MIMPI LEILA: Tiga Kemungkinan

MIMPI LEILA: Tiga Kemungkinan
BAB 15 : PANGGILAN


__ADS_3

Perasaan yang tidak menyenangkan datang diawal hari. Bukan ini yang semua orang harapkan tentunya. Punggungnya yang terasa nyeri terkhususnya pada bagian pinggangnya yang semalaman dia harus duduk tegak.


Sial**!


Bang***!


Tentu saja kutukan itu untuk tidak lain dan bukan kepala keluarga D'Arcy. Pria bersurai hitam legam seperti malam dengan netra hijau emerald yang begitu misterius membuat Leila harus merasakan kecapekan diawal hari.


Hal yang pertama Leila harus lakukan adalah membangun si kembar yang terlihat jelas mereka semua masih tertidur. Matahari bahkan belum menampakkan dirinya dan Leila sudah berpakaian rapi untuk memulai pekerjaan yang mulai menjadi pekerjaan utamanya, sepertinya?


Setelah mengetuk pintu tiga kali dan tak ada jawaban. Itu adalah pertanda Leila boleh masuk dan bergegas membangunkan si kembar dan menyiapkan air untuk mereka.


"Ugh... Leila, nanti...." Lirih Adrian yang kini tak memakai kacamata.


Perlu perjuangan memang terlebih untuk Atlas yang susah sekali dibangunkan. Leila tahu ini adalah kenikmatan yang mereka miliki semenjak pergi dari tempat yang tak pantas disebut sebagai rumah itu. Leila mulai berpikir tentang wanita yang seharusnya berperan sebagai bibi si kembar itu, "Apa dia sudah mati?"


Pasalnya setelah mengetahui semua tindakan keji yang bibi si kembar lakukan. Noah memutuskan melakukan sesuatu yang bahkan Leila tidak ketahui. Bahkan jika pun dia berada dalam kunjungan rutinnya ke Hutan Berkabut pun. Leila tidak akan pergi keluar dari batas pelindung Hutan Berkabut jika bukan karena sistem yang entah bermurah hati yang membuatnya terjebak di dua tempat ini.


Mansion D'Arcy dan Tanah Suci.


Aku kan juga penasaran!


Setelah mengurus si kembar dan melihat mereka terlihat lebih rapi sekarang kecuali rambutnya mereka. Surai merah wine yang berwarna gelap mengkilat itu sama seperti miliknya—dikehidupan dulu tentunya.


Bagian yang paling dia sukai dari si kembar adalah surai merah wine mereka. Warna merah memang warna kesukaannya. Karena itu adalah gen keturunan dari pihak ayahnya yang sudah tiada saat dia berada dibangku menengah atas.


Terlihat jelas jika salah satu mereka menguap, maka yang lain juga akan menyusul menguap juga. Lihat wajah polos dan menggemaskan mereka itu. Ini sebanding dengan bangun paginya.


"Nah, sekarang kalian terlihat lebih tampan!" Seru Leila yang merasa bangga dengan hasil jerih payahnya. Meskipun khususnya pada Adrian yang memaksa untuk mandi sendiri.


"Aku bisa sendiri. Leila, keluar!"


Ah, betapa menggemaskannya tingkah si kembar satu ini. Lihat pipi menggembungnya yang bersemu merah karena menahan kesal.


Tapi, apa daya dengan Adrian. Mereka bertiga dimandikan secara bersamaan dalam satu batt up. Arden yang menyukai mandi busa, dan sedangkan untuk Atlas yang suka meletuskan gelembung yang Arden perhatikan.


Dengan wajah cemberut khas anak-anak itu. Adrian terpaksa menikmati perhatian khusus Leila. Menyabuni mereka bertiga seperti pertama kali. Hanya yang berbeda adalah tidak ada luka pada tubuh mereka.


"Koki Edy membuat sarapan yang kalian sukai."


Mendengar itu tentu saja mereka bertiga tidak bisa menutupi kebahagiaannya. Ketika lekas mengambil duduk menunggu sarapan yang akan disajikan Leila.


Dengan guru tata krama yang mereka dapatkan membuat Leila melihat sikap seorang bangsawan saat ini. Lihat saja Adrian yang dengan elegen makan dan jangan tanyakan tentang Atlas. Pria kecil itu tidak sabaran dan ingin lekas keluar.


"Hahaha, pelan-pelan Atlas. Makanan tidak akan lari kemana pun." Leila dengan lembut menyapu sudut bibir Atlas.


Melihat itu Adrian dengan sengaja tanpa Leila perhatikan mengotori juga sudut bibirnya. "Leila." Seru Adrian dengan polos menatap Leila.


"Kau juga profesor kecil. Tolong fokuslah," sekarang Leila membersihkan sudut bibir Adrian.


Melihat tingkah kedua kembarannya membuat Arden yang menggantung makanan sekarang. Melihat tingkah Atlas memang sudah biasa. Bahkan disaat mereka masih di pondok. Atlas suka sekali membantu Leila menanam sayur di samping pondok bersamanya dan sisanya dia suka sekali mengajak bertarung Rakun. Akan tetapi, sikap Adrian membuatnya selalu bertanya-tanya. Dia lihat dengan jelas Adrian itu sengaja.


"Kalau aku fokus, kau akan memberikanku kunci perpustakaanmu?" Tanya Adrian dengan polos yang kini wajahnya bersih.


Leila tidak mengerti. Kenapa kembar satu ini sangat menginginkan perpustakaannya. Leila yakin disana kemungkinan besar Adrian akan tersesat jika tidak bersamanya. Lagi pula hanya dia yang tahu apa yang sebenarnya ada di dalam sana.


"Akh!" Pekik Arden dengan suara kecilnya yang terkejut.


Potongan roti yang dibalut dengan coklat itu jatuh dan mengotori pakaian putihnya. Melihat itu Leila bergegas membersihkannya, "Setelah makan nanti kita ganti ya Arden."


Leila tahu jika Arden semenjak dia bawa menyukai kebersihan terlebih pakaian berwarna putih ini. Ini adalah pakaian yang selalu Arden banggakan.


"Ya...." Jawab Arden dengan lesu meskipun gemas sekali ingin lekas melepas pakaiannya.


Setelah si kembar selesai makan dan Leila membantu Arden berganti baju mereka sudah siap memulai jadwal mereka. Padahal ini sudah berjalan beberapa bulan dan Duke juga sudah meresmikan nama mereka. Hanya memberikan nama tambahan dibelakang dua kata nama mereka saja menjadi Noah D'Arcy.

__ADS_1


Si kembar tidak ingin makan bersama Duke. Mungkin karena sikap Duke yang tidak pernah mereka lihat sedari kecil dan masih waspada dilingkungan baru tentunya.


Jadwal mereka tidaklah padat. Hanya memiliki dua mata pelajaran wajib dan satu mata pelajaran minat yang mereka pilih dalam sehari. Pada hari Sabtu dan Minggu mereka libur.


Tak luput dari pengawasan si kembar melihat Leila sering sekali menepuk atau memijat punggungnya. Leila terlihat sangat kelelahan dengan kantung mata yang terlihat kelihatan sekarang.


Tidak biasanya.


"Leila sakit?" Tanya Arden yang khawatir begitu kembarannya yang lain.


Leila tersenyum dan menjawab, "Tidak, kata siapa aku sakit. Buktinya aku sehat dan masih bisa mengurus kalian bertiga, tuh."


Adrian menatap Leila dengan jengah. Lihat sikap sok kuat wanita di depannya ini. Ingin rasanya menarik Leila untuk tidur dan beristirahat sehari penuh dalam pengasuhan mereka bertiga.


Merasakan tatapan Adrian yang seakan berkata, "Aku tidak bodoh dan aku tahu kau sakit."


Si kembar satu ini memang sulit sekali Leila bohongi.


Atlas menepuk kepala Leila yang kini mereka berdua sejajar karena Leila berjongkok di depan mereka bertiga.


"Kenapa Atlas?" Tanya Leila yang sempat terdiam karena menerima tepukan kepala dari Atlas.


"Biasanya Leila selalu menepuk kepala kami jika kami mereka tidak bahagia." Jawab Atlas dengan polos karena itu benar. Biasanya Leila yang melakukannya, tapi karena sekarang dia mendapat perhatian kecil dari Atlas membuatnya merasa agak aneh saja. Dia orang dewasa disini, bukan anak kecil.


Tak lama datanglah kepala pelayan keluarga D'Arcy. Pria tua bernama Harry Priamos itu mengantar si kembar untuk menemui guru mereka.


Harry menatap Leila dari ekor matanya dengan Tuan Mudanya yang berjalan lebih dulu, "Mereka putra Duke, bukan putramu."


Deg!


Leila tahu. Jika pria yang sudah berumur ini tidak menyukai dirinya, karena sikapnya yang lancang sebagai rakyat biasa kepada seorang Tuan Muda dari keluarga bangsawan. Tapi, dia duluan yang menemukan mereka. Bukankah terlihat sangat jelas jika Duke menelantarkan ketiga putranya itu.


Melihat tidak ada respon dari Leila. Harry melanjutkan jalannya dan melihat ketiga Tuan Mudanya tengah berdiri menatapnya. Netra hijau emerald yang mereka punya menatap tajam kepala pelayan D'Arcy. Aura hitam mencekam yang mereka bawa menguar dan membuat Harry tertegun.


Leila yang tak menyadarinya karena tertunduk diam menatap lantai marmer mansion besar ini.


"Tidak ada siapa pun yang boleh membuat Leila sedih."


Itu adalah kalimat yang selalu mereka sematkan dalam hati untuk wanita yang selalu secara bergantian mereka kunjungi selama dalam tempat terkutuk itu.


Penjaga dari Tanah Suci itu tidak bisa menggunakan kekuatannya seenaknya begitu saja. Itu adalah kekuatan yang Leila dapatkan dari Naga Putih—mendiang dari Penjara sebelumnya. Kekuatan itu adalah berkat yang membuatnya selalu dalam setiap kesempatan penggunaan dalam pengawasan Dewa Kematian.


"T-Tuan Muda, mari saya antar. Nyonya Penelope sudah datang."


"Tida perlu." Jawab mereka bertiga bersamaan.


Melihat Leila ingin mendongak dan menatap ke arah mereka. Segera ekspresi ketiganya berubah dan Arden berlari kecil ke arah Leila dan meminta wanita itu merendahkan tubuhnya.


Satu kecupan mendarat disalah satu pipi Leila, "Eh?"


"Aku lupa kasih kecupan selamat pagi buat Leila," ucap Arden dengan polos dan kedua kembarannya menyusul juga mengecup sisi pipi lain Leila.


Leila yang mendapatkan perlakuan itu dibuat perasaannya melayang tentunya. Perasaan buruk yang dia dapatkan tadi segera hilang digantikan sikap si kembar yang berhasil membuat harinya lebih baik.


"Terima kasih," ucap Leila tersenyum dengan pesonanya yang selalu memanjakan mata.


"Sama-sama," jawab ketiganya bersamaan.


Melihat itu tentu saja Harry tidak bisa menahan decihannya. Melihat Leila dengan tidak suka dan berkata, "Tuan Muda, mari."


"Kami pergi dulu," ucap Arden dengan wajah polosnya yang menyembunyikan sifat kejinya.


"Nanti kita makan siang bersama ya," seru Atlas yang bisa Leila prediksi menjadi seorang kesatria. Mengingat dengan jelas tokoh Atlas sangat menyukai perang dalam cerita dan selalu membuat Aria tersudut dengan kekuatannya yang tidak masuk akal untuk ukuran manusia.


"Jangan lupakan itu ya," ucap Adrian yang membuat Leila awalnya bertanya-tanya sekarang paham apa yang dia maksud.

__ADS_1


Mungkin profesor kecil ini menginginkan sebuah spoiler karena tentu saja dalam kehidupan mereka berempat saat di pondok membuat mereka tahu pekerjaan Leila yang sebagai seorang penulis tersohor di kerajaan atau mungkin kerajaan lain juga, "Tentu saja Adri—, maksudku Tuan Muda."


Mereka bertiga akhirnya pergi dengan sikap ketiganya yang saling bertolak belakang. Decitan seperti seekor tikus membuat Leila tersentak dan melihat Rakun sedang duduk disampingnya dengan memegang beberapa makanan yang berhasil dia curi lagi dari dapur.


"Hei, yang benar saja. Ini masih pagi, loh."


Mendapat suara khas hewan omnivora itu membuat Leila hanya bisa tersenyum masam dan melihat Rakun pergi ke tempat persembunyian. Yang dimana tidak lain tidak bukan adalah atap mansion ini.


"Leila, kau dipanggil oleh Duke di ruangannya."


Leila yang awalnya ingin menyomot makanan curian Rakun harus dia urungkan.


"Aku datang."


Leila tanpa berpikir panjang lekas menuju ruang kerja Noah. Meskipun usia kehidupan bisa dia tebak dirinya lah tertua disini, atau mungkin di dunia ini. Meskipun pada awalnya terasa aneh. Akan tetapi, selama semuanya berjalan lancar dan sebagaimana mestinya. Leila tidak mempermasalahkannya.


Dalam perjalanannya tak luput dari tatapan dan bisikan semua pekerjaan di mansion. Merasakan ada yang tidak beres selama dalam perjalanan Leila mendengar bisikan itu.


"Apa benar dia melakukannya?" Bisik seorang pelayan yang tengah mengelap kaca dan pajangan disepanjang lorong.


"Kecilkan suaramu itu."


"Tapi, apa itu mungkin?"


"Tidak ada yang tidak mungkin dengan wajah itu."


"Aku yakin dia yang pertama menghasut Duke."


"Tapi, kata Jean, Duke tidak dalam kondisi mabuk. Dia baik-baik saja, tapi...."


Leila yang sengaja berjalan perlahan dan merasakan nyeri menyerang di punggungnya refleks memijatnya yang langsung membuat mereka semakin gencar membicarakannya.


Apaan, sih? Orang sakit punggung doang kok.


"Apa dia benar-benar melakukannya dengan Duke?!" Bisik mereka yang semakin menjadi melihat Leila yang sangat kelelahan dari biasanya dan ditambah dia sering kali mengusap area pinggangnya sekarang.


"Aku yakin itu. Lihat saja dia terlihat kecapekan setelah melakukannya sampai pagi."


Tanpa Leila sadari dia sudah berada di depan pintu ruangan kerja Noah. Tanpa ada seorang penjaga di depannya biasanya. Leila mengetuk pintu berbahan dasar kayu itu tiga kali.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk."


Melihat Leila yang masuk ke dalam ruangan kerja Noah membuat mereka yang sedang membicarakan Leila semakin menjadi dan berpikir tidak-tidak.


"Apa Duke tidak kasihan dengan Leila? Dia kan baru selesai pergi tadi pagi mengurus Tuan Muda dan sekarang Duke memanggilnya lagi. Apa masih belum puas?"


Mengingat beberapa pelayan disini menjadi saksi bisu bagaimana Noah bersama mendiang istrinya—Rumi Seena. Noah terlihat dingin dan sering kali tidak pernah menghabiskan waktu dengan istrinya. Bahkan selama masa kehamilannya. Noah tak pernah mengunjunginya.


Bahkan bisa dihitung dengan jari berapa kali Rumi Seena berkunjung ke dalam ruang kerja Noah. Sedangkan untuk Leila. Wanita yang baru saja hadir dan menjadi pengasuh ketiga Tuan Muda mereka. Sering kali keluar masuk ke dalam ruang kerja Noah.


Bukankah Noah sendiri yang memilih pasangannya?


Lantas mengapa Noah bersikap acuh seperti itu?


Ada hubungan apa diantara mereka berdua sebenarnya?


.


.


.


Para pekerja di mansion be like: Hmmmmmm 🌚

__ADS_1


Makasih ya udah mau singgah dan baca MILA ini ^^


__ADS_2