MIMPI LEILA: Tiga Kemungkinan

MIMPI LEILA: Tiga Kemungkinan
BAB 18 : RAJUTAN


__ADS_3

Begitu sunyi dan hanya ketenangan yang membantunya lebih berkonsentrasi dengan kewajiban sebagai seorang Duke.


Hidup terasa membosankan dengan semua perputaran kelahiran dan kematian itu. Masih Noah ingat disaat dia terlahir sebagai bukan seorang bangsawan. Bukan juga sebagai anak seorang pedagang kaya. Dia hanyalah seorang anak yang baru saja terlahir kembali dan melihat kematian kedua orang tua barunya.


Tangan Noah menari dengan lihai di atas secarik kertas berhenti sekarang. Noah mencengkram penanya dan berpikir yang tidak-tidak mulai sekarang.


Apa yang harus aku lakukan sekarang?


Noah mengedar pandangannya. Melihat sejauh mana matanya bisa memandang dan memilih melihat keluar jendela dimana hari nampak cerah berbalik dengan hatinya.


Melihat bagaimana Leila sedang bersama ketiga anaknya. Anak kandungnya membuatnya masih merasa tidak percaya. Jujur saja ini adalah kelahiran terburuk yang dia dapatkan. Untuk pertama kalinya dia menjadi seorang bangsawan dan keturunan dari mantan seperjuangannya itu. Noah merasa jijik untuk dirinya sendiri.


Seperti mimpi terburuk menjadi kenyataan.


Ini seperti sama saja dia ingin membalas dendam kepada dirinya sendiri dengan darah keturunan si br*ngs*k itu mengalir dalam nadinya.


Melihat Leila yang bersurai coklat membuatnya merindukan gadis kecil yang berani sekali menarik rambutnya yang dia rawat dengan hati-hati itu.


Menyadari seseorang sedang menatapnya. Leila berhenti sejenak dan menoleh ke tempat ruangan Noah terlihat dari taman. Ini adalah waktu bebas si kembar setelah semua sesi pelajarannya.


Menyadari mereka berdua sedang bertatap Leila memberikan senyuman terbaiknya dan membungkuk badannya. Seakan mendapatkan hormat itu Noah lekas berbalik dan memunggungi mereka.


Melihat perilaku ayah kandung mereka membuat si kembar kesal dan malah menarik Leila untuk menjauh dari pandangan Noah.


"Leila ayo ke sana," tarik Arden yang tidak sabaran.


Leila yang melihat tingkah Arden yang masih sama menggemaskannya saat masih di pondok. Leila dengan patuh mengikuti langkah si kembar yang membawanya menjauh dari pandangan Noah.


Noah sadar dan menyadari jika ketiga anak kandungnya itu terlihat lebih pintar dari yang terlihat.


Mengingat mereka membuatnya mengingat bocah yang membuat mereka ada. Bocah yang berpangkat sebagai Rajanya itu membuatnya mabuk parah malam itu dan menuntunnya ke kamar dengan baik hati dan menguncinya dengan Rumi Seena.


"Harry."


Pria yang sudah berumur yang berdiri dipojok ruangan menunggu Noah itu menjawab panggilan Noah.


"Panggil dia."


Harry yang paham maksud dari Noah tertegun sejenak dan segera melaksanakan tugasnya. Meskipun wanita yang harus dia panggil itu adalah orang yang tidak dia sukai, tapi ini adalah perintah Tuannya.


Tak perlu menunggu waktu lama Leila datang. Noah bisa melihat wajahnya yang berkeringat itu. Pasti dia berada sangat jauh dari sini.


Sebelum Leila dipanggil. Leila sedang dikamar si kembar. Ini adalah waktu jam tidur siang mereka. Karena si kembar tidak ingin dirinya pergi. Leila memutuskan melanjutkan rajutannya. Syal rajut yang baru-baru ini dia buat membuat si kembar menginginkan hadiah darinya.


"Tidak biasanya kalian ingin hal seperti ini," mengingat jika keinginan mereka cukup luar biasa untuk anak seumuran mereka.

__ADS_1


"Aku ingin warna merah!" Seru Atlas yang bisa membayangkan syal merah yang melingkar dilehernya.


"Aku! Aku! Aku mau yang warnanya putih ya Leila," kini Arden yang berdiri di sampingnya Leila duduk dan mengguncang tubuhnya.


"Aku... Warna biru saja," ucap Adrian yang menyukai warna biru karena selalu teringat warna netra Leila yang selalu berhasil mengikat dirinya.


Leila tersenyum mendengar permintaan si kembar, "Tapi, jangan berharap hasilnya akan bagus. Aku baru belajar."


"Tidak apa-apa, hadiah dari Leila adalah harta karun bagi kami," ucap Atlas yang spontan mengucapkannya yang mendapat anggukan dari kedua saudaranya.


"Ahh, sejak kapan kalian pintar sekali menyanjung, hm?"


Tidak bisa dipungkiri jika Leila senang mendengarnya dan kesenangan itu menghilang saat Harry memutuskan untuk menggantikan tempatnya. Tanpa Leila sadari dia membawa rajutannya ke dalam ruangan Noah.


"Apa ditanganmu itu?" Pandangan Noah tertuju ke benda yang Leila sembunyikan.


"Hanya... Rajutan saya, Duke." Leila perlahan memperlihatkannya tanpa menimbulkan kecurigaan yang menimbulkan dirinya disangka sebagai pembunuh bayaran dari bangsawan lain.


Noah bisa melihat hasil rajutan Leila yang mungkin belum setengah jadi.


"Duduk."


"Maaf?"


"Duduk disana dan selesaikan pekerjaanmu." Menunjuk sofa tak jauh dari mejanya.


"Duduk."


"Baik!"


Leila lekas mengambil tempat duduk terdekatnya dan melanjutkan apa yang dikatakan oleh Noah. Noah yang melihat Leila dengan patuh menuruti ucapannya membuat seketika berpikir, kenapa dia sangat nakal saat kecil dulu?


Leila merasa tertekan berada di ruangan ini. Meskipun dia sudah melupakan semua perilaku Noah. Tapi, tetap saja. Bagaimana bisa dia terjebak didalam satu ruangan dengan pria ini dalam keheningan.


Goresan pena dan sering kali suara dari ******* napas yang menandakan seberapa lelah dia membuat Leila menghentikan aktivitasnya. Dia tidak tahu jika Noah akan terdengar setertekan ini dan seberapa banyak tugas sebagai Duke memangnya?


Maaf saja dia memang seorang penulis, tapi dia tidak tahu tugas seorang bangsawan meskipun latar belakang ceritanya abad pertengahan. Lagi pula ceritanya berfokus pada petualangan Aria River.


"Apa ada masalah dengan anak-anak?" Tanya Noah yang tengah menandatangani berkas yang tidak Leila ketahui.


"Mer—, Tuan Muda merasa senang dengan kelas pilihan mereka, Duke."


"Hanya itu?"


Leila berpikir sejenak dan berkata, "Tuan Muda juga pasti senang bisa bersama keluarganya kembali."

__ADS_1


"Dan?"


Apa lagi yang memangnya kau harapkan?!, "Tuan Muda sekarang sedang tidur siang."


"Oh...."


Hanya itu yang kau katakan?! Sungguh! Seseorang tolong bawa aku pergi dari sini!, batin Leila yang berteriak tidak tahan lagi. Bahkan dia tidak bisa konsentrasi disini untuk menyelesaikan rajutannya, lagi pula kenapa Duke memanggilnya?


Tok! Tok!


"Masuk."


Leila menoleh dan melihat Harry diambang pintu.


"Maaf mengganggu waktu Anda Duke. Surat mendadak dari perbatasan."


Harry melihat Leila yang diam saja duduk di sofa tamu dengan rajutan yang dia pangku.


"Leila, kenapa kau tidak pergi dan selesaikan tugasmu?" Tanya Harry dengan senyuman ramahnya.


Menyadari situasi yang tidak pantas dia berada disini. Leila bergegas pergi dan pamit kepada mereka berdua. Melihat kepergian Leila, Noah tidak bisa menahan decihannya.


Tidak bisakah surat itu datang nanti saja, "Kali ini apa lagi?"


Harry memberikan surat yang baru saja datang itu. Mungkin saja ini ada kaitannya dengan rapat kemarin itu. Lagi pula wabah dari wilayah timur masih belum dia ketahui lebih lanjut.


"Kau boleh pergi."


Setelah kepergian pria paruh baya itu Noah menyandarkan punggungnya dan mendongak menatap langit-langit ruangannya. Terkadang dia berpikir untuk mati lagi dan menjalani kehidupan selain menjadi seorang bangsawan. Tapi, itu sama saja dia akan kehilangan Leila lagi.


Kesempatan tidak datang dua kali bukan.


Sama seperti tekatnya saat mencari tempat Tanah Suci saat itu. Masih dia ingat bagaimana perjuangan yang dia tempuh dan mencari ditempat yang tak terduga sama sekali.


Noah mendesah paruh dan berpikir untuk nanti malam memanggil Leila ke kamarnya lagi.


Pijatannya boleh juga, batin Noah membayangkan Leila memijatnya yang membuatnya keesokan paginya merasa lebih baik.


.


.


.


Leila punya kerjaan sampingan jadi tukang pijet ya ternyata, hahahaha

__ADS_1


Leila be like: "diem ga thor_- aku juga ga mau sebenernya tau, tapi ya mau gimana lagi panggilan tugas, hahh...."


__ADS_2