MIMPI LEILA: Tiga Kemungkinan

MIMPI LEILA: Tiga Kemungkinan
BAB 14 : JIWA LEILA


__ADS_3

Leila menepuk tangannya untuk meminta atensi ketiga si kembar yang awalnya saling melempar bantal dan terkadang Rakun juga ikut mereka lembar seperti bola.


"Baiklah! Saatnya dongeng sebelum tidur!" Seru Leila dengan nada ceria yang membuat mata ketiga si kembar berbinar.


"Ceritakan tentang monster besar yang punya punggung gunung itu lagi, Leila!" Seru Atlas dengan memegang pedang kayu kecil yang dia bawa kemanapun.


"Aku mau yang itu! Yang tentang jamur yang berwarna biru itu!" Seru Arden yang tak mau kalah dengan Atlas.


"Tidak! Ayo ceritakan monster mengerikan yang keren itu!"


"Tidak! Leila! Tolong ceritakan tentang tumbuhan yang pernah kita petik waktu itu!"


"Monster!" Pekik Atlas kearah Arden yang sangat bertolak belakang keinginan mereka berdua.


"Tidak, jamur biru!"


Leila hanya bisa tersenyum masam melihat keduanya tidak mau mengalah. Leila menatap Adrian yang begitu tenang dengan Rakun yang dalam gendongan yang sepertinya pingsan. Terlihat sekali jika dia sangat pusing setelah dilempar ke sana kemari oleh si kembar.


"Adrian," pemilik nama itu menatap wanita yang memiliki netra biru azure, "Kau ingin apa?"


Anak laki-laki yang terkenal akan ketenangannya itu terdiam sejenak berpikir apa yang dia mau untuk dongeng malam ini, "Aku mau perpustakaanmu," meskipun dia mengucapkan dengan nada yang biasa saja, tapi matanya yang penuh binar dan harapan itu bisa Leila lihat.


Kenapa tidak ada yang normal sama sekali di sini?!


"Oke, semuanya berbaring di tempat tidur masing-masing," dengan cepat mereka bertiga merangkak ke atas ranjang dan menarik selimutnya hingga batas leher. Menunggu Leila untuk membawa mereka ke dalam dunia yang Leila buat untuk mereka.


Leila yang duduk di depan ketiga kasur itu berdehem sejenak dan berkata, "Bagaimana dengan kisah pahlawan lagi?" Tawar Leila yang mendapatkan tatapan datar dari ketiganya seakan berkata, "Apa tidak ada yang lain?"


"Ayolah! Aku jamin kalian akan menyukainya!"


Mereka bertiga sudah mulai muak dan hafal diluar kepala bagaimana alur yang akan diceritakan oleh Leila. Ini sudah kesekian kalinya dan Leila tak bosan-bosannya menceritakannya sebagai dongeng sebelum tidur.


Bukan tanpa alasan Leila bercerita tentang pahlawan. Mengingat minat mereka perlu diwaspadai. Buku yang Adrian baca cukup berat dan itu membuat otaknya akan semakin encer saja.


Untuk anak yang mulai menyukai latihan berpedangnya dari kedua saudaranya itu suka sekali membahas monster. Leila ingat jika Atlas dalam cerita 'Sungai Emas Everuz' adalah seorang penjinak monster.


Sedangkan untuk pemilik mata sayu yang bisa berubah menjadi tajam itu adalah seorang yang suka sekali menyiksa korbannya dan termasuk dalam golongan orang gila dengan darah.


Leila menatap ketiganya dengan berkata dalam hati, Ayolah aku melakukan ini untuk kalian juga. Agar masa depan kalian lebih baik.


Leila yang terus bercerita tentang bagaimana benua ini dulu belum bisa dihuni tanpa sadar Noah berdiri diambang pintu yang sedikit terbuka. Melihat ketiga putranya itu mulai merasa kantuk dan disaat Leila mulai yakin ketiganya sudah terlelap tidur menghentikan kisahnya.


Cerita yang dia bawakan adalah apa yang dia alami di kehidupan pertama. Penuh luka dan dendam yang teramat.


"Kenapa aku disana menjadi tokoh antagonisnya?" Batin Noah yang merasa sosoknya dimata dari generasi ke generasi semakin buruk saja.


Leila melihat Rakun yang sudah mulai sadar dan menyadari jika dia berada dalam pelukan maut Adrian segera berusaha melepaskan dirinya. Tapi, tangan kecil anak itu terlalu memeluknya erat. Leila yang menyadari itu berusaha melonggarkan pelukan Adrian tanpa berusaha membangunkan pria kecil yang sangat terobsesi dengan perpustakaannya.


Rakun yang berhasil lepas dari pelukan maut itu segera melesat  keluar dari kamar para iblis itu dan mencari tempat teraman menurutnya. Leila hanya bisa menyimpulkan senyum tipis melihat aksi Rakun dan kembali membetulkan selimut untuk Adrian.


"... Leila."


Ternyata anak itu belum tidur juga. Leila menatap degan lembut Adrian yang masih setengah sadar itu, "Apa dingin? Aku bisa menambahkan selimut lagi."


Adrian menggelengkan kepalanya dengan sangat pelan. Anak kecil bersurai semerah minuman memabukkan itu dengan netra seperti pertama emerald itu menatapnya dengan sayu. "... Perpus."


Dia masih memikirkan itu!


Leila menepuk permukaan selimut yang terlihat mengembung itu, "Ini sudah malam. Biarkan Peri Frey datang berkunjung."


Adrian pernah mendengarnya. Leila berkata jika peri itu akan datang disaat perasaan bahagia yang tidak bisa ditampung lagi. Perasaan yang ingin terus terjaga dan menceritakan pada dunia betapa bahagia dirinya. Disaat kantuk mulai datang peri yang katanya Leila berukuran kecil seperti kunang-kunang itu akan datang dan meniupkan mimpi terindah yang akan menjadi kenyataan di dunia nyata.


"... Ya, selamat malam Leila. Aku menyayangimu."


Mendengar kalimat yang selalu bisa dia dengar dari mulut anak kecil berwajah kelewatan tenang terkadang membuat hati Leila berbunga-bunga. Rasanya, rasa letihnya menghilang digantikan pernyataan tulus itu.


Tangan Leila tergerak dan mengelus surai semerah wine itu, "Aku juga. Tidur yang menyenyak profesor kecil."


Tanpa dia sadari Leila mengelus permukaan perutnya yang pernah membuncit itu. Perasaan kaki yang menendang dan saat dia mengajak si kecil dalam perut merespon membuatnya tersenyum sendiri. Kenangan indah dan pahit itu membuat Leila mengambil napas dalam-dalam dan berbalik pergi dari kamar si kembar.


Saat Leila membuka pintu kamar si kembar betapa terkejutnya dirinya melihat ayah dari mereka.


Kenapa Duke disini?!

__ADS_1


"S-selamat malam, Duke," cicit Leila sembari menutup pintu kamar si kembar dengan perlahan.


Noah yang melihat sudut mata wanita itu sedikit berair membuatnya berpikiran mungkin saja jika Leila butuh istirahat. "... Malam."


"Kalau begitu saya pamit undur diri, permisi."


Melihat Leila berjalan ke arah kiri dengan tergesa-gesa. Noah berkata, "Kau salah jalan."


"Ah? Ah! I-iya," betapa bodohnya kau Leila. "Kalau begitu permisi lagi, Duke."


Leila kembali berjalan dan Noah yang berjalan di belakangnya membuat Leila tidak bisa bergerak dengan bebas. Pria itu seakan-akan mengikuti langkahnya. Leila memutuskan berhenti tepat di dekat taman dengan siluet bangunan tua yang dilarang siapa pun untuk masuk itu.


Bulan terlihat bersinar sebagai pengganti penerangan mereka sekarang. Semua lilin sudah dimatikan dan Leila tak memerlukan lilin juga. Dia sudah hafal diluar kepala jalan menuju kamarnya.


"Duke, apa Anda ingin mengatakan sesuatu?" Tanya Leila dengan tersenyum paksa karena dia lelah hari ini. Lagi pula si penguntit itu sering memperhatikannya.


Ding!


[DEWA KEMATIAN SEDANG MENGAWASI ANDA.]


Baru juga pikirkan dah muncul, kan!


Noah menunduk berpikir sejenak dan melirik siluet sesuatu yang mengganggu dari ekor matanya. Bangunan tua tempat dimana dia melukis Leila-nya ternyata.


Noah menatap Leila dengan netra kuning keemasan sekarang. Leila kini tak begitu ambil pusing dan penasaran. Mungkin saja ini adalah kekuatan yang dimiliki oleh garis keturunan D'Arcy. 


Dia kan keturunan pahlawan.


Lagi pula dia juga menjelaskan bagaimana sosok Aria River menggunakan kekuatannya. Netra kuning keemasan adalah tanda diberkati oleh Dewa.


Apa mungkin Duke juga?


Tapi, seingatnya dirinya tak membuat karakter Noah Eugene D'Arcy sama sekali.


Hanya menjelaskan masa lalu itu dengan secara sederhana.


"Apa kau mempunyai saudari?"


Mendengar itu tentu saja membuat dahi Leila mengerut kebingungan, "Saudari?"


Mendengar penjelasan ciri fisik sosok yang Noah maksud membuat Leila berhenti bernapas sejenak. Itu adalah ciri fisiknya di kehidupan pertamanya dulu. Lagi pula dari yang dia dengar mendiang istrinya juga memiliki warna rambut sama si kembar. Leila memberikan jawaban non-verbalnya, menggelengkan kepala seraya berkata, "Maaf, tidak, Duke. Saya anak tunggal."


"... Benarkah?"


Kenapa dia ngotot sekali, sih?!


"Tapi, kau...." Cahaya bulan yang menerangi mereka berdua mulai tertutup dan bisa Leila lihat dengan sangat jelas. Netra kuning keemasan itu menyala menatap dirinya, "Terlihat sama persis sepertinya."


Noah yang masih belum menyerah bahkan dikehidupan kali ini sedikit merasa jika kali ini dia yakin. Setelah ratusan gadis berambut merah dia temui dan berakhir dengan kali ini untuk nama dan wajah yang sama hanya saja terlihat lebih dewasa.


Pria bernetra kuning keemasan itu mengambil langkah untuk melihat lebih dekat wanita di depannya itu. Leila yang merasa jarak mereka berdua semakin dekat dengan bunyi notifikasi yang sangat menggangu itu membuatnya ingin berteriak dan memarahi sistem.


Ding!


[DEWA KEMATIAN TIDAK MENYUKAI ALUR CERITA YANG ANDA BUAT.]


[DEWA KEMATIAN MENYARANKAN ANDA SEGERA PERGI DARI MANSION D'ARCY DAN KEMBALI MENJADI PENJAGA DARI TANAH SUCI.]


Si*l! Jika aku berteriak. Aku akan dicap gila oleh, Duke.


Jika Noah mengambil langkah untuk maju, maka Leila akan mengambil langkah mundur. Begitu seterusnya hingga Leila tanpa sadar sembari mundur berbelok hingga tumitnya membentur tembok.


Si*l! Sekarang dia terjebak.


Leila bisa melihat Noah yang sama sekali tidak berkedip sama sekali menatapnya dengan intens. Seperti sedang mencari sesuatu dari dirinya.


Aku miskin. Jangan ambil uangku, Duke, batin Leila yang sudah tidak tahan dengan sikap Noah yang membuatnya seperti tikus kecil di depan seekor macan kumbang. Bukan tanpa sebab Noah terus menatap Leila. Akan tetapi, dia melihat sesuatu di dada wanita itu bersinar cukup terang. Jiwanya. Jiwa yang sama dia lihat dari Leila kecil.


Itu kau!


Kali ini dia berhasil menemukannya.


Perubahan ekspresi Noah bisa Leila lihat. Akan tetapi, dengan posisi ini berbagai macam pikiran negatif yang akan dia alami dalam waktu dekat telah membanjiri pikirannya. Noah bisa melihatnya karena kekuatan yang masih melekat pada jiwanya. Noah bisa melihat jauh ke dalam jiwa seseorang. Itu sebabnya dia mengambil langkah mundur dan mengasingkan diri setelah melihat satu persatu jiwa teman seperjuangannya.

__ADS_1


Aura yang mereka keluar sangat berbeda saat mereka masih berpetualang.


"Umm, Duke? Bisakah Anda mundur?"


Mendengar suara Leila di depannya membuatnya menyeringai sekarang. Menjahili gadis yang suka sekali menarik rambutnya tidak ada salahnya bukan.


Bukannya menurut. Noah mengambil satu langkah besar hingga Leila benar-benar mendorong tubuhnya memipih ke dinding. Noah berkacak pinggang dan menatap remeh Leila yang tingginya hanya sedadanya, "Kalau tidak. Mau apa, hm?" Itu adalah kalimat yang sering Leila kecil dulu katakan padanya.


Leila tak berani menatap mata Noah. Sungguh dia tidak suka jarak ini. Detak jantungnya terasa terdengar sangat jelas. Terlebih perasaan yang aneh ini muncul. Suhu ditubuhnya perlahan meningkat dan Leila berharap dirinya tidak terlihat aneh sekarang.


Melihat Leila hanya diam Noah lekas menarik dagu wanita itu untuk menatapnya balik, "Jika seseorang bertanya padamu. Tatap matanya."


Leila menggelengkan kepala dengan cepat. Jujur dia lemah jika ditatap seperti ini. Mata Noah sama mematikannya pria yang pernah dia biarkan bersinggah dihatinya.


"D-Duke...." Leila yang jujur sudah lemah dan tak bisa berpikir jernih sekarang. Dia hanya memikirkan detak jantungnya yang terdengar sangat jelas.


Satu harapannya sekarang.


Sesuatu mustahil, keberuntungan datanglah!


Dari kesimpulan yang Noah ambil setelah ratusan wanita berambut merah yang dia kira reinkarnasi Leila. Mereka tidak akan pernah mengingat kehidupan sebelumnya, tapi nyata tidak. Meskipun hanya sedikit jiwanya sama seperti Leila. Noah masih tetap terus berharap untuk bertemu dengannya.


Jadi, bagaimana cara dia membuat wanita di depannya ini tidak akan pernah menghilang lagi?


Meskipun dia memiliki jiwa Leila. Itu sudah cukup. Dia hanya perlu membuat ingatan baru dengannya. Dengan cara membalasnya dendamnya setelah semua Leila kecil lakukan padanya. Bisa-bisanya Penyihir Agung sekaligus mantan pahlawan ini dipermainkan oleh anak kecil.


"Kau, harus tanggung jawab."


Leila membelalak mendengarnya. Kini dia menatap Noah dengan rasa tidak percaya.


Apa dia tidak salah dengar.


Tunggu sebentar.


Ingatan dimasa lalu tentang bagaimana Leila tidak sengaja menyenggol dan memecahkan toples yang ternyata berisikan daun teh Akasha kesukaan Noah.


Daun teh Akasha tidak bisa disimpan sembarangan. Jika sudah bersentuhan dengan sinar matahari langsung, maka akan rusak dan saat itu juga daun teh Akasha yang awalnya berwarna hitam berubah menjadi warna keabu-abuannya.


A-apa dia tahu itu aku, batin Leila yang baru mengetahui hari itu juga berapa harga untuk teh yang sebanding dengan seharga tanah perkebunan.


Meskipun dia punya uang hasil dari penjualan buku. Tapi, tetap saja itu membuat nyawanya setengah melayang.


Leila menatap Noah yang masih setia memegang dagunya, "Apakah Anda ingin saya bertanggung jawab tentang itu?" Tanya Leila memegang tangan Noah yang membuat lehernya terasa sakit jika diposisi ini terus menerus.


Mata Noah membulat tidak percaya apa yang dia dengar. Apa Leila atau apa yang sedang dia maksud, tapi dalam kasus ini mungkin saja Leila mengingat kenangan masa lalu. Akan tetapi, penampilannya yang sekarang berbeda dengan yang dulu.


"Ya, kau harus tanggung jawab, Leila." Lirih Noah dan khususnya menyebut nama Leila dengan nada berbisik tepat di daun telinganya. Itu berhasil membuat wajah Leila sedikit memerah karena perasaan malu yang tertangkap basah dan perasaan tidak nyaman yang ditimbulkannya tubuhnya.


Kenapa kenangan disaat menghabiskan waktu bersama pria br*ngs*k itu di atas ranjang dia ingat sekarang?!


"Dan... Kalau boleh saya tahu, apa itu, Duke?"


Noah menarik tangannya dengan melirik sekilas dari sudut lorong yang bisa dia lihat sangat jelas ada seseorang yang sedang menguping pembicaraan mereka berdua. Noah lekas menarik pergelangan tangan Leila, "Ikut aku."


Seorang pelayan yang termuda di mansion ini melihat apa yang membuatnya berpikir tidak-tidak. Gadis yang memiliki surai berwarna oranye cerah itu menatap penuh curiga mereka berdua.


"Jadi, apa Duke pernah bertemu dengan Leila sebelumnya?"


Gadis bernama Jean itu mengendap-endap. Masih dengan rasa penasarannya dia melihat Leila ditarik Duke ke dalam ruangan yang dimana adalah ruangan pribadi Duke. Kamar tidurnya sendiri.


"Aku tidak bisa dengar. Tapi, kenapa harus kamar?"


Tidak butuh waktu lama wajah gadis yang masih muda, tapi sudah memiliki pemikiran seperti orang dewasa itu seketika wajahnya memerah padam.


"Aku tidak akan menghabiskan disini sampai pagi buta hanya untuk mendengarkan suara aneh itu?!" Batin Jean yang lekas beranjak pergi dari sana, "Ini akan menjadi berita besar besok!"


.


.


.


Jean adalah saya kalau yang engga tahu apa-apa selanjutnya 😂

__ADS_1


Makasih ya udah mau singgah dan baca MILA ^^


See you next chapter guys 👋😽


__ADS_2