MIMPI LEILA: Tiga Kemungkinan

MIMPI LEILA: Tiga Kemungkinan
BAB 35: DESA KILKAST (2)


__ADS_3

Hari ke-6


Leila sedang berjalan-jalan disekitar desa sembari mencari Aria dengan si penguntit kecil yang mengikutinya kali ini.


Kenapa dia mengikutiku? batin Leila merasa aneh karena di sini dia sedang memperhatikan Aria kecil dan dirinya juga sedang diperhatikan oleh seseorang.


Hari ke-7


Aria terlihat sangat bersemangat bermain dengan Jasper dan lainnya. Melihat tawa kecil Aria membuat hati Leila berbunga-bunga. Lihat bagaimana Aria tertawa lepas berbanding terbalik dengan dia ketika sudah dewasa nanti. Banyak sekali kesakitan yang dialami. Banyak kesedihan yang akan dia alami, dan banyak lagi pertarungan yang harus dia hadapi.


Maafkan aku Aria, tapi kau terlihat sangat keren saat dewasa nanti dan aku akan menjadi fans nomor satumu! batin Leila membayangkan bagaimana Aria disaat memainkan pedangnya dan berkat yang dia dapatkan membuat Leila ingin berteriak sekarang juga. Tapi, sepertinya dia tidak bisa.


"Bunga. Hanya satu koin saja," seruan yang terdengar lirih dan tak bertenaga.


Kenapa juga anak ini masih mengikutiku?, batin Leila yang ingin memperhatikan Aria dengan tenang.


Hingga hampir satu minggu berjalan anak kecil itu masih mengikuti Leila bahkan setelah dia memberinya makan. Leila yang mulai merasa terganggu saat mengawasi Aria mulai membawa anak kecil itu ke panti asuhan.


"Suster, ini." Membawa anak kecil itu dan memberikan sekantong koin emas sebagai sumbangan untuk gereja dan panti asuhan ini.


"Ya Tuhan, terima kasih banyak. Semoga berkat Dewa Dewi menyertai Anda orang baik!" Seru suster yang merasa kaget menerima uang yang begitu banyak.


Akhirnya Leila bisa menikmati mengawasi Aria dengan tenang tanpa merasa terganggu sama sekali.


Ding!


[DEWA KEMATIAN SEDANG MENGAWASI ANDA.]


"AAAKKKHHHHHH!!!! TIDAK BISAKAH KALIAN TINGGALKAN AKU SENDIRIAN SAJA?!" teriak Leila yang merasa tertekan dengan semua ini. Bahkan seorang nenek mendatanginya untuk menanyakan keadaannya.


Bisa-bisa aku gila kalau begini terus, batin Leila yang sudah mulai lelah.


Setelah Leila mengatakan jika dirinya akan baik-baik saja nenek itu mulai pergi, tapi menawarkan untuk beristirahat sejenak dan Leila tolak dengan halus.


Ketika hendak Leila kembali mengawasi Aria dari kejauhan sekelompok anak-anak itu sudah menghilang dan sekarang anak kecil yang masih belum dia ketahui namanya itu datang mendekatinya. Sekarang dia menarik gaunnya yang perpaduan warna hijau dan putih.


"Orang baik, kenapa?"


Lihat tatapan prihatin itu. Dengan cahaya dimatanya tak secerah anak seumurnya dan juga lihat bagaimana dia memperhatikan dengan serius. Leila tidak tahan dan membatin, Hei, kenapa kau memanggilku orang baik, astaga.


"Apa... Ada yang sakit?"


Dua pertanyaan sudah anak kecil itu lontarkan dan Leila masih belum menjawabnya.


"Orang ba—"


"Leila. Bukan orang baik," potong Leila yang sudah merasa lelah dan sekarang si stalker menjengkelkan itu sedang mengawasinya. Suara notifikasi itu bisa Leila dengar dan tak ingin dia tahu isinya apa. Sudah cukup untuk hari ini.

__ADS_1


"... Oh." Anak kecil itu terlihat lesuh sekarang dan tak berani menatapnya lagi.


"Dan kau, siapa namamu?" Leila ingat jika dia belum berkenalan dengan anak kecil di depannya. Tubuhnya lebih lebih tinggi dari si kembar maupun anak-anak kecil panti lainnya. Bisa diperkirakan dia lebih tua dari mereka semua itu.


Berapa usianya?


Delapan? Atau sepuluh tahun?


"Osias... Osias Alluca," lirih anak itu dengan malu-malu karena merasa sangat berhutang budi kepada wanita yang baru saja dia ketahui namanya dari pengurus panti asuhan.


Orang di depannya ini adalah orang yang baik. Hanya karena kebetulan dia menawarkan bunga kepadanya saat dia duduk sendirian ditengah sibuknya jalan desa. Berujung dengan undangan makan siang berujung dia dibawa ke panti asuhan.


Ada begitu banyak anak jalanan di negeri ini dan tinggal di panti asuhan adalah sebuah keberuntungan yang sangat besar bagi mereka. Hanya perlu bekerja membantu mengurus panti bisa makan dua atau tiga kali sehari dan tidur dibawah atap. Bukannya harus bekerja keras dan mempertahankan uang kecil mereka miliki dari preman pasar. Tidur ditempat yang bau dan basah. Semuanya terasa dingin dan terlihat berwarna abu-abu.


"Namaku Osias Alluca, orang baik." Kini Anak yang sudah memberitahu namanya itu mendongak untuk menatap lebih percaya diri orang yang sudah menolongnya itu.


Melihat wanita di depannya membeku diam membuatnya kebingungan, "Orang baik?"


Tunggu, aku tidak salah dengarkan?


Nama itu.


Itu nama karakter dari pendeta yang terkenal akan menjadi penerus dari pemimpin katedral, bukan?


Kenapa orang yang terkenal akan ketampanannya dan juga taat ibadah yang disayangi oleh Dewa Dewi selain Aria ini bisa ada di Desa Kilkast?!


"Orang baik?" Sekali lagi anak bernama Osias Alluca yang sering dipanggil Ias oleh orang terdekatnya dimasa depan itu memanggil Leila.


Kok bisa?!


Leila jelas-jelas tidak membuat masa lalu Osias Alluca ada di Desa Kilkast. Lalu, bagaimana bisa anak ini terdampar di desa pinggiran?


Kau seharusnya di desa lain saja, Nak!


Kau akan sengsara jika di sini terus dan tak bisa menjadi pendeta seperti yang seharusnya.


Mendapat tatapan sedih dari Leila membuat Ias kebingungan, "Orang baik?"


Leila ingin sekali pingsan sekarang juga.


Melihat Leila sedikit limbung membuat anak yang dimasa depan akan menjadi pendeta yang terkenal akan ketampanannya itu lekas menopang tubuh Leila.


Leila harap ini bukan karena efek sayap kupu-kupu dirinya. Lagi pula dia hanya orang suka menolong dan berakhir karena mulai terasa terganggu Leila menaruh si bocah yang ternyata bernama Ias ini satu panti asuhan dengan Aria—si tokoh utama dalam cerita 'Sungai Emas Everuz'.


"Orang baik, Anda baik-baik saja, kan?!"


Ias yang tentu saja sepertinya dari kecil sudah memiliki sifat sopan tentunya membuat Leila semakin merasa terharu.

__ADS_1


"Ahh... Aku mati dipelukan orang tertampan, haha."


"Jangan mati orang baik! Bertahanlah!" Mendengar ucapan Leila yang tidak terdengar bercanda membuat Ias mengingat kilas balik masa lalunya. Dalam posisi yang sama dengan orang berbeda. Dia pergi meninggalkannya. Ias tentu saja tidak bisa membiarkan itu terjadi lagi. Tidak kali ini.


Leila rasa langit terlihat sangat dekat dengan wajahnya. Bahkan seperti cahaya matahari terlalu menyilaukan hari ini.


Apa ini akhirnya?


"Selamat tinggal dunia. Selamat datang neraka," ucap Leila dengan tangannya yang saling bertautan. Bahkan jika Dewa Kematian tengah mengawasi Leila tidak memikirkan rasa malunya sama sekali.


Benar, ini akhirku bagaimana berada dipelukan orang tertampan se-kerajaan Everuz atau mungkin benua. Ahh, betapa damainya, Leila rasa mati dengan cara seperti tidaklah buruk juga.


"Orang baik! Jangan mati! Anda tidak mungkin masuk neraka karena Anda orang baik!"


Ias berusaha menyadarkan Leila tapi, wanita itu sepertinya sudah berada diujungnya saja. Bagaimana bisa Ias membiarkan orang sebaik, dan seperhatian Leila mati begitu saja. Leila adalah orang yang sudah menolongnya dan dia meninggal terlebih dulu sebelum dia bisa membalas perbuatannya.


Ias tidak bisa membiarkannya dan menolaknya sangat keras.


Bagaimana Ias bisa melarikan diri dari tempat perdagangan manusia dan mengikuti karavan yang dimana membawanya dari satu desa ke desa lain hingga sampai di Kerajaan Everuz, Desa Kilkast ini.


Bahkan orang yang dia pernah taruh di dalam hatinya pergi. Tidak mungkin Leila akan pergi juga. Ias menolak itu.


Bahkan jika dirinya hidup dengan kotor di jalanan. Setidaknya dia pernah belajar untuk membalas perbuatan baik seseorang dan tak mudah ditipu tentunya.


"Kau sangat lucu Ias. Jelas-jelas dosaku sangatlah banyak."


Leila rasa akhir seperti ini tidaklah buruk.


"Orang baik!"


Jika Ias mengetahui isi pemikiran Leila, maka bisa dipastikan dia akan menolaknya dan terus memohon untuk Leila terus bertahan hingga dia mampu membalas semua kebaikan yang telah diberikan.


Para warga yang melihat mereka berdua hanya menatap diam sejenak dan kembali melanjutkan aktivitas mereka. Leila yang sebagai pengunjung baru yang sudah tinggal seminggu di desa ini sifatnya sudah mereka hafal diluar kepala.


Wanita yang sangat aktif dan penuh drama ditambah anak kecil yang mengekornya ke manapun itu juga. Pasangan yang sangat cocok untuk tidak diusik.


Biarkan saja mereka berdua, itu yang mereka pikirkan.


.


.


.


Leila, kau terlalu dramatis tahu 🥲


Sebelumnya makasih udah senggang mau baca MILA^^

__ADS_1


see you next chapter guys 👋😽


__ADS_2