MIMPI LEILA: Tiga Kemungkinan

MIMPI LEILA: Tiga Kemungkinan
BAB 33: BAKAT SIHIR


__ADS_3

Suara langkah yang saling tumpah tindih dan juga kehadiran ketiga bocah yang berjalan ke ruangannya bisa Noah sadari. Pria yang tengah duduk dengan tenang. Membaca laporan bulanan setiap desa dengan dibantu kacamata yang bertengger di pangkal hidungnya.


"DIMANA LEILA KAMI?!"


Suara benturan pintu yang dibanting terdengar menggelegar. Noah rasa ini bukan awal hari yang baik.


Seperti yang sudah Noah duga.


Noah menatap si kembar dengan tenang dan berkata, "Apa maksud kalian dengan Leila kami?"


Atlas yang sudah tidak sabaran menunjuk Noah dan berkata, "KAU PASTI MENYEMBUNYIKANNYA, KAN?! IYA, KAN! MENGAKULAH!"


"BENAR!" timpal Arden yang mendukung saudaranya.


"Katakan dimana Leila?" Kini suara Adrian bisa Noah dengar dan melihat ekspresi tidak sedap mereka tunjukkan untuk Noah.


Pagiku yang indah, batin Noah yang ingin menikmati harinya dengan tenang setelah kejadian malam tadi.


Noah mengingat jika Leila masih dalam masa cutinya dan bukankah si kembar mengetahuinya.


"Kalian tidak tahu?"


"Apanya?" tanya mereka bertiga dengan polos memiringkan kepalanya sedikit tidak mengerti apa yang Noah maksud.


"Ohh, jadi begitu." Noah mulai paham situasi sekarang.


"Apanya yang kami tidak tahu, oi!" pekik Atlas yang sangat penasaran.


Noah menatap si kembar satu persatu. Lihat betapa Leila tidak berprikemanusiaannya meninggalkan masalah di pagi harinya, "Dia pergi."


"Hah?"


"Dia pergi meninggalkan kalian. Dia berkata sudah bosan dengan kalian dan ingin kembali ke hutan." Noah menyanggah dagunya menikmati perubahan ekspresi apa yang aka ditunjukkan ketiga anaknya.


"T-tidak mungkin... ." lirih Arden yang terdengar sangat sedih mendengar perkataan Noah.


"Ya, mau bagaimana lagi. Itu kemauannya dan lagi pula kalian katanya sudah besar dan orang dewasa tidak memerlukan seorang pengasuh," ucap Noah dengan entengnya mempermainkan si kembar.


"Kau... Pembohong!" seru Atlas yang sudah menahan derai air matanya bahkan dia menahan ingusan untuk tidak jatuh.


Pandangan Noah beralih diantara ke bocah yang sok dewasa itu. Lihat saja mereka hanya beradu tatapan dan Adrian bisa Noah tebak mencoba mencari kebohongan dari wajahnya.


Noah hanya diam dan balik menatap Noah mencoba menyakinkan bocah itu.


Dia tidak bohong, batin Adrian seakan disambar petir. Melihat Adrian tertegun membuat Arden bisa menebak jika Leila pergi meninggalkan mereka.


"Adrian... ." cicit Arden yang berharap dugaannya ini salah.


Adrian mencengkram kedua tangannya hingga memutih. Menatap tajam Noah dengan genangan air mata yang dia tahan dan berusaha kuat di depan orang menyebalkan itu.


Adrian yang tidak tahan mulai berpikir ketidakbetahan Leila disini adalah penyebab Noah. Karena pria ini memaksa Leila melakukan tugas seorang pelayan yang mana menurutnya Leila tidak pantas melakukannya dan juga gosip yang berterbangan tentang Leila sudah Adrian dengar semuanya.


Mulai dari bagaimana asal usul Leila yang tidak jelas hidup di dekat hutan yang terkenal keangkerannya, anak haram seorang bangsawan lah, hingga wanita murahan yang selalu Duke panggil dimalam hari.


Surai merah wine Adrian mulai terangkat dan netra hijau emerald-nya menyala menatap tajam Adrian penuh kebencian. Perlahan semua barang yang ada di ruangan ini mulai terangkat dan melayang. Melihat itu semua membuat mata Noah membelalakkan tidak percaya.

__ADS_1


Adrian yang dengan isi pikirannya ingin sekali melukai Noah mulai barang disekitar terbang menuju Noah dengan kecepatan cukup tinggi. Tapi, refleks Noah lebih cepat dari yang si kembar duga. Sebuah vas bunga baru saja terbang melintasi wajah Noah.


"Tidak bisa dipungkiri jika salah satu kalian bisa melakukannya," ucap Noah dengan santai melihat kemampuan yang seperti baru saja Adrian bangunkan.


Noah mengambil napas panjang dan berkata, "Dia mengambil cuti."


Perlahan semua barang di ruangan ini perlahan turun dengan dengan cepat. Noah lekas mengibaskan tangannya dan suara bantingan pintu dari belakang si kembar membuat tubuh mereka tersentak.


"Selama sebulan ini kalian harus terbiasa tanpanya." Mengedarkan pandangannya melihat ruangan yang awalnya terlihat rapi sekarang berantakan.


"L-Leila pergi? Kemana?" tanya Arden mengusap matanya yang mulai berair.


"Tidak tahu, mungkin saja dia sekarang sedang berbicara dengan sapi atau mungkin juga berjalan seperti orang gila." Noah memejamkan matanya dan membayangkan Leila berjalan sembari bersenandung dan melompat kecil menikmati liburan terlama yang tak pernah dia rasakan.


Adrian lekas memunggungi Noah dan mengajak saudaranya berdiskusi dari tatapan Noah, "Dia tak bohong," ucap Adrian dengan yakin kali ini.


Atlas dan Arden menganggukkan kepalanya yakin dengan ucapan Adrian.


"Baik, Leila pergi dan Rakun masih ada disini. Itu berarti kita bisa menggunakannya," bisik Adrian yang menatap berganti saudaranya.


"Kita bisa menggunakan Rakun untuk mencari Leila. Kau sangat pintar, Adrian," puji Arden yang mulai mengerti jalan pikiran Adrian.


"Apa kita perlu memakai kuda? Aku bisa mengambilkannya untuk kita nanti," ucap Atlas yang mulai mendukung ucapan saudaranya.


Noah yang dalam diam mendengarkan rencana si kembar terhibur dalam diam.


Bagaimana bisa menggunakan seekor rakun untuk melacak Leila?


Apa mereka pikir rakun itu sama seperti anjing?


"Sudah diputuskan kita akan—"


"Kita melupakan orang menyebalkan ini," gerutu Adrian yang bisa dengar sangat jelas oleh Noah.


"Sejak kapan?" tanya Noah yang membuat si kembar tidak ingin mengucapkan apa pun tentang rencana mereka barusan.


"Aku bertanya sejak kapan kau bisa melakukan hal seperti tadi?" sekali lagi Noah bertanya, tapi ini lebih spesifik.


"Melakukan apa?" tanya Atlas yang penasaran.


"Melakukan ini." Noah membuat si kembar perlahan terangkat dan melayang di atas meja. Tubuh mereka terasa sangat ringan dan membuat mereka tak bisa menahan decak kagum.


"Adrian," pemilik nama itu menatap Noah, "Sejak kapan?"


"Aku... Tidak tahu... ." perasaan tidak berdaya ini membuatnya tidak nyaman. Lihat bagaimana ayah biologisnya terlihat menyeramkan dengan tatapannya yang menahan hanya tertuju kepadanya. Dia tak sendirian di sini. Lihat Arden dan Atlas saja.


"Adrian."


"A-ku—" Adrian merasa hal buruk akan terjadi.


"Buku."


"Apa?"


"Kau mau buku apa? Aku akan membelikannya? Karya Aristoteles? Hukum fisika?"

__ADS_1


Adrian tidak salah dengarkan? Pria di depannya baru saja menawarkannya sebuah buku. Apa dunia akan segera hancur?


Pasalnya sejauh ini Noah selalu menjaga jarak dengan mereka dan juga akan selalu ada kehadiran Leila ditengah-tengah mereka untuk mencairkan suasana.


Bukankah ini akan berhasil. Biasanya Leila akan mengatakan ini, batin Noah yang semakin membuat Adrian semakin bingung.


"Aku juga mau! Kenapa hanya Adrian saja yang diberi hadiah?!" Saudara kembarnya yang lain berseru karena hanya dirinya yang ditawarkan dan itu berhasil membuat otaknya berhenti sejenak memikirkan sikap aneh yang Noah baru saja tunjukkan.


Pandangan Noah teralihkan menatap Atlas sekarang. Melihat potensi si kembar satu ini bisa menjadi seorang kesatria, "Bagaimana dengan sebuah pedang?"


"Kau gila ya! Dia masih kecil!" Tolak Adrian yang mendengar ucapan Noah.


Setiap hari Atlas selalu membicarakan pedang kuat yang selalu ingin dia ayunkan. Ditambah bagaimana Leila selalu menceritakan sebuah kisah seorang pejuang yang selalu berhadapan dengan monster dan penjahat. Atlas seperti api dan Leila malah menambah kayu kepadanya. Ini membuatnya semakin bersemangat.


"Dan kau masih kecil sudah sering membolos dan bersembunyi di perpustakaan."


Noah bukan orang yang lepas tangan dan tak tahu apa yang di kembar lakukan. Lihat bagaimana si kecil satu ini membuatnya berhasil mengingat dirinya saat kecil diusianya.


Noah dulu juga membolos dan bersembunyi di perpustakaan.


"I-itu... ." Lihat, sekarang dia tidak bisa mengelak.


"Jangan kau pikir aku tidak tahu apa saja yang kalian lakukan selama ini, hahh... ." Ini membuatnya sakit kepala. Noah pikir membesarkan anak-anak tidak akan sesulit ini. Padahal sudah ada Leila dan mengingat dimasa lalu juga. Noah tidak punya pengalaman sebagai orang tua dikehidupan sebelumnya.


Noah mengalihkan pandangannya dari si kembar dan memikirkan tentang bakat yang tidak mungkin anaknya tidak punya. Meskipun mereka kembar tiga, setidaknya salah satu dari mereka memiliki bakat dalam sihir atau mungkin mereka mewarisi bakatnya dalam melukis. Tapi, mendengar dari Leila sepertinya tidak.


"Jadi, siapa yang bisa melakukan hal diluar nalar?"


Si kembar saling menunjuk satu sama lain yang membuat Noah pusing. Padahal ini masih diawal hari. Kenapa dia harus merasa sakit kepala?


"He, aku tidak bisa," elak Arden yang mendapati Adrian menunjuknya.


"Apa? Kau kan mahir melempar belati dan juga kau mahir dalam hal tanaman aneh yang membuatku dan Atlas heran." Arden yang mendapatkan tatapan dari Adrian yang sering sekali memperhitungkan itu membuatnya merasa tidak nyaman.


"Itu normal tahu! Tidak ada yang aneh! Lagi pula Atlas juga aneh!" seru Arden menunjuk Atlas karena tidak ingin dituduh sendiri di sini.


"Aku? Aku normal tahu!" Timpal Atlas tidak terima dengan pernyataan Arden.


"Mana mungkin manusia punya kekuatan seperti monster selain dirimu, Atlas," terang Adrian menekan pakal hidungnya merasa pusing menjadi seseorang yang berada diantara kedua saudaranya yang sedang beradu argumen.


"Lagi pula kau juga aneh, ingat!" Pekik Atlas tidak terima.


"Aku yang paling normal disini," ucap Adrian dengan santainya.


"Kita semua aneh, puas!" Pekik Arden tidak tahan dengan semua ini.


Noah melihat tontonan gratis di pagi hari ini merasa sedikit terhibur. Yah, mereka adalah anaknya dan tidak ada yang normal sedikitpun.


.


.


.


keluarga aneh gitu maksudnya 😭😂

__ADS_1


Makasih ya udah mau singgah dan baca MILA ^^


see you next chapter guys 👋😽


__ADS_2