MIMPI LEILA: Tiga Kemungkinan

MIMPI LEILA: Tiga Kemungkinan
BAB 30: AJAKAN (2)


__ADS_3

Melihat siapa yang baru saja membuatnya menambah dosa itu ingin sekali Leila pukul, tapi sadar jika kekuatannya bisa saja membawa pria bernama Alex itu terbang.


"Alex! Kau! Mau aku lempar lentera ini, hah?!" bentak Leila yang tidak bisa menahan kekesalannya yang malah mendapat kekehan dari pria dengan tampang tanpa dosa itu.


"Maaf, maaf. Sedang apa kau di sini? Bukankah seharusnya menemani Tuan Muda di ruang makan?" Tanya Alex yang benar-benar penasaran karena biasanya Leila tidak akan jauh-jauh dari Tuan Muda atau pun Noah yang sering sekali memanggilnya.


"Hahh... Aku sedang mencari sapu tangan," rasanya ketika dia mengatakan tugasnya itu wajah Harry dengan mata penuh selidik langsung memenuhi bayangannya, entah kenapa orang tua itu semakin menyebalkan saja.


"Punyamu?" tanya Alex karena tidak biasanya Leila kehilangan sesuatu.


"Bukan, Harry yang menyuruhku."


"Ohh... ."


"Oh, doang? Ga mau bantu cariin gitu?"


Meskipun kosa kata Leila sering kali disingkat dan membuat Alex terdiam sejenak untuk mencernanya. Alex mengulurkan tangannya untuk membantu pada akhirnya. Akan tetapi, sebelum dia membantu dibalik semak-semak. Leila berteriak memanggil hewan peliharaannya.


"Rakun! Keluar kau! Kalau tidak aku akan menitipkanmu pada Ryuu!"


Alex bisa mendengar decitan khas hewan pengerat itu dan perlahan terlihat seekor rakun gendut dari balik semak-semak.


"Nah, karena kau terlihat sudah banyak beristirahat dan makan, ya. Sebaiknya kau bantu aku atau aku bawa kau ke Ryuu," setelah Leila mengancamnya dengan senyuman dengan makna tersembunyi Rakun lekas membantu Leila mencari sapu tangan yang dimaksud Harry.


Pekikan Rakun bisa mereka berdua dengar dengan Rakun mengangkat sebuah sapu tangan yang terlihat sangat kotor, "Akhirnya aku berhasil menemukannya! Terima kasih Rakun!" pekik Leila kesenangan dan menarik Rakun dalam pelukannya.


"Terima kasih juga Alex sudah mau menemaniku mencarinya," seru Leila dengan senyuman yang terlihat manis dimata Alex.


"Ya, sama-sama Leila. Umm, ngomong-ngomong," Alex menggosok lehernya dengan gugup tak berani menatap langsung lawan bicaranya, "Apa kau akhir pekan ini kosong? Aku dengar Festival Lampion—"


"LEILA!"


Perkataan Alex belum selesai dan ada seseorang yang berani memotongnya. Alex ingin marah kepada orang yang berani sekali kepadanya itu. Akan tetapi, saat dia berbalik dia melihat Noah tengah berdiri dengan tampilan remang sinar bulan sabit dari arah belakang dan netra hijau emerald-nya menatap tajam kemari.


Leila memiringkan kepalanya sedikit untuk dapat melihat Noah yang seperti baru saja datang, "Oh, No—, Duke. Apa Anda memerlukan sesuatu?"


Alex sering kali heran kenapa Leila bisa setenang itu bersama Duke yang terlihat sangat marah pada hal saat ini. Keberanian dari mana Leila dapatkan coba.


"Kau terlalu lama di luar. Anak-anak sudah lama menunggumu."


"Oh? Benarkah? Kalau begitu, Alex." Leila menatap pria yang paling dekat dengannya itu. Sedangkan Rakun yang dalam pelukan bidadari sekaligus malaikat penyelamatnya itu menikmati tontonan gratis ini dengan buah pir yang tentu saja dia curi dapur tadi.


"Sampai jumpa besok. Kalau kau ingin ke Festival Lampion aku bisa menemanimu. Anggap saja ini hutang balas budimu karena sudah mau membantu, da dah~" suara ramah dan menyenangkan itu membuat hati Alex berbunga membalas lambaian tangan Leila yang melenggang pergi.


"Aku ingat kau sangat sibuk akhir pekan nanti," suara Noah membuat fantasi Alex seketika hancur.


"Saya sudah membereskan masalah tikus—perampok, pencuri, penipu, dll—kecil disekitar pedesaan, Duke." Alex dengan sikap tegapnya melaporkan apa yang sudah dia lakukan.


"Oh ya? Lalu, bagaimana dengan beberapa bunglon—pengkhianat—menyebalkan itu?" Noah tak mau kalah dan ingin menyudutkan Alex di sini.


"Hanya tinggal menunggu mereka memakan umpan mereka dan... ." Alex baru saja menendang sebuah pohon hingga seorang penyusup baru saja jatuh dan lekas Alex tebas kepalanya.


Noah bisa melihat performa Alex dalam bekerja sangat bagus. Tidak sia-sia dia mengingat keluarga mereka yang terkenal akan menghasilkan tentara bayaran terampil. Meskipun sekarang keluarga mereka terpencar diseluruh benua karena seseorang ingin memusnahkan keluarga mereka, "... Beberapa tikus sepertinya mulai semakin bodoh."


Noah menatap datar penyusup yang entah sudah berapa kali minggu ini. Lagi pula dia sudah terbiasa dengan beberapa percobaan pembunuhan. Beruntung tubuh ini adalah tempat yang cocok untuk menampung energi sihirnya yang begitu besar.


Menjadi anak bangsawan ternyata ada sisi baiknya juga.




Leila yang baru saja menyelesaikan tugasnya mengurus si kembar sekarang dia harus mengurus bayi besar. Leila rasa punggungnya akan mati rasa esok paginya jika dia tak punya fisik bukan manusia biasa. Lihat saja Noah dengan enaknya menyuruhnya memijat punggungnya.



"Moga ga encok." Mengelus pinggangnya yang bisa merasakan rasa sakit itu.



Jika bukan karena fisiknya sekali lagi Leila rasa dia akan mati muda. Tak perlu membuang waktu lagi. Leila ingin lekas kembali ke kamar dan bersiap kembali ke Tanah Suci. Lagi pula dia juga sudah membuat janji dengan Alex untuk akhir pekan ini.



*Tok! Tok! Tok*!



"Masuk."



Leila masuk dan menutup pintu kamar Noah yang berwarna putih itu. Entah ke berapa kali hari ini dia menghela napas.



"Jadi, kau kenapa, Noah?" tanya Leila sembari berjalan mendekati pria yang sudah berganti pakaian bersiap untuk tidur. Karena terakhir kali Noah tertidur ditengah percakapan mereka dan berujung Leila yang menggantikan pakaian Noah tanpa pria itu sedikitpun sadari.



Tentu saja pagi harinya Noah meminta penjelasan kepadanya.



"Apa kau benar-benar yang mengganti pakaianku?"



"Kenapa?"



Noah refleks menyilang kedua tangannya di depan dadanya dan menatap Leila seakan tidak percaya apa yang baru saja dia perbuat.



"Jangan tatap aku seperti orang mesum, bodoh!" pekik Leila yang tak pernah merasakan diposisi ambigu ini.



"T-tapi, kau... ."



"Cih! Kenapa? Malu? Lagi pula tidak ada yang menarik sama sekali dari tubuhmu itu," cibir Leila tidak tahan membuat hati Noah seakan tertusuk dari belakang.



Entah kenapa Noah merasa gagal menjadi laki-laki di sini.

__ADS_1



Mengingatnya kembali membuat Leila yakin sekali jika Noah meminta tidak lain tidak bukan adalah seperti yang semua orang bisa tebak.



"Pijat punggungku."



Noah lekas menungging Leila. Membuat Noah tanpa sadar jika Leila tengah menahan geraman kekesalannya. Tapi, Leila menurut saja dan memijat punggung Noah sembari mengobrol ringan.



"Dari mana saja kau tadi? Apa yang Harry kali ini suruh padamu?" baru saja datang Noah langsung menanyakan banyak hal



"Mencari sapu tangan buluk yang sudah dijadikan serbet anusnya Rakun selama ini."



"Hah?" Noah mengernyit dan bisa langsung membayangkan.



"Kau tahu," menekan cukup keras punggung pria di depannya dengan tenaga manusiawi, yang Leila ingat berhasil membuat Noah meringis sedikit, "Dia pingsan tadi saat menciumnya, haha."



kekehannya menggema di seluruh kamar ini. Noah tanpa sadar tersenyum mendengarnya.



"Benarkah?" Noah merasakan tangan Leila perlahan berpindah tempat dari satu sisi ke sisi yang lain.



"Ya, lagi pula dia pantas mendapatkannya karena memberiku tugas yang sangat meresahkan. Noah!" panggil Leila memajukan kepalanya agar bisa menatap mata pria itu yang mendapat apa yang dia inginkan.



"Hm?" Noah membalas dengan melirik Leila yang wajahnya tepat disisi wajahnya.



"Kenapa mansionmu sangat luas?! Bahkan terlalu luas tahu! Bahkan kau punya gudang khusus untuk teh s\*\*l\*n mu itu!" pekik Leila tidak tahan dan mencengkram kuat bahu Noah yang membuat pria itu menekuk wajahnya. Menahan rasa sakit yang tidak bisa dia jelaskan.



"Y-ya, kenapa juga kau mau menuruti perkataan Harry? Kau kan bisa lari atau mencari alasan yang bagus."



"Hahh... ." Leila menyandarkan tubuhnya ke depan. Membiarkan tubuh bagian depannya menempel pada Noah yang sama sekali tidak membuatnya masalah. Lagi pula Noah sudah biasa dan sama sekali tidak berhasrat kepada tubuh Leila, mungkin?



"Bisakah aku meminta cuti," lirih Leila tanpa sadar menatap pemandangan malam dari kamar Noah.




"Itu satu dari sekian alasan aku cuti, hehe."



"Lalu?" Noah mengangkat salah satu alisnya tanpa sadar.



"Aku bebas, Noah!" pekik Leila tidak tahan dan berpindah duduk di depan Noah agar pria itu bisa menatapnya secara keseluruhan.



"Maksudmu?"



"Akhirnya aku tidak terjebak dua dia tempat s\*\*l\*n ini!" Leila mengepalkan salah satu tangannya dan mengangkatnya tinggi dengan penuh semangat.



"Benarkah?!" kini Noah sama semangat dengan Leila yang berbeda arti jika dia sangat terkejut.



"Iya! Meskipun hanya satu bulan sih." Menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.



"Jadi, maksudmu?"



"Benar, aku akan keluar berpetualang. Mengunjungi beberapa kota. Memakan apa yang aku ingin coba dan melihat pemandangan yang selama ini hanya bisa aku bayangkan. Akhirnya, ini adalah momen yang aku tunggu seumur hidupku!"



Hati kecil egois Noah ingin berkata ingin Leila tetap tinggal. Bersamaan mengetahui jika Leila hanya bisa tinggal di mansionnya dan Tanah Suci sudah membuatnya bahagia. Terlihat, hanya disaat tertentu saja Leila bisa bebas keluar dari kedua wilayah itu.



Leila menepuk bahu Noah karena melihat pria itu seakan tidak ingin menatap dirinya, "Tenang saja. Selama kurung waktu satu bulan ini aku akan mencari Leila-mu itu. Ini janjiku padamu. Jika aku bertemu dengannya. Aku akan berusaha membawanya padamu."



"Bagaimana jika itu kau?" lirih Noah tanda sadar yang malah membuat Leila tertawa mendengarnya.



"Kau ini lucu. Mana mungkin wanita idamanmu itu aku. Ada-ada saja, ya ampun." Leila menggeleng kepalanya. Membayangkan saja dia tak pernah.



"Hanya berpikir kemungkinan saja. Apa salahnya. Lagi pula aku juga tidak keberatan juga."


__ADS_1


"Tidak, tidak, kau tidak bisa," Leila menolak pemikiran itu. Sangat.



"Kenapa tidak?" Kini Noah menatap Leila penuh perhitungan dengan posis kedua tangannya yang dia silangkan di depan dadanya.



"Karena hatimu untuk Leila-mu itu. Aku tidak ingin hanya memiliki raganya saja. Aku ingin memiliki semuanya." Menunjuk dada pria itu dan sudah menekannya berulang kali, "Hm, anggap saja aku ini wanita serakah," diakhir seringai main-main. Leila juga ingin memiliki hubungan yang serius bukan berakhir seperti dikehidupan sebelumnya.



"Memang wanita serakah," *dan aku masih menyukaimu*.



"Jadi, boleh aku meminta cuti selama satu bulan!" Dengan penuh semangat Leila mendekatkan wajahnya dan menatap Noah penuh harapan.



Sebelum menjawab Noah mendorong wajah Leila agar tidak terlalu dekat padanya. Wajah Leila yang terlalu dekat memang tidak aman untuk jantung jika sudah menunjukkan ekspresi anak kucing, "Jika kau berhasil merayu si kembar. "



"Ugh! Tantangan terbesarku." Leila mengernyitkan dahinya tidak suka.



Melihat Leila lesu membuat Noah tersenyum miring tanpa sadar, "Semoga berhasil."



"Ya, aku sangat membutuhkannya."



"Jadi, bagaimana perkembangan Tanah Suci?" Noah mengalihkan topik yang sering sekali mereka bahas.



"Baik, seperti biasanya. Mungkin juga sebentar lagi musim itu akan segera datang," masih dengan ekspresi lesunya Leila menjawab pertanyaan Noah.



"Musim apa?"



"Musim dimana orang bodoh makin jadi bodoh."



"Leila?"



"Bercanda, hanya musim menetas itu saja."



"Baru pertama kali aku dengar."



"Tentu saja, karena itu hanya terjadi di Tanah Suci saja. Musim ini aku akan sangat sibuk dan juga aku ingin mencari naga lain yang masih hidup."



"Kenapa?" Noah memang pernah ke Tanah Suci, tapi dia tidak pernah tinggal begitu lama di sana. Hal yang dia ingat hanyalah membuat kontrak dan menginap semalam di sana dan pergi.



"Tentu saja untuk menanyakan tentang fase pertumbuhan naga, bodoh! Ryuu masih diusia remaja bagi seekor naga dan aku tidak tahu kapan fase dewasanya akan datang," membayangkannya saja membuat Leila tidak suka. Ketidaktahuan adalah hal yang dia benci. Sudah berapa banyak buku dan makhluk yang dia temui selama kehidupan ini. Sudah tak terhitung dan jujur melelahkan, tapi semua ini demi masa depan Ryuu.



"Ohh, aku boleh ikut?"



"Tidak." Leila sangat menentang kehadiran Noah.



"Kenapa tidak? Aku hanya perlu mengikutimu apa susahnya."



"Aku akan teleport."



"Aku bisa melacakmu."



"Mungkin kau bisa, tapi kau tidak bisa masuk ke Tanah Suci, wlek!" menjulurkan lidahnya mengejek nasib Noah yang jelas-jelas akan ditolak masuk.



"S\*\*l\*n, kau benar," Noah mengutuk dalam diam nasibnya yang masih ditolak kehadiran ke dalam wilayah Tanah Suci.



Mereka berdua malam itu mengobrol banyak hal. Tertawa akan hal yang tidak jelas dan sampai membuat pipi mereka sakit karena terlalu banyak tertawa.


.


.


.


**ada yang** \****uhuk***!\* **cemburu** \****uhuk***!\*



**Makasih ya udah mau singgah dan baca MILA** ^^


__ADS_1


**see you next chapter guys 👋😽**


__ADS_2