
Karena merasa sudah lebih baik Leila keluar dan melihat jika anak-anak panti asuhan berkumpul sedang bercerita satu sama lain, selain Ias disampingnya.
"Apa kau tidak ingin bergabung?" tanya Leila menoleh ke bawah menyadari ketinggian badan mereka berdua. Ias yang hanya setinggi dadanya.
"Apa kakak punya cerita bagus?" Ias balik bertanya dan menatap balik Leila.
"... Mungkin beberapa." Memikirkan beberapa cerita rencana yang ingin dia tulis di masa depan.
"Ceritakan!"
"Tidak, terima kasih. Ahh, badanku masih terasa lemas." Dengan suara yang Leila buat-buat lemah tak lupa bermain akting memijat bahunya yang seperti baru saja mengangkat beban yang berat.
Ias yang lekas mendorong Leila untuk masuk ke dalam lagi dan menyuruhnya lekas beristirahat kembali.
"Ayolah, aku juga butuh oksigen."
Leila tidak ingin kembali ke dalam. Percuma saja dia menghabiskan liburannya di dalam ruangan. Dia sudah bosan di mansion dan ini kesempatan yang bagus untuk melihat dunia luar yang belum pernah dia jelajahi.
"Oksigen?"
Bodoh sekali kau Leila, "Kau tahu, sesuatu yang kita hirup sehari-hari." Karena mana mungkin Ias mengerti istilah yang baru saja dia sebutkan.
"Jadi, ada namanya." Ias berhenti mendorong Leila dan mulai memikirkan kata baru yang pertama kali dia dengar.
"Ya, nama lainnya O2 atau dioksida." Melihat Ias berdehem dengan ekspresi berpikir keras membuat Leila berkata, "Aku kira kau pura-pura paham sekarang."
"Tidak!" Ias menatap syok Leila dan menyangkal itu dengan tatapan yang dia buat menyeramkan, tapi dimata Leila malah jatuhnya menggemaskan.
"Kalau begitu apa itu periodik unsur?" Mendapati diamnya Ias membuat Leila menyinggung senyum meremehkan, "Kan, kau tidak tahu."
"Kau ini laki-laki ya?!" Ias menunjuk tidak terima.
"Hei! Bocah! Jelas-jelas aku punya dada! Mana mungkin aku laki-laki!" Leila menunjuk pada dadanya yang dimana memang ukuran termasuk kecil untuk perempuan.
"Kan ada laki-laki yang punya dada besar!"
Leila merasa tidak percaya jika karakter Ias semasa kecilnya seperti ini. Dia terlalu konyol.
"Kau kira wanita tidak bisa belajar apa?!"
"Tapikan memang hanya laki-laki yang kebayangkan berpendidikan. Wanita tidak."
"Kecuali aku." Menunjuk dirinya dengan bangga.
"Kelihatan jelas bohongnya," gumam Ias yang merasa konyol dengan tingkat kepercayaan diri Leila.
"Aku dengar ya!"
"Baguslah kalau begitu."
"Kau ini anak siapa sih?! huh! Kau ini kan calon pendeta mana sopan santunmu itu!"
"S-siapa yang mau menjadi pendeta! Itu pekerjaan yang membosankan!" bentak balik Ias karena membayangkan pekerjaan yang dimana harus terikat peraturan ini itu.
"Kau ini mau jadi adikku apa tidak, sih?! Turuti apa perkataan kakakmu ini!"
"Kalau begitu bawa aku pergi!"
__ADS_1
"Hah?! Kau ini bicara melantur lagi ya?" Leila yang sudah gemas mencubit pipi Ias dan sesekali memainkan karena sudah kesal dengan sikap Ias yang sama sekali tidak percaya dengan perkataannya.
"Ugh~ Kakak, atit... ." Perkataan lainnya mulai terdengar tidak jelas dan Leila tidak peduli. Dia ini wanita. Seorang wanita sejak lahir dan dimana letak dirinya ini terlihat seperti laki-laki.
"Kau pantas mendapatkannya bocah." Melepaskan cubitannya.
"Ugh, Kakak... ."
Lihat bekas memerah dengan pipinya yang sedikit bengkak itu. Oke Leila, seperti terlalu berlebihan dan akhirnya mengelus kepala Ias sembari meminta maaf. Lagi pula dia juga tak menyangka jika semasa kecil dulu Ias akan senakal ini. Padahal dalam penggambaran karakter yang dia buat Ias sangat dewasa.
Yang Leila lupakan adalah yang ada di depannya ini Ias. Bocah jalanan yang baru saja berada di panti asuhan. Bagaimana bisa Leila berharap lebih.
"Ahh, ini salahku terlalu berharap lebih," ucap Leila tanpa sadar.
"Memangnya Kakak berharap apa?" Gerutu Ias mengelus kedua pipinya yang memerah.
Leila melirik Ias dengan penuh tidak minat, "Anak kecil tidak perlu tahu."
"Ayolah, apa? Aku penasaran, Kak."
"Engga jadi cerita ini jadinya?"
"Eh! Jadi! Jadi!"
Pengalih perhatian, sukses.
Leila mengambil duduk dan dengan Ias duduk disampingnya. Anak ini dengan bahagia menunggu cerita apa yang akan Leila bawakan.
"Bagaimana dengan karya buku Blue Felix, mau?"
"BLUE FELIX! MAU! MAU!" Lihat seberapa semangatnya saya dia menyebut nama penanya itu.
Anak itu membuatku sedikit takut.
"Aku hanya pernah mendengar sekilas 'Lentera dan Cahaya'."
Jika dipikir-pikir lagi itu karyanya berapa tahun yang lalu, ya? dua puluh tahun yang lalu mungkin?
"Mau yang itu?"
Leila tidak begitu ingat dengan jelas apa yang dia tulis sepenuhnya dalam cerita itu. Ada banyak yang dia tulis dan begitu banyak rencana juga yang sudah dia susun.
"Iya!"
Mendapat persetujuan energik itu Leila mengambil napas dan mulai menceritakan awal kisah yang beruntungnya masih dia ingat.
"Ini tentang kisah bagaimana seorang anak ingin memeluk bulan. Dia terus menyusun batu hingga menjulang tinggi, tapi ditengah proses pengerjaan dia baru sadar tersadar dengan fakta dia tak sendirian. Bukan hanya dia seorang yang ingin memeluk bulan.
Faktanya dia hanya anak dari seorang pekerja buruh tani dengan penghasilan minim dengan takdir yang begitu pedih.
Bahkan jika dia berusaha orang-orang selalu berkata jika takdirnya pasti tidak jauh beda dengan kedua orang tuanya."
Leila menatap Desa Kilkast yang begitu tenang dengan warganya bercocok tanam dengan Ias duduk disampingnya. Kenangan dimasa lalunya bagaimana Leila yang selalu dicemooh dan berkata orang sepertinya mana mungkin bisa berhasil dengan rambut merah menyalanya seperti api dimana dia dijuluki penyihir. Para penyihir harus berakhir dengan dibakar. Itu adalah kisah ratusan tahun yang lalu. Bukan hal cocok bagi orang yang hidup di zaman modern.
"Anak bernama Haris itu menolak garis takdir yang orang-orang katakan. Bahkan jika dia harus jatuh lagi dan lagi Haris tidak akan mundur. Haris akan bangkit bagaimana takdir memberinya cobaan pertama bagaimana krisis pangan di musim kemarau melanda desa tempatnya tinggal. Bagaimana mereka mula menjual satu persatu barang yang mereka punya."
Leila melirik Ias yang bagaimana dia tidak membuat jelas latar belakang julukan yang akan dia sandang dimasa depan. Lagi pula hanya mengatakan sekilas jika takdir Ias adalah hanya anak yatim piatu yang mengabdikan hidupnya untuk menjadi seorang pendeta dan mungkin juga karena keuletannya dia mendapatkan berkat.
__ADS_1
Betapa beruntungnya orang ini.
Dan Leila membenci orang yang terlalu beruntung hidupnya.
"Haris berpikir ini adalah hal tidak wajar karena musim kemarau seharusnya datang tidak secepat ini. Sepertinya halnya setiap kemalangan setiap orang hadapi pasti semua orang berharap dan berdoa. Tapi, hanya berharap saja tidak akan mudah secepat itu terkabul.
'Ini bukan akhir.'
Suara yang Haris buat sendiri terus menggema dalam pikiran setiap orang. Setiap masalah pasti ada solusinya. Bahkan di musim kemarau yang panjang ini pasti ada."
Ias mendengarkan dengan seksama. Menatap penuh binar bagaimana Leila bercerita seakan membaca buku itu sekarang.
Sebenarnya Ias sudah menaruh curiga jika Leila bukan orang biasa. Lihat saja berapa banyak uang yang dia punya.
Mungkinkah dia anak bangsawan yang melarikan diri?
Mungkin juga dia lari karena paksaan kedua orang tuanya untuk segera menikah?
Bisa jadi.
Karena kecamuk dalam pikiran Ias membuat bocah itu tidak fokus mendengarkan cerita yang Leila bawakan.
"Jadi, alasan kenapa judulnya 'Lentera dan Cahaya' adalah Harapan yang terus Haris juangkan untuk lekas terwujud." Leila menoleh dan mendapatkan gerutuan tidak jelas Ias terus gumamkan.
"Oi! Kau mendengarkan?"
Entah kenapa Leila sangat kesal setelah bercerita panjang lebar Ias malah tidak mendengarkannya.
"... Dengar kok."
Mendengar jawaban lamanya dengan tatapan penuh perhitungan Leila rasa tidak, "Hahh... Sudah—"
"LAGI!"
Apa yang tidak terduga adalah bagaimana anak-anak panti asuhan ternyata berkumpul semua di dekat mereka berdua. Padahal Leila yakin jika mereka hanya berdua dan sekarang bertambah banyak.
"Ceritakan kisah lainnya!" seru Jasper yang menggenggam tangan Aria untuk duduk di dekatnya.
"B-bagaimana ya?"
Seperti yang pernah Ias lakukan. Mereka memberikan tatapan memohon dan sekali lagi Leila luluh.
"Hahh... Baiklah, bagaimana dengan karya Blue Felix lainnya?"
Pada akhirnya Leila menceritakan bukunya yang baru saja terbit itu. Yang judulnya 'Malam Yang Putih'.
"Itu karya Tuan Felix?" tanya Aria yang memang sering sekali mendengar nama penulis itu.
"Ini karya terbarunya."
Berbeda dengan anak-anak panti asuhan lainnya. Ias sedang bergulat dengan isi pikirannya. Ada banyak kemungkinan tentang indentitas Leila yang semakin membuatnya penasaran.
.
.
.
__ADS_1
Makasih yang sudah singgah dan mau baca MILA sampai sejauh ini yaa^^
see you next chapter guys 👋😽