MIMPI LEILA: Tiga Kemungkinan

MIMPI LEILA: Tiga Kemungkinan
BAB 31: AJAKAN (3)


__ADS_3

Gemerlap lampu festival yang kebanyakan terbuat dari bebatuan granit yang ditempa oleh para dwarf—kurcaci—membuat Leila bernostalgia akan teknologi di zaman modern. Kerumunan orang yang berkelompok maupun berpasangan bisa Leila lihat sepanjang mata memandang.


"Ibu, aku ingin itu," seorang anak kecil menarik tangan wanita yang dia panggil ibu.


"Iya, iya, tunggu sebentar. Ibu harus membayar lampion ini dulu, sayang." Mengambil uang dari dompetnya dengan anaknya yang tak sabaran.


"Ibu ayo cepat! Ayo, Bu! Ayo!"


"Iya, iya."


Melihat interaksi ibu dan anak terlihat menggemaskan itu membuat Leila tersenyum tanpa sadar. Alex yang menyadari itu juga melihat arah pandang Leila.


"Apa itu mengingatkanmu akan, Tuan Muda?"


Leila hanya diam dan tanpa sadar dia meraba permukaan perutnya yang terbalut pakaian dan juga jubahnya, "... Mungkin."


"Sebaiknya kita membeli lampion sebelum acaranya dimulai." Alex menarik Leila agar tidak melamun. Karena dia ingat jika Leila sangat dekat dengan Tuan Muda dan juga mengingat juga Leila hidup di desa ini juga membuat Alex semakin yakin jika semua yang ada di sini mengingatkannya akan Tuan Muda.


"Alex apa ini bagus?" Tanya Leila menunjuk jepit rambut yang terlihat berbentuk daun laurel yang biasanya ada dipatung-patung Dewa Dewi dipakai seperti sebuah mahkota.


Melihat senyuman menawan yang Leila tunjukkan membuat Alex ikut tersenyum juga. Melihat Leila terus berceloteh dan menunjukkan semua barang yang menurutnya menarik dan cocok padanya.


Surai kecoklatannya secoklat pohon hyperion yang bergelombang itu diterpa angin malam membuat penampilan Leila menawan. Penampilan yang sangat menarik mata itu pasti membuat semua orang berpikir, dari kalangan bangsawan mana dia itu.


Jangan lupakan bagaimana netra biru azure-nya yang melengkung seperti bulan sabit karena tarikan kedua pipinya yang membentuk sebuah senyuman. Alex rasa, ini adalah pilihan yang terbaik dia mengajak Leila ke Festival Lampion ini.


"... Sangat cantik," gumam Alex tanpa sadar karena melihat penampilan Leila karena memiliki aura yang begitu bercahaya.


"Kau mengatakan sesuatu Alex?" Tanya Leila mencoba bertanya karena disini sangat bising.


"T-tidak, a-yo kita lekas ikut berbaris dan pakai ini." Alex mengambil penjepit rambut yang dia lihat berwarna kuning keemasan dan memasangnya kepada Leila.


"Wah, makasih, Alex." Leila tersenyum lebar karena Alex akhir mengambil pilihan untuknya.


"Sama-sama," cicit Alex dengan semburat kemerahan yang memenuhi wajahnya melihat Leila tersenyum lebar dengan aura hangat disekitarnya.


"Ayo, semua orang mulai berbaris."


Leila lekas menarik Alex ikut berbaris rapi dan mengikuti acara dengan khidmat. Hingga momen yang ditunggu semua orang. Pelepasan lampion yang dimana semua memohon dan berharap permintaan lekas dikabulkan.


"Sudah?" Tanya Alex yang melihat Leila mulai membuka matanya yang awalnya terpejam.

__ADS_1


Cahaya dari dalam lampion membuat Leila terlihat seperti malaikat yang memegang sebuah cahaya. Entah berapa kali Alex tidak bosan-bosannya memuji paras Leila.


Leila yang tak menjawab pertanyaan Alex perlahan menerbangkan lampionnya yang perlahan bergabung diantara ratusan lampion lainnya yang terbang tinggi dan perlahan menuju Hutan Berkabut.


"Sudah, terima kasih sudah mau mengajakku kemari. Aku merasa sangat beruntung," ucap Leila yang tanpa sadar membuat pria dI depannya ini bisa menerima serangan jantung kapan saja.


"A-apa yang kau katakan barusan? S-seharusnya aku bilang begitu. A-aku malah sangat beruntung bisa kemari bersamamu," suaranya yang terdengar sedikit terputus-putus membuat Alex semakin merasa malu saja. Lagi pula seluruh penghuni mansion membicarakan Leila. Entah itu dari paras, asal usulnya yang bisa bersama Tuan Muda, dan juga bagaimana gosip tentang Leila menjadi wanita penghibur malam Noah.


Bahkan sifat ramah dan suka menolong Leila membuat semua orang merasa nyaman bersamanya. Tak terkecuali Alex yang merasa pria paling beruntung di mansion karena bisa membawa Leila pergi keluar menikmati festival yang paling terkenal seantero kerajaan.


"Leila, apa kau—, Leila?"


Belum lama Alex mengalihkan pandangannya saja Leila sudah menghilang di depannya dan bisa Alex lihat jika Leila terjebak diantara lautan manusia.


"LEILA!"


"AAAA!!! ALEX, TOLONG AKU!"


"BERTAHANLAH!"


Alex hanya bisa melihat tangan Leila yang terangkat sebelah seakan meminta tolong sebelum menghilang dari pandangannya.


"LEILA!"


"Huft, terima kasih orang baik. Jika tidak, hahh... Aku bisa jadi manusia gepeng nanti," gerutu Leila sembari mencoba mengatur pernapasannya.


"Orang baik?" Tanya Leila yang tak mendapat balasan.


Pergelangan tangannya yang masih dia genggam membuat Leila perlahan mengangkat kepalanya untuk melihat siapa orang baik yang sudah mau menolongnya. Pakaian yang terlihat kusam dengan sabuk tempat sebilah pedang menggantung. Perlahan pandangan Leila mulai naik dan bisa melihat dengan samar penampilan yang dimiliki penyelamatnya itu.


"Tuan?"


Pria itu tersenyum kecil dan berkata, "Akhirnya kita bertemu lagi, Nona Penari."


"Eh? Penari?"


Penampilannya yang terlihat familiar membuat Leila termenung sejenak dan ingatan tentang kilas balik enam tahun yang lalu membuat mata Leila membulat sempurna.


"Masih tetap sama ya. Setelah enam tahun berlalu," ucap pria yang belum Leila ketahui namanya.


"Haha, Anda terlihat semakin dewasa dengan wajah bijaksana itu," balas Leila memuji pria di depannya itu.

__ADS_1


"Kalau boleh tahu siapa nama Anda, Nona Penari?" Tanya pria di depannya membuat Leila tidak bisa menahan senyumnya. Lihat saja bagaimana cara dia dengan sopan bertanya.


"Leila, Tuan...?"


"Calix, Anda bisa memanggil saya Calix, Nona."


Leila merasa pernah mendengar nama itu, tapi sepertinya nama pria ini cukup pasaran jadi Leila tak menghiraukannya.


Calix mengulurkan tangannya dan berkata, "Ingin menari lagi dengan saya, Nona."


Leila tidak bisa menahan kekehan dengan ucapan formal Calix. Ini adalah pertemuan kedua mereka dan ini akan menjadi dansa keduanya juga.


"Suatu kesenangan bagi saya bisa berdansa dengan Anda, Tuan Calix," menerima uluran tangan itu menatap pasangan dansanya malam ini.


"Begitupun juga saya, Nona."


Mereka berdua saling bergandengan tangan melangkah masuk ke dalam lantai dansa yang berada di alun-alun desa. Tempat dimana Calix pernah mengangkat Leila lebih tinggi dari yang dia kira.


"Kau tahu. Ini sangat menyenangkan berbicara formal denganmu. Tapi, kau tidak perlu seformal itu kepadaku. Kalau dilihat kau masih sangat muda." Leila bisa melihat dari garis wajah pemuda di depannya.


"Anda bisa saja. Saya masih dikepala dua memang." Menarik Leila lebih dekat dan menyelam lebih dalam alunan musik.


"Kan, benar! Kau masih muda!" Seru Leila yang sudah mengira usianya dengan tepat.


"Kau juga terlihat sangat masih muda. 15? 17?" Calix tersenyum tipis menatap Leila.


"3000 tahun," ucap Leila membalasnya dengan senyuman tipis juga.


Calix menatap Leila diam sebentar dan berkata, "Kau bercanda, kan?"


"Iya, hehe."


.


.


.


Makasih ya udah mau singgah dan baca cerita MILA ini ^^


See you next chapter guys 👋😽

__ADS_1


__ADS_2