
Karena merasa semua ini sudah keterlaluan setelah mengetahui kehidupan ketiga calon penjahat dimasa depan ternyata jauh lebih parah dari yang dia tulis. Leila memutuskan mengambil dan merawat ketiganya dalam pengawasannya.
Perasaan takut mereka yang tak tertahankan saat masuk ke dalam hutan bisa Leila rasakan. Itu perasaan yang wajar. Akan tetapi, setelah mereka masuk. Mereka tidak akan pernah ingin keluar lagi. Leila yakin itu. Di dalam sana ada sesuatu hal yang tidak dimiliki diluar, dan seperti yang dia kira pastinya.
⟨KENAPA ADA TIGA HAMA DI BELAKANGMU?⟩
Siapa lagi kalau bukan Ryuu, si naga putih yang tidak menyukai makhluk dibelakangnya ini. Manusia adalah penyebab pendahulunya tiada.
"Ryuu, tidak bisakah kau menjaga tutur katamu di depan anak-anak?" Tatap Leila datar yang merasa jengah dengan sikap Ryuu yang terlalu berterus terang.
⟨KENAPA KAU MEMBAWA TIGA HAMA INI KE TANAH SUCI?! BAWA MEREKA KELUAR LEILA!⟩ Titah Ryuu yang menyimpan dendam kepada ras fana di belakangnya.
"Ryuu, aku mohon. Hanya untuk kali ini saja. Pernahkah aku meminta kepadamu sesuatu?" Keheningan diantara mereka berdua tak bertahan lama, "tidak, kan?"
⟨AKU TIDAK PEDULI.⟩
Tatapannya yang terkesan dingin dan memberikan tekanan kepada ketiga bocah dibelakang Leila ini membuatnya harus memutar otak.
⟨BAWA. MEREKA. PERGI. DARI. SINI. SEKARANG!⟩
Leila tidak buta. Dia menyadari seisi penghuni hutan sedang menatap mereka dari balik pepohonan. Leila berbalik dan melihat si kembar sedang saling menguatkan satu sama lain tanpa berucap sedikit pun. Bisa Leila lihat yang mana cocok sebagai seorang kakak.
Leila hanya bisa mendesah paruh. Kini dia harus berpikir bagaimana membawa ketiganya pergi selain hutan ini.
"Sistem," gumam Leila yang tidak bisa didengar siapa pun, tapi nyatanya bisa didengar jelas oleh Ryuu dan penghuni Tanah Suci yang memiliki pendengaran yang tajam.
Semenjak mereka hidup di Tanah Suci. Leila selalu mengatakan hal yang tidak mereka mengerti dan itu adalah salah satunya.
Ding!
Mendengar suara khas notifikasi itu Leila berkata, "Buka kunci pondok."
[MEMBUKA TANAH TERKUNCI.]
Selubung tipis yang menutupi di daerah dekat Hutan Berkabut perlahan mulai terangkat. Sebuah pondok dengan cerobong dengan tanaman merambat yang menempel disisi bangunan pondok mulai terlihat dengan mata telanjang.
Bangunan yang tiba-tiba muncul yang tepat berdiri didepan Hutan Berkabut dengan ladang dandelion di depannya membuat semua orang pasti kebingungan.
Pondok kecil itu adalah hasil kerja keras Leila dari menulis. Meskipun Leila bisa membangun sebuah mansion, tapi untuk apa membangun tempat yang disebut rumah besar-besar. Lagi pula dia yakin akan selalu menghabiskan waktu di dalam hutan dan dia membuat pondok hanya berjaga-jaga untuk persiapan jika Ryuu sudah siap menjadi seorang Penjaga.
Leila membawa ketiganya masuk. Pondoknya yang sudah dia tinggalkan cukup lama itu masih layak huni. Perapian yang mulai menyala dengan meja dan sofa yang berada di dekat perapian.
"Kalian bertiga bisa duduk dulu. Aku mau menyiapkan sesuatu."
Leila yang ingin mengambil langkah menjauh sekarang dihentikan oleh tangan kecil yang menahan gaunnya. Leila berbalik dan mensejajarkan tubuhnya.
"Kenapa?" Tanyanya lembut yang mengerti apa yang baru saja mereka alami.
"... Pipis," lirih si paling bungsu sepertinya.
Pada akhirnya Leila berpikir sekalian saja memandikan mereka. itu terlihat sangat senang dengan mandi busa dan bebek karet yang dia temukan di dalam lemari saat ingin mengambil sabun.
Senyuman ceria mereka yang merekah membuat Leila merasa bersalah. Ini salahnya. Dia tanpa pikir panjang menulis cerita 'Cara Bertahan Hidup Sungai Emas Everuz' atau sering dia singkat menjadi 'Sungai Emas Everuz' membawa nasib sial kepada ketiga anak ini.
Tiba-tiba saja sebuah cipratan membangunkan dirinya dari lamunannya dan mendapati ketiganya sontak terdiam dan saling merapatkan diri mereka.
Leila yang paham mereka takut jika dirinya marah malah menyiratkan air kepala ketiganya.
Karena tidak mau kalah ketiga dengan cepat membalas perbuatan Leila dan perang air membuat keempat tidak bisa berhenti tersenyum.
Melihat ujung jari si kembar yang sudah keriput, pertanda acara mandi mereka harus diakhiri. Leila membilas ketiganya dan memberikan kemeja putih kebesaran yang membuat mereka bertiga seperti memakai gaun—seperti anak perempuan.
Melihat surai merah wine itu menghalangi pandangan mereka. Leila memutuskan mengguntingnya dan menata rambut si kembar dengan berbeda-beda agar mudah membedakannya.
Netra hijau emerald penuh misteri itu bisa Leila lihat dengan jelas sekarang.
"Bagaimana? Terasa lebih baik, kan?"
__ADS_1
Ketiganya mengangguk dengan senang. Tidak pernah dia mendapatkan perlakuan sebegitu baiknya seperti ini. Bahkan ingatan tentang ibu mereka yang terbaring lemah masih membekas.
Meskipun ibu mereka tak banyak mengajak mereka berbicara. Tapi, mereka masih menyimpan kenangan masa lalu itu.
"Baik, waktunya perkenalkan. Namaku Leila." Walaupun aku sudah tahu nama kalian, sih.
Karena tidak mungkin dia memintanya memanggil dirinya ini ibu. Lagi pula jika diingat kembali kilas balik masa kecil mereka bertiga. Ingatan tentang sosok ibu mereka masih membekas.
Lagi pula dia sudah punya anak juga. Yah, si pencuri yang suka mencuri makanan kucing itu adalah anaknya. Rakun yang suka sekali makan itu sekarang ada dimana ya?
Masih dia ingat sangat jelas ajakan yang dia berikan kepada hewan omnivora itu. Karena mengingat kenangan dimasa lalu disaat dia masih mengandung membuatnya tanpa sadar mengucapkan, "Apa kau mau menjadi anakku?"
Terdengar konyol memang.
"Adrian." Mengernyitkan keningnya dan menyipitkan matanya menatap Leila.
"Namaku Atlas!" Anak laki-laki yang berdiri ditengah menjawab dengan semangat.
"... Arden, salam kenal." Sedangkan anak ketiga seperti masih malu-malu dengannya.
Leila sadar dengan urutan ketiganya memperkenalkan diri. Itu adalah urutan dari yang tertua hingga yang termuda.
Leila mengobrak-abrik lemari disampingnya dan menemukan apa yang dia cari. Sebuah kacamata untuk Adrian.
"Lebih baik?" Tanya Leila yang telah memasang kacamata kepada Adrian.
Adrian yang awalnya tidak bisa melihat dengan jelas wajah wanita yang sudah berhasil membawanya keluar dari tempat terburuk itu ternyata memiliki mata yang begitu memikat.
Adrian mengangguk dengan senang dan melihat sekitarnya yang kini pandangannya terlihat lebih jelas.
"Apa itu?" Tanya Atlas yang penasaran dengan kacamata yang Adrian pakai.
"Namanya kacamata. Adrian membutuhkannya karena matanya yang minus," jawab Leila melihat Adrian tak berhenti kagum dengan penglihatan yang lebih baik.
"Pinjam! Aku juga mau itu!" Seru Atlas yang merebut kacamata Adrian dan tarik menarik tak terhindari selepas itu.
Leila meleraikan mereka dan menasehati Atlas untuk tidak merebut kacamata Adrian. Sedangkan untuk anak termuda terlihat masih malu-malu melihat interaksi saudara lainnya yang begitu mudah berinteraksi dengan Leila.
"Apa kalian bertiga bergantian datang ke dalam hutan dengan sengaja?"
Mereka bertiga terdiam mendengar ucapan Leila.
"Aku tahu kalian mencoba menjahiliku dengan wajah identik kalian itu. Tapi, percuma saja." Leila menatap Arden yang tertegun menatapnya. "Kau kan yang aku beri batu itu."
Arden yang sempat tertegun diam awalnya mengangguk. Kini dia tahu alasannya kenapa dirinya bisa tiba-tiba dipaksa berpindah tempat saat sedang menguping pembicaraan Rion dan si bangsawan—s**l*n—itu.
Batu yang Leila bicarakan itu adalah sebuah kristal yang berukuran sebesar jempol tangan orang dewasa berwarna biru azure. Sama seperti warna matanya.
Suara lolongan seperti serigala kelaparan itu membuat suasana mencair. Awalnya hanya satu, tapi beruntun.
"Kalian lapar."
Leila tidak bisa menahan senyumnya. Melihat ketiganya tertunduk malu memegang perut mereka masing-masing.
Dengan rencana di pagi harinya menjelang siang untuk bertemu dengan Rion. Berujung pada suasana hangat di dalam pondok. Untuk setelah sekian lama dia memasuki dapur untuk membuat malam yang yang tanpa Leila sadari tidak akan pernah mereka lupakan.
Makan malam yang sederhana. Dengan lilin yang Leila nyalakan tersebar di seluruh ruangan. Leila tahu jika ketiganya membenci kegelapan.
"Terima kasih, Leila!" Seru ketiganya setelah makan malam yang terus Leila perhatikan.
"Leila tidak makan?" Tanya pemilik mata sayu itu yang adalah Arden.
"Tidak, aku tidak perlu makan."
"Ehhh!!! Nanti kau bisa mati! Ayo makan!" Seru Atlas yang mengkhawatirkan dirinya.
"Tidak akan, buktinya lihat!" Leila mengangkat salah satu lengannya dan menepuk lengannya yang sedikit berotot—atau tidak sepertinya—itu dengan bangga. "Aku bisa mengalahkan bibi kalian tadi, hahahaha."
__ADS_1
Setelah makan dan bercanda Leila mengantarkan ketiganya ke kamar yang memiliki satu kasur yang cukup besar bisa menampung mereka bertiga untuk malam ini.
Seperti halnya dirinya. Ketiganya tidak bisa tidur begitu saja ditempat baru. Leila memutuskan untuk duduk diujung lain kasur.
"Ingin dongeng sebelum tidur?" Tawar Leila yang membuat mereka bertiga berseru senang kecuali Adrian yang menjawab dengan anggukan kepala yang semangat.
Dongeng yang Leila bacakan adalah dongeng yang dimana pernah dia dengar dari alun-alun desa yang dimana ada seorang penyair menceritakan sebuah legenda.
"Dahulu kala, di tanah tempat kita berpijak sekarang ini adalah tempat yang tidak layak untuk dihuni. Tempat dimana kesengsaraan selalu datang. Hingga sekelompok orang yang terdiri dari tujuh orang datang dan membawa keajaiban di tanah ini."
Leila melihat bagaimana mata ketiganya masih segar terbuka.
"Hingga sesuatu yang membuat keenam orang lainnya tidak percayalah adalah salah satu dari mereka ternyata berpihak kepada makhluk yang selalu ditakuti oleh semua orang."
"Apa itu?" Tanya Adrian dengan penuh rasa penasaran.
"Dooshan—bacanya Dushan—, makhluk yang digambarkan memiliki taring yang panjang dengan mata merahnya yang menyala membawa kesengsaraan setiap kali muncul."
Melihat ekspresi Atlas dan Arden yang takut mulai saling berpelukan. Sedangkan Adrian menatapnya seakan-akan berkata, "Apa kau bercanda? Itu tidak kan membuatku takut."
Leila tahu jika Adrian adalah anak yang paling dewasa diantara ketiganya. Itu terbukti dari bagaimana Adrian membuat rencana yang selalu membuat Aria kesulitan dimasa depan.
"Orang yang paling kuat dan dipercaya semua orang itu akhirnya dijauhi dan diasingkan ke tanah paling asing."
"Dimana itu?" Tanya Adrian yang lama-kelamaan membuat Atlas kesal.
"Dengarkan dulu baru nanti bertanya. Kebiasaan!" Cetus Atlas yang tidak tahan lagi.
"Maaf."
Leila terkekeh melihat interaksi mereka berdua. "Hingga orang ditunjukkan dari salah satu mereka untuk menjadi seorang Raja menurunkan titah, 'Kita harus menyucikan hati yang kotor itu'."
Yang tidak dapat mereka bertiga mengerti maksudnya. Melihat mereka bertiga mulai menguap satu persatu membuat Leila tersenyum tipis dan melanjutkan ceritanya.
"Lambat laun semua orang mulai melupakan sosok yang paling disegani itu dan tanah yang mereka pikir tidak akan pernah bisa ditempati itu mulai berkembang pesat dan salah satunya terbentuklah kerajaan Everuz ini."
Leila mengangkat selimut lebih tinggi dan mengelus kepala mereka satu persatu. Melihat ketiga anak kecil yang terlelap dalam tidurnya itu membuat hatinya meringis.
Jika bayinya waktu itu masih bisa diselamatkan. Apa dia akan terlihat seperti ini juga saat tidur?
Hal yang tak terduga itu datang. Sekelompok orang datang dengan kereta kuda dan terlihat jelas beberapa kesatria yang mendampinginya juga.
Seorang pria pemilik surai hitam legam seperti malam dengan matanya yang tajam berwarna hijau emerald keluar dari kereta kuda dengan pakaian formal yang bisa Leila kira adalah seorang bangsawan.
Adrian, Atlas, dan Arden yang sedang bermain di dekat pondok berlari mendekat dan berdiri di depan Leila. Melihat tingkah mereka yang berlagak seperti pelindung membuat Leila tidak bisa menahan senyumannya.
"Apa kau wanita yang telah merawat mereka bertiga?"
Leila mulai mengambil posisi mereka bertiga dan menyuruh ketiganya bersembunyi dibelakangnya.
"Ya, dan ada urusan apa Tuan datang kemari kalau boleh tahu?" Tanya Leila balik dengan sopan berbalik dengan tatapannya yang waspada.
Melihat si kembar memegang erat gaun Leila membuat pria bersurai hitam legam itu berkata, "Kau ikut aku."
"Eh?"
"Sudah ku putuskan. Kau akan menjadi pengasuh ketiga anakku."
"EEHHHH?!!!!"
.
.
.
Nikmati kesengsaraan yang baru ya, Leila^^
__ADS_1
Leila be like: "tidak bisakah aku hidup tenang dihutan(╥﹏╥)"
See you next chapter guy's 👋😽