
"Aku harap kalian menyukainya."
Leila baru saja memberikan keempatnya sapu tangan hasil karya tangannya. Leila sangat bekerja keras untuk yang ini karena ingin selalu memberikan yang terbaik untuk mereka berempat.
Noah dan si kembar yang mendapat hadiah tentu saja senang terlebih itu dari Leila. Mereka berempat mengucapkan rasa terima kasih dengan gaya mereka masing-masing dan Leila tak mempermasalahkannya.
Musim gugur, tepat sebulan sebelum musim dingin datang. Hari jadi Kerajaan Everuz yang dimana Calix sebagai Raja merayakannya dengan cara, para bangsawan saling berkumpul dan membuat perlombaan utama sebagai perburuan. Yang dimana hasil perburuan terbaik akan menjadi pemenang dan daging mereka akan dibagi sebagai makanan dan selebihnya akan diberikan kepada fakir miskin.
Tentu saja ajang ini juga bisa digunakan sebagai ajang mengungkapkan perasaan. Lihat saja tatapan singa betina yang lapar itu tertuju pada Leila. Leila rasa mereka ingin mendapatkan ungkapan perasaan setidaknya dari salah satu si kembar. Tidak mungkin Noah, kan.
Leila memperhatikan tatapan salah satu mereka dan sepertinya Leila harus menarik kata-katanya barusan.
Sudahlah.
Leila yang hendak kembali setelah memberikan hadiah kepada mereka, tapi dicegah oleh Arden dan menarik tangan Leila ke depan wajahnya yang menunduk. Mencium punggung tangan sang penolong dengan lembut dan melirik Leila dengan jenaka.
Leila benar-benar ingin berteriak dan memarahi tingkah konyol Arden.
Melihat reaksi Leila yang ingin sekali berteriak, tapi dia tahan membuat Arden tersenyum. Atlas yang tidak sabaran mendorong Arden dan mengusap punggung tangan Leila bekas Arden menciumnya.
Arden yang melihat itu memberikan tatapan membunuh yang malah mendapat ejekan dari Atlas dengan lidah yang keluar.
"Akan ku berikan beruang terbesar untukmu."
"Aku rasa tidak untuk hari ini, Atlas." Batin Leila yang rasa itu bukan berita bagus.
Leila hanya bisa diam tersenyum mendengarnya. Dari si kembar Leila akui, Atlas lah yang sepertinya akan memenangkan pemburuan ini. Jika Adrian menggunakan sihirnya, itu masalah lain.
Karena menunggu adalah sesuatu yang membosankan. Adrian menarik kerah saudaranya itu dan mengambil kedua tangan Leila dan membawanya untuk menyentuh dahinya. Sikap ini adalah sikap yang aneh menurut mereka. Tapi, Noah sangat mengenal sikap ini. Ini adalah sikap para elf untuk menyampaikan perasaan hormat kepada orang terkasih.
"Tolong doakan kedua saudaraku tetap waras, Leila."
Sepertinya hanya Adrian yang normal disini karena jika Atlas dan Arden mengeluarkan sikap liarnya. Adrian memilih untuk menonton saja. Terlalu malas untuk menghentikan mereka.
Leila hanya bisa tersenyum masam mendengarnya. Bahkan semua orang yang hadir, hampir semuanya memperhatikan mereka. "Tenang saja, semuanya akan baik-baik saja."
Kini giliran Noah yang membuat jantung Leila tidak bisa tenang. Kali ini apa yang akan pria di depannya sekarang ini lakukan.
Tolong jangan menambah kesalahpahaman lagi!!!
Sepertinya doa Leila kali ini tidak terkabul. Pasalnya tindakan Noah membuat semua orang terbeku diam melihat aksinya.
Sesuatu yang sudah dia lupakan rasanya kini datang lagi. Leila yang masih mencerna apa yang terjadi membuat Noah tersenyum penuh kemenangan.
Benar, Noah baru saja mencium pipi Leila.
"PAK TUA!"
"KAU!!!"
Itu seruan si kembar yang tak tertahankan dan menarik Noah menjauh dari Leila. Sedangkan khusus Adrian mengusap pipi Leila dengan menggunakan sihir diam-diam. Adrian seperti memperlakukan kecupan Noah kuman.
"Uhm, Adrian." Cicit Leila yang merasa tidak perlu melakukan hal berlebihan seperti ini.
Noah dibawa Atlas dan Arden ke dalam tenda mereka dan suara seperti tarik menarik atau kekesalannya semua orang dengar.
Rumor tentang Leila menyebar luas seperti tiupan angin barat. Semua orang kini tengah membicarakannya. Bahkan Aria yang berdiri diantara sekian bangsawan itu juga melihatnya. Aria menahan rasa amarahnya hingga buku-buku tangannya memutih.
__ADS_1
"Biarkan saja. Lagi pula ini bukan pertama kalinya."
"Iya sih, tapi tetap saja." Leila menatap tenda di depannya.
"Kali ini aku bertaruh Arden akan mendapat tamparan dipunggung."
Plak!
Seperti yang Adrian katakan barusan dan Noah keluar seperti tidak terjadi apa-apa.
Lihat wajahnya yang tampan dan menatapnya dengan matanya yang menyipit karena senyuman manisnya. Sial, andai saja dirinya adalah orang yang Noah cari selama ini.
"Sudah?" Leila menatap Noah yang seperti orang gila dan Adrian yang membawa Leila kebelakangnya. Berjaga-jaga jika Noah bertingkah gila lagi.
"Ayolah, aku tidak berlebihan kali ini."
Seperti yang Noah katakan. Atlas dan Arden hanya mendapatkan tamparan manis dipunggung mereka. Yang membuat mereka merasa nyeri karena itu bukan tamparan biasa.
"Itu tamparan kasih sayang." Kata Noah tanpa dosa.
Leila rasa Noah perlu dibawa ke dokter. Menjalani pemeriksaan otak apa itu masih berfungsi dan memeriksa hati nuraninya apa masih ada.
Acara berlangsung dengan lancar dan sesekali Leila menyelinap pergi bersama beberapa pelayan keluarga D'Arcy untuk menyiapkan keperluan mereka. Bahkan jika Leila tetap menjadi buah bibir hari ini, dia tidak peduli.
"Jean, tolong bantu aku."
Gadis muda itu lekas datang dan membantu membersihkan debu disekitar tempat duduk. Leila rasa mereka sudah cukup untuk acara bersih-bersihnya.
Hingga bencana malapetaka Leila datang.
"LEILA!!!"
"Jadi, begitu."
"Padahal aku ingin ikut."
Seperti biasa, Aria berakting sedih, tapi tentang apa yang dia alami baru itu nyata.
Aria mencalonkan diri untuk ikut berpartisipasi dalam perburuan, tapi ditolak oleh pihak panitia karena itu sangat bahaya dan hanya orang tertentu saja yang bisa ikut. Terutama dikhususkan untuk para laki-laki.
Aria berpikir bisa membunuh si kembar dalam hutan dan bisa mengeklaim jika mereka mati karena serangan hewan buas.
Bukankah itu rencana sempurna.
Mungkin Aria bisa menyelinap ke dapur dan menaruh racun untuk makanan keluarga D'Arcy.
Itu rencana yang bagus juga.
Leila yang tidak mengetahui isi pemikiran licik Aria hanya tersenyum menanggapi curhatan sang protagonis. Betapa lucunya Aria di depannya merengek seperti anak kecil.
"Jadi, kau mau kasih apa?"
"Maksudmu?"
Leila kembali bertanya, "Jangan pura-pura bodoh. Kau mau memberikan apa ke si kembar?"
"I-itu...."
__ADS_1
"Mungkin kau bisa mengajak salah satu dari mereka untuk mengobrol dan makan malam bersama atau mungkin juga kau bisa—" Aria lekas membungkam mulut Leila sebelum membuat wajahnya memerah karena amarahnya yang tak tertahankan.
"Oke, oke, Nona muda. Apa mau mu?" Leila merasa sudah berlebihan disini setelah Aria melepas bungkamannya.
"Tidak ada."
"Yakin?"
"Iya."
"Beneran, hm?"
Kenapa Leila mulai semakin mengesalkan?
Tolong beri Aria medali karena berhasil menyembunyikan sifat aslinya dari Leila. Aria merasa jika wanita di depannya ini sangat polos dan terlalu baik hati.
Maaf, Leila. Aku terpaksa melakukan ini untuk memenuhi balas dendamku.
"Oke, oke, maaf. Jadi, kenapa kau tidak minum dengan Nona-Nona yang lain?"
Jujur saja. Aria ingin, tapi kesempatan seperti ini tidak datang dua kali. Pendekatan ini dan juga momen ini adalah yang Aria inginkan.
"Kakak."
Leila melihat siapa yang berkunjung lagi hari ini.
"Oh! Ias! Kau datang?!"
Entah kenapa rasanya sangat berat untuk berbalik menghadap saudaranya itu.
Ias menjaga jarak yang membuat Leila yang harus mendatangi pendeta muda itu.
"Kau juga diundang ternyata."
"Hanya seorang tamu. Kelihatannya aku mengganggu ya?" Ias melirik sekilas Aria yang berharap gadis itu lekas pergi dari sini. Ias tidak tahan dekat-dekat gadis itu, tapi jika Leila ada di dekatnya. Suara-suara gerutuan dan umpatan itu akan menghilang. Rasanya sangat tenang dan damai secara bersamaan.
"Kau tahu, Aria. Adikmu itu—" Tolong, bahkan Ias tidak ingin menganggap gadis bermuka dua itu sebagai adik, "—menyukai si kembar."
Ohh, Kakak tersayangku. Ku mohon jangan perlihatkan kebodohanmu itu.
"Hm, benarkan?" Ias memainkan ekspresi seakan terkejut dengan informasi baru hari ini.
"Iya, bahkan dia sangat malu untuk mengajak salah satu dari mereka mengobrol, hahaha."
Wajah Aria merah padam bukan karena malu seperti yang Leila pikirkan, tapi marah pada Leila karena mengatakan jika dirinya menyukai itu kepada saudaranya.
Ias bisa mendengar umpatan dalam batin Aria. Sepertinya rasa bencinya ke Leila semakin bertambah besar, tapi Ias akui dia juga akan tertipu dengan akting gadis itu jika bukan karena yang dia miliki saat ini.
Ias menatap Aria seakan berkata dari matanya, "Benarkah, Aria?"
Aria ingin sekali menarik belatinya yang tersembunyi dari balik gaunnya saat ini juga. Jika itu benar-benar terjadi. Ias rela menjadi tameng hidup Leila.
.
.
.
__ADS_1
Makasih ya udah mau singgah dan baca MILA ^^
See you next chapter guy's 👋😺