
Leila yang kini sedang membantu membersihkan kamar ketiga anak asuhannya itu kini pikiran sedang berkelana. Membawa dirinya ke masa lima tahun yang lalu. Sebelum Leila bertemu dengan ketiga Iblis Merah itu. Dengan murah hatinya sistem pada saat itu memasuki autopilot. Dengan penjagaan yang terjamin aman tahun itu. Leila dengan senang ikut merayakan festival Lampion.
Dengan jubang bertudung merah dan gaun abu-abu tua yang dipadukan dengan warna putih dia datang ke desa untuk menikmati gemerlapnya malam yang akan segera dia nikmati.
Setelah mengelilingi desa dengan membawa lentera dan doa bersama. Kini saatnya melepaskan lentera ke langit malam.
Langit gelap yang terlihat perlahan terselimuti cahaya seperti kunang-kunang. Leila memutuskan duduk disamping air mancur sembari menatap langit malam dengan lampu yang mengelilingi air mancur memiliki bentuk yang sama seperti lentera yang selalu dia bawa selama di dalam Hutan Berkabut.
Sejak kapan dia suka memandangnya langit malam seperti ini.
Padahal dia sangat membencinya. Mungkin karena bawaan dari kecil semenjak neneknya telah tiada mangkanya dia membenci langit.
"Mana nenek, Yah?"
Anak kecil dalam ingatannya bertanya kepada sang ayah yang terlihat tidak baik-baik saja.
"Umm, nenek. Nenek ke langit," terlihat jelas dia kebingungan untuk menjawab pertanyaan sederhana itu.
"Langit?" Mata Leila kecil menatap polos sang ayah dengan tidak mengerti.
"Iya, nenek tinggal di langit sekarang," dia masih bisa menjelaskan dengan baik untuk sang putri.
"Kok Leila ga diajak sih? Kan Leila juga mau ikut kalau gitu." Menghentakkan kakinya tidak suka karena merasa tidak diajak ke tempat yang seru.
"Leila disini aja sama Ayah ya," mencoba menenangkan sang putri di tempat yang cukup sepi dengan kerumunan orang di luar.
"Tapi, nenek—"
"Nenek nyaman di sana. Nenek bisa sama kakek di sana," rasanya salah mengatakan ini, tapi putrinya masih terlalu kecil sekarang.
"Ga mau! Leila juga mau ikut juga! Ayo!" Leila kecil menarik tangan ayahnya, "Anter Leila ke langit, Yah! Leila juga mau ketemu kakek! Ayo!"
Dengan alasan kekanakan itu dirinya sekarang tidak menyukai langit. Terlebih langit malam. Dia sangat tidak menyukainya. Tapi, untuk malam ini. Di dunia fantasi ini. Dia akan mengecualikan, hanya untuk malam yang tidak akan pernah dia lupakan.
Alunan musik khas klasik dengan tawa para penduduk setempat yang sangat gembira merayakan perayaan festival yang didatangi oleh para turis dari seluruh kerajaan bahkan ada juga yang dari kerajaan tetangga.
Leila benar-benar tidak menyangka jika festival akan semeriah dan segemerlap ini. Bahkan lingkaran orang mulai terbentuk karena menonton orang berdansa dan mulai terlihat sangat banyak sekarang.
"Sistem," gumam Leila tanpa sebab.
Ding!
"Apa aku memiliki keberuntungan yang baik malam ini?"
Sangat lama dia tunggu dari jawabannya. Sembari menatap betapa orang-orang menikmati suasana festival ini.
__ADS_1
Ini hanyalah festival sederhana yang dia tampilkan satu halaman ceritanya dan rasanya begitu meriah dan pemandangan yang sangat indah. Leila bersyukur bisa rasakan secara nyata. Bahkan rasanya sangat sayang untuk dilewatkan.
"Ayo!"
Seseorang tiba-tiba menarik tangan Leila dan mengajaknya masuk ke dalam gelombang alunan musik untuk menari dalam lingkaran. Leila yang tidak bisa berdansa hanya memperhatikan sekitarnya dan berdiri kikuk.
Ding!
[‼️SELAMAT‼️]
[ANDA MENDAPATKAN SKILL 'MENARI'.]
Mendengar suara yang dia nanti menjawab dengan apa yang sangat dia butuhkan sekarang membuat Leila menangis haru dalam batin berkata, "Aku padamu, Sistem!"
Leila mulai mengikuti alunan musik dan bergabung berdansa dengan semua orang. Pertama kali dia berdansa dan rasanya sangat menyenangkan. Rasanya seperti dia tidak ingin malam ini berakhir.
Hal yang tak terduga terjadi. Semua orang memiliki pasangan masing-masing hingga sampai pada dirinya yang kini dipasang pria bertubuh jenjang dengan wajahnya yang ditutupi sama sepertinya.
Leila lekas meraba kepalanya yang terlihat sangat jelas sekarang. Parasnya yang rupawan dengan warna kulit yang putih tapi masih nampak sehat itu hampir membuat kaum Adam berebut untuk berdansa bersamanya sekarang.
Karena Leila tidak ingin direbutkan dan ingin pergi menjauh, tapi alunan musik lebih dulu terdengar dan semua orang mulai berpegang tangan dengan pasangan mereka masing-masing.
Leila yang sialnya berada ditengah lantai dansa dengan di depannya pria asing yang tidak dia kenal siapa itu akhirnya dengan mendesah paruh mengulurkan tangannya.
Mendapatkan tawaran itu mana mungkin bisa Leila tolak sekarang. Dengan gaya seperti selayaknya seorang nona bangsawan dia mengangkat kedua ujung gaunnya dan berlutut sedikit, "Dengan senang hati, Tuan," balas Leila yang diakhiri senyuman tipis.
Tangan mereka sekarang saling bertautan. Tangannya yang terasa besar bagi Leila dan jarak yang sangat dekat bagi Leila ini membuatnya rasa gugupnya semakin menjadi.
Akan tetapi, semua itu tertutup saat dia memejamkan mata dan mendongakkan kepalanya menikmatinya alunan musik dan mengikuti setiap langkah dansa yang tiba-tiba saja dia ingat.
Pria bertudung misterius itu juga cukup takjub dengan sikap Leila ambil. Bukannya menatap dirinya. Wanita itu malah tenggelam dalam musik festival Lampion ini.
Hanya ingin melarikan diri dari celotehan seseorang. Dia berakhir disini malam ini. Menikmati festival yang selalu diceritakan sewaktu ibunya kecil dulu ditemani dengan wanita pemilik paras rupawan untuk anak desa yang memiliki wajah seperti wanita di ibu kota.
Leila yang tak memperdulikan pasangannya dan terus melangkah dan berputar seperti apa seharusnya. Karena tidak tahu jika jalan berbatako yang tidak rata mencuat itu membuat Leila tersandung dan limbung ke samping.
Leila pkir rasa malu yang teramat akan dia rasakan. Akan tetapi, ini lebih buruk dari pada itu. Sorakan takjub dari para penonton dengan tubuhnya yang terasa melayang di udara membuat Leila membuka mata.
Sekarang dia bisa melihat dengan sangat jelas. Dengan ketinggian ini dia bisa melihat pria bertudung itu terlihat mendongakkan wajahnya untuk menatap dirinya dari atas sini.
Wajahnya yang terlihat tegas sekaligus memiliki wajah bijaksana yang seperti diturunkan dari orang tuanya. Warna mata yang begitu memukau berhasil membuat Leila terpesona. Warna amethyst yang terkesan lembut dengan surai putih keabu-abuannya yang terlihat dari balik jubahnya.
Pakaiannya yang terlihat sederhana membuat Leila berpikir jika dia adalah salah satu orang penting yang sedang menyamar. Tapi, sudahlah dirinya hanya ingin menikmati malam langkah ini.
Sistem sangat baik hati malam ini, pikir Leila tak bisa menahan senyumannya yang semakin merekah karena festival yang berhasil membuat perasaannya lebih baik.
__ADS_1
Begitupun juga sebaliknya. Pemilik dari netra amethyst yang sedang ditatap oleh Leila ini juga terpesona oleh netra biru azure wanita yang baru saja dia selamat dari rasa malunya—yang mungkin saja akan dia kenang seumur hidupnya.
Pinggangnya terasa sangat pas untuk tangannya. Wanita ini tidak begitu ringan maupun juga tidak begitu berat untuknya yang sudah berlatih membetuk otot.
Balutan pakaian sederhana membuat wajahnya lebih menonjol. matanya yang bulat seperti anak-anak, tapi menyimpan sisi dewasa itu menatap dirinya.
Karena merasa posisi ini sudah cukup lama pria itu berputar sedikit dan menurunkan wanita yang tidak dia ketahui namanya siapa itu dan meraih tangannya yang lain untuk saling bertaut kembali.
Leila yang mengingat kembali kenangan itu tidak bisa menahan rasa malunya. Leila yang tadinya tengah mengganti sarung bantal kini memukul-mukul bantal seperti orang gila.
Jika saja ada orang yang melihatnya maka mereka akan berpikir Leila sudah gila dengan sikapnya yang aneh itu.
"U-ugh! S**l*n kau orang asing!"
Leila yang sedang berusaha mengontrol perasaan berbanding terbalik dengan Rakun yang mengendap-endap dari bawah laci, meja, belakang vas hingga menuju arah dapur.
Hewan omnivora itu melihat sekeliling dan saat sudah merasa aman dia melesat masuk ke dalam dapur. Dari bawah meja ditengah padatnya jadwal makan siang. Tangan nakal hitam kecil itu meraba-raba dari bawah meja dan mengambil apa yang dia dapatkan.
Apel.
Pie susu berukuran kecil.
Pisang.
Sepotong roti gandum dan masih banyak lagi yang dia dapatkan.
Rakun yang merasa mendapat jarahan yang banyak menyeringai senang. Menggigit beberapa makanan dan dia bawa dalam gendongan tangannya untuk dia makan di tempat yang paling aman.
Atap mansion ini.
Dia akan menikmati semilir angin sejuk dari barat dan pemandangan para manusia yang tidak menyadari kehadirannya diatas sini.
Rakun memakan roti gandum yang terasa masih hangat dan membatin dengan syukur, "Ini namanya hidup."
.
.
.
Rakun be like: Makanan itu nomor satu, nyam nyam~
Makasih ya udah mau singgah dan baca cerita MILA ^^
See you next chapter guys 👋😽
__ADS_1