MIMPI LEILA: Tiga Kemungkinan

MIMPI LEILA: Tiga Kemungkinan
BAB 38: DESA KILKAST (5)


__ADS_3

Leila akhirnya menemani anak-anak panti asuhan dan salah satu anak berpikir jika Leila adalah seorang donatur yang suster katakan kemarin. Tak menampik juga mereka berpikir mungkin Leila ingin mengadopsi salah satu dari mereka yang masih belia. Tidak seperti Ias yang sebentar lagi memasuki usia remajanya.


"Apa cita-cita kalian?"


Semua anak laki-laki kebanyakan ingin menjadi kesatria dan anak perempuan ingin bisa bekerja di toko ibu kota, tapi banyak sekali yang ingin menjadi penulis tiba-tiba. Sayangnya tidak semudah itu untuk di zaman ini.


Leila ingat kertas beberapa puluh tahun yang lalu sangat malah. Apa lagi dengan tinta khusus yang sangat sering dia pakai. Harganya memang tak jauh beda dengan teh Akasha.


"Kalau aku ingin jadi orang hebat dan kaya raya!" Aria mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Berseru dengan semangat ingin menjadi orang kaya seperti yang dia cita-citakan.


Leila tidak bisa menahan matanya untuk tidak membelalak. Cukup mengejutkan mendengar mimpi Aria kecil yang berbeda dengan apa yang di novel. Aria kecil dalam novel ingin punya toko roti dan dengan alasan kekanak-kanakan Aria ingin bisa makan enak setiap hari.


Itu bukan terakhir Leila berkunjung. Leila terus berkunjung lagi dan lagi hingga dia akrab dengan anak-anak panti dan hingga suatu malam Ias mengikuti Leila dan tanpa sadar terbawa oleh wanita itu ke tempat lain dimana, dimasa depan tempat itu akan menghilang dari peta dunia.


Leila yang mendengar sesuatu yang jatuh dari arah belakangnya menoleh dan mendapati Ias yang jatuh dengan posisi terduduk.


"Kenapa kau ikut terbawa juga?!" gumam Leila tertekan tak ingin membuat kebisingan di tempat asing ini. Bisa-bisa dia tertangkap terlebih dahulu sebelum mencapai tujuannya.


"Dimana? Kenapa kita di sini, Kak?" tanya Ias mencoba menyerap informasi dari sekitarnya. Rasa sakitnya bahkan berhasil teralihkan dengan kondisi lingkungan sekitar yang sangat berbeda dengan Desa Kilkast.


Mereka berdua sekarang berada disebuah lorong bangunan terbuat dari besi dimana sangat suram dan lembab. Ias mencoba bangun dan melihat Leila dalam balutan jubah dengan tudung menutup sebagian wajahnya. Menggerutu tidak jelas dan terlihat dia seperti sakit kepala. Tidak biasanya Leila akan menunjukkan ekspresi seperti ini.


"Kakak sakit?" tanya balik Ias dengan suara kecil tentunya.


Mendengar nada khawatir dengan ekspresi yang Ias mainkan berhasil membuat Leila mengulas senyuman tipis. Dia menyukai ketulusan dan Ias tulus mengatakannya.


... Aku sudah sejauh ini. Tidak mungkin aku kembali, batin Leila yang merasa akan sisa jika dia kembali tanpa hasil sekarang. Hanya tinggal sedikit lagi dibalik antara gedung pencakar langit ini. Dia bisa menemukannya.


Leila melirik Ias yang dalam balutan pakaian berwarna coklat. Leila menghela napas dalam mengambil keputusan dan menjentikkan jarinya membuat jubah yang lebih kecil dari miliknya berwarna biru tua yang hampir berwarna hitam.


"Pakai ini dan jangan berisik." Melempar jubah yang baru saja Leila munculkan.


Ias yang tidak bodoh, diam menuruti perkataan Leila dan lekas mengikuti langkah Leila yang entah dimana mereka sekarang. Ini bukan Desa Kilkast dan yang pasti bukan dari bagian desa lain yang pernah dia lewati juga. Bahkan tempat ini lebih buruk dari pada tempat penjualan manusia.


Leila berhenti melangkah dan Ias yang berada dibelakangnya juga ikut berhenti melihat apa yang membuat Leila berhenti. Sebuah tempat pembuangan sampah, mungkin?

__ADS_1


Ias tidak yakin dengan tempat apa ini. Terlihat sangat gelap, suram, lembab, dan juga terlalu sunyi. Ias tidak menyukainya.


"Apa pun yang terjadi jangan buka tudungmu, mengerti. Ini bukan Kerajaan Everuz." ucap Leila menatap ke depan dan bisa membayangkan kemungkinan apa yang akan terjadi jika mereka berdua berhasil ditangkap.


"A-apa?!"


Ias tak menyangka jika ini lebih jauh dari Desa Kilkast. Kemana kakaknya sebenarnya membawanya.


"Kita berada di Benua Alora. Tempat dimana mimpi jadi kenyataan dan dimana ada harga yang harus dibayar."


Mendengar penjelasan Leila yang membuat Ias membelalak. Dia pernah mendengar nama benua itu, tapi bukankah benua itu hanya mitos. Tidak ada benua seperti itu.


Pernah disaat Ias masih ditempat penampungan perdagangan manusia. Beberapa orang yang sepertinya adalah seorang pengawas membicarakan Benua Alora, yang dimana ada seorang yang ingin membeli seorang manusia dari tempat Ias.


"Jika kita ketahuan, tamat kita."


Ias bukan bocah bodoh yang tidak mengetahui artinya dan menelan ludahnya dengan gugup.


Setelah mengatakan itu Leila kembali melanjutkan jalanan dan kali ini menggenggam tangan Ias tak ingin anak itu tersesat di dalam. Ini adalah tempat asal orang ketiga dalam kelompok Aria dimasa depan.


Kerajaan Kronos.


Tempat lahirnya wanita pemilik surai segelap burung gagak yang tangguh terlahir dari tanah ini.


Seharusnya dia ada disekitar sini.


Leila melirik layar transparan yang melayang di depan matanya. Melihat map yang dia dapatkan setelah berkeliling beberapa tempat membuat Leila mendapatkan skill yang bermanfaat.


Setidaknya dengan ini dia tidak akan tersesat dan bisa lari dari pengawas yang sering berpatroli.


Leila bisa melihat titik merah yang berada di sekitar map yang menandakan itu adalah bahaya yang harus dia hindar dan titik berwarna putih adalah mereka.


"Kita hanya akan sebentar di sini," lirih Leila yang bisa Ias dengar dalam kesunyian ini.


Entah kenapa firasatnya berkata lain. Akan tetapi, dia yakin selama dia bersama Leila dia akan aman.

__ADS_1


Mereka melanjutkan perjalanan sembari Ias mencoba mencari informasi sepanjang jalan yang mereka lewati. Banyak sekali sampah beraneka bentuk terlebih arsitektur yang belum pernah Ias lihat.


Sepertinya Benua Alora benar-benar ada. Tapi, tempat yang Ias dan Leila kunjungi sekarang sangat berbeda dari yang Ias ketahui informasinya.


Bukankah tempat itu disamakan dengan surga dan bahkan mendapat julukan karena jika kau sekali ke sana kau tak—bisa—ingin keluar.


"... Kak."


Bukannya menjawab Leila mengelus punggung tangan Ias yang tengah dia genggam dengan ibu jarinya. Mendapat perilaku itu Ias memilih diam seribu bahasa dan mengikuti langkah Leila kembali.


Entah berapa lama mereka berdua terus berjalan dan Ias rasa seharusnya bau disini sangat busuk bukan, tapi kenapa dia bisa bernapas dengan normal?


Mata Ias membulat tak percaya, "I-itu, apa itu?" Bahkan dia tak berani menunjukkan benda asing yang terlihat menyeramkan dimatanya.


Mereka berdua berhenti di tempat dimana sampah yang menggunung hingga membentuk sebuah penjara yang membuat Ias bergidik ngeri.


berbanding dengan Ias yang terlihat jelas langsung gemetar dan kulitnya seketika berubah pucat. Leila tersenyum miring senang.


"... Seseorang yang harus aku lihat."


Putri bungsu dari Kerajaan Kronos sekarang. Sosok yang memiliki kekuatan Aimillios diantara semua saudaranya.


Valerie Aimillios.


.


.


.


Karakter baru muncul 😺


Makasih ya udah mau singgah dan baca MILA ^^


see you next chapter guys 👋😽

__ADS_1


__ADS_2