbuh menjadi wanita dewasa dengan penampilan yang sangat mengkhawatirkan.
Keheningan mengisi kekosongan diantara mereka berdua. Leila menatap tidak percaya Noah. Sedangkan Noah menundukkan kepalanya untuk mengingat sisa kenangan malam itu.
"Tunggu sebentar, jangan-jangan... Kau mengira aku ini Leila."
"Maaf...."
Permintaan maaf yang lirih yang seakan berbisik itu bisa Leila dengar ditengah kesunyian ini.
"Hahh... Tapi, aku bukan Leila yang kau maksud itu." Ucap Leila dengan menggosok sisi sikunya merasa bersalah untuk Noah berharap untuk orang yang sama disini.
"Tapi, jiwamu." Noah mengangkat kepalanya menatap Leila yang memiliki fitur wajah yang sama seperti mimpinya dengan penampilan yang lebih baik tentunya, "Kau memilikinya paling banyak dan terang dari semua wanita bersurai merah yang pernah aku temui."
__ADS_1
"Tapi, aku bukan dia," jujur, Leila tidak menyukai Noah menyamakan dirinya dengan Leila-nya.
"Aku ingat. Gadis itu selalu hadir dengan surai hitam legamnya sama seperti aku miliki sekarang. Akan tetapi, dia berkata jika dia mempunyai surai merah, sama seperti milik ayahnya. Jadi, selama sepanjang hidupku, aku terus mencari ciri-ciri itu. Hanya itu yang aku informasi yang aku punya," ucap Noah yang semakin lirih diakhir.
Tidak ada kalimat yang cocok untuk Noah selain, "Aku kagum padamu."
Seandainya dia bisa seberuntung Leila yang Noah maksud, maka dia akan menjadi wanita paling bahagia yang ada di dunia ini, Leila jamin. Lagi pula ketekunannya dalam mencari Leila-nya membuatnya berhasil tersentuh.
"Ya, meskipun namaku sama seperti gadis yang kau cari selama ini. Jika aku berhasil menemukan gadis yang kau maksud, aku akan membawanya kemari dan memberitahumu," ucap Leila sembari menggaruk belakang lehernya yang sama sekali tidak terasa gatal itu. Kegugupan, rasa iri, dan juga takjub menjadi satu.
Leila pikir pria seperti Noah hanya ada di fiksi saja, tapi dia benar-benar ada.
"Terima kasih, Leila," ucapan rasa terima kasih yang tulus membuat Leila tertegun. Melihat bagaimana senyuman tipis itu berhasil menggetarkan hatinya untuk sejenak.
Leila mengutuk dirinya sendiri untuk memendam rasa kagum itu jauh dilubuk hatinya. Dia takut, dia takut jika rasa kagum ini akan mulai berubah menjadi hal yang ingin sekali dia cegah.
Rasa jatuh cinta.
Rasanya Leila mulai lupa bagaimana perasaan itu.
"Hei, sesama orang yang sudah hidup panjang ini kita harus saling membantu. Oh maaf, aku saja sih yang hidup panjang disini kau sudah mati berkali-kali, hahahaha."
Gelak tawanya yang berhasil mencairkan suasana membuat mereka berdua merasa lebih baik.
"Aku tarik ucapanku kalau kau orang baik."
"Makasih loh, aku tersanjung."
"Wanita menyebalkan."
"Makasih."
"Itu bukan pujian kau tahu!"
"Noah, kau sangat lucu~"
"Berhenti memperlakukan seperti anak kecil!"
"Ayolah, kau ayah si kembar. Sifatmu itu seakan dipecah menjadi tiga bagian dimiliki oleh si kembar."
"Bisakah... Kau menceritakan mereka lebih banyak lagi?" Cicit Noah yang merasa malu untuk memulai pembicaraan tentang si kembar.
"Ini pertama kalinya aku menjadi seorang ayah."
"Hah?! Benarkah?!" Leila menatap Noah dengan rasa tidak percaya.
"Apa wajahku seperti sedang bercanda sekarang?" Menatap kesal Leila yang selalu mempermainkannya.
"Tapi, kau kan sudah hidup lama?"
"Dan kau juga, ingat?"
"Hei, kasusku berbeda. Aku tidak bisa berinteraksi dengan dunia luar. Bahkan keluar Hutan Berkabut bisa dihitung dengan puluhan kali selama 3000 tahun."
"Yah, ini kecelakaan sebenarnya?" Ujar Noah menghempaskan punggungnya merasa lega setelah menceritakan kisahnya untuk pertama kalinya.
"Maksudmu?" Leila bisa melihat Noah memandangi langit-langit kamarnya.
"Aku menikah dengan Rumi Seena karena dia memiliki ciri-ciri yang sangat persis seperti Leila dan Hahh...."
"Kenapa kau menghela napas?"
Noah mengalihkan pandangannya kini menatap pemandangan yang paling menarik di kamar ini, "Jika bukan karena bocah kurang kasih sayang itu. Mungkin kecelakaan itu tidak akan terjadi."
"Jadi, maksudmu?"
Noah mulai merasa kesal dengan Leila berpura-pura tidak paham disini, "Saat itu pesta perayaan yang diadakan, Calix. Dia terus memberiku alkohol dan membawaku ke kamar yang di mana sudah ada Rumi yang dalam keadaan mabuk juga, dan—"
"Berhenti! Aku tau arah pembicaraannya ini kemana," potong Leila dengan bayangan yang hanya bisa dilakukan oleh orang dewasa saja. Wajahnya yang bersemu kemerahan bukan karena mabuk membuat Noah menyeringai, "Aku turut prihatin denganmu tapi, aku ingin memberikan acungan jempol untuk bocah bernama Calix itu."
"Kau seperti senang melihatku sengsara."
"Ohh, tentu! Jelas!" Seru Leila dengan senyum lebarnya.
"Leila."
Cara Noah memanggil namanya bisa membuat Leila candu jika seperti ini terus.
"Apa kau ingat? Kau yang membawaku ke mansion ini dan membuatku terjebak di dua tempat di dunia ini," ucap Leila yang merasa tertekan sebenarnya.
__ADS_1
"Maksudmu?" Kini berganti Noah menatap Leila yang masih setia berdiri menyilang kedua tangannya di depan dada.
"Aku hanya bisa tinggal di manisonmu ini dan Tanah Suci saja. Jika lebih, aku pasti akan kembali kedua tempat ini. Bahkan hanya di hari tertentu saja aku bisa melihat dunia luar," ujar Leila diakhiri desah napas panjang. Memikirkannya saja membuat Leila merasa semakin tertekan.
Setelah pembahasan pribadi yang mereka lontarkan begitu saja dan berakhir dengan saling bertatapan membuat keduanya terkekeh pada akhirnya. Perasaan lega yang merasa rasakan untuk pertama kalinya setelah melihat kehidupan dan kematian datang. Rasanya seperti beban yang ada dipundak merasa lebih terasa ringan sekarang.
"Aneh bukan," Leila menghapus sudut matanya yang berair.
"Tentang?" Tanya Noah setelah mengatur napasnya.
"Tiba-tiba kita bisa mengobrol dengan akrab seperti ini."
"... Kau benar."
Mereka berdua saling mengingatkan kenangan dimasa lalu yang sama begitu pahit dan sulit untuk dilupakan.
"Apa kau tidak lelah?" Tanya Leila karena merasa mereka sudah menghabiskan waktu begitu lama.
"Sedikit."
"Tidurlah," ucap Leila penuh perhatian.
"Kau tidak lelah memangnya?" Kini Noah berganti menatap Leila yang terlihat masih ceria.
"Aku tidak pernah lelah secara fisik." Jawabnya dengan menawarkan mengambilnya baju untuk Noah di lemari.
"Aku meragukannya." Noah duduk sembari menunjuk pakaian tidur yang akan Leila ambil.
"Mungkin terdengar aneh tapi, aku tidak perlu makan. Bahkan sebelum datang ke mansion ini aku hanya pernah meminum teh melatih saja." Leila memberikan pakaian tidur milik Noah yang pria itu terima dengan senang hati.
"Itu gila." Noah sembari menggelengkan kepalanya dan berdiri dibalik pembatasan untuk berganti baju.
"Lebih gila kau." Leila membalikkan tubuhnya agar tidak melihat siluet badan Noah yang tidak bisa dia pungkiri jika sangat bagus.
Tak lama setelah itu Noah keluar dengan pakaian yang lebih pantas. Bagaimana Leila bisa tetap waras dengan kimono yang habis dipakai setelah mandi Noah terus pakai selama obrolan berlangsung.
Beri Leila piala karena tidak pingsan. Setelah beberapa kali tidak sengaja melihat roti sobek pria itu.
Leila bisa mendengar dari balik punggungnya suara lelah Noah. Leila berbalik dan melihat jika pria itu sudah berada diambang batasnya untuk sadar.
"Tidurlah." Leila menata ranjang sama seperti yang dia lakukan kepada si kembar tanpa sadar.
"Kau...?" Noah berjalan mendekati Leila dan mencegah tangan wanita itu untuk mempersiapkan tempat tidurnya, "Kau juga, jangan paksa dirimu."
"Aku harus kembali bekerja," lirih Leila karena merasa volume suaranya lebih besar lagi akan membuat Noah merasa terganggu.
Leila menarik Noah agar segera berbaring, dan tentu saja Noah yang sudah sangat lelah dengan hari ini menerimanya dengan senang hati.
"Jika kau lelah... Berhentilah sejenak, tidak ada salahnya istirahat bentar," lrih Noah dengan diakhir menguap dengan pandangan yang mulai memburam.
"Terima kasih." Leila merasa bersyukur untuk malam yang dia habiskan dengan Noah.
"Selamat malam... Leila."
"Selamat malam Noah, semoga Leila yang kau maksud segera kau temukan." Dengan rasa iri yang sangat ingin Leila sendiri sangkal.
"Aku sangat mengharapkannya."
Leila menepuk selimut Noah agar pria itu lekas menjemput bunga tidurnya.
"Mimpi indah, ."
Sudah sangat lama Noah tidak mendengar julukan itu.
"Mimpi indah juga, ." Balas Noah berakhir dengan menutup matanya dengan ekspresi tenang untuk sekian lamanya. Rasanya malam ini terasa seperti mimpi. Mereka berdua bisa saling mengobrol satu sama lain dengan santai.
.
.
.
Kenapa kalian engga coba jadian aja? Kan kali jodoh gitu (๑¯◡¯๑)
Ngobrol nya nyambung, kelihatan cocok juga...
Kesampingkan kalau Noah adalah seorang duda
Makasih ya udah mau singgah dan baca MILA ^^
__ADS_1
See you next chapter guys 👋😽