
Bab kali ini lebih panjang dari biasanya
Cuss langsung baca aja 〜(꒪꒳꒪)〜
Ini hari yang indah dan kenapa dia harus terjebak di sini?!
Leila ingat jika dia ingin bertemu Alex yang mengatakan jika dia punya pie enak, tapi kenapa bisa dia ditarik Noah masuk ke dalam kereta kuda dan dibawa pergi ke ibu kota.
*Mana Sistem*?!!
*Keluar lu*!
*Gue butuh penjelasan*!
*Ding*!
\[**MENJAWAB**.\]
\[**ANDA DALAM PERJALANAN MENUJU IBU KOTA**.\]
Siapa yang ga tahu coba?!
Dengan mudahnya Noah menariknya dan meninggalkannya ditempat yang tidak dia tahu dimana. Sedangkan Noah rapat dengan Calix dan petinggi yang lain.
"Apa-apaan ini?!"
Tapi, setidaknya seharusnya Noah meninggalkan sekeranjang kue atau makanan yang lain begitu. Ya, Leila lupa jika Noah pasti berpikir jika dia tidak butuh makan. Tapi, dia bisa mati bosan tak melakukan apa pun di sini.
"Apa yang aku harapkan dari orang macam dia, cih?!"
Leila memutuskan mencari tempat aman dibawah pohon willow untuk berbaring menikmati langit hari ini. Terlihat cerah berawan. Begitu damai dan mendayu hati.
Perasaan ini begitu tenang.
Leila menatap pemandangan langit siang ini sembari membayangkan alur cerita yang akan dia buat.
"Berapa banyak yang harus aku terbitkan tahun ini?" Mengingat jika beberapa tahun terakhir Leila tidak mengeluarkan buku terbaru semenjak terakhir kali berpapasan dengan Noah di toko buku waktu itu.
"Sistem."
*Ding*!
"Bukankah aku dihukum?"
\[**MENJAWAB**.\]
\[**DEWA KEMATIAN MENGATAKAN JIKA MASA HUKUMAN ANDA TELAH HABIS DAN MULAI MEMPERLUAS WILAYAH DIMANA SAJA ANDA BISA BERKUNJUNG SEKARANG**.\]
Membaca pesan baru itu sontak membuat Leila bangun, "Serius?!"
\[**DAN SEBAGAI GANTINYA DEWA KEMATIAN AKAN MEMINTA SESUATU DARI ANDA NANTI**.\]
"Jangan katakan itu nyawaku."
Leila kembali berbaring setelah pesan kedua datang. Menikmati pemandangan langit dan mendengar pembicaraan para pelayan yang sedang berkeliaran disini. Leila yang berada dibalik semak-semak di dekat pohon willow mendengarkan dengan seksama.
"Pesta kemarin malam sangat besar terlebih lagi ketiga putra Duke D'Arcy,' seru wanita yang seperti seumuran dengan si kembar tengah membayangkan si kembar di pesta malam yang dimaksud.
Leila yakin mereka akan sangat tampan, tidak seperti ayah mereka yang menyebalkan.
"Aku yakin pasti akan sulit membedakan mereka. Terlebih ketiganya sama-sama tampan. Aku bersyukur bisa melihatnya."
"Ya, kita bisa melihat pria tampan banyak sekali tadi malam."
"Setuju dan terlebih apa kau ingat gadis yang sempat kita bicarakan di depan meja makanan?"
"... Yang pakai gaun biru itu?"
"Iya, ternyata dia anak angkat Count Grey."
"Anak angkat? Tahu darimana kau?"
"Jangan remehkan sumber yang aku dapat ini, hehehe. Juga nama gadis itu Aria Grey."
"Nama yang biasa saja."
Nama yang biasa saja katamu?!
*Aku memikirkan nama yang cocok itu selama satu minggu*! *Satu minggu aku tidak bisa tidur tenang hanya karena sebuah nama*! batin Leila yang ingin berteriak dan memukul kedua orang itu yang seenaknya bilang nama yang dia pilih sebagai protagonis biasa saja.
"Saat kita pergi ternyata kita melewatkan wajah tampan seorang pendeta."
"Sepertinya wajahnya akan kalah dari Tuan Muda D'Arcy."
"Tidak, malah bisa menyainginya kata semua orang."
"Aku tidak percaya dan berhenti membual!"
"He! Aku tidak bohong! Dia punya rambut segelap samudra dan juga dia tinggi tak kalah dari Tuan Muda D'Arcy! Kau dengar?! Dia juga punya aura seorang imam yang membuat semua orang merasa nyaman dan tentram! Doris, tunggu!"
Leila dapat kabar baru sekarang, tentang Ias. Dia sudah berada dijalan yang sama seperti alur di novel dan kenapa warna surainya tidak berubah seperti yang Leila gambarkan?
Ini aneh.
Leila yakin membuat surainya bukan warna gelap. Lagi pula jika Leila kira setidaknya dalam waktu dekat atau mungkin juga sudah Ias mendapatkan berkatnya.
"Mau dia rambutnya warna apa, dia tetap Ias."
Ini adalah efek sayap kupu-kupunya. Tidak ada yang bisa dia ubah lagi. Terlalu banyak dia ubah juga tidak baik.
*Ding*!
\[**DEWA KEMATIAN SEDANG MENGAWASI ANDA**.\]
\[**DEWA KEMATIAN MENYINGGUNG SENYUMAN, MELIHAT WAKTU YANG ANDA HABISKAN**.\]
Kan! Pasti ini ada hubungannya dengan nyawanya.
Pasti.
Menyadari tidak ada siapapun disekitar sini lagi Leila kembali menikmati waktu luangnya yang sayangnya malah membuat Leila berpikir keras karena ucapan si perusak suasana itu.
__ADS_1
"Hei, Dewa."
Makhluk yang sama sekali belum pernah Leila lihat rupanya itu bisa Leila rasakan jika dia sedang menatapnya dengan heran.
"Kapan kita akan bertemu?"
*Ding*!
\[**DEWA KEMATIAN TIDAK INGIN MENJAWAB PERTANYAAN ANDA**.\]
"Cih! Pelit informasi."
*Ding*!
\[**INFORMASI YANG ANDA TANYAKAN BERHUBUNGAN DENGAN HUKUM ALAM SEMESTA**.\]
"Kalau begitu, apa yang kau inginkan? Tapi, entah kenapa aku merasa akan terkejut setelah ini," gerutu diakhir Leila tanpa sadar.
Siapa lagi yang datang?
Terdengar suara langkah kaki yang terdengar cukup keras ditengah kesunyian yang menenangkan ini. Leila yang tetap berbaring sembari menunggu Noah menjemputnya dan seperti yang dia harapkan. Noah datang, tapi dia tak sendiri.
"Berhenti mengikuti!"
Leila mengerutkan keningnya. Tidak biasanya Noah berteriak seperti itu.
"Kita hanya kebetulan dijalan yang sama."
Ini suara milik bocah itu ternyata.
"Kau pikir aku bodoh, hah?!"
Mari kita dengar apa yang mereka berdua bicarakan.
Leila tetap dalam posisinya sembari menguping pembicaraan kedua laki-laki itu.
"Tentu saja tidak, ."
"Tidak bisakah kau kembali dan lakukanlah tugasmu selayaknya seorang Raja," cibir Noah yang sudah kesal dengan panggilan itu.
"Hei, ayolah kita tidak bisa sesering dulu menghabiskan waktu bersama."
*Waktu bersama*?
*Jadi, dulu Noah dan Calix semasa muda sering menghabiskan waktu bersama*?
*Aku penasaran apa yang mereka lakukan semasa mudanya*?
"Abel pasti mencarimu. Jangan buat pelayan tua itu terkena serang jantung lagi."
"He, tenang saja. Abel masih akan sehat, meskipun terkena serangan jantung."
Abel adalah pelayan yang sudah melayani keluarga kerajaan hingga diusianya yang sudah setengah abad. Noah merasa kasihan dengan pria tua itu harus mengurusi bocah nakal ini dimasa senjanya.
"Kita bisa menghabiskan waktu seperti dulu lagi jika kau mau, tapi tidak sekarang. Aku sibuk." Noah menatap lawan bicaranya yang sangat susah sekali diatur bahkan diumurnya yang sudah berkepala tiga.
"Ah, kita bisa menghabiskan waktu dikamar seperti dulu lagi."
"Dan juga kau bisa olahraga kecil dengan aku berada di atasmu." Tambah Calix tanpa sadar membuat Leila yang sedang menguping kebingungan.
Atas?!
"Kau suka sekali mengganggu waktu bacaku memang." Ketidaksukaan Noah adalah bocah bernama Calix yang suka sekali mengganggu waktunya. Bahkan Calix rela datang ke mansionya hanya untuk bertemu dengannya.
Okay Leila, ini tidak seperti yang ada dipikiranmu, kan?
Iya, pasti.
Berpikir positif saja jika Noah yang sedang tengah membaca diganggu Calix dan berujung—, Leila tidak kuat memikirkan kejadian selanjutnya.
"Jika dilihat lagi kau terlihat lebih kurus dari kemarin?" Bisa Noah lihat jika dari ceruk lehernya yang terlihat sangat cekung dan tulangnya terlihat sangat jelas.
Calix menyentuh lehernya seakan itu bukan apa-apa, "Ohh, lihat es kutub ini yang perhatian sekali kepada Rajanya."
"Tentu saja, Aeleen—cahaya matahari—kami harus tetap sehat selalu untuk memimpin kerajaan Everuz ini."
"Kau juga, dimana Leila?" Calix menepuk bahu Noah yang masih sama berototnya terakhir kali dia sentuh.
"Dia ada di—"
"Aku tidak dengar apa pun! Beneran!" pekik Leila ketika keduanya menoleh bersamaan melihat dirinya dari balik semak-semak.
Leila yang merasa bersalah mendengar pembicaraan mereka berdua meski Noah sama sekali tidak merasa keberatan. Leila lekas memutuskan pergi dari tempat ini.
"Ya, itu tidak masal—"
"Saya akan merahasiakan hubungan kalian berdua!" potong Leila sekali lagi ucapan Noah.
"Hubungan?" Calix menatap berganti Noah dan Leila. Mulai berpikir apa yang ada sesuai diantara mereka berdua.
"I-itu, saya... Saya tidak akan mengatakan jika kalian itu sebenar-benarnya sepasang kekasih." Dengan suaranya yang sedikit gemetar diawal Leila mengalihkan pandangannya, tidak ingin menatap Noah dan Calix.
"Kekasih? Dengan es kutub ini?" Calix menunjuk Noah dengan jempolnya dan menatap Leila dengan penuh tanda tanya.
"Kalau begitu saya permisi, Yang Mulia! Duke Arcy!" Leila lekas berbalik pergi meninggalkan mereka berdua. Terlalu banyak yang dia dengar itu tidak baik. Bahkan wajahnya yang semakin memanas setiap tarik napas bisa Leila rasakan. Betapa memalukannya ini.
"Leila kau salah paham!" pekik Noah yang sepertinya mulai paham apa yang sebenarnya terjadi di sini.
"Aku tidak dengar dan tidak lihat apa pun!" pekik Leila yang tidak kalah tingginya berjalan cepat meninggalkan kedua pria itu.
"Leila! ini salahmu bodoh!" Noah menatap tajam Calix yang menatapnya tidak terima juga.
"Salahku?!"
"Ya! Kenapa kau membuat dia berpikir kita ini sepasang kekasih?!"
"Ya mana aku tahu! Kita kan hanya mengobrol biasa dan mengingat jika kau push up aku selalu duduk di atas punggungmu dan dengan otak tak kenal lelahmu itu masih sempat-sempatnya baca buku juga!" terang Calix yang mengingat masa-masa itu lagi dan merasa tidak ada yang salah.
Leila yang masih bisa mendengar pertengkaran sepasang kekasih itu memilih menutup telinganya dan lari sepanjang lorong. Beruntungnya tak ada seorang pun yang memarahinya karena berlari di lorong istana.
Wajah Leila yang memerah, mencerminkan isi pemikirannya. Merasa sudah cukup jauh dari mereka berdua dan melihat sebuah air mancur berukuran besar Leila langsung menghampirinya dan mencelupkan kepalanya berharap pemikiran kotornya lekas hilang.
__ADS_1
"Wah! Bisa-bisanya Noah masih mencari Leila setelah melakukan hubungan itu." Leila mengambil napas panjang dan melihat pantulan dirinya.
"Ini bukan aku," gumamnya karena penampilan ini bukan dirinya. Bukan dari cerminan dirinya yang sesungguhnya.
Kata orang, "Luka bisa disembuhkan oleh waktu."
Salah.
Perkataan itu hanya bisa dikatakan oleh orang yang tak pernah merasakannya.
Luka tidak bisa disembuhkan. Hanya bisa meninggal bekas dan bekas itu adalah sebuah pengingat.
"Kakak?"
Leila mengangkat kepalanya dan melihat siapa yang berada diseberangnya dan siapa lagi yang memanggilnya kakak selain bocah yang sudah tidak pernah lihat selama bertahun-tahun lamanya.
"Ias?"
Mendengar suara balasan itu Ias yang sudah lama menahan rasa rindunya berlari memutari air mancur dan memeluk Leila.
Tunggu, ini Ias?
"Kakak! Kakak dimana selama ini?!"
"K-kerja?"
Setelah sekian lama akhirnya Ias bisa bertemu lagi dengan Leila. Sudah berapa tahun yang terlewat, tak sehari pun Ias tak pernah melewatkan doanya, agar bisa bertemu dengan kakak tersayangnya.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Leila perlahan membalas pelukan Ias yang terlihat jelas dia sudah tumbuh menjadi seorang pria. Leila masih ingat seberapa pendek dan kurusnya dia dulu.
"Aku baik, bagaimana dengan kakak? Apa kakak sehat? Apa ada yang sakit? Kalau ada katakan padaku. Aku akan memanggil dokter untuk kakak."
Dan lihat seberapa cerewetnya anak ini.
Leila menggelengkan kepalanya pelan dan menatap Ias yang memakai pakaian pendeta serba putih.
Masa depan masih sama semestinya dan ketampanan nomor satu itu bukan bualan semata.
Leila tanpa sadar menyisir surai hitam legam bergradasi biru di ujungnya itu. Setiap helaian rambut Ias berada di sela-sela jarinya. Lihat sekarang anak yang dulu suka sekali mengikutinya kemanapun. Kini dia sudah tumbuh dewasa dan terlihat bisa memikat wanita manapun.
"Sudah lama sekali, ya."
Ias menggenggam tangan Leila dan mengambilnya untuk menyentuh pipinya.
"Sudah lama sekali, Kak," balas Ias tersenyum bahagia melihat doanya terkabul hari ini.
Angin musim panas yang begitu menyegarkan datang menyapu kedua surai mereka yang berbeda warna itu. Surai Ias yang terlihat dipotong rapi tidak seperti dalam alur aslinya yang dia biarkan memanjang dan dia kepang.
Bahkan orang bodoh pun bisa tahu. Dimata pendeta muda itu tercermin jelas wanita yang setiap hari tak hentinya dia sebut namanya dalam doa. Ias percaya akan takdir dan takdir yang membawanya bertemu dengan Leila di istana hari ini adalah sebuah berkat baginya.
*Dia masih sama seperti sepuluh tahun yang lalu*, batin Ias tersenyum senang melihat Leila tak berubah banyak.
"Tuan Alluca, kita harus segera pulang. Bapa—"
Ias berbalik menatap junior yang mengikutinya berkunjung ke istana menggantikan Bapa untuk melapor.
"Ada apa, hm?" tanya Ias penuh senyuman ramah yang sebenarnya terlihat tidak ramah dimata juniornya.
"A-aa, i-itu... ."
"Sepertinya kau tidak bisa berlama-lama di sini ya," ucap Leila yang membuat Ias merasa bersalah.
Leila menepuk bahu Ias dan berkata dengan nada ceria, "Kita akan bertemu lagi. Aku yakin. Sebaiknya kau pergi."
"Tapi—"
"Aku janji, kita pasti akan bertemu lagi."
Dengan berat hati Ias kembali ke Katedral dan menatap Leila yang masih setia melihatnya sampai berbelok ditikungan.
Leila mengambil napas lega. Hari ini ternyata penuh dengan kejutan. Leila sadar jika seseorang sedang memperhatikan mereka disudut taman ini. Lagi pula ditempat yang luas ini pasti setidaknya satu orang melihat interaksi mereka berdua.
"Biarkan saja."
Leila tak ambil pusing siapa orang itu dan melangkah menjauh dari air mancur. Leila berpikir jika dirinya yang salah disini karena bersikap implusif terhadap hubungan Noah dan Calix.
"Sebaiknya aku segera minta maaf. Sistem."
*Ding*!
"Tunjukkan jalan dimana mereka berdua."
*Ding*!
\[**LOKASI, SAYAP BARAT. ISTANA GHRIAN**.\]
\[**SERATUS METER, ARAH JAM TIGA**.\]
"Itu dekat."
Leila lekas menuju tempat yang sistem katakan padanya dan ditandai jika mereka berdua ada dibalik pintu itu.
"Noah! Calix!" seru Leila tanpa sadar datang diwaktu yang tidak tepat. Leila melihat Noah ada diatas Calix yang terlentang dilantai dengan pakaian berantakan, sedangkan Calix yang telanjang dada.
"Maaf, mengganggu waktu Anda, permisi." Leila membungkuk dengan sopan dan pergi.
"TUNGGU! KAU SALAH PAHAM!" pekik keduanya karena mereka sebenarnya sedang bertengkar dan adu tinju tadinya. Mengenai bagaimana bisa Calix telanjang dada itu karena saat mereka akan berkelahi. Calix akan membuka pakaian dan melemparnya bentuk mengganti dari sapu tangan untuk memberikan tantangan.
"INI SALAHMU BODOH! LEILA JADI SALAH PAHAM!" pekik Noah memukul sisi wajah Calix. Tak peduli jika dia adalah seorang Raja.
"KAU PIKIR KAU TIDAK BODOH JUGA, TUAN YANG SIALNYA GENIUS!" Calix membalas pukulan Noah dan adu tinju tak bisa terlewatkan.
Leila yang sudah menutup telinganya rapat-rapat tanpa pikir panjang memutuskan untuk kembali pulang terlebih dahulu. Meninggalkan kedua pria itu beradu argumen dengan tinju mereka.
.
.
.
**Akhirnya Ias bisa ketemu Leila ^^ terharu sih kalau beneran Ias berdoa tiap hari biar bisa ketemu Leila lagi**
**Dan... Saya sangat terhibur akan kesalahanpaham ini, hohoho ◉‿◉**
**Makasih ya udah mau singgah dan baca MILA** ^^
__ADS_1
**see you next chapter guys 👋**😸